Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alexander terbaik



“Aku dengar dari David mereka memutuskan pertunangan tapi yang jelas itu bukan karena aku, sudah tiga tahun hubungan kami kandas aku tidak memikirkannya lagi, saat dia datang dan berusaha mengejarku sampai sekarang, aku tidak ingin bersamanya, demi Tuhan aku telah menyerah Prilly,” kata Anne terdengar putus asa.


“Apa karena David sering bergonta-ganti wanita?" Prilly dengan hati-hati menanyakan keengganan Anne.


“Oh Tuhan, Prilly aku sangat mengetahui itu,” tetapi sekarang keadaan yang berbeda.


“Maksudmu?”


“Aku tidak ingin membicarakannya lagi, please,” kata Anne sambil menatap Prilly penuh harap.


“Oh, kau menceritakan hanya separuh, seperti itu kau justru hanya membuat aku semakin penasaran,” gerutu Prilly.


“Jadi, selama tiga tahun ini kau benar-benar tidak memiliki pria lain? Kekasih lain?” Kali ini justru Lilin yang tidak bisa berhenti menginterogasi Anne.


Anne tertawa ringan. “Entahlah, yang jelas selama tiga tahun aku tidak bisa melupakan lupakan David.”


“Lalu kenapa kau tidak kembali kepadanya?” Linlin menatap heran ke arah Anne.


“Ini tidak semudah yang kalian pikirkan,” jawab Anne.


“Maksudmu?” Linlin kembali tidak mampu menahan rasa penasaran.


“Orang tua David mungkin tidak akan merestui hubungan kami,” Anne mengangkat kedua alisnya.


“Omong kosong, kalian belum mencobanya,” kata Prilly.


“Tidak Prilly, Aku tidak ingin persahabatanku dan Adelia semakin retak, kau pasti tidak menyadari selama ini Adelia selalu menghindariku." Anne menatap kuku-kuku di jemarinya.


“Ya, sejak lama Adelia memang tidak pernah lagi bergabung bersama kita. Aku tidak tahu aku pikir dia hanya sibuk atau menemukan teman baru,” ucap Prilly.


“Tidak sesederhana itu.” Anne menelan ludahnya. “Dia, Oh demi Tuhan, bagaimana aku menjelaskannya." Anne memejamkan matanya.


“Jadi, Adelia menerima perjodohan itu sementara David tidak?” Prilly terus mendesak Anne.


“Davidlah yang menerima perjodohan itu sementara Adelia tidak,” jawab Anne sambil menghela napas.


“Tapi, mereka benar-benar menutupinya dengan rapi. Kau juga sangat rapi menutupi hubunganmu dengan David,” kata Prilly.


“Aku menutupi hubunganku dengan David, karena tentu saja aku tidak ingin menjadi bahan pergunjingan di kantor, astaga itu akan jadi gosip yang sangat memanaskan telinga tentu saja aku enggan,” ujar Anne dengan nada pahit.


“David menerima perjodohan itu sementara ia berselingkuh denganmu? Astaga, itu benar-benar konyol,” Prilly tampak kesal.


“Ya, begitulah. Aku merasa hanya sebagai bahan persinggahannya, sungguh Prilly... hatiku sakit.” Anne kembali memejamkan matanya.


“Jadi, kau trauma?” Prilly menatap aneh dengan tatapan yang begitu polos.


“Omong kosong, aku tidak trauma aku hanya enggan menjalani hubungan baru dengan pria baru, aku masih enggan memulainya,” jawab Anne.


“Bukankah itu sama saja dengan trauma?” Linlin membenarkan apa kata Prilly. Linlin ya justru mengikuti gaya Prilly membuat tentu saja merasa terpojok.


“Demi Tuhan. Apa yang dipikirkan dua wanita ini? Aku sungguh tidak mengerti,” sungut Anne.


“Dan Prilly, kuperingatkan kepadamu untuk tidak coba-coba menjodohkanku dengan David aku akan marah kepadamu jika kau melakukan hal seperti itu." Anne menatap dengan tatapan galak.


“Untuk apa aku menjodohkanmu? Aku tidak akan melakukannya,” jawab Prilly sambil menahan tawanya.


“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menjodohkanku dengannya,” ancam Anne.


“Apa kau memiliki calon pria lain? Calon kekasih maksudku." Prilly Prilly meletakkan bayi kecil yang sedari tadi di dalam gendongannya ke dalam box bayi yang berada di samping ranjang pasien Linlin.


“Prilly, astaga kau seharusnya ada orang yang cerdas kan aku baru saja mengatakan aku enggan untuk memulai cerita cinta yang baru.” Anne benar-benar tidak mengerti Prilly.


Ketiga wanita itu menghabiskan setengah hari mereka di rumah sakit untuk berbincang-bincang membunuh waktu lilin yang tentu saja ia merasa bosan berada di rumah sakit.


“Kau menjemputku, Sayang?” Prilly dengan gaya bermanja kepada suaminya menghampiri Alexander.


“Ya. Aku menjemputmu istriku yang cantik,” jawab Alexander sambil membelai rambut istrinya.


“Lilin, bagaimana kabarmu?” Alexander berjalan menuju box bayi, pria itu menatap bayi mungil itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


“Keadaanku baik.” Linlin menjawab pertanyaan Alexander.


“Seharusnya aku datang membawakan kado untuk keponakanku yang lucu ini,” kata Alexander, ia tampak ingin sekali mengangkat bayi itu. Tetapi, karena ia belum mencuci tangannya Alexander tidak melakukan hal itu.


“Itu tidak perlu,” kata Linlin. “Kau bisa memberikan kado nanti setelah dia dewasa, misalnya sebuah mobil terbaru,” lanjutnya dengan nada bercanda.


“Tentu saja aku akan memberikan apa pun yang dia mau, asal dia tinggal di mansion kami,” kata Alexander sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Oh, itu mustahil,” kekeh Anne.


“Di mana ayahnya? Kenapa dia belum datang? Bukankah ini sudah waktunya kembali?” Alexander menatap pipi bulat bayi merah di depannya.


“Dia akan datang sebentar lagi,” kata Linlin.


“Baguslah, setelah ayahnya datang kami akan segera kembali,” kata Alexander, ia memang ingin segera kembali ke tempat tinggalnya yang hangat bersama istrinya.


“Kenapa kau sangat murung, Sayang?” Alexander mengelus puncak kepala Prilly yang sejak tadi lebih banyak diam, mereka berada di dalam perjalanan pulang menuju tempat tinggal mereka.


“Aku memikirkan mengapa aku belum hamil kembali,” kata Prilly dengan nada lirih, “Aku menginginkan seorang bayi hubby, kau tahu mengurus bayi sangat menyenangkan.”


“Bagaimana jika kita berbulan madu lagi?” Alexander mengangkat sebelah alisnya.


“Sepertinya ide yang bagus,” jawab Prilly sambil menyeringai senang.


“Katakan tempat mana yang ingin kau kunjungi, Sayang?” Alexander menyelipkan helaian rambut Prilly ke belakang telinganya.


“Aku rasa New York tempat yang indah,” jawab Prilly.


“Sayang? Kau yakin? Astaga kita sudah berulang kali mengunjungi tempat itu.” Alexander merasa istrinya sedikit konyol.


“Tetapi, aku menyukai tempat itu,” kata Prilly dengan ekspresi malu-malu.


“Karena di sana Kau mulai jatuh cinta padaku bukan?” Alexander menatap wajah Prilly dengan tatapan menggoda.


“Kau jangan besar kepala, New York kota yang indah siapa pun mengakui itu,” elak Prilly, ia ingin mengakuinya.


“Sepertinya hanya kau yang mengatakan tempat itu indah. Astaga, ada apa dengan kepala cantikmu, Sayang?” Alexander tersenyum menggoda istrinya.


Wajah Prilly tampak merona merah, dengan lembut ia mencubit paha suaminya.


“Baiklah, jika kau ingin ke sana maka kita akan ke sana, bulan depan bagaimana?” Alexander menangkup telapak tangan Prilly dan mengelus-elus punggung tangan istrinya itu.


“Benarkah? Aku tidak sabar aku ingin pergi ke sana, sayang kau benar-benar terbaik,” kata Prilly, ia tampak sangat kegirangan, Prilly bahkan mencium pipi suaminya seperti ia mencium seorang bayi karena gemas.


New York bagi Prilly memberikan sesuatu yang berbeda ada bagi hati Prilly karena di sana benih-benih cintanya kepada Alexander mulai tumbuh, ia ingin mencintai Alexsander untuk selamanya dan ia ingin mengukir sebanyak mungkin kenangan di mana pun bersama Alexander.


Ohallo 😆😆😆😆


Masalah typo di chapter sebelumnya aku minta maaf, itu karena aku mencoba pake tombol keyboard otomatis biar ngetik cepet tapi aku gak terbiasa, jadinya acak-acakan, tapi aku mau coba terus sampe terbiasa.


dan kemarin juga aku edit naskah memaksakan diri sampai gak konsen sampai ada paragraf yang terulang. hehehe, maafkan author yang tidak jeli dan tidak sempurna.


Pasti kalian gak sabar kok malah cerita Anne? sabar ya, semua part dan cerita ini pasti nyambung dan ada kaitannya, jangan semena-mena maunya masalah Prilly dan Alex aja, author punya cara sendiri yang mungkin gak terpikir oleh kalian.


Begitulah cerita author yang unfaedah ini 💘💘💘💘💘