Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Benih yang mungkin tumbuh



Sementara William baru beberapa ratus meter mobil meninggalkan tempat tinggal orang tuanya ia sudah terlelap meringkuk di pangkuan Jovita.


Jovita membenarkan posisi William agar anak kecil itu merasa nyaman, Jovita memandangi wajah William lekat-lekat.


Entah karena ia menyukai William, karena kelucuannya atau karena ia menyukai hampir semua anak kecil atau karena anak itu adalah anak dari Alexander pria yang ia sukai. yang jelas, ia merasa menyayangi William dengan tulus sejak pertama kali ia bertemu William.


Tanpa sadar Jovita menciumi William yang terlelap dengan hati-hati dan berulang kali.


Sudut bibir Alexander terangkat, hatinya sangat bahagia, perasaannya di selimuti kehangatan yang luar biasa.


Seharusnya, yang di sampingnya sampai saat ini adalah Prilly, seharusnya ia tidak menghianati Prilly agar William merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, namun sekarang tidak masalah bersama siapa pun, toh bersama Jovita ia merasa nyaman. Bahkan ia merasa jantungnya berdebar-debar setiap kali bersama Jovita. Seperti ada kehidupan lain didalam dadanya setiap memandang wajah Jovita, apalagi Jovita tampak begitu tulus menerima William.


Dan Jovita tanpa terasa juga tertidur di bahu Alexander, pria dingin itu memerintahkan sopirnya untuk menjalankan mobil dengan pelan.


Bahkan ketika mereka telah sampai di tempat tujuan Alexander memerintahkan untuk membiarkan mesin mobil tetap menyala membiarkan Jovita dan William tertidur.


Hingga satu jam kemudian, Jovita terbangun, ia membuka matanya perlahan dan menjauhkan kepalanya dari bahu Alexander yang dengan tenang mengetik keyboard laptopnya.


“Sudah bangun?” tanya Alexander.


“Di mana kita?”


“Lerusahaan, aku ada meeting jam dua," kata Alexander.


Jovita melirik jam di pergelangan tangannya jam tiga lebih dua menit.


“Berapa lama aku tertidur?” pekiknya.


“Ayo lanjutkan tidur di ruanganku,” Alexander menutup macbooknya dan memberikan pada sopirnya. “Antarkan pada sekretarisku!” titahnya.


“Maafkan aku, kau jadi terlambat.”


“Tidak masalah, bisa di tunda,” Alexander keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Jovita dan mengambil alih William ke dalam gendongannya. “ayo,” ajaknya.


Jovita berjalan mengiringi langkah kaki Alexander dan melewati tatapan curiga dari seluruh perusahaan yang Alexander pimpin.


Setelah merebahkan tubuh kecil William di atas ranjang yang berada di balik ruang kerja Alexander, pria itu menghampiri Jovita.


“Jangan berkeliaran, aku akan meeting sebentar saja,” katanya sambil mengelus kepala Jovita.


Ruangan ini adalah tempat Alexander meniduri sekretaris-sekretaris jalangnya termasuk dirinya, Jovita tersenyum kecut.


Jovita merebahkah tubuhnya di samping William yang masih terlelap, ‘meeting ala Alexander adalah mustahil sebentar’ batinnya


Pria itu terkenal membosankan dalam rapat dan menegangkan. Ia tak segan segan menghukum karyawannya jika penjelasan yang mereka sampaikan tidak masuk ke dalam logika milikinya atau tak sesuai harapannya, pertemuan akan menjadi semakin lama, bahkan tidak jarang pertemuan berlangsung hingga tengah malam.


Namun berbeda di ruang pertemuan kali ini Alexander sesekali tersenyum, ia hanya mengangguk anggukan kepalanya, lalu membuka ponsel dan menggeser geser ponselnya, ia memandangi ponsel itu dengan tatapan bahagia. Membuat semua yang berada di ruang pertemuan saling tatap karena terheran heran melihat bos mereka yang berperilaku aneh.


Dan baru tiga puluh menit pertemuan, mereka telah di bubarkan.


“Sampai di sini dulu pertemuan kita kali ini. Aku harap kalian semua tingkatkan kinerja kalian, selamat sore dan segera kembali ke rumah kalian masing-masing setelah jam kerja usai,” katanya dengan ramah dan nada tidak biasa.


Jovita menggeliat merasakan seseorang menciumi punggungnya


Ternyata Alexander telah kembali ia juga merebahkan tubuhnya di belakang Jovita sambil memeluk gadis itu.


“Apa seperti itu anak kecil tidur?” tanya Alexander.


“Maksudmu?”


“Apa ia akan tidur sampai besok? Ayo kita bawa pulang saja,”


“Tidak, ia hanya kelelahan. Biasanya anak kecil akan tidur siang satu sampai dua jam normalnya,” kata Jovita menjelaskan.


“Kau berpengalaman sekali.”


“Dulu aku merawat beberapa keponakanku.”


“Berarti kau telah siap untuk merawat anakmu sendiri?”


“Omong kosong, aku belum siap.”


“Bagaimana jika ia tumbuh?” tanya Alexander sambil meraba perut Jovita.


Dan Jovita baru saja ingat Alexander untuk pertama kali tidak menggunakan pengaman beberapa hari yang lalu.


“Kau sengaja?” Jovita membalikkan badannya menatap galak pada Alexander.


Alexander mengangkat kedua alisnya disertai senyuman.


Jovita terkesiap. Alexander tersenyum?


“Kau tersenyum?” Jovita lebih tertarik membahas senyum langka itu ketimbang membahas janin yang mungkin tumbuh di rahimnya.


Baru saja Alexander hendak mendekatkan wajahnya pada jovita William bangun dan langsung duduk.


“Tante Jovi” panggilnya.


Jovita menjauhkan Alexander dengan tangannya dan langsung duduk juga seperti William.


“Sayang, kau sudah bangun? Apa kau ingin sesuatu?”


William memandang Alexander sambil mengerjapkan matanya


“Ayo bermain lagi,” rengeknya


Dakam sekejap perusahaan di hebohkan dengan putra boss mereka yang berlarian ke sana kemari sambil memegang pesawat mainannya yang di buat oleh Jovita dari kertas,


Prilly sudah mewanti wanti pada Alexander untuk tidak memberikan mainan pesawat karena khawatir akan merepotkan seperti beberapa hari yang lalu.


“William, kau tidak merindukan Mommy?” tanya Prilly.


“Mommy, aku ingin tidur bersama Tante Jovi.”


“Oh benarkah? Tidak masalah. Jadilah pria kecil yang baik, oke?” pesan Prilly pada putranya.


“Oke, Mommy. Terima kasih,” kata William kemudian berlarian meneruskan bermain-main.


“Jovita, maafkan aku merepotkanmu. Aku khawatir tengah malam ia terbangun dan menangis minta kesini," kata Prilly karena hal itu sudah sering di alami Lin Lin.


“Aku akan mengantarkannya saat ia sudah terlelap nanti,” kata Jovita.


“Maaf merepotkanmu, tapi aku yakin besok pagi ia akan kecewa saat ia terbangun dan kau tidak ada bersamanya.”


“kalau begitu kita lihat saja nanti kau tidak perlu risau.”


“Baiklah, aku harap ia tidak menyusahkanmu.”


Mereka mengakhiri sambungan video call tersebut, Benar saja malam harinya William membuat drama menangis jam dua dini hari dan meminta kembali ke rumah orang tuanya, berbagai bujuk rayu bahkan tidak mempan.


Bahkan Jovita yang menggendongnya mulai kelelahan.


“Bagaimana jika kita kembali besok?” tanya Alexander.


William menggelengkan kepalanya berualang kali


“Mommy, Mommy, Daddy, Daddy, aku ingin Daddy,” jeritnya sambil meronta-ronta tentu saja Daddy yang ia inginkan adalah Mike.


“Bagaimana jika besok menerbangkan pesawat lagi?” tanya Alexander, itu adalah opsi terakhirnya.


Tangis William terhenti seketika. “Airplane?” tanyanya, ekspersinya bahkan telah berubah ceria.


“Ya, bersama Daddy. Kau duduk di bangku co-pilot bersama Daddy.” Dengan mudah William mengangguk.


Meskipun besok Alexander pasti akan dimarahi oleh Prilly. Alexander yakin itu, namun tidak ada cara lain dibanding harus pergi tengah malam dalam cuaca di luar sedang hujan.


“Sekarang ayo kita tidur lagi,” bujuk Alexander sambil mengambil putranya dari gendongan Jovita dan berhasil. Dengan patuh William meringkuk di pelukan ayah kandungnya sambil menghisap susu dari botolnya dan tertidur kembali.


Alexander menyelimuti tubuh mungil itu lalu berpindah ke sisi ranjang di mana Jovita tidur


“Jangan pura pura tidur” bisik Alexander di telinga Jovita.


“Alex, di sini sempit,” keluh Jovita.


“Ayo pindah ke kamar kita, disana tidak sempit,” ajak Alexander.


“Aku ingin di sini,” tolak Jovita.


“Di sini?” tangan Alexander menyibakkan gaun tidur yang dikenakan Jovita.


“Alex, jangan kurang ajar.”


Tanpa menunggu persetujuan Jovita, Alexander mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam kamarnya


“Biar William diurus pengasuhnya,” kata Alexander sambil berusaha melepas gaun tidur Jovita.


“Alex, jangan, kumohon.”


"Kenapa? kita sudah sering melakukannya. Kau juga sekarang adalah wanitaku, aku berhak atasmu.”


“Ya, aku pelacurmu,” kata Jovita dengan nada pahit.


“katakan sekali lagi!” tatapan mata Alexander tiba-tiba penuh kemarahan, nada suaranya meninggi.


Ia langsung memasuki Jovita dengan paksa, seperti beberapa hari yang lalu.


“Alex, hentikan, sakit,” erang Jovita di sela isakannya


“Bagaimana agar kau tidak sakit? Katakan,” kata Alexander sedikit nenggeram.


“Pelaaan.”


“Kau menganggap dirimu pelacurku bukan? Apa ada ******* yang di perlakukan dengan pelan?”


“Alex, ku mohon, pelan,” isak Jovita memohon.


Alexander menghentikan aktivitasnya, mencumbu bibir Jovita dengan lembut. Memperlakukan dengan baik dan mulai menyatukan tubuh mereka dengan hati-hati, Jovita mulai mengerang, pinggul mereka bergerak dengan alami menghendak hingga Jovita mencapai beberapa kali puncaknya dan giliran Alexander bekerja maksimal mencapai tujuannya. Hangat memenuhi dinding rahim Jovita.


Alexander merengkuh Jovita membawa ke dalam pelukannya.


“Jangan pernah menyebut dirimu pelacurku lagi. Kau wanitaku, kekasihku, aku serius,” kata Alexander sukses mengejutkan Jovita.


Apakah itu pengakuan? Atau rayuan? Jovita masih tidak berani berharap.


Ia justru teringat Alexander tidak menggunakan pengaman. “Kau tidak menggunakan pengaman lagi.”


“Lalu?”


“Jika aku hamil kau akan memaksaku untuk membunuh bayinya bukan?” tanya Jovita dengan nada ketakutan.


“Apa aku pria sekejam itu dimatamu?”


Jovita terdiam.


“Tidurlah,” kata Alexander mengecupi pucuk kepala Jovita.