
Pria itu menatap David dengan tatapan seolah-olah mengejek. “Pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah, satu jam tidak cukup.”
“Aku tidak peduli! Pilihanmu hanya dua kau kembalikan rekaman itu sekarang juga atau kau kehilangan anak dan istrimu?” David dengan santai mengangkat kedua alisnya, ia terus menggertak pria itu seolah tidak sabar lagi.
“Ini adalah pengancaman, anda bisa terkena pidana mengancam seseorang," ucap pria itu penuh percaya diri.
mendengar apa yang diucapkan pria itu David tersenyum sinis. “Tahu apa kau tentang hukum?” David merogoh sakunya saku jasnya kemudian ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu nama. Menyodorkan kepada pria di depannya membuat wajah pria itu semakin pias. “Jangan sok berbicara tentang pidana, aku adalah tim pengacara dari Alexander Johanson, kau sedang berurusan dengan....” David menggantungkan kalimatnya, membayangkan julukan yang cocok untuk menggambarkan Alexander, malaikat atau iblis? Setelah berpikir beberapa detik sepertinya iblis lebih cocok untuk Alexander, iblis berwajah dingin. “Dia adalah iblis yang dingin,” kata David.
‘Dia sangat cocok dengan julukan ini.' Seringai David mengejek Alexander di dalam hatinya.
Pria itu tampak berpikir sejenak, perlahan ia bangkit dari duduknya sambil terus diikuti oleh dua pria berbadan kekar yang menodongkan senjata ke arahnya, pria yang malang itu mengambil laptopnya yang berada di atas meja di samping nakas tempa tidur hotel tempatnya melarikan diri. Kemudian ia kembali duduk di depan David.
Mata pria itu melirik kepada dua sosok pria berbadan kekar. “Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan senjata yang di todongkan ke arahku, bisakah kalian menjauhkan benda itu?” tanyanya dengan tatapan penuh harap mengarah kepada David.
David tidak bereaksi, ia masih menatap tajam ke arah pria tersebut. Setelah beberapa detik David memberikan kode kepada pengawalnya untuk menurunkan senjata mereka.
Pria itu tampak mengembuskan nafasnya karena lega kemudian perlahan jemarinya menari di atas keyboard laptopnya.
David memandangi pria itu dengan seksama, akhirnya ia mendapatkan pria yang nyaris menghancurkan persahabatannya dengan Prilly, David mendapatkan pria ini dengan mudah. David adalah seorang pengacara kriminal untungnya ia banyak memiliki link detektif handal yang memang bekerja untuk menyelidiki kasus-kasus pembunuhan dan kasus-kasus berat lainnya dan dalam waktu enam hari hacker tersebut ia dapatkan.
Sementara di sisi lain.
Prilly bersama Linlin dan Anne sedang menikmati sore mereka di resto milik ayah Linlin, telah lama mereka tidak berkumpul seperti dulu. Tentu saja minus Adelia yang tidak pernah lagi bersedia bergabung bersama mereka meski Prilly ataupun Linlin yang meminta, Adelia tetap saja memiliki seribu alasan untuk tidak bergabung.
Seperti biasa mereka datang ke resto milik ayah Linlin untuk menikmati hot pot yang menjadi favorit mereka bertiga, bukan hanya favorit mereka bertiga, Anthony juga menyukai hot pot di resto milik ayah mertuanya dan Alexander juga pernah beberapa kali Prilly ajak untuk menikmati hot pit di tempat itu. Alexander mengatakan ia menyukai hot pot meski ia tampaknya biasa saja.
Prilly tahu Alexander tidak terlalu menyukai makanan khas Asia yang menurut Alexander terlalu banyak mengandung rempah, tetapi pria itu hanya menuruti keinginan Prilly untuk makan di resto milik ayah Lilin.
Tiba-tiba ponsel milik Prilly berdering, Prilly mengerutkan keningnya karena pemanggil tidak dikenal.
Ragu-ragu Prilly menjawab panggilan yang ternyata adalah Wilona, pembicaraan itu hanya berlangsung beberapa menit dan mereka mengakhirinya.
“Siapa?” Anne bertanya kepada Prilly karena Prilly beberapa kali menyebutkan nama Anne dalam pembicaraan di telepon.
“Wilona meneleponku,” jawab Prilly dengan nada acuh sambil tangannya memegang sendok pengaduk untuk mengambil beberapa bola-bola udang di dalam panci yang sedang mendidih.
“Wilona?” Anne hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Iya, aku mengingatnya.”
“Wilona ingin mengirim ingin mengirimkan undangan pernikahan,” kata Prilly.
“Dasar perempuan tidak tahu malu,” maki Anne kepada Wilona, ia mengingat di masa lalu saat dirinya dan David dalam hubungan, David beberapa kali menerima panggilan dari Wilona, entah untuk urusan apa Anne tidak tahu. Ia bahkan sempat merasa kesal dan cemburu pada wanita itu. Tetapi, sekarang ia tidak ingin mengingat itu lagi karena tidak ada gunanya.
“Aku katakan untuk mengirimkan undangannya ke perusahaan, jadi tolong nanti tolong kau terima undangan itu.” Prilly pemberitahuan Anne isi percakapannya dengan Wilona.
“Baiklah,” jawab Anne singkat.
“Apa kau akan datang?” Linlin yang dari tadi hanya diam saja akhirnya angkat bicara.
“Aku rasa tidak, untuk apa aku datang jauh-jauh ke Mexico untuk menghadiri pernikahan mereka? Seperti akrab saja," jawab Prilly dengan nada acuh. “Kecuali jika Anne yang menikah meskipun harus menghadiri di kutub utara aku akan datang,” lanjut Prilly dengan nada riang dan bercanda.
Ketiga wanita itu tertawa ringan. Kemudian mereka melanjutkan menyantap hot pot sambil bercengkerama dan mengobrol kan hal-hal tentang Wilona, ternyata sama saja, mungkin semua wanita di penjuru bumi ini tidak ada yang tidak suka bergosip.
“Apa Wilona membangun karier di Mexico?” Linlin bertanya.
“Sepertinya tidak.” Prilly mencoba mengingat-ingat. “Aku tidak pernah lagi melihat wajahnya mengisi berita hiburan.
“Dunia hiburan sangat keras, sekali seorang bintang kehilangan citranya maka tidak akan ada lagi tempat bagi mereka,” kata Linlin sambil menggelengkan kepalanya.
Hampir semua orang tentu tahu tentang siapa Wilona karena sensasi terakhir yang ia buat, semua orang memojokkan Mike saat itu. Menganggap Mike adalah penghianat, tetapi seiring berjalannya waktu semua terbongkar dan Wilona kehilangan kariernya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️