Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Dirimu



Di sisi lain, Alexander kembali ke mansion orang tuanya karena di seret oleh Richard Johanson. Ayahnya sangat marah, bahkan sesampainya di rumah, Richard telah beberapa kali melayangkan tinjunya di wajah putranya yang membuat malu wajahnya.


“Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi pria tak bermartabat seperti ini!” teriak Richard. “Kau benar-benar memalukan!”


Ketika Diana memasuki mansion mewahnya ia mendengar suara gaduh dan teriakan suaminya, ia segera menuju arah sumber suara dan mendapati putranya telah babak belur, ada beberapa memar di wajahnya. Sejujurnya hati Diana juga sangat geram terhadap putranya namun bagaimanapun ia adalah seorang ibu, ia tidak sampai hati melihat putranya terluka bahkan sekalipun suaminya sendiri yang menyakiti.


“Cukup, Richard! Kau akan membunuhnya. Kendalikan emosimu,” pekik Diana.


Diana mengulurkan tangannya meraih putranya ke dalam pelukannya, kemudian membimbing putranya masuk ke dalam kamarnya, mengambil kotak first aid kit dan mulai membersihkan kemudian mengolesi salep pada memar di wajah dan tubuh Alexander.


Diana tak mengucapkan sepatah kata pun.


“Mommy, maafkan aku.” Alexander merasa saat ini ia benar-benar tak berdaya.


“Pecat sekretarismu, jangan pernah lagi memiliki sekretaris wanita, aku tidak yakin apa yang di ucapkan Prilly malam ini. Bisa saja ada yang membocorkan ke media, kata Diana ketus. Bagaimanapun citra keluarganya sangat penting.


“Baiklah.”


“Kau melakukan kesalahan fatal Alex, dimana kau taruh otakmu?”


“Aku....”


“Apa pun alasanmu, perbuatanmu sungguh tidak akan bisa di maafkan oleh Prilly. Aku kira kalian akan bisa memperbaiki hubungan kalian dan rukun kembali karena ada anak di antara kalian. Namun di lihat dari kesalahanmu, tidak akan ada wanita yang sudi mengampunimu. Kecuali ia wanita bodoh. Dan kau tahu siapa Prilly, dia tidak bodoh dan ingat ia keturunan keluarga terhormat. Sekarang Mike telah mengambil posisimu. kau sama sekali tidak memiliki kesempatan lagi,” kata Diana lagi kemudian berlalu meninggalkan Alexander yang termangu sendiri mencerna semua kata-kata Diana, ibunya.


Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Jovita, mengetik sebuah pesan lalu menghapusnya, mengetik lagi dan menghapusnya kembali.


Setelah berulang kali menghapusnya akhirnya Alexander mengirimkan pesan, “Jovi, kau aku ijinkan cuti selama dua minggu mulai besok.”


Ia tidak bisa memecat Jovita begitu saja. ia sekretaris yang berbakat bukan sekedar sekretaris ranjang seperti ******-****** yang lain.


Lalu Alexander memanggil kepala departemen SDM, untuk mencarikannya sekretaris pria yang handal secepatnya.


Alexander mencoba memejamkan matanya berulang-ulang. Namun, ia tak mendapatkan kantuknya sama sekali bahkan hingga menjelang pagi ia baru bisa tertidur.


Sebulan setelah hubungan pernikahan Prilly dan Mike terkuak, mereka mulai sering berkencan selayaknya sepasang kekasih yang di mabuk asmara. Mereka berkencan kemanapun mereka inginkan. Makan malam yang romantis, atau sekedar berjalan jalan menyusuri jalanan di London. Pergi berbelanja ataupun pergi ke taman hiburan bersama William. Mereka juga selalu membagikan manisnya kehidupan mereka di media sosial.


Prilly juga sering kali datang ke GLAMOUR Entertainment untuk mengunjungi Mike, sosok suaminya ternyata berbeda ketika berada di rumah dan di perusahaan. Di rumah Mike adalah suami dan ayah yang sangat hangat dan lembut. Namun berbeda saat berada di perusahaan, Mike ternyata sangat tegas, tidak bisa di bantah.


Prilly sering kali melihat para karyawan segera menyingkir setiap kali Mike hendak melewati mereka. Sepertinya karyawan di Glamour Entertainment enggan untuk sekedar berpapasan dengan CEO mereka.


Meskipun demikian, Prilly merasa suaminya adalah pria terbaik di muka bumi ini. Bahkan dengan diam-diam, Prilly sangat memuja suaminya setiap kali suaminya sedang duduk di balik meja kerjanya, benar-benar tampan dan berwibawa.


“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” tanya Mike.


“Tidak, kau terlalu percaya diri Mike,” kekeh Prilly.


“Kau mengagumiku bukan?”


“Kau sangat narsis, Hubby.”


“Apa persiapan lounching perhiasan rancanganmu sudah siap?”


“Tentu saja, kau juga harus menyiapkan kado untuk ulang tahunku.”


“Apa yang kau inginkan?” tanya Mike seraya mendekati istrinya.


“Dirimu.”


"Bagian mana dari tubuhku yang belum menjadi milikmu, Sayang?” tanya Mike sambil memainkan ujung rambut Prilly. Memutar-mutar di ujung jarinya.


“Kau sangat pandai merayu,” Prilly tersipu.


“Sepertinya tahun ini benar-benar sangat sibuk. Setelah ulang tahunmu, lalu pesta pernikahan kita, aku tidak sabar untuk itu.”


“Bagaimana jika kita pergi ke Miami untuk beberapa hari?” tanya Prilly.


“Baiklah, Tuan Putri, kemanapun kau ingin. Jadi kapan kau mau?”


“Mungkin minggu depan, aku akan mengatur jadwalku, kau aturlah jadwalmu.”


“Rasanya aku ingin memakanmu di sini,” seringai Mike, tatapannya berkabut gairah.


“Jangan di sini, Mike.” wajah Prilly menjadi merona karena gugup. “Di rumah saja, aku gugup di sini,” kata Prilly.


“Baiklah di rumah, tapi aku rasa mencicipi sedikit tidak jadi masalah.” Mike mulai melancarkan cumbuannya menggagahi tubuh istrinya dan mereka berhasil terengah-engah hingga terkulai lemas di atas sofa ruang kerja Mike.


Mike mengecup punggung tangan Prily yang berada di pangkuannya. Prilly menyandarkan kepalanya di dada Mike menikmati setiap detak jantung suaminya dan menghirup aroma maskulin suaminya.


Dua minggu kemudian, Mike dan Prilly pergi ke Miami untuk berbulan madu.


Kebetulan hari ini, Linlin dan Anthony mengunjungi kediaman Sandra. William sangat senang melihat Anthony dan Linlin.


“Tante Linlin ,aku merindukanmu,” kata William dengan imut.


“William sayangku, Tante Lin Lin juga merindukanmu,” Linlin menciumi pipi bulat William karena gemas.


“Apa Tante membawakanku coklat?” tanya William dengan memasang wajah menggemaskan.


Linlin memandang suaminya dengan tatapan bingung karena mereka tidak membawakan William coklat, tentu saja karena Prilly melarang William terlalu banyak mengonsumsi coklat sehingga Linlin, tidak berani membawakan coklat untuk William.


“Maafkan kami,” kata Anthony sambil mendekati keponakannya yang berada di pangkuan istrinya. “Bagaimana jika kita pergi keluar untuk membeli coklat?”


“Ayo, Uncle!” seru William dengan antusias dan entah bagaimana pria kecil itu telah berada di punggung Anthony.


“Tapi kau harus berjanji, jangan biarkan mommymu tahu kau makan coklat,” pinta Anthony.


“You can trust me, Uncle,” kata William penuh semangat.


Tidak menunggu lama, Linlin dan Anthony menggandeng William ke sebuah supermarket dan membiarkan William memilih sendiri coklat yang ia inginkan, kemudian mereka juga mengajak William pergi ke area bermain anak-anak. Mereka tampak serasi sebagai sebuah keluarga kecil yang bahagia


“Malam ini aku ingin tidur bersama Tante Linlin,” kata William ketika mereka dalam perjalanan pulang.


“Tentu saja, Tante akan tidur bersamamu malam ini,” kata Linlin.


“Benarkah?” tanya William seakan tidak percaya.


“Kau bisa tidur dengan Tante selama mommymu pergi berbulan madu, apa kau mau?”


“Horeee,” William berseru penuh semangat.


Malamnya, Linlin dan Anthony menginap di kediaman orang tua Anthony. Mereka berencana menginap di mansion itu selama Prilly dan Mike belum kembali karena sejak adiknya menikahi Mike, Anthony juga sibuk dengan istrinya, kesempatan untuk bertemu William keponakannya juga semakin langka. Jadi mereka memutuskan untuk memanfaatkan waktu bersama William sebaik mungkin.


“Sayang bagaimana jika kita membuatkan adik untuk William?” tanya Anthony nakal pada istrinya yang sedang memeluk William, pria kecil itu telah terlelap


“Kau akan membangunkannya, kita bisa membuatnya nanti setelah kita kembali ke rumah,” jawab Linlin.


“Tidak masalah kita bisa melakukannya pelan-pelan,” bujuk Anthony sambil mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


“Suamiku, kau membuat William bangun jika kau terus bergerak seperti itu,” gerutu Linlin setengah berbisik.


“Baiklah,” Anthony menjauh dari keponakannya namun berpindah tempat dan berbaring di belakang Linlin mendekap tubuh kecil Linlin.


“Sayang, kau sangat menggodaku malam ini,” bisik Anthony di dekat telinga Linlin.


“Sayang, ayolah, kita bisa melakukannya nanti,” kata Linlin.


“Aku ingin sekarang.”


“Kau sungguh pria pemaksa,” keluh Linlin.


Paginya Linlin bangun lebih cepat, seperti biasa ia memasak karena sejak menikah dengan Anthony selera Anthony berubah, ia ingin makan bubur untuk sarapan. Pria itu selalu merengek ingin makan bubur buatan istrinya, ia menolak sarapan dengan roti.


Dan tidak di duga William juga sangat menyukai bubur buatan Linlin, bahkan Sandra dan Frederick juga pagi itu mereka sarapan bubur tersebut.