Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Melamar Prilly 3



“Daddy, Mommy, Anthony, aku ingin meminta pada kalian untuk menikahi Prilly kembali, menjadikan dia wanita satu-satunya dan menjadikan ia wanita terakhirku hingga maut memisahkan kami,” kata Alexander memulai pembicaraannya.


Federick mendekati Alexander dan menepuk bahu calon menantunya. “Jika kalian sudah menyepakatinya aku bisa apa? Kalian yang akan menjalani rumah tangga, tetapi nak kau harus tahu, kebahagiaan putriku adalah hal yang mutlak,”


“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang sempurna Daddy, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik di dalam keluarga kami, kali ini aku akan menikahi putrimu dengan benar.”


“Kuharap kata-katamu dapat kupercaya, jadi sejak saat ini kupasrahkan kebahagiaan putriku padamu,” kata Federick dengan tatapan penuh harap.


“Terima kasih Daddy, aku akan menjaga Prilly dengan baik,” ucap Alexander dengan tatapan yang sangat meyakinkan.


“Sayang, kau tidak ingin berkata apa-apa untuk Daddy?” goda Federick pada Prilly yang bersembunyi di balik punggung Alexander.


“Daddy, terima kasih." Prilly menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


“Semoga kalian bahagia,” kata Federick sambil mengecup pucuk kepala putri satu-satunya.


“Daddy, aku menyayangimu,” ucap Prilly serata memeluk pinggang ayahnya.


“Daddy juga menyayangimu,” kata Federick. “Mintalah restu pada mommymu.”


Prilly mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah ayahnya, ia mengerjapkan matanya, ekspresinya tampak ketakutan.


“Jadi, kau tidak ingin memelukku?” tanya Sandra dengan nada tidak senang.


“Mommy, a-aku,” gumam Prilly ragu-ragu.


Federick tersenyum seolah ia mengatakan. ‘Tidak apa-apa ada aku di sini,’ seraya melonggarkan pelukannya pada tubuh Prilly.


“Sepertinya Mommy harus mengalah pada kalian." Sandra memang akhirnya mengalah, ia mendekati Prilly yang masih berada di pelukan Federick suaminya.


“Mommy, terima kasih,” kata Prilly beralih memeluk Sandra.


“Alex, kupasrahkan putriku padamu, kali ini tidak ada ampun jika kau menyakitinya lagi.” Sandra berucap dengan nada galak sambil memeluk tubuh putrinya dan menciumi kepalanya.


“Aku mengerti Mommy, terima kasih," jawab Alexander penuh dengan rona kebahagiaan di wajahnya.


Setelah semua memberikan restu kepada Prilly dan Alexander malam itu kedua keluarga merayakan dengan acara makan malam bersama dalam suka cita, mereka saling bertukar pikiran memilih gedung untuk merayakan pesta dan juga Gereja untuk pemberkatan pernikahan mereka, tentu saja Diana sangat antusias dengan rencana pernikahannya, akhirnya Prilly akan resmi menjadi menantunya kembali.


Seluruh anggota keluarga masih berkumpul di mansion mewah keluarga Smith, Anthony mendekati Alexander. “Sepertinya kita harus berbicara berdua,” kata Anthony dengan nada dingin.


Alexander dengan anggun bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Anthony, sahabatnya sekaligus kakak iparnya. Anthony duduk berjongkok di tepi kolam renang, ia menyentuh air dan menggoyangkan tangannya di dalam air kolam.


“Bagaimana jika Mike kembali?” tanya Anthony dengan nada suara yang terdengar dingin.


“Kemungkinan itu sangat kecil,” jawab Alexander menyampaikan logikanya.


“Tapi meski hanya 1% peluang selalu ada, selama jasadnya belum di temukan,” ucap Anthony, wajahnya tampak masam, keningnya bahkan berkerut dalam.


Alexander menghela napasnya, ia juga menekuk kakinya berjongkok di samping sahabatnya.


“Aku dan Prilly memiliki kesepakatan,” kata Alexander dengan nada enggan.


“Kesepakatan?”


“Jika Mike kembali, aku menyerahkan semua pada Prilly, terserah, ia bebas memilih.”


“Kau bukan seperti dirimu, kau terdengar seperti pecundang,” ejek Anthony.


“Aku bisa apa? Aku tidak bisa memaksakan hatinya,” kata Alexander dengan nada mengambang, terdengar seperti putus asa.


“Bukankah kali ini juga kau memaksakan dirimu?”


“Aku rasa tidak, aku hanya kebetulan berada di waktu yang tepat,” jawab Alexander dengan nada percaya diri.


“Jika Mike kembali, aku ingin kau mempertahankan adikku.” Anthony mengucapkan kalimat itu dengan nada sangat tegas.


“Maksudmu?”


“Aku tidak ingin adikku seperti dijadikan seperti piala bergilir keluarga Johanson, aku ingin kau pria terkhirnya," kata Anthony dengan nada tidak senang.


“Aku mengerti.”


“Yang kulihat sekarang adikku benar-benar jatuh cinta padamu, konyol sekali,” ucap Anthony dengan nada jijik.


“Ya, konyol seperti istrimu, dia juga konyol,” Alexander membalas dengan nada tak kalah jijik.


“Aku tampan, wajar istriku jatuh cinta padaku,” Anthony tidak mau kalah.


“Sejak kapan kau narsis?” ejek Anthony, nadanya terdengar lebih santai.


“Ck...,” decak Alexander.


“Pinjami aku ponselmu,” pinta Anthony tiba-tiba.


“Untuk apa?”


“Ayolah....” Anthony mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Alexander setengah memaksa sahabatnya.


Alexander mengambil ponsel yang berada di dalam saku celanya, mengulurkannya pada Anthony dan Anthony juga mengambil ponsel di dalam saku celanya lalu melemparkannya ke atas rumput yang berada agak jauh dari tepi kolam renang.


Detik kemudian dua orang dewasa itu tercebur ke dalam kolam, dua pria dengan tinggi seratus delapan puluh lima centimeter dan bobot sembilan puluh kilogram terjatuh ke dalam kolam renang tentu saja menimbulkan bunyi percikan air, Prilly dan Linlin yang mengetahui suami mereka berada di tepi kolam segera menuju area kolam renang dan benar saja mereka mendapati kedua pria itu sedang tertawa lepas di tengah kolam renang sambil bercengkerama seolah mereka tidak merasakan dinginnya air kolam di awal musim dingin.


“Mereka akan terserang flu, aku berani bertaruh,” gumam Prilly.


***


Alexander memeluk tubuh Prilly di atas ranjang, ia tentu saja kedinginan setelah beredam di dalam kolam air dingin di malam hari.


“Kau bisa saja terkena flu, oh Astaga apa yang kalian pikirkan? Mengapa masuk ke dalam kolam seperti itu?” omel Prilly sambil menempelkan telapak tanganynya di kening suaminya.


“Kakakmu benar-benar jahil,” keluh Alexander.


“Sepertinya kakakku telah menyerah padamu,” kata Prilly dengan nada bahagia.


“Tentu saja, siapa pun harus menyerah padaku.”


“Dasar pria pemaksa,” Prilky menjepit hidung mancung Alexander dengan lembut dan menggoyangkannya.


“Hangatkan aku, Sayang,” geram Alexander, sambil mengeratkan tubuhnya pada tubuh Prilly, ia mulai ******* bibir istrinya, mempermainkan lidahnya dan bertukar saliva. Jemari tangannya menelusuri kulit di balik gaun tidur yang di kenakan Prilly meraba gundukan kenyal milik istrinya mere**snya dengan halus dan mempermainkan puncaknya membuat erangan-erangan halus dari bibir Prilly semakin merdu di telinga Alexander.


“Hubby, aku ingin dirimu,” erang Prilly seperti memohon.


“Aku juga sangat menginginkanmu,” geram Alexander, namun ia justru melepaskan tangannya yang berada di dada prilly kemudian ia memeluk Prilly kembali. “Tidurlah.”


“Hubby, kenapa berhenti?” erang Prilly.


“Kau masih sakit sayangku,” kata Alexander lirih.


“Aku tidak sakit,” rengek Prilly.


“Kau baru sembuh,vSayang.”


“Tapi aku sudah sehat.”


“Sayang, Nathalie mengatakan rahimmu harus istirahat selama tiga bulan,” kata Alexander memberi tahu Prilly.


“Benarkah?” tanya Prily. “Selama itu?” tanyanya lagi memastikan.


“Iya, Sayang.”


“Kau akan berpuasa selama itu?”


“Bukankah saat mengejarmu juga aku berpuasa?”


Prilly menyeringai kemudian ia mengecup pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. “Kak Alex aku mencintaimu,” katanya dengan gaya manja.


“Kau milikku sayangku, selamanya.”


‘Bahkan jika Mike kembali kau harus tetap menjadi milikku,’ lanjut Alexander di dalam hati.


 


BERSAMBUNG BULAN DEPAN


 


TAP JEMPOL KALIAN 😍😍😍


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤