
Sore itu, seperti biasa Prilly pulang bekerja di jemput oleh Mike. Mereka membeli beberapa bahan makanan di supermarket untuk makan malam mereka. Lebih tepatnya, Mike yang belanja dan Prilly menunggu di mobil. Sesampainya di depan pintu apartemen mereka melihat seorang pria tinggi dengan coat hitam berdiri di depan pintu tempat tinggal Prilly. Wajah dinginnya menatap Mike dengan sinis.
“Prilly, kita harus bicara,” kata Alexander.
“Maaf, Kak Alex. Jadwalmu bertemu William hari Jumat dan Sabtu bukan hari ini.”
“Apa kau tak punya malu tinggal di rumah yang aku berikan dengan seorang pria?” sinis Alexander yang di tujukan pada Mike.
“Aku bisa membawa Prilly pindah kapan saja jika ia mau. Dan asal kau tahu tempat tenggalku persis di sebelah tempat tinggal Prilly,” jawab Mike santai.
“Kak Alex, tolong, kau pergi dari sini. Kita tidak ada urusan.”
“Aku perlu bicara denganmu.” Alex terus berusaha.
“Kak Alex, tidak ada yang perlu kita bicarakan,” tolak Prilly masih dengan nada halus.
Prilly memandang Mike seolah-olah meminta pendapatnya dan Mike menganggukkan kepalanya. Ia mengelus sayang kepala Prilly dan memberinya waktu untuk berbicara berdua dengan Alex. “Ajak bicara di dalam,” bisik Mike.
“Apa hubungan kalian berdua?” tanya Alexander ketika mereka sampai di ruang tamu, ia bahkan tak mempersilahkan tamu tak di undangnya untuk duduk.
“Aku kira, itubukan urusanmu,” jawab Prilly tenang.
“Jadi akhirnya, ia mendapatkanmu.” Alexander membuka coatnya dan membuangnya sembarangan.
Prilly memelototkah matanya, jadi Alexander tahu selama ini tentang perasaan Mike padanya?
“Apa maumu, Ka Alex? Tolong langsung saja katakan?” Prilly enggan untuk membahas masalah lain, ia langsung menuju poin yang Alexander inginkan.
“Aku ingin minta maaf padamu. Dan bisakah kau tinggalkan pria itu? Kita mulai dari awal lagi hubungan kita.” dengan nada serius, kata-kata itu keluar dari bibir Alexander. Seolah ia pria suci bebas dari dosa.
Prilly tersenyum kecut, ingin ia tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata yang meluncur dengan mudah dari bibir Alexander setelah semua yang ia lakukan.
“Kak Alex tidak perlu minta maaf. Aku sudah melupakan semua masa lalu kita.” dengan santai Prilly menjawab kata-kata Alexander yang membuatnya mual. “Dan untuk kembali bersama, itu tidak mungkin,” lanjutnya.
“Kenapa? Aku tidak akan mengulangi kesalahanku, aku berjanji.” Alexander berusaha meyakinkan Prilly.
“Sejak awal pernikahan kita, itu sebuah kesalahan. Aku tidak mencintaimu dan kau juga hanya menganggapku sebagai objek obsesimu yang tak ingin kalah dari Mike.” Prilly menjawab dengan tegas.
Emosi Alexandrer seketika naik ke ubun-ubun mendengar jawaban dari Prilly. Alexander mendekatkan dirinya pada Prilly. Secara refleks Prilly melangkah mundur beberapa langkah.
Alexander mencoba meraih tangan Prilly. Namun Prilly menepisnya. “Jangan sentuh aku, Ka Alex!” pinta Prilly tegas.
“Aku mencintaimu, Prilly, Sungguh.” Alexander berusaha mendekati tubuh kecil Prilly hingga terpojok ke tembok dan berusaha menciuminya.
Prilly mendorong kepala Alexander, “Kak Alex, ku mohon menjauh. Jangan sentuh aku,” pinta Prilly.
“Kenapa? Apa sentuhan pria itu lebih nikmat dari pada sentuhanku, hah?” Alexander membisikkan kata-katanya tangannya mengunci tubuh Prilly hingga ia tak bisa bergerak.
“Kak Alex, kau keterlaluan,” pekik Prilly. “Lepaskan aku atau aku berteriak!”
“Teriak saja tidak akan ada yang mendengar. Aku akan membuatmu hamil kembali, agar tidak ada cara lain selain kembali padaku.” Alexander membopong Prilly yang meronta-ronta kemudian merebahkannya di sofa.
“Mikee, toloooong!” Prilly berteriak dan mulai menangis.
William yang sedang bermain dengan robot robotnya di dekat ruang tamu mendengar suara mommynya ia segera berlari ke ruang tamu.
Bersamaan dengan William yang datang, Mike membuka pintu dan meilhat Prilly di terbaring di atas sofa sedang meronta-ronta di bawah Alex yang terbakar emosi bercampur gairah.
“Alex, kau ********. Lepaskan akuuu!” teriak Prilly.
Mike mengambil William ke pelukannya dan membenamkan wajah William ke dadanya. Agar tak melihat perlakuan Alexander pada Prilly.
“Alex, hentikan!” suara Mike serak menahan amarah seraya menarik Alexander dangan satu tangannya. Lalu mendorong tubuh Alexander hingga nyaris tersungkur ke lantai.
Mike mendekati Prilly yang ketakutan dan memeluknya.
“Aku di sini, Sayang, jangan takut,” bisik Mike. “Buka matamu, Sayang. Jangan takut lihat aku, Mike,” lanjutnya.
Tubuh Prilly yang bergetar hebat mulai tenang dan memeluk Mike.
“Alex keluarlah, sebelum aku mematahkan lehermu.” suara Mike penuh tekanan emosi tertahan.
Alexander mengeraskan rahangnya “Kita belum selesai, Prilly!”
“Alex, apa kau bodoh? William ada di sini, dia melihat perbuatanmu.” Mike menggertakan giginya menahan emosinya yang semakin naik ke otaknya. Dadanya naik turun menahan luapan emosinya. “Alex sekali lagi, Pergilah!” titah Mike.
Alexander mengambil coatnya dengan kasar dan melangkah keluar.
“Maria, tolong kau siapkan jaket untuk Willy dan malam ini kau kemasi seluruh barang-barang di sini. Besok kita akan pindah.”
“Baiklah.” Maria merasa bersalah karena saat nonanya dalam masalah ia tidak di sampingnya. Ia merutuki kebodohannya tidak mendengar teriakan Prilly.
“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memberikanmu waktu untuk berbicara dengan Alex,” kata Mike dengan suara lirih. Ia benar-benar menyesal, "Malam ini kita kembali ke mansion orang tuamu, di sana lebih aman.” Mike memakaikan jaket dan sepatu pada William.
“Anak tampan, kita akan ke rumah grandma. Apa kau senang?” tanya Mike pada William.
William yang masih tegang, berangsur-angsur melunak dan ia mengangguk dengan imut.
“Sayang, jangan menangis lagi. Kau membuat William takut, jika kau terus menangis,” kata Mike pelan. Mereka menuju basemen apartemen dan Mike mengendarai mobil mereka di tengah salju yang mulai menebal. Itu adalah awal Desember. Salju telah turun dimana-mana.
Ketika sampai di mansion orang tua Prilly, Sandra terkejut melihat putri dan cucunya datang di tengah hujan salju. Apalagi melihat wajah sembab Prilly. Hampir dua puluh tahun, Sandra tak pernah melihat air mata putrinya selain ketika Prilly masih bayi. Ia mengambil William dari gendongan Mike, pria kecil itu telah tertidur dan melewatkan makan malamnya. Mike benar benar merasa iba melihat William. Ia memberi tahu Sandra bahwa pria kecil itu mungkin akan lapar saat terbangun nanti.
Mereka memasuki ruang keluarga, Mike membantu Prilly melepas jaket dan sepatunya. Mendudukkan Prilly di sofa. Malam itu seluruh keluarga Prilly berkumpul di ruangan itu.
Kebetulan Anthony dan Linlin masih tinggal di mansion itu, karena penthouse yang mereka beli masih dalam tahap renovasi.
“Apa yang terjadi pada putriku, Mike?” tanya Sandra yang duduk di samping Prilly seraya menciumi pucuk kepala putrinya.
“Alexander mencoba memperkosa Prilly” jawab Mike berat.
“Baj*ingan itu berulah lagi! Aku akan menembak kepalanya!” Anthony langsung emosi dan hendak bangkit namun Lin Lin menahannya.
“Hubby, tahan emosimu. Dengarkan dulu cerita Mike.” Linlin menenangkan suaminya, seraya mengelus elus pundak Anthony.
Mike menceritakan semua yang di alami Prilly hari itu dengan emosi yang tertahan. Ia juga ingin sekali menggancurkan kepala sepupunya.
“Uncle Erick, Tante Sandra,” kata Mike dan menghela nafas, “mungkin ini terdengar mendadak dan konyol, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku ingin melamar Prilly dan menikahi Prilly secepatnya.”
Tidak ada yang menjawab semua mata memandang Prilly.
"Mike,” Prilly memanggil Mike pelan, ia cukup terkejut, karena mereka berencana memberitahu hubungan mereka pada orang tuanya saat ulang tahun William pada tanggal dua bulan Januari.
“Maukah kau menikah denganku, Nona Prilly?” Mike menekuk lututnya di lantai dan menggenggam tangan Prilly. “Walaupun aku belum sempat menyiapkan bunga dan cincin serta lamaran yang romantis seperti yang kau minta,” tanya mike sambil memandang wajah cantik Prilly yang masih sembab namun tetap menggemaskan.
“Yes, Mike, i do,” jawab Prilly dengan mantap.
“Kalian menikah besok,” celetuk Sandra. “Mommy akan siapkan semua secepatnya.”
Bukan hanya Mike dan Prilly, Semua yang berada di ruangan itu benar-benar terkejut. Namun, pihak yang paling merasa di untungkan adalah Mike.
“Apa harus secepat itu, Mommy?” protes Prilly.
“Jika kalian sudah menikah, Alexander tidak akan punya kesempatan lagi untuk menganggumu,” jawab Sandra mantap
“Baiklah, kami akan menikah besok,” kata Mike. “Bagaimana, Sayang?” tanya Mike pada Prilly yang di angguki Prilly dengan rona wajah yang malu-malu.
Mike mendekati Prilly, mengecup punggung tangannya, kemudian mencium bibir indah /rilly. mereka berciuman dengan mesra tanpa menghiraukan orang-orang yang menatap mereka.
“Ehem.” Erick memecah kesunyian, Prilly dan Mike mengakhiri ciuman mesra mereka.
“Mike, apa kau yakin dapat menjaga putriku? Dan kau juga tahu tidak hanya putriku, kau juga harus merawat William,” tanya Erick.
“Tentu saja, aku sangat menyayangi William, seperti aku menyayangi ibunya,” jawab Mike tulus dari dalam hatinya.
“Baiklah, aku serahkan putri dan cucuku padamu. Jaga mereka dengan baik,” kata Erick. Ia berharap Mike benar-benar pria yang tepat untuk putrinya.
“Aku akan menjaga mereka sebaik mungkin, seumur hidupku, Uncle. Terima kasih kalian telah mempercayakan mereka padaku.”
“Aku telah curiga sejak awal kalian mempunyai hubungan. Prilly kira mommynya ini tidak tahu, bahwa yang mengantar jemputnya ke sini adalah kau.” Sandra menyambung pembicaraan suaminya. “Mike jangan buat ia menangis karena sedih, buat putriku menangis karena bahagia seumur hidupnya,” pinta Sandra.
Mike mengangguk sambil tersenyum “Tentu, Tante, aku berjanji akan berusaha membahagiakannya.”
“Bagaimana dengan orang tuamu? Apakah tidak masalah?” Sandra ingat Mike juga memiliki orang tua.
“Tidak ada masalah. Mommyku tahu, aku mencintai Prilly sejak ia kecil,” aku Mike sambil tatapan matanya melekat pada wajah Prilly. Membuat wajah Prilly merona.
“Hei, Dude, akhirnya kau mendapatkan cinta masa kecilmu dan kita sekarang bersaudara.” Anthony meninju pelan dada Mike.
“Kakak iparku...,” panggil mike pada Anthony dan mereka tertawa
riang saling memeluk.
“Prilly, aku turut bahagia.” Linlin memeluk Prilly. Mereka berpelukan dengan sangat bahagia.
Mike mengusulkan mereka akan menikah di gereja saja dan hanya di hadiri orang keluarga mereka. Kemudian nereka akan mendaftarkan pernikahannya ke biro catatan sipil. Nanti bersamaan dengan mereka akan menggelar acara resepsi ketika musim panas tiba, karena Prilly ingin memiliki pesta pernikahan bertema garden party. Untuk keamanan Prilly, mereka sementara tinggal di mansion keluarga Prilly. Sebenarnya mansion keluarga Mike kosong. Namun Prilly lebih nyaman tinggal di mansion orang tuanya.