
“Harun akan menemanimu,” kata Alexander ketika Prilly mengatakan Jovita mengajaknya berbelanja untuk kebutuhan pakaian musim dingin yang akan segera tiba.
“Tidak perlu sayang, aku bisa pergi sendiri,” tolak Prilly. “Oh iya, lalu bagaimana caramu menyampaikan nanti pada Jovita bahwa kau akan menceraikannya?” tanyanya sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
“Aku berencana untuk menemuinya beberapa hari lagi, mungkin sehari sebelum gugatan cerai di layangkan,” jawab Alexander.
“Aku akan ikut bersamamu,” kata Prilly cepat.
“Kau takut sekali aku bertemu dengan wanita lain ya?” tanya Alexander dengan nada menggoda.
“Kau besar kepala, ini adalah perbuatan kita berdua, aku tidak mau kau menanggungnya sendiri,” kata Prilly dengan nada tidak terima suaminya seolah mengatainya bahwa Prilly sedang cemburu.
“Apa itu bukan alasan Nyonya Johanson yang posesif?” goda Alexander lagi.
“Sama sekali tidak, kau sangat besar kepala, aku tidak posesif,” jawab Prilly dengan bersungut-sungut, bagaimana tidak Alexander yang sekarang sangat menyebalkan, pria itu terus saja menggodanya dan menganggap Prilly begitu tergila-gila padanya.
“Iya, aku tahu, kau sangat mencintaiku,” jawab Alexander sambil mendekati Prilly dan membelai rambut pendeknya.
“Aku tidak pernah mengatakan itu,” sanggah Prilly semakin terlihat kesal namun wajahnya tampak menjadi merona merah.
“Akan kubuat kau mengatakan itu.” Alexander menyeringai, ia mendekatkan wajahnya pada Prilly dan melahap bibir istrinya menggigitnya pelan agar istrinya itu memberinya akses dan membalas ciumannya, perlahan Prilly menerima ciuman itu dan ciuman tua mulai membara, tangan Alexander menyusup di balik pakaian yang Prilly kenakan, ujung jemarinya mulai memainkan puncak gundukan kenyal di dada Prilly, baru saja Alexander hendak menyingkap pakaian yang di kenakan istrinya, ketukan berulang-ulang di pintu kamarnya mengganggu ritual panas yang baru saja akan di mulai.
Ketika Alexander membuka pintu kamarnya, tampak Grace di dalam berada di dalam gendongan Diana, wajah Grace tampak merah. “Alex, panggil dokter keluarga kita, suhu badan putrimu sangat tinggi,” kata Diana.
Alexander mengambil alih Grace dari gendongan Diana ibunya. “Bukannya dia baik-baik saja tadi pagi?”
tanya Alexander.
“Richard terlalu memanjakannya, dia membiarkan Grace dan Leonel mengaduk aduk kolam ikan tadi sore hingga beberapa ikan mati,” ujar Diana.
“Bagaimana dengan Leonel?” tanya Prilly yang berada di samping Alexander sambil menyentuh kening Grace menggunakan telapak tangannya untuk mengecek suhu tubuh anak gadisnya.
“Aku tidak yakin, dia telah tidur bersama William dan daddymu,” kata Diana, “kalian rawat Grace, aku akan mengecek keadaan Leonel dan Willy,” kata Diana.
Malam itu pasangan suami istri itu bekerja sama menjaga Grace yang sakit, berulang kali Alexander mengganti kompres di kepala Grace, ini pertama kali ia mengurus anak kecil sakit seperti ini.
“Apa dulu Willy juga sering sakit seperti ini?” tanya Alexander dengan nada terdengar pahit, ia teringat di masa lalu ia membawa ****** ke mansionnya dan ia tidak tahu saat itu putranya ternyata sedang berada di rumah sakit.
Prilly hanya menganggukkan kepalanya, sambil membelai pipi bulat Grace putrinya, air mata Prilly justru tergelincir dari kelopak matanya, sanggat sakit bagi seorang ibu melihat anaknya menderita meskipun itu kata dokter hanya demam ringan biasa.
“Jangan menangis, panasnya sudah turun, kau istirahatlah, biar aku yang mengurus putri kita,” kata Alexander pada Prilly.
Prilly justru semakin terisak, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aku tidak tahu seperti apa aku membesarkan Grace dan Leonel jika tidak ada kau dalam hidup kami,” kata Prilly dengan nada tersengal-sengal.
Alexander merangkak di atas kasur untuk mendekati Prilly dan memeluknya. “Jangan berkata seperti itu, semua kesalahanku yang tidak mengejarmu dengan benar sejak awal,” ucapnya dengan nada getir.
Prilly menggeleng, ia memeluk pinggang Alexander dengan erat.
“Setelah semua ini lamar aku dengan benar,” pinta Prilly.
“Tentu saja, ayo kita mulai semuanya dari awal,” jawab Alexander. “Ayo kita gelar pernikahan termewah tahun ini.”
“Kau selalu ingin buru-buru, ini sudah akhir tahun,” ucap Prilly sambil menjauhkan kepalanya yang terbenam didada Alexander untuk melihat wajah suaminya yang tidak sabaran.
“Baik, kalau begitu awal tahun, setelah itu kita berbulan madu keliling dunia,” kata Alexsander sambil menatap wajah cantik Prilly.
Prilly menganggukkan kepalanya.
“Untuk apa?” tanya Prilly heran, untuk apa suaminya meminta maaf.
“Aku menyusahkanmu di masa lalu, kau mengurus William sendirian,” kata Alexander dengan ekspresi penuh penyesalan.
“Kau harus menebusnya dengan benar,” seringai Prilly.
“Terima kasih kau memberiku kesempatan untuk menebus dosaku,” kata Alexander.
“Apa cincin kita telah siap?” tanya Prilly.
“Kau juga tidak sabaran ya?” Alexander membalas perkataan Prilly.
Prilly justru terkekeh.
“Tidurlah, biar aku yang mengurus Grace,” kata Alexander dengan nada lembut sambil menyelipkan rambut Prilly ke belakang telinganya.
“Beri aku ciuman selamat malam,” pinta Prilly dengan nada menggoda.
“Memohonlah,” balas Alexander dengan nada yang tak kalah menggoda.
“Kau besar kepala sekarang,” kata Prilly dengan nada geli, jika Alexander bisa menjadi pria sehangat ini sejak dulu, ia pasti jatuh cinta pada suminya sejak mereka muda.
“Kau mencintai pria sombong dan besar kepala,” jawab Alexander dengan nada sombong sambil mengangkat kedua alisnya.
“Sangat,” jawab Prilly dengan wajah tersipu.
Alexander menciumi pipi Prilly kanan dan kiri, kemudian mengecup keningnya penuh kasih sayang, ia juga sedikit ******* bibir Prilly dan mengakhiri ciuman yang mungkin saja bisa membakar gairah sementara Grace ada di antara mereka dan dalam keadaan sakit.
Keesokan paginya ketiga orang itu terbangun dengan suasana yang cukup nyaman, suhu badan Grace telah normal, keceriaannya juga telah kembali meski belum sepenuhnya. Alexander dengan telaten mengurus Grace, menyeka tubuh Grace dengan handuk basah yang hangat, menyuapinya dan membujuk Grace meminum obatnya.
Gadis kecil itu meskipun tampak lemas dan tak secerewet biasanya namun keadaannya sudah tidak mengkhawatirkan lagi, ia hanya meringkuk di pangkuan Alexander di depan televisi sambil menonton acara kartun kesukaannya di temani Prilly, sementara William dan Leonel pergi ke sekolah seperti biasanya.
“Bukankah Mommy akan pergi berbelanja?” tanya Alexander pada Prilly yang duduk di sampingnya.
“Kurasa aku lebih baik di rumah,” jawab Prilly sambil mengecek suhu badan Grace dengan cara menempelkan telapak tangannya di kening gadis kecilnya.
“Daddy yang akan menjaga Grace, Mommy berbelanjalah, jangan lupa belikan Daddy pakaian untuk musim dingin,” kata Alexander.
“Jadi selama ini siapa yang mengurus fashionmu?” tanya Prilly ingin tahu.
“Tentu saja Harun, siapa lagi?” jawab Alexander.
“Kalau begitu biar Harun memilihkan,” jawab Prilly dengan nada menggoda.
“Tapi ku rasa mulai saat ini aku ingin istriku tersayang yang memilihkan, lagi pula aku sekarang tidak memiliki banyak pakaian di sini,” ujar Alexander, tentu saja karena hampir semua pakaiannya berada di tempat tinggalnya bersama Jovita.
“Suamiku yang malang,” ejek Prilly pada Alexander membuat Alexander gemas dan menarik hidung Prilly dengan lembut.
JANGAN BILANG KALIAN ADA YANG MERASA TERTIPU LAGI SAMA JUDUL 😆😆😆😆
DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE, POIN ATAUPUN KOIN TIDAK MASALAH, YANG MANA AJA AUTHOR UDAH SENANG MINGGU KEMARIN BISA MASUK RANK, HEHEHEE.
TAP JEMPOL KALIAN MAN TEMAN ❤❤❤❤🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘