
Sophia berjalan menuruni tangga anak tangga di dalam rumahnya, ia menghentikan langkahnya saat melihat sesosok pria sedang merebahkan tubuhnya dengan santai di atas sofa di tengah-tengah ruangan tersebut. Kaki pria itu tampak menggantung karena panjang sofa yang tak sepadan dengan tubuhnya.
“Kau datang sendiri Mike?”
“Apa aku harus membawa pasukkan?” jawab dengan santai, lengannya disilang di belakang kepalanya sebagai bantal.
“Di mana Sidney?” Sophia berjalan menghampiri Mike.
“Dia pergi menonton ke bioskop.”
“Menonton?” Sophia mendudukkan bokongnya di sofa tepat di depan Mike.
“Bersama Helena, seperti biasa,” jawab Mike.
“Sudah kuduga.”
“Aku sangat bosan,” gerutu Mike.
“Bosan?” kata Sophia meraba perutnya yang tampak mulai membuncit, dia sedang mengandung calon bayi duanya .
“Semenjak tinggal di New York dan memiliki wajah ini aku tidak bisa lagi menggandeng dengan bebas tangan Sidney, makan di restoran berdua dan kencan di bioskop. Menyebalkan, kebebasan kami hilang.”
“Dasar pria cabul.” Sophia terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
“Bukan cabul, aku hanya bersikap romantis sebagai pria,” kata Mike sambil menarik sebelah lengannya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, kemudian menyentuh layar ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Kemudian ia mengamati wajah barunya yang ada di layar ponselnya.
“Sidney berkata aku lebih tampan dengan wajah ini,” Seringai Mike. “Bagaimana menurutmu?”
“Kau sangat konyol,” jawab Sophia. Bagi Sophia seperti apa pun wajah Mike pria itu tetap tampan. “Kau tampak begitu banyak bersantai belakangan ini.”
“Alexander mengurus semua bukti-bukti yang kami perlukan di London, aku tidak perlu risau lagi, pasti dia bisa mengatasi dengan baik,” kata Mike.
“Bagaimana dengan Simon dan Wilona?”
“Biarkan saja mereka bersenang-senang dulu, pada saatnya nanti mereka akan menangis dan merangkak di kakiku, tentu saja setelah itu kupastikan mereka akan membusuk di penjara,” jawab Mike dengan nada begitu santai, ia meletakkan ponselnya di atas meja kemudian kembali menyilangkan tangannya di belakang kepalanya.
“Setelah ini apa rencanamu?”
“Maksudmu?”
“Setelah semua masalah ini teratasi apa kau akan mengubah kembali wajahmu dan tinggal di London?” Sophia mengambil sebuah majalah yang tergeletak di atas meja dam mulai membolak-balik halamannya.
Mike menggeliatkan badannya kemudian ia mengubah posisinya, ia duduk dengan benar. “Aku rasa tidak, aku lebih cocok tinggal di sini sejujurnya, Sidney juga baik-baik saja di sini sepertinya.”
“Lalu kau akan membuka cabang Glamour Entertainment di sini?” Sophia bertanya dengan nada sedikit mengejek.
“Kau pikir aku gila? Lalu aku bersaing dengan perusahaan milik anakku sendiri? Konyol sekali kedengarannya.”
“Apa yang akan kau kerjakan di sini?” Sophia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ada di tangannya.
“Perusahaan legal milik Simon lumayan juga dan kupastikan akan segera beralih kepemilikan menjadi milik Johanson. Sejarah akan terulang kembali, harus membayar mahal atas semua yang ia lakukan kepadaku dimasa lalu.” Tentu saja Mike setelah memperhitungkan segalanya, Simon dan Wilona akan ia hancurkan hingga berkeping-keping hingga harapan mereka hancur tak bersisa bahkan jika hanya sekecil debu.
“Kau benar-benar kejam, ya?” Bibir Sophia tampak menyunggingkan senyum tipis.
“Tidak juga. Aku kejam karena Simon dan Wilona bermain terlalu jauh sekarang mereka harus tahu kucing yang jinak pun akhirnya bisa mencakar bukan?” Mike mengangkat sebelah alisnya.
“Kau bukan kucing,” Sophia terkekeh mendengar apa yang dilontarkan sepupunya.
“Tentu saja aku bukan kucing mana mungkin ada kucing bermata biru seperti aku.”
Sophia kembali terkekeh. “Sebaiknya kau belajar lebih banyak tentang kucing karena ada banyak kucing bermata biru,” kata Sophia sambil menutup majalah di atas di tangannya kemudian meletakkan kembali majalah itu ke atas meja.
“Oh ya? Tapi, aku rasa mereka tidak mungkin setampan aku.”
Sophia terbahak-bahak mendengar pengakuan sepupunya. Entah kenapa Mike yang dulu dan yang sekarang sedikit berbeda, pria ini lebih centil dibanding dulu, Sophia menduga sikapnya sekarang yang selalu ceria adalah cara untuk menutupi rasa frustrasinya. Kehilangan keluarga bukan hal yang mudah. Kehilangan segalanya dalam sekejap mata. Mike mendapatkan Sidney tetapi ia harus melepaskan segalanya. Rumah tangganya, anak-anaknya.
“Jadi omong-omong jam berapa Harry kembali? Astaga aku telah menunggu terlalu lama.” Mike memang telah menunggu terlalu lama hampir dua jam yang menunggu Harry.
“Satu atau dua jam lagi,” jawab Sophia sambil bangkit dari duduknya. “Jadi, kalian memiliki acara malam ini?”
“Aku dan Harry akan pergi ke club untuk bersenang-senang apakah kau mengizinkan?” Mike menggoda Sophia, sebenarnya ia hanya perlu bertemu Harry karena ingin berdiskusi, besok ia memiliki jadwal untuk bertemu dengan seorang investor dalam proyek pembangunan perusahaan barunya. Mike akan memulai usahanya dari nol dengan bantuan modal yang ia peroleh dari Harry. sebenarnya Alexander telah menawarkan bantuan modal kepadanya. Bahkan Alexander ingin mengembalikan Glamour Entertainment kepada Mike, akan tetapi Mike menolaknya dengan pertimbangan anak-anaknya dirawat oleh Alexander rasanya sungkan jika menerima bantuan Alexander seperti itu.
“Kalian para pria benar-benar egois ya, aku sedang hamil dan kau mengajak suamiku bersenang-senang, dasar menyebalkan!” gerutu Sophia sambil melangkahkan kakinya. “Bagaimana jika kita minum teh di taman belakang?”
“Bukan ide yang buruk,” jawab Mike dengan nada malas namun tetap saja ia bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Sphia menuju ke halaman belakang kediaman tempat tinggal Sophia.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️