Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Agen cinta



“William, Sayang... coba lihat siapa yang datang?” kata Prilly sambil menuntun William,


“Willy, apa kabarmu?” tanya Alexander.


William bersembunyi di belakang kaki Prilly, anak kecil itu sedikit menyembulkan kepalanya sambil menatap waspada ke arah dua orang yang datang.


“William, apa kau ingat Tante?” tanya Jovita pada William


William mengerjap-kerjapkan matanya, lalu mengangguk kecil.


“Oh kamu manis sekali, Tante ingin melihat seberapa banyak mainanmu. Bisakah Tante melihatnya?” tanya Jovita.


Tangan mungil William meraih jari jemari Jovita dan membawa Jovita ke ruang dimana ia biasa bermain dengan berbagai macam mainan yang sangat banyak jenisnya.


Mike memberi kode pada Alexander untuk menyusul Jovita dan William.


Tidak begitu lama terdengar celotehan William dan Jovita yang bermain dengan gembira. Kadang suara Alexander juga terdengar.


Prilly dan Mike yang kini berada di dapur saling tatap, mereka tampak senang.


Mike dan Prilly memang mengundang Alexander untuk makan siang di kediaman mereka namun sama sekali tidak menyangka jika Alexander datang bersama Jovita.


Mike dengan cekatan menyiapkan menu makan siang untuk mereka, hanya membuat salad sayuran, dan spicy tuna sandwich lalu membuat berry parfait.


Prilly dengan sedikit bermain main ia menghias berry parfaitnya lalu mengambil gambar untuk di pamerkan di media sosial dengan caption


@prillyn.smith "berry parfait pertama buatanku."


Padahal ia hanya memasukkan berry-berry itu dan menyusunnya secara acak.


Mike tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


“Sepertinya kau mulai gemar membantuku di dapur,” goda Mike.


“Mau bagaimana lagi, aku bosan kau tidak mengizinkanku bekerja.”


“Apa kau ingin belajar memasak?” tanya Mike.


“Sepertinya,” kekeh Prilly.


“Biasanya kau mendesain perhiasan, apa kau sudah bosan?”


“Tidak, aku hanya tidak ingin mengeluarkan terlalu banyak desain. Aku masih memikirkan sesuatu yang baru dan selalu berbeda,” kata Prilly sambil menyiapkan peralatan makan di meja.


“Baiklah, kau mungkin perlu suasana baru.”


“Apa kiata akan pergi berlibur lagi?” tanya Prilly antusias.


“Apa kau lupa, kita akan tinggal di New york beberapa bulan?” tanya Mike sambil memeluk pinggang Prilly dan ******* telinga Prilly, nyaris saja Prilly menjatuhkan piring di tangannya.


“Sayang, kau mengejutkanku,” keluh Prilly sedikt mengerang.


Mike justru beralih ******* bibir Prily hingga tubuh Prilly menegang, sebelah tangan Prilly bahkan telah berpindah di tengkuk suaminya dan tangan satunya meremas telapak tangan Mike yang berada di atas perut Prilly.


“Mommy,” panggil William, sontak mereka melepaskan ciuman itu.


Prilly menjadi salah tingkah dan melototkan matanya pada Mike yang menyeringai senang.


“Ada apa, Sayang?”


“Tante Jovita mengajariku menggambar. Lihat Mommy, lihat gambarku, Daddy bagus bukan?” tanya William pada keduanya.


“Oh, sangat bagus,” kata Mike sambil berjongkok melihat gambar yang di tunjukkan William.


“Kau sangat pintar, ayo kita panggil Tante dan Daddymu untuk makan,” kata Prilly sambil mengambil kertas di tangan William.


“William, saatnya kau tidur siang,” kata Prilly.


“No, Mommy, no. Aku masih ingin bermain dengan Tante Jovita.”


“Setelah kau tidur siang, ayo kita main lagi, bagaimana?”


William menggeleng. Prilly sudah biasa dengan hal semacam itu, William memang selalu begitu. William akan sangat susah dibujuk jika ada kerabat mengunjunginya, ia akan bermain tanpa mengenal lelah dan tidak ingin di tinggal pulang, bahkan jika Linlin yang datang atau Nuan Nuan ia akan ikut mereka kembali ke tempat tinggal Lin Lin, dan tidak lama di tempat tinggal lin lin ia akan menangis minta kembali ke kediaman orang tuanya.


“Jadilah anak baik,Willy,” bujuk Mike lembut.


“No Daddy, no. Aku masih ingin bermain.”


“Baiklah, bagaimana jika main di rumah Tante Jovita?” tanya Alexander.


“Ayo,” kata William sambil berusaha keluar dari baby chair yang mengurungnya.


“Tapi, ia akan merepotkanmu, Jovita,” kata Prilly tidak nyaman.


Ia tahu betul putranya sangat aktif dan tidak bisa dilarang jika memiliki keinginan.


“Tidak masalah, Prilly.”


“Bukankah kalian harus kembali ke perusahaan?”


“Tidak Prilly, aku sekarang pe...,” kata Jovita nyaris jujur nengatakan bahwa ia seorang pengangguran, jobless!


“Tidak masalah, kami bisa menjaganya sambil bekerja,” potong Alexander cepat.


Ia tidak ingin Prilly tahu jika ia menyandera Jovita di dalam tempat tinggalnya.


“Baiklah, aku harap kalian tidak akan kerepotan dengan ulahnya," kata Prilly pada akhirnya berusaha memercayai mantan suaminya.


Akhirnya Prilly membiarkan William di bawa oleh Alexander ayah kandungnya, ia juga menyiapkan beberapa diapers dan botol susu beserta takaran susu yang telah ia atur dan mengajari Jovita untuk membuatkan William susunya.


“Aku titip William padamu, Jovita,” kata prilly saat ia menyerahkan tas perlengkapan William pada pengasuh William.


Tentu saja Prilly tetap menugaskan pengasuh William untuk tetap turut menjaga William karena di samping ia masih sedikit ragu kepada Alexander ia juga tidak ingin jika Jovita kerepotan karena putranya.


Mike mendudukkan bokongnya di samping Prilly. “Jangan khawatir, aku yakin Alexander tidak seperti dulu,” katanya, ia rioanya mengerti kekhawatiran istrinya.


Prilly menatap Mike dengan tatapan tidak yakin tanpa mengucapkan apa pun.


"Alexander cukup cerdik memakai Jovita untuk menarik perhatian William,” kata Mike lagi.


“Semoga Alex tidak berbuat yang menyakiti perasaan Jovita,” kata Prilly.


“Sejak kapan mereka berhubungan?” tanya Mike pada Prily.


“Kenapa kau bertanya padaku?”


“Aku curiga, kau yang menjodohkan mereka.”


“Haha...." Prilly tertawa. “Salah satu cara untuk mengetahui hubungan mereka, aku menjadikan Jovita bridesmaid.”


“Jadi kau sudah menebak?”


Mike menaikkan sebelah alisnya.


“Tentu saja.”


Prilky menyeringai jail.


“Kau ini? Apa kau ini... agen cinta?” tanya Mike sambil menangkap tubuh istrinya dan dengan cepat melahap bibirnya. Lalu melanjutkan aktivitas yang terhenti karena William. Kali ini lebih bersemangat dan mulai memanas dan tentunya tidak cukup di atas sofa, mereka perlu ranjang untuk lebih leluasa mengekspresikan rasa cinta yang menggebu-gebu di dada mereka, membalutnya dengan erangan dan geraman lalu meledak bersama.