Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Lega



Dua minggu sudah Mike membantu menyelesaikan semua pekerjaan Prilly di perusahaan yang Prilly pimpin. Ia tidak ingin Prilly terlalu lelah, Mike bahkan tidak perduli dengan perusahaannya sendiri. Dan David adalah orang yang paling terpukul dengan rencana kemunduran Prilly dari perusahaannya.


David benar-benar belum memiliki kandidat pengganti Prilly. Meskipun Prilly masih bekerja dalam waktu satu bulan ke depan. Namun, David merasa ia dalam masalah besar dan merasa pikirannya kini kacau.


Sedangkan Anne, ia juga merasakan kegelisahan karena ia akan berganti atasan yang mungkin saja menyebalkan.


Siang itu prilly sedang menunggu Alexander di sebuah restoran seperti saran Mike, suaminya.


“Kak Alex, apa kabar?” sapa Prilly ketika Alexander telah duduk tepat di depannya.


Alexander hanya diam menatap lekat-lekat wajah mantan istrinya.


“Kak Alex, kau belum menemui william hingga sekarang.” Prilly membuka pembicaraan.


Alexander seperti biasa, pria dingin dan kaku itu hanya diam.


“Kak Alex, aku tidak ingin kita bermusuhan. Bisakah kita kembali seperti dulu, bersahabat seperti masa kecil kita?” Prilly kembali membuka suaranya.


“Aku tidak bisa bersahabat denganmu, Prilly. Aku menginginkanmu menjadi milikku.”


Prilly menatap wajah Alexander. “Kak Alex, aku bukan mainan ataupun properti yang bisa kau miliki,” jawab Prilly sambil mencoba tertawa ringan.


“Jadi kau masih tidak ingin menceraikan sepupuku?” tanya Alex dengan nada tidak suka.


“Kak Alex, itu mustahil Aku sedang mengandung putra dari sepupumu. Ia adalah orang yang aku cintai sejak aku berumur sepuluh tahun. Kak Alex, aku mohon maafkan aku, maafkanlah kami,” kata Prilly memohon dengan tulus.


Alexander tertegun, sungguh telah terlambat sekarang apalagi Prilly tengah mengandung calon bayi dari Michael Johanson sepupunya. Jadi ia memang benar-benar tidak diinginkan oleh Prilly sedikitpun bahkan William, putranya juga terus menolaknya.


“Kak Alex, aku harap, mulai saat ini kau bisa melakukan pendekatan pada William dengan cara alami. Aku dan Mike akan membantumu,” kata Prilly. "Bagaimana jika kita bersama-sama pergi ke taman hiburan dan menunjukkan pada William kita adalah orang tua yang hangat. Aku yakin William akan terbiasa nantinya dan perlahan menerimamu,” lanjut Prilly hati-hati. Prilly sangat memahami sifat Alexander yang dingin dan kaku tidak akan mudah untuk membujuknya.


Alexander menatap prilly dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.


“Kak Alex, hubungan antara kita tidak bisa di paksakan. Kita lebih cocok menjadi sahabat,” kata Prilly mantap.


Alexander tetap dengan ekspersi dinginnya menatap Prilly.


“Mulai saat ini, jika kau ingin menghabiskan waktumu bersama William, hubungi kami kapan saja. Kami tidak akan melarangnya,” kata Prilly dengan manis.


“Prilly, aku mencintaimu,” kata Alexander.


Prilly tersenyum. “Terima kasih, Kak Alex,” jawab Prilly sambil menatap mata Alexander. “Kak Alex dulu telah menjagaku sebagai adikmu, terima kasih. Tapi maaf, Kak Ale, aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu.”


“Prilly, kumohon, ceraikan Mike. aku akan merawatmu dan putra Mike.”


Sebenarnya Prilly mulai sedikit bosan dan emosi karena Alexander terus-terusan mendesak dan memaksakan kehendaknya.


“Kak Alex, kurasa perasaanmu padaku bukan cinta yang menggetarkan hatimu,” jawab Prilly. “Itu hanya perasaan ingin melindungiku.”


Mereka terdiam, Prilky merasa pembicaraan mereka buntu. Hanya berputar-putar dan Alexander tetap pada keinginannya seperti apapun, Prilly menjelaskan, tetaplah Alexander ingin memaksakan kehendaknya. Beberapa saat kemudian, merasa tidak ada lagi bahan pembicaraan yang bisa Prilly cari, ia lalu menilih berpamitan pada mantan suaminya dan meninggalkan restoran itu dengan tenang berjalan menuju mobil dimana Mike menunggunya. Batin Prilly entah kenapa terasa sangat lega telah mencoba berbicara baik-baik pada Alexander, mantan suaminya. Meskipun pria itu sepertinya masih tidak bisa menerima kenyataan yang ada.


Melihat istrinya datang, Mike bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Lalu Mike melajukan mobilnya dan membawa istrinya kesebuah pusat perbelanjaan dan memilihkan beberapa gaun dan sepatu. Semula Prilly menolak, namun Mike terus memaksakan kehendaknya hingga Prilly menerima dan langsung mengenakannya.


Bahkan Mike membawanya ke sebuah salon kecantikan untuk menata rambut Prilly.


“Mike kita mau kemana?” tanya Prilly heran.


“Makan malam, Sayangku. Kau pasti lupa hari ini adalah Hari Valentine.”


“Ya Tuhan, aku benar-benar lupa. Aku bahkan tidak menyiapk


kan kado untukmu, Sayang.”


“Tidak perlu, Istriku yang cantik. Kau dan kebersamaan kita sekarang adalah kado terindah,” kata Mike.


“Kau benar-benar bermulut manis,” jawab Prilly sambil tersenyum.


Malam itu, Mike bersama Prilly makan malam dengan romantis di sebuah restaurant yang telah di sewa khusus untuk mereka berdua. Mike memberikan seikat bunga mawar dan juga sebuah jam tangan dari brand ternama yang sangat cocok untuk pergelangan tangan Prilly.


“Mike, kau selalu saja romantis, terima kasih,” ucap Prilly senang


“Terima kasih, karena telah mengandung calon anak-anakku. Terima kasih telah membalas cintaku,” kata Mike sambil mengecupi punggung tangan istrinya.


Kedua sejoli itu larut dalam suasana romantis dan saling mencurahkan isi hati mereka di selingi candaan-candaan kecil di sela-sela makan mereka.


Sudah satu minggu Prilly mengakhiri kontrak kerja dari BROWN’S COMPANY. Kini ia hanya fokus mengurus persiapan pesta pernikahannya. Musim semi telah tiba, udara telah berubah menjadi sedikit hangat. Sebenarnya Prilly ingin pesta penikahaan dengan konsep summer namun mengingat ia kini sedang mengandung jika menunggu summer, tiba perutnya pasti akan semakin membuncit dan agak susah untuk menyesuaikan gaun pernikahannya.


Dalam beberapa minggu lagi pesta pernikahannya dengan Mike akan segera terwujud.


Mereka berdua merencanakan dengan detail dan saling bertukar pikiran, walaupun tak jarang mereka sedikit berselisih pendapat karena perbedaan selera namun justru Prilly sangat menikmati segala momen-momen yang mereka jalani.


Sedangkan, Alexander sejak pertemuannya dengan Prilly, Ia sama sekali belum bertemu William, putranya. Meskipun ia merindukan putranya, namun selalu saja ia merasa tidak siap untuk menemuinya.


Hari ini, ia menerima undangan pesta pernikahan Prilly yang akan di adakan minggu depan, wajahnya dinginnya semakin terlihat muram.


Ia berkalai-kali membolak-balik undangan tersebut, lalu memasukkanya ke dalam laci meja kerjanya.


Kemudian Alexander pergi mengendarai mobilnya menuju sebuah klub, telah lama ia tak mengunjungi Klub. Tidak minum alkohol sejak ia tumbang dan dirawat di rumah sakit.


Ia juga telah lama tidak berkencan dengan para jal*ang, Alexander berniat mencari wanita untuk one night stand malam ini. Matanya mengawasi beberapa gadis yang berada di ruangan itu, tetapi pandangannya terhenti manakala seseorang yang sangat di kenalnya datang bersama beberapa orang gadis dan beberapa orang pria.


Entah kenapa dadanya terasa panas, emosinya mulai menjalar di otaknya. Alexander menyipitkan matanya dan menggertakkan giginya. Ia ingin sekali menyeret Jovita pergi dari tempat itu.


Mantan istrinya menikahi sepupunya dan wanita yang biasa ia pakai, bersama pria lain.


Sialan!