
Malam itu sepulangnya dari Barcelona, Alexander segera menuju rumah sakit dimana William di rawat. Namun, ia terkejut saat membuka pintu ruangan di mana putranya seharusnya di rawat. Kamar itu telah di isi orang lain, Ia langsung menyimpulkan, Jovita telah menghianatinya.
Dengan penuh emosi ia meminta sopirnya menuju tempat tinggal Jovita.
Sementara jovita baru saja merebahkan tubuhnya dan ia mendengar bunyi bel pintu yang terus menerus di tekan. Gadis itu mengatur nafasnya, cepat atau lambat ia harus menghadapi kemarahan mantan bosnya. Dengan lembut ia membukakan pintu untuk Alexander.
“Kau menghianatiku Jovita!” bentak Alexander sambil sebelah tangannya meraih dagu Jovita. Jovita hanya diam.
“Kau benar-benar membuatku marah! Kau dasar ******!” Alexander mendorong Jovita hingga tubuh gadis itu terjatuh ke lantai.
Alexander menekuk lututnya dan menyipitkan matanya.
“Rasanya aku ingin menghabisimu, Jovita,” katanya dengan nada dingin namun penuh tekanan emosi.
Jovita hanya diam saja. Alexander kembali meraih dagu Jovita dan mencengkramnya dengan erat.
“Jawab aku, dimana William!” guman Alexander.
“Kau sudah tau jawabannya, Alex. Kau tidak perlu bertanya padaku,” jawab Jovita dengan nada tak kalah dingin.
“Berdoa saja mudah-mudahan kau masih bisa melihat matahari besok pagi perempuan jal*ang,” kata Alexander sambil melepaskan cengkramannya lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Jovita.
Namun sebelum Alexander meraih gagang pintu apartemennya, Jovita bergegas berdiri dan berkata, “Kau adalah ayah terburuk di dunia. Jika William bersamamu pasti ia akan menderita. Kau tidak perduli padanya, selama kau di Barcelona kau bahkan tidak sekalipun memikirkan keadaan putramu. Kau bahkan tidak sekalipun berusaha menelfonku untuk menanyakan darah dagingmu. Padahal aku adalah orang asing yang kau titipi putramu begitu saja.” Jovita berhenti sejenak untuk menarik nafas. “Dan ketika William siuman, aku bertanya pada putramu apa yang ia inginkan, yang ia inginkan adalah kehadiran Prilly dan Mike serta bubur buatan Tante Lin Lin. Kau sama sekali tidak ada di hatinya. Karena kau yang membuat jarakmu sendiri, Alex. Kau tidak ada di hidup William. Karena ulahmu sendiri, kau sungguh seorang pria yang tak punya hati.” Lanjutnya sambil menatap sinis ke arah Alexander.
Dada Alexander terasa bergemuruh mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Jovita. Nafasnya bahkan memburu kencang. Tangannya meraih gagang pintu dan membuka lalu membanting pintu dengan kasar, meninggalkan tempat itu.
Dua hari kemudian, William telah diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Di kediaman mereka, semua orang telah menunggu kedatangan William.
Rupanya Mike telah menyiapakan pesta kecil untuk menyambut kembalinya William dan mengumumkan kehamilan Prilly pada seluruh keluarga.
Prilly sangat senang karena suaminya selalu memberikan yang terbaik padanya, memberikan kejutan-kejutan romantis yang tak terduga. Hari itu semua yang berada di kediaman Mike dan Prilly bersuka cita karena kabar yang mereka dengar.
“Akhirnya cucuku akan bertambah menjadi tiga,” kata Sandra antusias.
“Maksud Mommy?” tanya prilly heran.
“Karena Linlin juga sedang hamil,” kata Sandra.
“Linlin kenapa kau merahasiakannya?” tanya prilly pada Linlin.
“Kau sedang bersedih beberapa hari yang lalu, bagaimana bisa aku memberi tahumu?” jawab Linlin.
“Selamat Linlin, aku sangat senang kita bisa melakukan senam hamil bersama,” kata prilly antusias.
“Selamat juga untukmu, Prilly,” Linlin memeluk Prilly dengan hangat.
“Kalian berdua sepertinya harus segera mengundurkan diri dari perusahaan,” kata Anthony yang berdiri di samping Linlin.
“Ya, aku setuju.” Mike menimpali perkataan Anthony.
“Aku juga berharap demikian,” kata Victoria yang duduk di samping Sandra.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Anthony pada Linlin.
Linlin tersenyum dan mengangguk dengan patuh. “Baiklah, terserah apa katamu, Suamiku,” jawabnya.
“Lalu,bagaimana denganmu, Sayang?” tanya Mike.
“Akan aku pikirkan nanti,” kata Prilly dengan senyum menggoda Mike.
“Jadi kau masih tetap ingin bekerja?”
“Aku harus menyelesaikan tanggung jawabku dulu. Aku pasti akan berhenti, bersabarlah, Mike.”
“Baiklah, aku akan selalu bersabar untuk istriku,” kata Mike sambil membungkuk dan mencium pelipis Prilly. Prilly tersipu karena semua mata tertuju padanya. Mereka melanjutkan bincang-bincang mereka sambil menyantap makan malam mereka.
Setelah semua orang kembali kekediaman masing-masing, Mike merebahkan tubuhnya di sisi William. Malam itu mereka sengaja membawa William tidur bersama.
“Sayang,” kata Mike. “Aku berpikir kau harus bertemu Alexander secara langsung, kalian harus menyelesaikan masalah di antara kalian.”
“Mengapa kau berpikir seperti itu?” Prilly bangkit dan menyandarkan tubuhnya ranjang.Mike juga melakukan hal yang sama
“Jadi maksudmu, aku harus bertemu, Alex?”
“Ya, kurasa kalian harus bicara dari hati ke hati.”
“Bagaimana jika dia? Aku takut....” Prilly takut Alex mencoba memperkosanya kembali.
“Sayang, aku akan mengawasimu dari kejauhan, kau bisa mengundangnya untuk makan siang di restauran terbuka agar, Alex tidak bisa berbuat kurang ajar.”
“Paparazi mungkin akan melihat kami dan akan ada berita lagi,"
“Biarkan saja paparazi jangan hiraukan mereka,” kata Mike sambil membelai rambut istrinya. “Sayangku, katakan padaku mengapa kau begitu membenci Alexander?”
Ptilly tertunduk, ia merasa malu mengatakan apa yang membuatnya benci pada Alexander.
“Baiklah, jika kau tidak ingin memberitahuku,” kata Mike. “Sudah malam, tidurlah, mulai besok aku akan menemanimu menyelesaikkan semua pekerjaanmu di perusahaan,” lanjutnya sambil kembali membelai rambut istrinya kemudian mengecup keningnya
Prilly dengan patuh merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Tengah malam Prilly terbangun karena panggilan alam, ia harus pergi ke kamar mandi karena kandung kemihnya terasa penuh.
Ketika Prilly hendak kembali ke ranjangnya, ia justru berjalan menuju sisi di mana Mike berada. Prilly mendudukkan bokongnya di sisi tubuh suaminya lalu membelai rambut suaminya dan memandanginya penuh kakaguman dan cinta.
“Aku jatuh cinta padamu sejak aku berumur sepuluh tahun. Aku selalu menginginkan dirimu, pria bermata biru yang aku idam-idamkan sepanjang hidupku. Saat Alex datang memaksaku untuk menikahinya, rasanya hatiku sakit. Kupikir cintaku padamu kandas saat itu juga. Dan saat aku belajar menerima kenyataan, ia justru ia mengotori rumah tangga kami. Aku merasa sangat terhina,” kata Prilly lirih.
"Berarti cintaku padamu tidak bertepuk sebelah tangan ketika itu," jawab Mike.
Prilly terkejut ia tidak menyangka suaminya mendengar pengakuannya.
“Kau berpura-pura tidur, benar-benar licik,” keluh Prilly.
“Aku tidak sengaja mendengar seorang wanita cantik terbangun tengah malam untuk menyatakan cinta,” goda Mike
sambil duduk. "Saat kau menikah dengan Alex, pernahkah kau mencintainya?" tanya Mike.
“Aku tidak pernah mencintai pria lain dalam hidupku.” Prilly menjawab dengan tenang.
“Terima kasih, Sayangku,” kata Mike senang. “Kalau begitu bagaimana jika kau maafkan Alex?” Mike memeluk Prilly.
“Akan aku coba,” jawab Prilly
sambil memblas pelukan suaminya.
“Jika dia tidak memperlakukanmu seperti itu, kita pasti tidak akan menjadi suami istri sekarang,” kata Mike sambil merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya. “Dan bisakah kau mengulangi kata katamu tadi?” pinta Mike.
"Yang mana?" tanya Prilly sambil tersipu.
"Pernyataan cintamu," goda Mike.
“Mike, aku mencintaimu sejak aku masih kecil dan aku hanya ingin bersamamu sepanjang hidupku,”
kata prilly dengan ekspressi malu-malu.
“Tentu, Sayang. kita akan bersama di sisa hidup kita, kita akan banyak memiliki anak agar William tidak kesepian. Kita akan memiliki banyak cucu,” jawab Mike. “Aku sangat mencintaimu, Prilly. Aku tidak bisa jika harus hidup tanpamu,” kata Mike dan mulai ******* bibir Prilly.
Baru saja Mike hendak menurunkan tali gaun tidur yang di kenakan Prilly, ternyata William terbangun.
“Daddy? Apa yang kau lakukan pada Mommy?” tanya William polos.
Mike segara membenarkan tali gaun Prilly. “Mommymu kedinginan, Sayang. Jadi Daddy akan menghangatkannya."
William menatap bingung, “Oh ya, Mommy ingin berganti gaun yang lebih hangat,” elak Mike, sedangkan Prilly tersenyum mengejek pada Mike.
“Sayangku, ayo kembali tidur. Ini masih jam dua malam,” kata Prilly membujuk putranya.
“Mommy... aku haus,” kata William.
“Baiklah anak baik, Daddy akan membuatkanmu susu,” kata Mike seraya bangkit membuatkan susu untuk William.
Lima belas menit kemudian pria kecil penghancur momen indah itu kembali tertidur. Mike dan Prilly pergi segera beralih ke sofa untuk melanjutkan ritual yang hampir saja gagal karena putra mereka.