Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Canggung



TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!


Jay mengulas senyum masam di bibirnya karena ucapan sinisnya mendapat tanggapan dingin dari kawan bicaranya. Ia berdehem kemudian berkata. “Apa kita bisa memulai membicarakan rencana bisnis kita?”


“Silakan, Mr. Al-Fatih,” jawab Alexander.


Tatapan mata Jay mengarah kepada Prilly. “Tetapi, aku rasa... bagaimana jika hanya yang berkepentingan saja yang terlibat? Maksudku....”


“Aku mengerti, aku juga ingin membicarakan masalah ini empat mata,” jawab Alexander dengan nada menyindir. Jika istrinya tidak di perbolehkan ikut dalam pembicaraan mereka maka Jovita juga tidak.


“Dia sekretarisku,” tukas Jay.


Sudut bibir Alexander terangkat. “Empat mata atau tidak sama sekali?” Alexander benar-benar memberikan harga mati.


Pernyataan Alexander seketika membuat Jay tak berkutik, ia menyapukan pandangannya sekilas kepada Jovita yang berdiri di sampingnya lalu ia mengendurkan lengannya memberikan kode kepada Jovita untuk menjauh. Sementara Alexander merogoh saku celana lalu mengetik di atas layar ponselnya. Hanya berselang beberapa detik tampak Danny datang menghampiri mereka. Alexander selalu membawa Danny bersamanya meski ia pergi bersama Prilly, ia sangat protektif kepada istrinya karena mengingat hal-hal di masa lalu yang bisa di bilang suram.


“Jaga Nyonya besarmu,” titah Alexander kepada Danny.


“Saya mengerti, Sir,” jawab Danny dengan patuh.


Prilly melepaskan lengannya yang melilit pada pinggang suaminya, begitu juga Alexander. “Aku tidak akan lama,” ucapnya memberi tahu Prilly, tatapan matanya seolah enggan membiarkan istrinya menjauh dari pandangannya.


“Jangan terburu-buru sayangku,” jawab Prilly yang diiringi senyum manis. “Ayo, Danny.”


Prilly diikuti oleh Danny melangkah menuju tempat yang nyaman untuk duduk tetapi tidak di sangka ternyata Jovita mengekor kedua orang tersebut dan tanpa sungkan menyapa Prilly.


“Apa kabarmu, Prilly. Lama tidak berjumpa,” sapanya.


Prilly mengarahkan pandangannya kepada Jovita. “Kabarku sangat baik, bagaimana denganmu?” Prilly membalas sapaan Jovita dengan nada ramah dan senatural mungkin.


“Kabarmu baik, bagaimana kabar anak-anak?” Jovita menanyakan kabar anak-anak Prilly dengan senatural mungkin.


“Duduklah, Jov.” Prilly mempersilahkan Jovita untuk duduk. “Kabar anak-anak sangat baik," jawabnya.


Sedikit berpikir, sebenarnya Prilly hendak menanyakan kabar anak Jovita tetapi ia memilih menyimpan pertanyaan itu di dalam benaknya. Bagaimanapun juga anak itu adalah anak yang tidak di harapkan oleh Jovita, ia khawatir pertanyaannya mengusik Jovita. Kecanggungan tiba-tiba membentang di antara mereka. Kaku dan beku.


“A-aku bekerja lagi karena tunjangan dari Alex—tidak cukup untuk biaya hidup kami. Maksudku—aku hanya memberitahumu,” ucap Jovita.


Mendengar pernyataan Jovita membuat Prilly mengernyit. Ia diam-diam menghela napasnya, sebuah alasan yang menurutnya sangat lucu, tidak masuk akal dan di buat-buat. 1.000 £ bukan angka kecil, setiap bulan Jovita mendapatkan jaminan untuk menghidupi dirinya dari mantan suaminya. Prilly yakin tidak ada mantan suami yang bersedia memberikan uang sebesar itu kepada mantan istri apa lagi jika mengingat kesalahan yang telah Jovita lakukan. Bukan hal yang bisa di bilang main-main, kesalahannya sangat fatal. Tetapi, mengingat Alexander dan Prilly juga melakukan kesalah kepada Jovita, mengesampingkan kesalahan Jovita tersebut Alexander dan Prilly merasa harus membantu wanita itu hingga Jovita kembali menemukan pendamping hidup yang akan bertanggung jawab dan menopang hidup Jovita dan anaknya.


“Jika kau bisa mengelola pengeluaranmu, aku rasa semuanya baik-baik saja,” ucap Prilly menanggapi apa yang Jovita ungkapkan barusan. Ia berusaha menyuarakan dengan nada sebaik mungkin agar tidak membuat percikan api di benak Jovita.


Jovita tersenyum sinis. “Aku sungguh merasa iri kepadamu, kau mungkin tidak pernah mengalami hidup dalam kesusahan...,” katanya sambil menatap kosong pada lantai yang ia pijak.


Prilly menelan ludahnya. Demi Tuhan. Suasana canggung ini sangat tidak nyaman.


“Kau wanita yang tangguh, suatu saat kau pasti akan menemukan yang terbaik dalam hidupmu,” ucap Prilly.


Prilly benar-benar ingin berlari dari suasana canggung yang membelenggunya saat ini.


Danny yang duduk tak jauh dari Prilly dan Jovita, ia dengan jelas mampu mendengar pembicaraan dan suasana canggung di antara Prilly dan Jovita. Ia segera mengambil inisiatif untuk mematahkan kecanggungan itu.


Danny berdehem. “Nyonya, apakah kau ingin melihat suasana di luar?” tanyanya kepada Prilly.


Prilly menatap Danny dengan tatapan mata yang berbinar seolah-olah mengatakan, ‘kau penyelamatku.’


“Sepertinya ide yang bagus, Danny.” Prilly berdehem. “Jovi, apa kau ingin pergi melihat keadaan di luar? Menghirup udara segar,” katanya. Atas nama basa-basi yang sangat kental dan membosankan terkadang para wanita harus bersikap manis padahal di dalam hati mengharapkan kebalikannya.


“Aku rasa, aku tidak memerlukannya,” jawab Jovita. Sudut bibirnya tersenyum sinis. Samar, nyaris tak terlihat oleh Prilly.


***


Sementara Alexander dan Jay, mereka sedang berbicara dengan serius. Kedua orang itu duduk di kursi dengan posisi berhadap-hadapan, hanya meja kecil yang memisahkan mereka.


“Proyek di Dubai ini akan sangat menguntungkan bagi jaringan perhotelan yang kau miliki, Mr. Johanson,” kata Jay dengan nada meyakinkan membuka diskusi di antara mereka.


“Jika aku menanamkan sahamku di sana, apa saja keuntunganku?” tanya Alexander sambil menyilangkan kakinya dengan gerakan anggun.


Jay menyingsingkan lengan jasnya kemudian ia menguap layar ponselnya. Jari jemarinya menari di atas layar ponsel lalu membuka sebuah dokumen perusahaan miliknya. Dengan serius Jay mulai menjelaskan apa saja keuntungan yang ia tawarkan kepada Alexander, panjang lebar dan meyakinkan tentunya.


Alexander mendengarkan dengan saksama dan seolah penuh minat tanpa menyela satu pun kalimat yang di ucapkan oleh Jay hingga pria itu mengakhiri penjelasannya. Ia berdehem kemudian ia bertanya, “Baiklah, aku telah mengerti. Tetapi, bolehkan aku bertanya terlebih dahulu sebelum kita membicarakan proyek ini lebih jauh nantinya?”


“Tentu saja,” kata Jay.


Alexander menatap langsung mata Jay dengan tatapan datar. “Kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja sama denganku? Padahal kita adalah rival yang cukup berat selama ini.”


Jay tertawa hambar. “Kau berpikir terlalu banyak Mr. Johanson,” jawabnya.


Alexander tersenyum sinis. Seperti biasanya. “Jadi kau berpikir sudah saatnya kita bergandengan tangan? Seperti--itukah?” sebelah alisnya terangkat.


Jay justru tertawa atas hal yang sama sekali tidak lucu. “Ya, seperti itu. Sepertinya.”


Masih dengan senyum sinis di bibirnya, Alexander menganggukkan kepalanya kemudian berucap, “Kuharap kau tahu batasan dan tidak mencampur adukkan hal-hal yang tidak seharusnya.”


Jay menghentikan tawa hambarnya. “Sepertinya kau mencurigaiku,” katanya.


“Oh, tentu tidak. Aku percaya kau memiliki otak yang cukup cerdas,” jawab Alexander.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤


FYI : £ 👈 Poundsterling. 1£ : Rp.18.000,-