Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
A Plane



Pagi hari di kamar Jovita dan Nuan Nuan.


“Jovi, kurasa aku harus pergi ke kamar ayahku untuk mengecek beliau. Aku akan menyusul kalian semua nanti,” kata Nuan Nuan, mereka memiliki acara sarapan pagi bersama selutuh keluarga besar Smith dan Johanson.


“Oke, sampai jumpa di restoran,” kata Jovita sambil mengemasi barangnya. Rencananya setelah sarapan ia akan langsung pergi untuk bekerja, tidak perlu kembali ke kamar itu lagi jadi ia akan membawa semua barangnya.


Baru saja Jovita keluar dari kamar dan menutup pintu, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dan membawanya ke lift. Jovita mengatupkan bibirnya erat erat.


Alexander, pria ini tidak bisakah lebih lembut? gerutu Jovita di dalam hati.


“Kenapa kau selalu mengabaikanku?” tanya Alexander dengan nada dingin setelah mereka berada di kamar hotel tempat Alexander menginap.


Jovita hanya diam. “Jovita, jawab!” Alexander menatap wajah gadis di depannya.


“Sikap saya adalah sikap yang seharusnya, Sir.” Jovita menatap wajah Alexander dengan tatapan tak kalah dingin.


“Apa maksudmu?” Alexander mengerutkan keningnya.


“Bukankah sudah jelas, hubungan antara kita hanya sebatas mantan karyawan dan mantan bosnya,” jawab Jovita datar.


“Apa maumu, Jovi?”


“Saya harus pergi bekerja.”


“Berhenti saja dari pekerjaanmu, aku akan menggajimu.”


“Jangan mencoba merendahkan saya lagi, Sir,” jawab Jovita sambil menyipitkan matanya. Pancaran matanya menyiratkan kekecewaan.


“Aku tidak merendahkanmu, Jovita. Maksudku, kau lebih baik bekerja di perusahaanku.” Alexander mencoba meralat kata katanya.


“Terima kasih atas tawaran Anda, tapi saya tidak tertarik menjadi karyawan di perusahaan Anda,” kata Jovita sambil membalikkan badannya menuju pintu.


“Kalau begitu, jadilah wanitaku,” kata Alexander tiba-tiba.


Jovita menghentikan langkahnya, justru mendengar tawaran Alexander membuat jantungnya terasa diremas. Gadis itu menghela nafasnya.


“Di luar sana, ada banyak gadis yang bersedia menjadi wanita Anda. Selamat tinggal,” kata Jovita, telapak tangannya meraih gagang pintu dan bergegas melangkah menuju parkir area dimana mobilnya berada. Berulang kali Jovita menyeka air matanya yang membanjiri pipi putihnya sambil melangkahkan kakinya.


Sesampainya di dalam mobil ia mengirim pesan pada Prilly untuk meminta maaf karena ia tidak bisa bergabung untuk sarapan pagi bersama.


Alexander duduk di tepi ranjang kedua ibu jarinya menekan pelipisnya.


Ia tak habis pikir, mengapa Jovita sangat sulit dimengerti. Mengapa Jovita sulit sekali di bujuk. Bahkan ia telah membuang harga dirinya meminta Jovita untuk menjadi wanitanya.


Apa yang wanita itu inginkan? batinnya bertanya-tanya.


Mobil? Apartemen? Deposito? Ia mampu memberikan padanya. Apalagi yang gadis itu cari? Mengapa begitu sulit berkata iya untuk menjadi wanitanya? Bukankah menjadi wanitanya adalah keinginan banyak gadis di London?


Setelah beberapa saat berpikir keras, tiba-tiba logika kembali datang menguasai otaknya. Untuk apa ia mengejar Jovita? Ia hanya gadis biasa dari keluarga biasa, mengapa ia begitu gigih mengejarnya? Sungguh bodoh, rutuk Alexander dalam hatinya. Ia meninggalkan hotel itu dan pergi menuju perusahaannya untuk bekerja.


Di sisi lain,


Pasangan yang baru saja mengadakan pesta pernikahan tampak begitu bahagia hingga membuat semua yang memandangnya begitu iri.


Hari ini berita hiburan penuh dengan berita pernikahan Michael Brian Johanson dan Prilly Silviana Smith. Ada juga berita tentang hadirnya Alexander Johanson di pesta pernikahan mereka.


Bahkan tidak hanya sampai di situ, setelah sukses dengan pesta pernikahan. Kejutan hari ulang tahunnya, hari itu adalah lounching penjualan perhiasan yang Prilly desain. Baru satu jam foto perhiasan itu di rilis ke website resmi LUXURY Diamond, perhiasan itu langsung habis terjual.


Benar-benar menjadi hari yang paling membahagiakan sepanjang hidup Prilly. Apalagi kedua orang tua Alexander dan juga Alexander juga hadir dalam pesta pernikahan mereka. Menandakan bahwa hubungan keluarga yang sempat renggang itu kini telah membaik kembali.


"Sayang, apa yang membuat alex datang di pesta pernikahan kita tadi malam?" tanya Mike tiba-tiba setelah mereka menyantap sarapan pagi.


"Menurutmu?" Lrilly justru kembali bertanya.


"Aku tidak tau, aku tidak begitu mengenalnya "


"Seseorang telah datang dan menempati hatinya."


"Dari mana kau tau?"


"Aku belum tahu pasti, tapi aku bisa menebaknya dari sikap dan sinar mataya."


"Aku pikir kau seorang psikolog." Mike mengangkat gelas kopinya dan menyeruputnya.


"Hahaha," Prilly tertawa renyah.


"Siapa gadis itu?" tanya Mike penasaran.


"Akan aku beri tahu kau, saat mereka berda di altar pernikahan."


"Itu tidak perlu, semua orang akan melihat dengan sendirinya," gerutu Mike. Tidak lama William mendekati Mike dan Lrilly


"Mommy, Mommy, look, Mommy, look!" ia menunjukkan sebuah kotak mainan berisi pesawat yang bisa di kendalikan dengan remot kontrol.


"Hei, Sayangku, kau memiliki mainan baru?" kata Prilly. "Dari mana kau mendapatkan itu?"


"Daddy Mike, thank you," kata William.


"hmmm. Sayangnya bukan aku yang membelinya," kata Mike sambil mengangkat tubuh William dan mendudukkan di kursi. "Apa kau ingin tahu siapa yang membelikan itu?" tanya Mike.


William dengan imutnya mengangguk. "Oke, ayo kita panggil dia," kata Mike sambil memanggil Alexander melalui panggilan video call.


Alexander segera menjawab panggilan dari Mike dan tidak lama di layar ponsel tampak wajah Alexander


"Seseorang ingin mengucapkan terima kasih. Ia sangat menyukai mainan barunya," kata Mike.


"Willy, ayo katakan terima kasih."


Sayangnya William terdiam saat melihat siapa yang ada di dalam layar ponsel Mike.


"William apa kau menyukai pesawat itu?" tanya Mike.


William mengangguk. "daddy alexander memiliki banyak. bahkan Daddy Alex juga memiliki yang besar, kau bisa naik dan menerbangkannya sendiri?"


"Benarkah?" rupanya william sangat tertarik dengan kata-kata Mike 'menerbangkan pesawat sendiri'


"Kau mau?"


"Ya, aku mau."


"Kau bisa minta sendiri pada Daddy Alex," Mike berbisik di telinga William.


"I want the air plane," teriak William sambil tangannya menirukan pesawat terbang.


"Berapa banyak yang kau mau, Willy?"


William membentangkan lima jarinya.


"Baiklah, baiklah, Bagaimana jika besok kau berkunjung ke rumah grandmom? Daddy akan membawa ai plane nya ke sana,"


"No, no, no, i want real plane," teriak William.


Mike dan Prilly terkekeh memdengar permintaan William, Alexander juga tersenyum. Hatinya merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan.


Sabtu pagi, Mike dan Prilly membawa William menuju kediaman Diana, dan disana Alexander telah menunggu kedatangan mereka.


“Mommy apa kita akan menerbangkan air plane?” William terus bertanya tentang pesawat.


“We will see.” Prily tidak berani berjanji.


“Mike, kau dan Alex, kalian benar benar keterlaluan,” gerutu Prilly.


Mike hanya tertawa ringan. Prilly menggelengkan kepalanya.


Benar saja sesampainya di kediaman Diana, Alexander sedang mengoperasikan remot kontrol menerbangkan pesawat mainan. William tampak kecewa.


“Apa kau ingin pesawat sungguhn?” tanya Alexander.


William mengangguk.


“Tapi aku perlu seorang pria manis yang mau duduk di pangkuanku untuk membantuku menerbangkan pesawat,” kata Alexander semanis mungkin, ini adalah kata-kata termanis yang telah ia pikirkan semalam suntuk.


“Ayo, Daddy Mike, kita terbangkan pesawatnya,” rengek William.


“Aku tidak bisa menerbangkan pesawat, Daddy Alex yang bisa.”


“Kenapa kau tidak bisa?”


“Karena Daddy Mike tidak memiliki pesawat,” kata Mike.


“Ayo kita membelinya,” ajak William sambil meraih jari jemari panjang Mike dan bermaksud menuntun Mike.


“Kalian menjanjikan sesuatu yang terlalu berlebihan.” Prilly masih setia dengan gerutuannya menyalahkan suami dan mantan suaminya.


“Sebelum kita membelinya bagaimana jika kita bermain memakai milik Daddy Alex?” tanya Mike pada William


Pria kecil itu tampak kecewa. “Ayo kita ke atas, kita akan menerbangkan pesawatnya,” ajak Mike sambil meraih William dengan satu tangannya membawa berlari kecil menuju atap mansion dimana helikopter milik keluarga Johanson berada.


William sangat senang ia bertepuk tangan. “Mommy come, Mommy...,” panggilnya. Tangan kecilnya melambai-lambai.


Setelah membujuk dengan beberapa trik, akhirnya William bersedia duduk di pangkuan Alexander di bangku Co pilot.


Dan pilot menerbangkan helikopter itu menuju bandara. Mereka akhirnya masuk kedalam pesawat jet pribadi milik keluarga Johanson. Berputar-putar di langit London beberapa menit, lalu mereka kembali ke mansion orang tua Alexander. Dan william ia telah tertidur pulas di pelukan Alexander.


Alexander merebahkan tubuh kecil putranya, menutupi dengan selimut dan keluar dari kamarnya.


Ia kemudian bergabung bersama Mike dan Prilly di ruang keluarga, mengisi waktu dengan bermain catur. Sedangkan Prilly merebahkkan tubuhnya di sofa sambil menonton acara di televisi. Hingga William terbangun dan mereka makan siang bersama Diana dan Richard Johanson, lalu mereka berpamitan untuk pulang.


Diperjalanan menuju penthouse. “Daddy, can you buy me a plane?” tanya William.


"Aku rasa, Daddy Alex bisa membelikanmu pesawat,” jawab Mike sambil tertawa ringan.


“No, Daddy, no. Aku ingin kau yang membelikan untukku.” Mike tidak bisa lagi berkata-kata, ia melirik Prilly, istrinya.


“William, kau bisa meminta yang lain pada Daddy Mike.”


“Mommy, aku ingin plane.”


“Baiklah, tunggu kau sebesar Uncle Anthony kami akan membelikan untukmu.”


“Really?” tanya william antusias.


“Of course.” Prilly mengecup kening putranya.


Mike terkekeh-kekeh karena melihat istrinya kehabisan akal menghadapi putranya.


“Kalian benar-benar membuat masalah,” lagi-lagi Prilly menggerutu.