Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Ejekan yang tak berarti



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


“Kau cantik sekali, kau masih terlihat seperti seorang gadis. Bukan seperti seorang ibu yang pernah melahirkan empat orang anak,” goda Alexander yang berdiri di belakang tubuh istrinya. Malam itu mereka akan menghadiri sebuah pesta.


“Lima orang anak.” Prilly meralat ucapan Alexander.


“Ya, lima.” Alexander mendaratkan bibirnya di bahu Prilly. Menyapunya dengan lembut, perlahan bibirnya berpindah ke leher istrinya. Lidahnya yang hangat membelai bagian belakang telinga Prilly. Sementara napasnya yang hangat menyapu sebagian wajah Prilly.


“Kita akan terlambat pergi ke pesta, Hubby,” erang Prilly.


Alexander tidak memedulikan ucapan istrinya. Prilly mengenakan gaun indah yang cukup terbuka di bagian pundak dan dadanya dan bagian ada istrinya yang sedang menyusui itu tampak membesar kencang dan menantang. Ia lebih tertarik dengan pesta yang sesungguhnya di atas kamar mereka di banding pesta yang harus mereka hadiri. Lagi pula Alexa saat ini di bawa oleh Diana. Tentu saja kesempatan langka ini harus di manfaatkan.


“Sebelum kita pergi bisakah aku berpesta dengan pesta kecil?” tanya Alexander dengan suara parau. Telapak tangannya yang besar mencengkeram dengan lembut kedua dada Prilly yang berisi.


“Kau akan membuat gaunku berantakan....”


Prilly menyingkirkan telapak tangan suaminya perlahan lalu ia berbalik menghadap Alexander. Berjinjit dan sedikit mendongakkan wajahnya sementara kedua lengannya berada di pinggang Alexander. Bibirnya yang mengenakan lipstik berwarna merah tampak merekah dengan Indah siap menerima cumbuan mesra dari bibir Alexander. Alexander memerangkap bibir indah yang merekah di depannya dengan bibirnya. Mencumbunya dengan hati-hati, perlahan mendesakkan lidahnya yang hangat untuk membelai lidah Prilly.


“Bisakah kita melanjutkan?” tanya Alexander saat pagutan bibir mereka terlepas.


“Bagaimana dengan pestanya?” Prilly menatap mata Alexander yang keruh berkabut gairah. Sama seperti dirinya.


Alexander selalu sukses membangkitkan gairah liar yang tersembunyi di balik diri Prilly. Menyalakannya, mengobarkannya tanpa ampun.


Alexander mengusap bibir Prilly menggunakan ujung ibu jarinya. Bibir yang sedikit basah akibat ciuman mereka. “Persetan dengan itu,” jawabnya.


“Kau memiliki jadwal untuk bertemu klien penting, sayangku,” ucap Prilly mengingatkan pesta malam ini bukan sekedar pesta biasa.


Mata Alexander mengunci tatapan mata Prilly. “Hal yang terpenting di dunia ini ada di depanku.”


“Kalau begitu... jangan terlalu lama,” kata Prilly. Matanya berbinar penuh damba.


Alexander menyeringai senang. “Biar aku yang membuka gaunku ini sayangku,” katanya sambil berpindah ke belakang tubuh Prilly untuk mencari Zipper di bagian punggung Prilly lalu perlahan menurunkannya. Ia juga dengan hati-hati menanggalkan gaun berwarna merah bata itu lalu meletakkan dengan benar dibatas sandaran kursi agar gaun itu tidak kusut. Ia juga melakukan hal yang sama pada setelan jas yang ia kenakan.


Keduanya telah polos, berhadap-hadapan saling menatap penuh cinta. Alexander membawa istrinya ke atas ranjang, menghirup aroma kulit istrinya, menikmati tiap jengkal lekuk tubuh istrinya, menyentuh lembutnya kulit Prilly. Setelah puas memanjakan istrinya dengan lidahnya di semua tempat, Alexander memosisikan dirinya di atas Prilly.


“Sayangku, aku akan mencintaimu bahkan jika samudra mengering,” ucap Alexander di sela-sela penyatuan kedua tubuh.


Prilly mengerang manakala Alexander mengisi dirinya sepenuhnya. “Alex, aku mencintaimu."


***


Sedikit terkejut saat mereka memasuki ruangan pesta karena di sana Jovita berdiri bersama klien penting yang di jadwalkan bertemu Alexander. Alexander mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang Prilly mengikis jarak di antara mereka seolah enggan terpisah dari pujaan hatinya.


Klient penting itu adalah orang dari masa lalu Alexander. Jay al-Fatih. (Ada di part 42)


Sudut bibir Alexander berkedut. Menarik, akan ada drama kehidupan seperti Fowler coaster kembali sepertinya.


Sudah sepuluh tahun mereka bersaing dalam bisnis. Pria dari timur tengah itu masih saja menjadi rival terkuatnya dalam bisnis yang coba Alexander kembangkan di Asia. Sekretaris Jay tiba-tiba menghubungi Danny, mengutarakan niat bosnya untuk bertemu dan berencana mengajukan kerja sama.


Ternyata ada dalang di balik ini semua.


“Apa kabar Mr. Jay?” sapa Alexander sambil tangan mereka berjabat.


“Kabar baik,” jawab Jay sambil melirik Jovita yang menggandeng lengannya dengan anggun dan tatapan datar. “Bagaimana kabarmu?”


“Sangat baik,” jawab Alexander.


Mata Jay mengalihkan pandangan ke arah Prilly. “Jadi ini istrimu? Prilly Smith?”


“Prilly Johanson.” Alexander meralat dengan cepat.


Ketika Jay mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Prilly, dengan nada dingin Alexander berucap, “istriku tidak terbiasa berjabat tangan dengan pria mana pun.”


“Wow!” Jay menarik kembali tangannya sambil tersenyum mengejek. Sementara Prilly hanya mengangguk ramah sambil bibir manisnya mengunggulkan senyuman.


“Aku merasa terhormat bisa berjumpa denganmu secara langsung, Prilly,” kata Jay.


Tidak terima istrinya di panggil dengan nama depannya begitu saja oleh Jay, Alexander dengan tajam berkata. “Mr. Jay aku harap kau tahu batasanmu, kau bisa memanggil istriku dengan cara yang benar.”


Jay menyeringai. Entah apa arti seringai di bibirnya. “Suamimu sangat posesif Mrs. Johanson,” ejeknya.


Prilly menengadahkan kepalanya sekilas untuk menatap wajah Alexander yang berada di sampingnya. Tatapan mereka bertemu, mereka saling menatap dalam tatapan yang lembut dan penuh kasih sayang yang terpancar dari kedua mata mereka. “Memang begitu seharusnya,” ujar Prilly dengan nada sangat sopan.


Merasa istrinya begitu pengertian Alexander mengelus punggung telapak tangan istrinya yang menempel di sebelah pinggang Alexander. Jantungnya teras meronta-ronta karena bahagia, sangat bahagia.


“Kalian benar-benar pasangan sempurna, aku sangat iri. Oh, iya... aku rasa kalian tidak perlu kuperkenalkan dengan wanita ini, dia sekretarisku.” Jay menaikkan sebelah alisnya sambil melirik ke arah Jovita. “Mr. Alexander, aku rasa kau tidak memberi tunjangan yang cukup setelah perceraian sehingga ia harus menghidupi dirinya dan putranya dengan bekerja keras.


Ucapan Jay seperti sebuah tamparan jika saja posisi Jovita tidak pernah mencuri data perusahaan. Tetapi, karena Jovita memiliki dosa yang sangat besar di mata Alexander, baginya ucapan Jay tak ubahnya ejekan yang sama sekali tidak berarti. “Aku rasa itu bukan urusanmu dan di luar konteks rencana bisnis yang akan kita bahas.”


GAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤