Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Kakak ipar



“Apa Jovita telah kembali?”


Alexander tidak menjawab, ia justru mengecup leher Prilly.


“Kau bisa melakukan bersama istrimu,” kata Prilly sambil berusaha menghindari kecupan dari Alexander .


Alexander mengendurkan pelukaannya, bahkan benda tumpul yang mengeras di balik celana kain yang di kenakan Alexander juga melemah, ia juga menghentikan cumbuannya pada leher Prilly.


Prilly memalingkan wajahnya, entah mengapa ia merasa kesal, beberapa hari di New York bersama Alexander dan perlakuan manis Alexander di sana membuat ia sepertinya mulai bisa menerima kehadiran mantan suaminya.


“Kembalilah Jovita pasti mencarimu,” guman Prilly dengan nada kesal.


“Jovita masih di Singapura,” kata Alexander sambil meraih dagu Prilly agar kembali menghadap ke arahnya.


Prilly menatap kesal pada Alexander, pandangan mata mereka beradu cukup lama, Alexander mengecup bibir Prilly dengan lembut, tanpa di duga oleh Alexander, Prilly membalas kecupannya, membuat kecupan bersambut itu berubah menjadi ciuman panas yang penuh dengan decap-decapan liar dan erangan yang keluar dari bibir Prilly, tangan Alexander menelusuri kulit di balik pakaian yang di kenakan Prilly, menyentuh dengan penuh perasaan gundukan yang masih terbungkus kain bra.


Sentuhan Alexander yang begitu lembut seperti membangkitkan jiwa liar Prilly, Prilly menginginkan Alexander, ia sepenuhnya sadar siapa yang di inginkan oleh tubuhnya, Alexander mantan suaminya yang kini masih berstatus suami wanita lain.


Tangan Prilly secara alami juga menuju sebuah benda tumpul dibalik celana Alexander.


Prilly menyembunyikan wajahnya didada bidang Alexander sambil mengatur nafasnya.


“Maaf,” kata Alexander pelan.


“Alex kau harus bertanggung jawab,” Prilly terisak.


“Maaf,” kata Alexander lagi.


***


Sejak hari itu mereka berdua menjalani kehidupan seperti pasangan normal, tidak ada kecanggungan lagi yang membelenggu kedua insan yang pernah menjalani kehidupan rumah tangga di masa lalu, kini mereka tinggal satu atap dan merawat ketiga anak di mansion tempat tinggal Prilly.


Siang itu mereka berlima bahkan mengunjungi Diana dan Richard, itu adalah kali pertama Alexander kembali bertemu Diana setelah ia memutuskan menikahi Jovita.


Diana tentu saja sangat bahagia, apalagi putra semata wayangnya kembali dengan membawa Prilly, satu-satunya gadis yang selalu di impikan Diana untuk menjadi menantunya. Bibir Diana terus saja menyunggingkan senyum bahagia, bagaimana tidak pilihannya memang tepat, buktinya Prilly bisa membawa putra semata wayangnya kembali setelah lima tahun lamanya putranya tidak pernah kembali ke kediamannya ataupun sekedar menghubungi Diana melalaui panggilan telefon.


‘Memang hanya Prilly yang bisa mengembalikan Alexander kepada keluarga.’ Batin Diana girang.


Sekembalinya dari kediaman orang tua Alexander, setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, ponsel Alexander berbunyi, setelah menjawab panggilan itu Alexander bergegas turun dari ranjang meninggalkan Prilly yang duduk sambil menatap Alexander dengan tatapan menginterogasi.


Alexander mengganti pakaian rumahannya menggunakan kemeja hitam polos, sementara Prilly menatap mantan suaminya dengan tatapan curiga yang tak bisa di sembunyikan.


Melihat tatapan prilly yang begitu menggemaskan, Alexander mendekati Prilly. “Aku ada urusan sebentar, tidurlah, jangan menungguku.”


Mendengar jawaban Alexander yang tidak memuasksn Prilly menarik selimut hingga menutupi kepalanya lalu menjatuhkan kepalanya di atas bantal.


Melihat tingkah Prilly yang semakin menggemaskan Alexander tersenyum simpul. “Aku berjanji, aku akan kembali.” Alexander berkata sambil menarik selimut yang mengubur kepala Prilly lalu mengecup kening mantan istrinya, kemudian ia pergi meninggalkan kamar itu.


Sepuluh menit setelah Alexander pergi, Prilly duduk sambil menekan pelipisnya, ia tidak mengerti hubungan ambigu yang ada di antara dirinya dan Alexander sekarang.


“Bodoh! Alex bodoh!” makinya setengah berteriak sambil tangannya melempar bantal hingga berserakan di lantai kamarnya.


Prilly berguling -guling di atas ranjangnya, terhitung hampir dua minggu sejak berada di New York ia bersama Alexander, ia mulai terbiasa tidur dalam pelukan mantan suaminya. Dan malam ini ia harus tidur sendiri, rasanya ia tidak terbiasa.


Pria itu mungkin telah kembali ke tempat tinggalnya, tempat di mana ia dan istrinya seharusnya berada, memikirkan hal itu membuat Prilly benar-benar frustrasi dan merasa sangat kesal!


Sementara Alexander duduk di atas sofa dengan nyaman, di depannya Anthony menatap wajah Alexander dengan tatapan tajam dan dingin.


“Apa yang kau rencanakan pada adikku?” tanya Anthony dengan nada dingin, ia memperlakukan Alexander yang duduk di depannya seperti orang asing.


“Aku mencintainya.”


“Omong kosong! Alex kau beristri!” Nada suara Anthony meninggi beberapa oktav.


“Sejak dulu cintaku pada adikmu bukan omong kosong.” Alexander menjawab dengan nada dingin khas miliknya.


“Alex, jauhi adikku!” Anthony beberapa kali melihat Prilly dan Alexander berada dalam satu mobil terlebih lagi sekarang mereka terlihat sangat dekat, Anthony langsung menaruh curiga karena Prilly tidak mungkin dekat dengan Alexander jika bukan akal-akalan sahabatnya itu.


“Aku tidak akan menjauhinya,” jawab Alexander dengan tenang. “Kau tidak berhak melarangku.”


“Aku berhak melarangmu, dia adikku.”


“Dia ibu dari anakku,” jawab Alexander dengan nada tidak terpancing emosi meskipun Anthony terus menaikkan nada bicaranya.


“Alex jika kau berbuat macam-macam pada adikku, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Anthony mengatakan hal itu sambil meraih kerah yang di kenakan Alexander, ia hampir saja melayangkan bogem mentahnya ke wajah Alexander jika saja Linlin tidak datang ke ruangan itu dan berteriak, rupanya Linlin terbangun karena suara Anthony yang naik beberapa Oktav.


“Ya Tuhan, kalian ada apa?!” Linlin terpekik melihat adegan di depannya, ia tidak pernah melihat suaminya semarah itu. “Sayang, kendalikan emosimu,” ucap Linlin dengan nada rendah dan berjalan perlahan mendekati suaminya.


Anthony melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja yang di kenakan Alexander dan mendorong tubuh Alexander hingga terjengkang kembali di sofa .


Alexander bersikap begitu tenang menghadapi Anthony seolah ia telah memperhitungkan segalanya.


Sementara Anthony dengan kasar menghempaskan pantatnya kembali duduk di sofa.


“Dengar Alex, aku tidak akan segan padamu jika kau menyakiti adikku lagi! Berapa kali kau membuatnya kecewa?” Suara Anthony kembali naik beberapa oktav.


“Sayang, pelankan suaramu, putramu Gabriel bisa terbangun.” Linlin mengingatkan suaminya yang sedang terbakar amarah. “Alex, kau sebaiknya kembali,” kata Linlin, jika diskusi itu di lanjutkan hingga pagi pun Linlin yakin yang terjadi justru sebaliknya, tidak akan ada penyelesaian.


“Baik, Linlin tolong kau padamkan api amarah calon kakak iparku,” kata Alexander dengan nada menggoda sukses membuat Anthony bangkit kembali dari duduknya hendak menerjang Alexander, namun dengan sigap Linlin meraih lengan suaminya.


“Alex, jangan menambah masalah!” bentak Linlin mulai kehilangan kesabarannya karena sikap Alexander yang seolah tidak takut pada Anthony.


“Yang jelas kami sekarang saling mencintai, cepat atau lambat kau akan menjadi kakak iparku, dude.” Alexander menepuk bahu Anthony sambil melangkah pergi meninggalkan tempat tinggal temannya itu.


“Alex!” panggil Anthony ketika tangan Alexander hendak menyentuh gagang pintu. “Aku memberimu satu kesempatan, buktikan kau bukan ba**ngan!”


“Kau bisa pilih otak atau jantungku, tembak aku jika aku melakukan kesalahan lagi.” Jawab Alexander kemudian pria itu pergi menghilang di balik pintu.


“Tenangkan dirimu." Linlin meninggalkan suaminya dan datang kembali dengan membawa segelas air di tangannya.


“Ba**ngan itu....” Anthony menghela napasnya dalam-dalam, kemudian meraih gelas yang disodorkan istrinya lalu meminum isinya hingga tak bersisa.


PASTI KALIAN NANYA 😂😂😂


MEREKA UDAH ENA ENA APA BELUM???? 😂😂😂


JANGAN MINTA BIKININ PART ITU 🤗🤗 AUTHOR UDAH TOBAT BIKIN PART ENA ENA 😅😅😅


TAP AJA JEMPOLNYA PLISH 💖💖💖💖💖