
Prilly terus saja menggeliat dalam pelukan Alexander, “sayangku tidurlah,” ucap Alexander yang menyadari istrinya begitu gelisah malam itu.
“Hubby, aku sangat lapar,” erang Prilly.
Alexander membuka matanya dan tangannya meraba ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidur mereka. Ia memeriksa jam di ponselnya, “Sayang, ini masih terlalu dini hari.” Alexander keheranan karena istrinya mengeluh kelaparan pukul tiga pagi.
“Aku lapar, aku sungguh-sungguh.”
“Apa yang ingin kau makan?” Alexander mengubah posisinya menjadi duduk. Ia juga menghidupkan lampu di kamar dan berjalan menuju meja makan yang ada di dalam kamar hotel tempat mereka menginap.
Alexander mengambil buku menu makanan dan membawa ke atas ranjang di mana Prilly duduk dengan lesu, sepertinya wanita itu memang sangat lapar.
“Apa yang ingin kau makan?” Alexander membuka halaman buku menu.
“Aku ingin makan Manti,” kata Prilly.
“Apa itu Manti?” Alexander dengan serius membaca setiap tulisan di atas buku menu makanan.
“Kau pasti tidak mengetahuinya, itu makanan dari Turki.”
“Oh astaga.” Alexander melupakan bahwa istrinya itu keturunan dari Asia.
“Tetapi di sini tidak ada menu itu sayang,” kata Alexander yang telah membaca keseluruhan isi dari buku menu yang berada di tangannya.
“Aku ingin makan itu.” Prilly bersikeras, alisnya bahkan sedikit berkerut.
Alexander membuka ponselnya dan mencari restoran Turki yang buka dua puluh empat jam di New York, hasilnya tidak ada atau mungkin ia yang tidak menemukannya.
“Kenapa kau tidak makan burger saja misalnya...” Alexander mencoba memberi penawaran kepada istrinya.
Prilly mendengus kesal. “Alex, ini bukan aku yang ingin makan Manti, tapi anakmu.”
“Anakku?” Alexander mengerutkan kening sambil memandang menatap Prilly penuh keheranan.
“Anakmu membuatku kelaparan tengah malam.”
Alexander semakin menatap Prilly dengan tatapan tidak percaya. “Kau hamil?”
Prilly menatap Alexander sorot matanya terlihat semakin terlihat kesal. “Aku sudah mengatakannya, aku mengatakan aku hamil saat kita berada di bawah air hujan. Tetapi, kau tidak mempercayaiku.”
“Kau berbohong saat itu,” protes Alexander.
“Aku memang berbohong saat itu. Tetapi sekarang tidak, aku sudah mengeceknya tadi pagi.” Prilly mengakui kebohongannya yang berbuah manis.
Alexander menyipitkan matanya menatap Prilly. “Dan kau merahasiakannya Nyonya Johanson?”
“Aku ingin memberitahumu saat Natal nanti,” jawab Prilly. Ada suaranya terdengar putus asa karena triknya gagal untuk memberikan Alexander kejutan.
Alexander menerjang tubuh Prilly dan menciumnya penuh kebahagiaan, kemudian merebahkan tubuh Prilly, membuka sedikit pakaian Prilly di bagian perut, mengusapnya penuh kasih sayang, mengecupnya dengan hati-hati dan Alexander berucap, “sayangku tumbuh dengan baik di rahim Mommymu nak.” Alexander kembali mengecup perut Prilly berkali-kali.
“Alex. Kau menyebalkan aku sangat lapar kau hanya peduli kepada anakku lihat aku kelaparan gara-gara anakmu,” keluh Prilly, saat ini ia benar-benar kelaparan.
"Oh, astaga." Alexander menepuk jidatnya iya segera mengambil ponselnya ia justru mondar-mandir di berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Alexander sangat frustrasi karena Harun tidak ada bersamanya di New York. Kali ini Alexander benar-benar merasakan membutuhkan Harun lebih dari apa pun, ia merasa tanpa Harun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Alexander...!” Prilly memanggil suaminya tetapi Alexander tampak masih bingung dan menimang-nimang ponsel di tangan di telapak tangannya.
“Ei-lek-sen-de...!” Prilly terlihat mulai kesal.
Alexander menemukan sebuah ide ia segera mengangkat gagang telepon di kamar hotel tempatnya menginap, ia menelefon restoran dan mengancam menghuankan nama besarnya. Alexander bisa saja menelepon pemilik hotel untuk memerintahkan bagian dapur untuk menyiapkan apa yang diinginkan Prilly, tetapi karena waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, ia tidak mungkin menelepon pemilik hotel itu hanya karena Manti.
*Manti/Manta aalah makanan sejenis Dumpling khas dari Turki, isinya terdiri dari daging domba atau daging sapi. yang berbeda Manti di sajikan dengan Yogurt.
******
Entah karena ikatan batin atau hal lain yang jelas Sidney terus saja menempel kepada Prilly, “Mommy, Apakah hari ini akan bertemu saudaraku?”
“Tentu saja, Daddy Alex akan membawa ketiga saudaramu, mereka dalam perjalanan,” jawab Prilly.
“Ayo kita kembali,” Sidney yang duduk di atas kursi roda menarik meraih jemari Prilly dan menariknya.
“Sayang, tunggu Daddymu menyelesaikan administrasi rumah sakit,” kata Prilly sambil mengusap rambut putrinya.
Melihat Sidney yang begitu menggemaskan, rasanya Prilly ingin merawat Sydney dengan tangannya sendiri. Tetapi, ia tidak boleh serakah. Tuhan mengatur begitu indah meski jalannya harus berliku-liku menanjak dan menurun hingga membuat mereka sampai di titik ini.
Semua seperti di sengaja Tuhan, Prilly mengandung sepasang bayi kembar. Sidney yang mirip dirinya dan Leonel yang mirip Mike. Sekarang Mike memiliki Sidney dan Prilly memiliki Leonel itu sudah cukup adil, Prilly tidak mungkin memisahkan Mike dan Sidney.
Sidney mengerjapkan matanya. “Kenapa Daddy begitu lama?”
“Bersabarkah sayangku,” Prilly merasa geli karena putrinya tidak penyabar seperti dirinya.
Helena yang telah membereskan barang-barang mereka tampak tersenyum kemudian menghampiri ibu dan anak yang sedang bercakap-cakap.
“Aku akan meletakkan barang-barang ini ke dalam mobil terlebih dahulu,” kata Helena.
“Helena kau jangan terlalu lelah, biarkan saja Mike yang melakukan semua itu.”
“Ini hanya pekerjaan ringan,” kata Helena sambil menyeret kopernya.
“Tidak Helena biarkan saja barang itu, Mike akan melakukannya. Kau tidak perlu melakukan tugas seperti itu.” pilih memberitahu Helena.
“Helena, kau selalu tidak mau mendengarkan perkataan orang lain,” kata Sidney.
Helena tersenyum simpul dan menarik hidung Sidney karena gemas, anak dan ibu sedang memojokkannya.
“Helena apakah nanti Natal kita akan pergi ke London untuk berkumpul dengan saudaraku?” Sidney memegang pergelangan tangan Helena.
Helena menekuk kedua kakinya dan berjongkok di depan kursi roda Sydney. “Aku belum tahu, kau bisa menanyakan itu kepada ayahmu.”
“Kenapa tidak kau saja yang menanyakan kepada Daddy? Apa kalian bertengkar tadi malam?” Sidney bertanya kepada Helena dengan mimik wajah yang begitu polos.
“Bertengkar?” Prilly menatap wajah Sidney dan Helena bergantian.
“S-sidney, kau berlebihan, kami tidak bertengkar.” wajah Helena justru tampak merah padam.
“Tapi aku melihat kau mendorong Daddy, kau tampak marah kepadanya.” Sidney masih dengan keyakinannya bahwa ayahnya dan Helena bertengkar tadi malam.
Wajah Helena tampak semakin merah merona, Prilly menarik napasnya dan tersenyum simpul.
“Sidney kau tidak boleh menguping urusan orang dewasa,” Prilly memberitahu putrinya. Dalam hati Prilly bertanya, ‘apakah putrinya juga gemar mencampuri kisah asmara orang lain seperti dirinya?’
“Mommy, aku serius aku melihat Helena dan Daddy bertengkar,” Sidney meyakinkan ibunya.
Prilly tertawa tertahan, “Helena sepertinya kau dan Mike harus memastikan Sidney tertidur sebelum....”
“Astaga... Prilly ini tidak seperti yang kau kira." Helena tampak kesusahan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
“Tetapi aku akan mendoakan kalian,” tatapan Prilly begitu tulus membuat Helena salah tingkah.
“Astaga, konyol kalian sangat konyol.” Helena menggeleng-gelengkan kepalanya.
Baru saja beberapa detik percakapan Prilly dan Helena berakhir Mike muncul ke dalam ruangan kamar tersebut, ketiga wanita itu langsung memandang Mike dengan tatapan yang masing-masing sulit diartikan.
“Ada apa?” Mike bertanya karena ketiga wanita itu menatapnya berbarengan dengan tatapan yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.
“Daddy, ayo kita pulang!” Seru Sidney. Gadis itu dengan riang memanggil ayahnya dan melambaikan tangannya.