Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Menjadi Mike?



“Jadilah patuh,” kata Alexander dengan sabar, ia mengganti pakaian Prilly dengan kemeja miliknya kemudian Alexander juga mengeringkan rambut Prilly dengan hairdryer.


“Alex, kenapa kau mendekatiku?” tanya Prilly, ia mulai mendapatkan kesadarannya.


“Sudah kukatakan, jika ingin pergi ke club kau bisa pergi denganku, kau tidak mendengarkan aku, Prilly.”


“Anne bisa menjagaku,” sanggah Prilly.


“Kau keras kepala sekarang,” jawab Alexander dengan nada dingin.


“Alex tidakkah kau tahu? aku sangat benci padamu!” desis Prilly.


“Aku akan mengajarimu cara minum yang baik, kau tidak akan mabuk seperti ini lagi, minum seperti itu hanya akan membuatmu sakit kepala saat kau bangun besok,” Alexander dengan penuh kasih sayang membawa Prilly ke atas ranjang sambil memeluknya tanpa mempedulikan ucapan pedas Prilly.


“Kau ingin mendekatiku lagi? Jangan mimpi Alex.” Kata Prilly dengan nada yang sangat sinis.


“Tidak, aku hanya ingin menjagamu, untuk Mike.” Alexander mengucapkan kalimat itu kemudian menghela nafas berat, hatinya terasa terpotong, Prilly adalah gadis yang ia jaga sejak kecil, bunga yang ia besarkan di tamannya, tapi nyatanya bunga itu menjadi penghias rumah orang lain. Sudut bibir Alexander menyunggingkan senyum pahit.


“Lepaskan aku, jangan sentuh aku!” Prilly berusaha melepaskan tubuhnya dari kungkungan lengan Alexander.


“Sekali ini saja, biarkan aku memelukmu, kau kedinginan, aku hanya ingin menghangatkanmu,” kata Alexander dengan nada lembut dan sabar.


“Alex, aku ingin pulang.” Prilly terisak.


“Besok saja, ini sudah terlalu larut, jangan menangis aku tidak akan menyakitimu.”


“Alex kenapa Mike pergi? Kenapa ia meninggalkanku?” tanya Prilly dengan isak tangisnya yang tersengal-sengal.


“Mike pasti kembali, dia pasti kembali untukmu.”


Prilly semakin terisak di dalam pelukan Alexander. “Bantu aku mencarinya, Alex.”


“Aku akan mengutus orang untuk mencarinya,” kata Alexander. “Kau jangan khawatir, aku akan menemukan Mike dengan cara apa pun, sekarang tidurlah.”


Penuh kasih sayang Alexander membelai rambut di kepala Prilly, hingga mantan istrinya itu benar-benar tertidur Alexander kemudian mengecup pucuk kepala Prilly dengan hati hati.


Paginya Prilly terbangun dengan kepala yang sangat berat, ia tak menemukan Alexander di kamar itu maupun di ruang lain. Hanya ada secarik kertas di atas nakas di samping tempat tidur, isinya adalah pesan agar Prilly memakan sarapan yang telah Alexander siapkan di meja makan beserta aspirin untuk meredakan sakit kepalanya.


Seminggu kemudian Jovita pergi ke Sidney untuk urusan bisnis menggantikan Alexander, selama di Sidney, Jovita di dampingi oleh sekretaris kedua Alexander yang bernama Danny.


Alexander setiap pagi ia mengantarkan anak-anak prilly pergi ke sekolah, sedangkan Prilly ia sebisa mungkin terus saja menghindari Alexander. Ia sama sekali tidak ingin memberikan celah pada mantan suaminya itu untuk mendekati dirinya.


Jumat 05.00 pm


Alexander duduk tepat di depan meja kerja Prilly. “Hari ini aku akan mengajarimu cara minum yang benar,”


kata Alexabder.


“Aku sudah memiliki janji bersama Anne,” jawab Prilly dengan nada malas.


“Akan kupecat sekretarismu itu, ia mengenalkanmu pada teman-teman sosialitanya yang sialan itu bukan?”


“Anne sahabatku, dan perusahaan ini milik suamiku, atas dasar apa kau memecatnya? Kau tidak berhak Alex.” Prilly tertawa mengejek.


“Jika kau tidak ingin perusahaan ini menjadi milikku, maka patuhlah kepadaku,” ancam Alexander.


“Alex, kukira kau telah berubah, kau masih semau mu sendiri dan kau semakin menyebalkan,” kata Prilly dengan nada ketus.


“Bersiap?” Prilly bertanya.


“Kau tidak mendengar? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, aku akan mengajarimu minum dengan baik.”


Prilly mendengus karena kesal, pria pemaksa yang satu ini memang menyebalkan sejak dulu bahkan sekarang seribu kali lipat lebih menyebalkan!


Alexander mengajak Prilly memasuki sebuah restoran, ketika Prilly melayangkan protesnya, Alexander menjelaskan. “Kau harus isi perutmu dulu sebelum kau minum alkohol, jika perutmu kosong kujamin dalam waktu satu bulan ke depan kau akan berakhir di rumah sakit.” Alexander pernah mengalami hal itu, tentu saja ia bisa menggurui Prilly dengan baik.


Mereka berdua tiba di sebuah club yang sangat terjaga privacynya, club itu berada di bagian lantai teratas restoran yang baru saja di datangi oleh Alexabder dan Prilly, di dalam club itu hanya ada berapa orang, dengan alunan musik santai, dan cahaya di ruangan yang redup justru membuat suasana di dalam ruangan itu seperti romantis.


Alexander menuangkan wine ke dalam dua gelas, lalu ia mengangkat gelas itu mengulurkan pada Prilly. “Minum perlahan,” kata Alexander.


Prilly memperhatikan cara Alexander meminum wine, kemudian ia mengikuti gaya Alexander, meminum wine di gelasnya seteguk, memutar wine di gelas lalu meminumnya kembali. Setelah beberapa gelas Prilly minum nyatanya kepalanya mulai melayang, tubuhnya terasa ringan dan kesadarannya masih bisa ia kontrol.


“Bagaimana?” tanya Alexander.


Prilly tidak menggubris Alexander, ia tampak memilih menikmati musik di dalam club itu.


Malam semakin merayapi, semakin banyak pula alkohol yang di teguk oleh Prilly. “Alex, ayo kembali aku lelah,” kata Prilly.


“Baiklah." Alexander menuruti apa keinginan Prilly.


Meskipun tidak mabuk hingga pingsan nyatanya kesadaran Prilly tetap berkurang, ia tetap tak mampu berjalan dengan normal dan sesekali ia memanggil nama Mike membuat sesekali Alexander menghela nafasnya dalam-dalam, seperti jantung dan hatinya terasa terpenggal lalu berpisah tercerai berai.


“Alex,” guman Prilly lirih, kali ini Alexander tidak perlu memandikan Prilly karena mereka berdua pergi ke club yang bebas asap rokok.


“Kau istirahatlah,” kata Alexander, sambil menendang pintu kamar utama karena kedua tangannya ia gunakan untuk menggendong Prilly dengan gaya bridal style.


“Alex,” guman Prilly lagi.


“Apa kau sakit kepala?” tanya Alexander sambil hendak menurunkan Prilly dari gendongannya, meletakkan Prilly di atas ranjang.


Prilly justru mengeratkan cengkeraman lengannya di leher Alexander. “Aku rindu Mike,” erang Prilly.


“Aku tahu.” Alexander mengecup kening Prilly secara refleks, ia bahkan segera menyesalinya karena khawatir Prilly akan memarahinya.


“Alex, aku ingin Mike,” erang Prilly.


“Alexander duduk di tepi ranjang dan mendudukkan prilly di pahanya, wanita mungil itu meringkuk seperti kucing yang jinak di pangkuannya, kedua legannya bahkan telah berpindah di pinggang Alexander. Tanpa di duga Prilly justru ******* bibir Alexander dan menciumnya seperti ia adalah gadis yang kehausan, mereka berdua tenggelam dalam ciuman panas cukup lama, ciuman keduanya penuh kerinduan dan putus asa, Prilly yang merindukan Mike dan Alexander yang merindukan Prilly. Mereka bahkan berciuman disertai derai air mata Prilly yang terus membanjiri wajahnya.


“Alex tolong aku, malam ini saja, maukah kau menjadi Mike? Aku sangat merindukannya." Isak Prilly ketika ciuman mereka terlepas, matanya tampak terpejam, menyaksikan air mata Prilly benar-benar menyayat hati Alexander.


“Prilly lihat aku, buka matamu,” kata Alexander.


“Aku tahu kau Alex, aku tidak mabuk.” Prilly enggan membuka matannya.


“Perlakukan aku sesukamu, Prilly.” Kata Alexander dengan nada getir.


APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA???


HEHEHEE


JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA 💖💖💖💖