
Sambil berjalan menundukkan kepalanya Prilly menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah gontai, melewati kamar-kamar yang berjejer rapi seperti sebuah hotel. Ketika lift yang akan membawanya turun ke arah lantai bawah berhenti karna seseorang hendak masuk Prilly mendongakkan kepalanya untuk memastikan di lantai berapa ia berada, dan alangkah terkejutnya, Jovita adalah orang yang masuk le dalam lift di mana Prilly berada.
“Prilly?”
“J-jovita?”
Kata keduanya bersamaan.
“Prilly apa yang kau lakukan di sini? Apa kau sakit?” tanya Jovita sembari tangannya menekan tombol lift menuju lantai under ground.
“Keponakanku Gabriel di rawat di sini, jadi aku menjenguknya,” jawab Prilly. “Bagaimana denganmu?” tanya Prilly.
Wajah Jovita mendadak murung, ia menunduk dalam sambil mere**mas amplop yang berada di telapak tagannya.
Merasa penasaran Prilly bertanya, ”Maaf Jovi apa pertanyaanku membuatmu tidak nyaman?”
“Prilly, bolehkah aku berbagi cerita denganmu?” tanya Jovita dengan nada rendah dan suara pelan.
Deeg...!
Jantung Prilly merasakan sebuah ketakutan, entah ketakutan macam apa, yang jelas ia memikirkan banyak hal, mungkinkah Jovita hamil? Mungkinkah Jovita mengetahui hubungan gelapnya?
“Jika kau ingin berbagi cerita denganku aku tidak keberatan,” kata Prilly, tidak mudah mengucapkan hal itu, ia merasa canggung, ia merasa dirinya adalah wanita munafik di depan Jovita.
Kedua wanita itu urung menuju area under ground, Jovita mengajak Prilly duduk di kantin rumah sakit.
Menghela nafas panjang Jovita mengulurkan amplop di ttangannya pada Prilly yang duduk tepat di depannya. “Bacalah,” kata Jovita.
Dengan ragu-ragu prilly membuka amplop berwarna coklat yang telah sedikit kusut karena telah dire**soleh Jovita, membuka lipatan kertas dengan hati-hati dan membaca setiap tulisan di kertas itu dengan seksama.
“Beberapa hari yang lalu aku mengecek kembali rahimku, ini adalah rumah sakit ketiga yang aku datangi tanpa sepengetahuan Alex, sejak aku keguguran, Alex selalu mengatakan kami bisa mendapatkan anak lagi karena kami berdua normal, faktanya Alex berbohong, ia bersekongkol dengan dokter yang kami datangi, kemungkinan untuk dapat memiliki keturunan hanya 10%, dan kehamilanku yang pertama hanya sebuah kebetulan, yang jelas kandunganku juga sangat lemah hingga hanya terpeleset di kamar mandi saja aku langsung kehilangan bayiku,” kata Jovita dengan nada murung.
Kepala Prilly terasa berputar-putar mendengarkan cerita wanita di depannya, Alexander sangat mencintai Jovita, Alexander hanya menginginkan anak dari dirinya, Alexander merayunya hanya untuk memiliki keturunan , Alexander berbohong, benar kata kakaknya Anthony, Alexander hanya menjebaknya, memanfaatkannya, Alexander tetap pria baji**an, Alexander tidak mencintainya.
Prasangka-prasangka yang di bangun Prilly kini menghantui otaknya, ia hampir saja berlari dan meninggalkan Jovita jika saja akal sehatnya tidak segera kembali.
“Jovita, bagaimanapun ini hanya kata dokter, dokter hanya manusia biasa, bersabarlah, mungkin Tuhan akan berbelas kasih dan memberi kalian keturunan ,” ucap Prilly sambil berusaha tersenyum manis.
‘Oke, sekarang aku sempurna seperti manusia bermuka dua,’ batinnya merasakan getir.
“Aku takut Alexander membuangku karena kekuranganku,” guman Jovita lirih.
“Buktinya ia masih bersamamu hingga saat ini meski mengetahui kekuranganmu, aku yakin, ia sangat mencintaimu,” jawab Prilly dengan nada meyakinkan Jovita meski yang ia rasakan jantungnya terasa membengkak memenuhi rongga dadanya hingga terasa seolah sampai ke tenggorokannya dan akan mencekik lehernya.
“Kau bisa bicarakan dengan Alex secara baik-baik, kalian bisa mencoba dengan metode bayi tabung,” kata Prilly lagi.
Sekali lagi semua yang ia ucapkan benar-benar menyakitkan hatinya sendiri, rasanya ia ingin melompat ke dalam jurang yang berisi kumpulan serigala lapar untuk mengakhiri kepedihan yang ada di dalam benaknya.
Jovita menganggukkan kepalanya pelan, “aku akan berbicara padanya, nanti jika momennya tepat, saat ini Alex sepertinya sedang ada masalah dengan perusahaannya, ia sangat sibuk dan sering bersikap murung,” kata Jovita.
Hening sejenak, keduanya tampak terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Terima kasih Prilly kau bersedia mendengarkan keluh kesahku,” ucap Jovita.
“Tidak masalah, aku tidak keberatan sama sekali, sampai jumpa Jovita,” jawab Prilly seraya bangkit dari duduknya kemudian melangkah kakinya meninggalkan Jovita.
Dada Prilly turun naik merasakan guncangan emosi hebat yang melanda seluruh tubuhnya, ‘lihat saja Alexander! Kali ini aku akan meninggalkanmu! Tanpa ampun, aku tidak sudi lagi bersamamu Alexander, dasar kau pria baji**an!’ rutuk Prilly dalam hatinya.
Sesampainya di kediamannya Prilly bersikap biasa, mengurus ketiga anaknya dan bermain bersama mereka ia juga membantu Maria menyiapkan makan malam meski ia hanya menyusun piring dan peralatan lain di atas meja.
“Mommy apa Daddy akan makan malam bersama kita?” tanya Grace.
“Tidak Daddymu sedang sibuk, ia tidak akan datang,” jawab Prilly sambil meletakkan sebuah piring berisi pasta di depan Grace.
“Sayang sekali,” keluh Grace.
“Ada Mommy untuk apa kau mencari Daddy?” tanya Prilly dengan nada tidak senang, bagaimanapun Alexander telah mencuci otak anak gadisnya, Prilly harus segera mengatasi ini, ia akan menjauhkan anak gadisnya dari Alexander, dan ia akan pindah ke kediaman orang tuanya untuk menghindari pria itu. Ya hanya ada satu cara itu.
“Mommy jarang menyuapiku, kau hanya pandai mendongeng, kau juga tidak pernah membuatkan kami sarapan,” kata Grace kepada ibunya.
“Grace kau sudah besar, jangan manja, lihat Leonel dan kakakmu William mereka tidak semanja dirimu,” kata Prilly kepada putrinya Grace.
“Mereka pria sedangkan aku adalah anak gadis, tidak ada pria yang di manjakan,” jawab Grace membela diri.
Prilly menggelengkan kepalanya sambil melirik William yang duduk di samping Grace, anak berusia delapan tahun itu mengambil potongan daging di piringnya dan menyuapkannya pada Grace.
“Aku akan menggantikan Daddy setiap kali Daddy sedang sibuk oke?” kata William.
“Aku ingin Daddy,” rengek Grace meskipun ia dengan patuh menerima suapan makanan dari tangan William.
“Jangan menyusahkan Mommy,” kata William, nada bicaranya sangat mirip ayahnya.
Perasaan Prilly menghangat melihat pemandangan di depannya, namun perasaannya juga terasa kalut mengingat semua pembicaraan yang telah ia lakukan bersama Jovita.
Setelah makan malam usai dan memastikan ketiga anaknya telah pulas Prilly memasuki kamarnya, mengganti pakaiannya dan menghubungi teman-temannya, teman berhura-hura termasuk Anne, ia tidak peduli lagi pada Alexander, ia akan memulai lagi hidup bebasnya, berhura-hura dan akan mencari pria lain, yang jelas hubungannya dengan Alexander sekarang adalah dosa besar dan kebodohan yang amat sangat fatal, ia harus segera mengakhiri secepatnya.
Sementara itu Alexander sedang duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja tempat tinggalnya sambil memandangi layar macbooknya.
Pikirannya melayang, tadi siang ia telah menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraian dengan Jovita secepatnya, ia juga mulai mengurus transfer kepemilikan anak cabang perusahaan di singapura untuk kompensasi perceraiannya dengan Jovita, wanita itu layak mendapatkannya, wanita itu harus hidup terjamin di masa tuanya, Alexander yakin, Jovita mampu memegang kendali perusahaan untuk menghidupi dirinya sendiri di masa yang akan datang.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Harun memanggil, ekspresi Alexander berubah sangat gelap, “akan kubunuh siapa pun yang menyentuhnya! Jaga dia jangan sampai ada yang menyentuhnya!” kata Alexander sambil menutup paksa macbooknya dan melangkah meninggalkan ruang kerjanya, suara Alexander menggelegar terdengar hingga keluar ruangan.
Jovita yang berada di ruang keluarga sedang menonton acara televisi terkejut melihat suaminya yang tergopoh-gopoh sambil terus meneriaki Harun melalui ponselnya.
Tanpa menoleh sedikitpun pada pada Jovita, Alexander pergi meninggalkan tempat tinggal mereka.
PRILLY BANDEL 😆😆😆 BIKIN ALEXANDER KALANG KABUT 😃😃😃
TAP JELMPOL KALIAN 😆😆😆