
Prilly berciri di samping Richard yang berulang tahun, ayah mertuanya bahkan menggandeng lengan Prilly seolah mereka adalah pasangan, senyum terus mengembang di bibir Richard ia membawa Prilly berkeliling menyapa tamu undangan yang notabene adalah bangsawan dan para pengusaha kelas atas di negeri ratu Elizabeth tersebut.
Tidak jauh dari Richard dan Prilly, Alexander berdiri bersama Jovita, pandangan mata Alexander terus saja mengarah pada wanita pujaannya, Prilly mengenakan gaun berwarna hitam di bawah lutut dengan potongan sederhana tanpa lengan, Prilly juga mengenakan sepasang anting dari berlian yang serasi dengan gelang dan kalung yang dikenakannya, Alexander memilihkan semua perhiasan itu.
Itu adalah rancangan Sandra ibu Prilly, ia membeli perhiasan dari ibunya dan di pakaikan pada putrinya, pria itu benar-benar konyol, sedangkan gaun yang dikenakan Prilly sepintas cocok dengan setelan jas yang di kenakan Alexander, itu adalah pilihan Diana saat Diana dan Prilly pergi berbelanja setelah menghadiri acara amal.
Pesta ulang tahun sekaligus perjamuan makan berjalan dengan sangat meriah, Diana yang duduk bersama Sandra dan Victoria mengobrol dengan santai meski dalam benak Sandra terus bertanya-tanya, perhiasan yang di pesan Alexander mengapa berada di tubuh putri semata wayangnya, rasa penasaran Sandra semakin menjadi-jadi mengingat sudah dua minggu juga putrinya terus menghindari dirinya, putrinya tidak pernah datang ke mansionnya, putrinya juga tidak mengurus perusahaan peninggalan suaminya lagi, putrinya juga tampak lebih bersemangat hidup. Dan yang paling mencurigakan adalah putrinya tidak mengenakan lagi cincin dari Mike, ia juga begitu dekat dengan Diana dan Richard.
Sandra nyaris sesak nafas membayangkan jika putrinya sedang di dekati Alexander, meski Alexander sekarang tampak berbeda dengan Alexander yang dulu tidak peduli pada anaknya, namun tetap saja Sandra merasa khawatir, tidak semudah itu membiarkan putri kesayangannya jatuh kembali ke dalam pelukan mantan menantunya, terlebih lagi Alexander sekarang masih berstatuskah suami wanita lain. Sandra tidak akan membiarkan itu terjadi.
Jovita merasa sangat bosan berada di tengah pesta yang sangat asing, ia tidak mengenal siapa pun di sana selain Prilly dan Alexander, sedangkan Prilly, ia sibuk dengan ayah mertuanya, berkali kali Jovita menelan salivanya yang terasa pahit, tidak satu pun orang di sana memandang keberadaannya. Ada sedikit sesal ia menghadiri pesta itu.
“Apa kau bosan?” tanya Alexander tiba-tiba.
“Sedikit,” jawab Jovita.
“Ayo sapa mommy dan daddy setelah itu kita kembali,” kata Alexander.
Jovita mengangguk dan mereka berdua melangkah menghampiri Richard yang sedang mengobrol bersama seorang pria yang sebaya dengannya dan pria itu adalah seorang pejabat daerah.
“Daddy terima selamat ulang tahun,” kata Alexander.
“Terima kasih, Alex kapan kau memberikan aku cucu lagi?” tanya Richard sambil mengelus punggung telapak tamgan Prilly.
Ekor mata Alexander melirik pada Prilly, yang bergelayut manja di lengan Richard, “secepatnya daddy,” jawab Alexander.
“Daddy selamat ulang tahun,” kata Jovita.
“Terima kasih,” jawab Richard dengan nada datar.
“Sayang, aku ingin berbicara dengan putraku lebih dulu, aku akan sebentar,” kata Ricard, nada bicaranya lembut dan penuh kasih sayang kepada Prilly, sangat berbeda saat berbicara pada Jovita.
“Baik daddy,” jawab Prilly lembut sambil melepaskan lengannya yang bergelayut pada lengan ayah mertuanya, ia tampak seperti gadis yang manja pada ayahnya.
Prilly dan Jovita berdiri berhadap-hadapan dengan canggung, Jovita melirik Prilly dengan perasaan iri, wanita yang sempurna kecantikannya, latar belakang, dan segala yang di miliki Prilly membuat Jovita semakin merasa kecil di depan Prilly. Apalagi melihat kedekatan Prilly dengan orang tua Alexander, Jovita semakin merasa iri.
Merasakan kabut kecanggungan yang tebal Prilly berinisiatif membawa Jovita untuk bergabung dengan Diana dan Sandra.
“Mommy, aku merindukanmu,” kata Prilly dengan gaya manjanya.
“Kau sudah lama tidak berkunjung ke rumah mommy, mommy merindukanmu sayang,” kata Sandra sambil membelai rambut putri satu-satunya.
“Aku akan berkunjung nanti, mommy aku menyayangimu,” rengeknya.
“Aku juga menyayangimu,” jawab Sandra sambil mengecup kepala Prilly.
“Jovi, duduklah.” Prilly mempersilahkan Jovita duduk.
Jovita dengan canggung duduk di samping Victoria sedangkan Prilly duduk di antara Sandra dan Diana.
Tidak ada yang berbicara di antara kelima wanita itu, bahkan Diana seolah menganggap Jovita hanya udara yang tak terlihat olehnya.
Lima belas menit kemudian Alexander datang menghampiri kelima wanita itu.
“Mommy, kami kembali dulu, Jovita tidak enak badan,” kata Alexander pada ibunya.
“Tidak Sayang, pesta belum berakhir, kalian anak muda berpestalah sampai pagi, biar kami yang tua kembali lebih dulu,” kata Diana. “Lagi pula kami menyewa banyak kamar di sini, kalian harus menginap di sini,” kata Diana, entah kalian yang di maksud itu siapa.
“Baik, Mommy,” jawab Alexander.
Tiba-tiba seorang pria rupawan yang tak kalah tampan dari Alexander datang menghampiri mereka, dia adalah salah satu putra bangsawan di London.
“Prilly, aku ingin mengajakmu berdansa, bisakah kita?” tanya Charles dengan sopan.
Sedikit terkejut dengan permintaan pria tampan itu, Prilly tersenyum simpul, berpikir sebentar kemudian ia mengangguk ragu-ragu. Semua orang kini telah tahu ia adalah wanita bebas di mata masyarakat London, is tak lagi mengenakan cincin pernikahan di jari manisnya, tabu untuk menolak ajakan pria untuk berdansa, apalagi pria yang mengajaknya itu adalah seorang keturunan bangsawan.
Dengan anggun Prilly bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah pria tampan utu menuju lantai dansa.
Sandra sempat melirik wajah Alexander yang tampak jelas di rahangnya mengeras dan tatapan matanya menjadi sangat dingin, jelas pria itu cemburu namun masih bisa mengontrolnya.
Di lantai dansa Prilly dan Charles mulai melangkahkan kakinya, telapak tangan Prilly di genggam sementara sebelah lengan Charles melingkar di pinggang Prilly dan sebelah tangan Prilly berada di pundak Charles.
“Tidak masalah,” jawab Charles dengan nada sangat hangat. “Aku akan membimbingmu, ikuti saja langkahku,” katanya lagi.
“Baiklah,” jawab Prilly sambil menyeringai.
Prilly memang bukan gadis yang di lahirkan di kalangan bangsawan, namun ia besar di lingkungan kelas atas, ia tentu saja pandai berdansa, karena bagaimanapun ia di haruskan menguasai hal-hal seperti itu. Dan pasangan dansanya dulu adalah Alexander, Alexander yang dengan sabar menemaninya belajar dansa dan menjadi pasangan dansa satu-satunya.
“Bagaimana jika kapan-kapan kita makan malam bersama?” Tiba-tiba Charles mengemukakan ajakannya.
“Oh, sepertinya agak sulit. Aku harus makan malam di rumahku bersama anak-anak,” tolak Prilly dengan halus.
“Bagaimana jika kita makan siang?” ajak Charles lagi, mereka sebenarnya seumuran dan pernah duduk di fakultas yang sama.
Prilly tertawa kecil. “Jika aku tidak sibuk, tidak masalah.” Kali ini Prilly tak mampu lagi berkelit.
“Kau harus meluangkan waktumu untukku, kau sangat susah kudekati sejak kita masih menjadi mahasiswa.”
“Akan kupertimbangkan,” jawab Prilly sekedar berbasa-basi, ia tidak mungkin menolak mentah-mentah.
Setelah satu lagu berlalu, Prilly mencari alasan bahwa ia lelah dan tidak ingin berdansa lagi, Charles akhirnya melepaskan wanita mungil itu.
Ketika Prilly kembali bergabung dengan Diana dan ibunya, Sandra segera menyeret putrinya dan mengajaknya ke kamar di mana Sandra dan Federick akan menginap.
“Ada hubungan apa kau dan Alex?” tanya Sandra tanpa basa-basi, tatapan matanya begitu mengintimidasi putrinya
“Mommy, kau mengada-ada,” elak Prilly.
“Prilly?” Sandra tahu putrinya berbohong, putrinya bukan pemain sandiwara yang hebat.
“Mommy, oh ayolah... kau menuduhku!” Prilly terus mengelak.
“Alex beristri,” desis Sandra, wanita itu menatap Prilly dengan tatapan marah.
“Mommy, kau tidak mengerti!” Prilly mencoba membela dirinya.
“Mommy tidak mau kau di sakiti olehnya lagi,” kata Sandra dengan nada dingin.
“Mommy, Alex telah berubah,” bela Prilly pada suaminya.
“Jadi kau mengakui Kalian dalam hubungan gelap?” cerca Sandra.
Merasa terpojok Prilly mencari pembelaan ayahnya. “Daddy...! Tolong aku,” rengek Prilly, ia bergeser ke belakang punggung ayahnya meminta perlindungan dari murka ibunya.
“Prilly! Mommy tidak akan tinggal diam!” suara Sandra naik dua oktav.
“Sayang, hentikan!” kata Federick memperingatkan istrinya, ia menggeser tubuhnya dan merengkuh pundak putri kesayangannya. “Kau mencintai Alex?” tanyanya dengan nada sangat lembut pada Prilly.
“Daddy, aku mencintainya." Air mata Prilly tergelincir.
Federick menghapus air mata yang jatuh di pipi Prilly. “Daddy tidak mempermasalahkan itu, jika kau mencintainya, dapatkan dia dan ingat, jangan sampai ia lepas kali ini.bDaddy tidak melarangmu, apa pun asal kau bahagia,” jawab Federick. Prilly adalah permata hatinya, Prilly adalah belahan jiwanya setelah istrinya.
“Erick, kau terlalu memanjakannya!” Sandra masih saja tidak terima.
“Putriku hanya satu, jika aku tidak memanjakannya aku merasa menjadi ayah yang buruk,” jawab Federick tanpa menoleh ke arah istrinya. “Hapus air matamu, kembalilah ke pesta, nikmati masa mudamu.” Federick mengecup kening putrinya penuh kasih sayang membuat Sandra yang menyaksikan itu mendengus kesal.
TAP JEMPOL KALIAN 😅😅
AKU TAHU KALIAN BENCI SAMA PRILLY DAN ALEX 😆😅 TAPI AKU PENGEN DONG BIKIN NOVEL YANG GAK MELULU KISAH CINTA MANIS SEMANIS KEIKO DAN NINO, LIVIA DAN NAOKI YANG SEMPURANA 😆😆😆
TERSERAH PENDAPAT KALIAN GIMANA AKU TETAP DENGAN PENDIRIANKU KARENA ALUR UDAH AKU SUSUN DENGAN SUSAH PAYAH 😚😚😚😚 SILAHKAN DINIKMATI JIKA BERKENAN DAN DI TINGGALKAN JIKA KIRANYA MENGURAS EMOSI KALIAN 😅😅😅
AKU HANYA MENULIS APA YANG AKU MAU.
TERIMA KASIH 😙😙😙😙😙
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤❤❤❤