
Mereka berdua tiba di apartemen yang kini menjadi tempat tinggal mereka, kebetulan William berada di kediaman Sandra neneknya. Alexander langsung membawa Jovita ke dalam kamar, menatap wajah jovita dengan tatapan dingin, rahangnya bahkan terkatup rapat, ia sesekali menggeretakkan giginya, tampak sedang menahan emosinya.
“Jadi, kau ingin membiarkan anak kita lahir tanpa ikatan pernikahan?” tanya Alexander dengan nada dingin yang seolah mampu membekukan ruangan itu.
“Alex, aku tidak siap menikah denganmu,” jawab Jovita, entah sejak sikap Alexander sedikit melunak ia betani menjawab setiap Alexander tampak mulai terpancing emosi.
“Apa yang membuatmu tidak siap?”
“Diantara kita tidak ada hubungan apapun sejak awal Alex,” jawab Jovita sambil menundukkan wajahnya.
“Tidak ada hubungan kau bilang?!” tanya Alexander dengan nada sedikit meninggi.
“Ya, tidak ada hubungan apa pun di antara kita,” jawab Jovita lirih.
Alexander semakin merapatkan tubuhnya pada Jovita, Alexander meraih dagu Jovita dan menatap mata Jovita sambil menyipitkan matanya, tangannya mulai melucuri pakaian yang di kenakan Jovita, “Tidak ada hubungan katamu? Apa kau melakukan hal-hal seperti ini bersama orang asing?” geram Alexander penuh tekanan emosi.
“Kau hanya menginginkan tubuhku, jika hanya tubuhku yang kau inginkan aku bisa memberikannya meski tanpa pernikahan,” jawab Jovita dengan nada dingin, sekuat tenaga ia memberanikan diri menatap manik mata abu abu pria di depannya.
“Dengar Jovi, jika aku hanya ingin tubuh wanita aku bisa mendapatkan di dengan membeli ******, aku ingin berumah tangga dan wanita yang ku inginkan adalah kau," kata Alexander sambil merebahkan tubuh Jovita dan mulai memberikan sentuhan sentuhan lembut di bagian bagian sensetif Jovita.
Jovita sedikit menggeliat, ia tidak mampu menolak sentuhan tangan pria yang berada di atasnya, “Alex, rumah tangga tanpa cinta, untuk apa?” tanya Jovita dengan nada sengit, ia tidak ingin berumah tangga dengan pria yang sama sekali tidak pernah mengatakan cinta kepadanya.
Alexander tak mempedulikan perkataan Jovita, ia justru terus berusaha menyatuksn dua tubuh mereka, “Jovita, dengarkan aku,” kata Alexander sambil menggoyangkan pinggulnya perlahan. "Aku hanya mengatakannya sekali, jika kau mencintaku, maka aku juga mencintaimu. Jika kau tidak mencintaiku, baik, aku akan pergi darimu,” lanjutnya sambil menambahkan tempo gerakan pinggulnya dan memporak porandakan Jovita.
Jovita hanya membisu, apa ini pernyataan cinta? Konyol sekali bukan?
Apa pria ini tidak bisa bersikap normal seperti pria lain? Menyatakan cinta dengan cara yang wajar?
“Jika kau mencintaiku, jangan sekalipun kau menolakku, menikahlah denganku,” geram Alexander sambil menyeka air mata Jovita, kemudian mengecup kening Jovita.
Jovita mengangguk entah Alexander melihat anggukannya atau tidak yang jelas ia telah menjawab iya untuk lamaran konyol tersebut.
Sementara Alexander semakin bersemangat dengan hentakan-hentakan pinggulnya, Jovita juga kembali merasakan gelombang-gelombang kenikmatan yang terus di berikan Alexander hingga akhirnya mereka mendapatkan puncak mereka bersama.
“Jadi kau menerima lamaranku?” tanya Alexander setelah melepaskan bagian tubuhnya, ia memeluk pinggang Jovita.
“Aku tak bisa berlari darimu,” guman Jovita.
“Kau bukan tak bisa berlari dariku, kau telah jatuh cinta padaku sejak lama,” kata Alexander dengan nada menggoda.
“Kau terlalu percaya diri Alex,” tentu saja perkataan pria kaku yang sedang memeluknya ini membuat wajah Jovita memerah, ia bahkan telah jatuh cinta pada Alexander sejak pertama kali ia menandatangani kontrak sebagai sekretaris ranjangnya dulu.
“Besok kita ke rumah orang tuamu, aku akan melamarmu”
Jovita mengangguk, Alexander menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka berdua lalu mengeratkan pelukannya hingga mereka akhirnya tertidur.
Hari berlalu begitu cepat, William berada di New York bersama Prilly dan Mike, sedangkan Jovita dan Alexander seperti pasangan baru yang sedang di mabuk kepayang, mereka berdua sudah tidak peduli lagi dengan apa pun ancaman-ancaman Diana.
Mereka menjalani hari-hari mereka dengan baik, pergi makan ke restoran, berkencan sebagaimana pasangan baru, dan kadang juga pergi menonton ke bioskop, tidak banyak persiapan yang di lakukan untuk pernikahan mereka karena Jovita hanya menginginkan pernikahan sederhana cukup pengambilan sumpah di gereja.
SELAMAT PAGI 😍😍😍😍
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤❤