Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Aborsi



Malam itu dilalui dengan berat oleh Alexander dan Prilly, suhu tubuh Prilly yang mulai naik, Prilly mengeluh panggulnya terasa sakit, ia juga mengalami mual dan pusing, ia terus merintih sepanjang malam. Tidak mampu lagi menyaksikan istri tersayangnya mengalami hal itu Alexander menggendong Prilly dan membawanya sendiri ke rumah sakit malam itu juga, itu adalah pukul tiga dini hari.


Alexander bahkan memanggil Nathalie agar datang malam itu juga ke rumah sakit untuk menangani Prilly, setelah di suntikkan obat oleh Nathalie dan rasa sakit yang di derita Prilly telah berkurang, Nathalie dengan lembut menggenggam jemari tangan Prilly.


“Prilly, aku ingin berbicara sesuatu denganmu,” kata Nathalie lirih.


“Apa yang terjadi? Apa sesuatu terjadi pada anakku?” Prilly terlihat gugup dan berusaha duduk, Alexander dengan penuh kasih sayang membantu Prilly duduk.


Nathalie menghela napasnya dengan berat, ia sedikit melirik wajah Alexander yang tampak begitu tegang.


“Prilly, maafkan aku, ini di luar kehendak kita semua." Nathalie memulai dengan nada hati-hati.


“Apa yang terjadi?” Prilly semakin penasaran.


“Kau harus tenang, aku akan menjelaskan semua padamu." Nathalie menepuk punggung tangan Prilly pelan.


“Baiklah.”


“Prilly, calon bayi kalian tidak bisa di pertahankan, ia tumbuh tidak sempurna." Entah mengapa Nathalie seperti ia hampir tidak mampu mengucapkan hal ini, padahal ia telah menjadi dokter kandungan selama lima belas tahun, mengapa ia justru merasa gugup? Ini bukan kasus baru dalam dunia medis. “Bayi kalian tumbuh di luar rahim.”


“A-apa?” tentu saja Prilly sangat terkejut dengan apa yang di tuturkan Nathalie.


Alexander mengusap punggung Prilly dengan lembut.


Nathalie menjelaskan apa itu hamil di luar kandungan secara spesifik dengan penuh kesabaran kepada Prilly agar Prilly mengerti dan dapat menerima kenyataan.


“Kita harus secepatnya mengambil tindakan,” kata Nathalie setelah ia selesai dengan penjelasannya.


“Maksudmu?” tanya Prilly.


“Kita harus mengambil tindakan aborsi,” jawab Nathalie dengan nada sangat berat.


“Tidak aku tidak mau!” pekik Prilly, seperti dugaan Alexander istrinya akan bereaksi demikian.


“Sayang, tenangkan dirimu,” ucap Alexander.


“Alex, kau tidak menginginkan bayi ini bukan? Kau ingin membunuhnya?” tuduh Prilly pada Alexander.


Alexander menghela nafas berat, istrinya sangat sensitif dan mudah sekali menangis, dan ia sepertinya memang harus menanggung beban karena kesalahannya di masa lalu, istrinya terus saja berpikiran buruk padanya.


Alexander duduk di sisi ranjang pasien, ia merengkuh kepala istrinya dan mengusap-usap rambut Prilly dengan pelan. “Aku adalah pria yang paling beruntung di dunia, memilikimu, memiliki tiga anak dan kau akan memberiku satu lagi, aku sangat bahagia, tapi Tuhan berkehendak lain, kita bisa mendapatkan lagi nanti,” katanya.


“Aku ingin bayi ini,” erang Prilly.


“Percayalah, kalian dapat mendapatkan keturunan lagi kelak, jika ia terlalu lama berada di sana, itu membahayakanmu, ia akan menekan tuba falopi dan bisa berakibat fatal, rahimmu bisa pecah,” kata Nathalie, ia memahami betul emosi Prilly tidak seimbang karena kehamilan yang tidak normal. “Sekarang kalian beristirahatlah, besok pagi aku akan menyiapkan seluruh keperluan aborsinya,” lanjut Nathalie.


“Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kenapa kau memberiku harapan? Kau telah tahu sejak awal bukan?” tanya Prilly dengan nada menuduh. Ia memeluk pinggang Alexander yang berdiri di samping ranjang pasien, kepala Prilly terbenam di perut Alexander sambil air matanya terus membanjiri wajahnya.


“Memaafkan aku, aku tidak tahu cara memberitahumu,” lirih Alexander memberitahu Prilly.


“Apa ini hukuman dari Tuhan?” tanya Prilly dengan nada lirih, ia yakin, Tuhan menghukum perbuatannya yang merebut Alexander.


“Tidak ada yang di hukum, tidak ada yang salah, Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih baik kelak, percayalah.”


“Andai saja aku tidak meminum pil kontrasepsi darurat, andai aku tidak ke club dan mabuk apa ia akan hidup? Ini pasti salahku, aku yang membunuhnya.” Prilly menyesali semua tindakan dirinya yang semena-mena terhadap suaminya, ia meminum kontrasepsi karena tidak ingin hubungannya dan Alexander tercium publik, ia sering menuduh Alexander melakukan kebohongan lalu ia pergi ke club untuk memuaskan amarahnya, nyatanya semua tuduhannya selalu dipatahkan oleh Alexander karena pria itu memang tidak bersalah, ia memang egois, bahkan ia juga sangat posesif pada Alexander, ia kekanak-kanakan. Jika ia tidak egosi apakah janin yang ia kandung akan selamat?


Bahkan dari umur janin yang berada di dalam kandungannya bisa di pastikan sel telurnya di buahi oleh Alexander di malam pertama mereka kembali menjadi pasangan suami istri.


“Tidak, jangan menyalahkan dirimu, kita akan membuat yang lebih baik kelak, membuat dengan cinta yang paling indah di muka bumi ini, sekarang kita lebih baik mengikhlaskannya, jangan menangis lagi, akun sungguh tidak mampu melihatmu menangis seperti ini, bukan hanya kau yang terpukul, aku juga sangat sedih menghadapi kenyataan ini, setelah kau pulih, ayo segera kita daftarkan pernikahan kita secara resmi di biro cacatan sipil dan ayo kita ulangi pernikahan kita di gereja agar di saksikan seluruh keluarga kita," kata Alexander sambil membelai rambut Prilly.


Prilly mengangguk, ia kemudian mendongakkan wahahnya untuk memandang Alexander. “Bagaimana perceraianmu dan Jovita?” tanyanya.


“Semua berjalan lancar, ia telah menandatangani surat gugatanku,” jawab Alexander.


“Semudah itu ia menerima?” Prilly bertanya dengan nada heran, keningnya bahkan berkerut dalam, bukankah Jovita sangat marah dan tidak bisa menerima kenyataan saat mendengar pengakuan langsung Alexander beberapa hari yang lalu?


“Tidak perlu kau pikirkan, yang jelas Jovita menandatangani gugatan tanpa paksaan, ayo istirahatlah, aku akan menemanimu, kau istirahat untuk besok sayangku,” ucap Alexander sambil tatapan matanya memandangi wajah Prilly yang tampak pucat.


“Aku takut,” gumam Prilly.


“Aku akan berada di sampingmu, percayakan semua pada tenaga medis terbaik di sini." Alexander berusaha menenangkan Prilly.


“Apa kita bisa mendapatkan anak lagi kelak?” tanya Prilly dengan rona tampak gugup.


“Kita akan membuatnya dengan cinta yang sempurna, aku ingin putri secantik dirimu dan Grace,” kata Alexander kemudian menciumi pipi istrinya.


Alexander naik ke atas ranjang pasien, mereka berdua merebahkan tubuh di atas ranjang yang sempit itu, Alexander mengelus perut rata Prilly, calon bayi milik mereka yang malang, Alexander merasakan jantungnya sangat sakit setiap menyentuh perut istrinya.


“Kau sepertinya sangat menyukai anak gadis, ya?” tanya Prilly sambil menghirup aroma maskulin dari leher suaminya.


"Mereka pasti secantik dirimu, aku menyukainya." Alexander merapatkan pelukannya pada tubuh Prilly, "Tidurlah."


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VOTE NOVELNYA JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤