
London, 29 November
Hari ini Alexander sama sekali tidak menghubungi Prilly, biasanya Alexander akan mengirim pesan, memanggilnya melalaui Video call, atau sekedar menanyainya ketika waktu jam makan siang untuk memastikan istrinya telah makan dengan benar. Hari ini semua kebiasaan itu tidak di lakukan Alexander, bahkan saat Prilly mencoba menghubunginya panggilan Prilly juga di tolak, tentu saja Prilly sangat geram, ia berulang kali mencoba memanggil Harun namun hasilnya juga sama.
Merasa di abaikan Prilly mulai mencurigai suaminya, ia menghubungi Anne, namun Anne juga tidak menjawab panggilannya, ada yang tidak beres, batin Prilly. Rasanya ia ingin sekali menyusul Alexander ke perusahaannya, namun ia tidak berani, tempat itu mengerikan dan menakutkan baginya, bagaimana jika ia datang ke perusahaan itu dan memergoki Alexander seperti dulu?
Bagaimana jika ia datang ke perusahaan dan Alexander ternyata sedang meniduri ******?
Mungkinkah nasib rumah tangganya akan seperti dulu?
Karena setelah Prilly kehilangan janin yang ada dirahimnya, terhitung sejak dua minggu yang lalu mereka belum melakukan hubungan badan kembali. Nathalie mengatakan jika paling tidak rahim Prilly harus di istirahatkan minimal tiga bulan. Apa Alexander tidak tahan lagi menunggu? Dan baru saja dua minggu ia telah mencari ******?
Semakin gelisah Prilly memikirkan hal itu semakin sakit rongga dadanya, jantungnya seperti hendak meledak, darahnya bahkan terasa mendidih memikirkan kemungkinan seperti itu.
Hingga pukul tiga sore Prilly hanya berkutat dengan kegelisahannya, ia bahkan melewatkan makan siangnya, Prilly tidak sama sekali memiliki nafsu makan, ia hanya menimang-nimang ponselnya kemudian mengecek layarnya. Ia berulang kali berguling-guling di atas tempat tidurnya, ia tidak mampu berkonstentrasi dengan kamarnya, ia juga tidak bisa fokus melakukan hal lain.
Tidak berselang lama pintu kamar yang ia tempati bersama Alexander di ketuk oleh seorang pelayan yang memberitahu Prilly bahwa Harun berada di lantai bawah, pria itu datang menjemput Prilly untuk bertemu Alexander.
“Harun kita akan pergi ke mana?” tanya Prilly di tengah perjalanan.
“Anda akan tahu nanti, Madam,” jawab Harun yang duduk di sebelah pengemudi.
“Harun jangan pernah membawaku ke perusahaan suamiku, aku akan marah jika kau membawaku ke sana!” kata Prilly dengan nada galak.
“Tidak madam, kita tidak menuju ke perusahaan, anda akan tahu nanti,” jawab Harun dengan sopan meski dalam hatinya merasa geli karena ternyata semakin ia mengenal istri kesayangan bosnya ini adalah wanita yang pemarah meski terlihat tenang dan pendiam.
Harun ternyata membawa Prilly menuju arah sebuah Universitas ternama di London.
“Harun, untuk apa kita ke sini?” tanya Prilly dengan nada heran, bagaimana tidak heran? Itu adalah gedung tempat ia menimba ilmu delapan tahun yang lalu.
“Sir Alexander menunggu Anda di sini,” jawab Harun.
“Di sini?”
“Betul, Madam,” jawab Harun, pria itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Prilly.
Prilly dengan patuh mengikuti langkah kaki Harun hingga mereka tiba di depan tempat parkir mobil di mana sangat banyak mahasiswa berlalu lalang.
“Madam, tunggulah di sini sebentar,” kata Harun.
Prilly mengeratkan kedua bibirnya, udara cukup dingin, serpihan salju mulai berjatuhan dari langit London, daun maple yang memerah menutupi sebagian tanah di London juga telah berubah warnanya menjadi kecokelatan.
Photo from Google.
Ketika sebuah Maybach berwarna hitam berhenti di depannya, seorang pria turun dari Maybach tersebut, Prilly terkejut, bahkan kini mulutnya ternganga, pria itu suaminya, Alexander mengenakan celana jeans dan kemeja di padukan dengan jas berwarna biru, pria itu tampak berpenampilan santai tanpa mengurangi wibawa dan ketampanannya.
Alexander berjalan mendekati Prily dengan seikat bunga mawar di genggamannya, persis di hadapan Prilly berdiri Alexander menekuk satu kakinya.
“Prilly Silvana Smith aku sangat mencintaimu!” kata Alexander dengan suara lantang membuat semua mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar tempat itu berhenti dan melihat pemandangan yang sedang Alexander coba tampilkan.
“Prilly Silviana Smith, sekali lagi kukatakan, aku sangat mencintaimu, will you marry me?” tanya Alexander sambil mengulurkan buket bunga mawar berwarna merah yang berada di genggamannya.
Kali ini Prilly tersenyum lebar meski ia sejujurnya malu, namun ia berusaha membuang rasa malunya, Alexander mengatakan ingin membangun kembali hubungan mereka dari awal, rupanya ia ingin memulai dari sini, seperti delapan tahun yang lalu, pria dingin dan kaku ini kadang memiliki sisi romantis juga.
Sambil tangannya menerima uluran bunga dari Alexander prilly berucap, “Alexander Johanson, aku juga sangat mencintaimu, and i say, i do!” seru Prilly dengan suara tak kalah lantang membuat semua yang menyaksikan bersorak-sorai, berpuluh-puluh orang mengambil foto adegan romantis itu dan Prilly tidak peduli, ia tidak peduli, kali ini ia ingin seluruh dunia tahu bahwa ia dan Alexander saling mencintai.
Alexander bangkit dan memeluk Prilly, mencium bibir kenyal milik Prilly, berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Prilly terpaksa menerima ciuman pertamanya, tetapi kali ini ia dengan senang hati membiarkan Alexander menjelajah bibirnya bahkan Prilly membalasnya.
“Di sini tempat pertama kali kita berciuman,” bisik Alexander ketika tautan di bibir mereka terlepas.
“Kau mencuri ciuman pertamaku,” protes Prilly.
“Itu juga ciuman pertamaku,” kata Alexander.
“Benarkah?” tanya Prilly tidak percaya, ia tidak tahu jika Alexander tidak pernah memiliki satu pun kekasih di masa lalunya.
“Kau harus lebih mengenal suamimu ini, Nyonya Johanson,” jawab Alexander gemas sambil menarik hidung istrinya.
Prilly hanya menyeringai kemudian ia berucap, “Ayo kita awali semuanya dengan cinta dan kepercayaan.”
“Dan keterbukaan." Alexander menimpali, sedikit geli mendengar apa yang di katakan Prilly, bukankah istrinya itu selalu menghujaninya dengan kecurigaan yang berlebihan? “Aku mencintaimu.” Alexander berkata pelan sambil menatap manik mata berwarna abu-abunya menatap dengan lembut manik mata berwarna hazel milik Prilly.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Prilly sambil membalas tatapan mata suami yang melamarnya. “Sayang, kau curang!” kata Prilly tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Lihat pakaianku, kau tidak memberiku kabar terlebih dahulu,” keluh Prilly.
“Kau sangat cantik,” jawab Alexander dengan jujur mengatakan apa yang ada di matanya, baginya Prilly sangat cantik dalam bentuk apa pun.
“Seharusnya aku mengenakan gaun yang indah,” Protes Prilly, ia tidak menyangka akan ada lamaran di tengah turunnya salju di akhir bulan November seperti ini.
“Kau cantik mengenakan apa pun sayangku,” kata Alexander meyakinkan Prilly.
“Seharusnya aku juga sedikit berdandan karena pasti kita akan masuk headline berita,” omel Prilly.
“Itu juga tidak perlu,” jawab Alexander dengan nada acuh, siapa yang peduli? Di mata semua orang ia adalah pria bebas kerena baru saja bercerai, Prilly juga wanita lajang. Mereka bebas.
“Hubby, tolong gendong aku, aku tidak makan siang karen kau tidak mengabariku, aku sangat lapar, aku tidak kuat lagi berdiri,” rengek Prilly, ia memang merasa hampir tidak bisa lagi berjalan, mendadak ia merasa sangat lapar.
“Jadi kau menunggu kabar dariku hingga melewatkan makan siangmu? Apa yang kau pikirkan, Nyonya Johanson?” tanya Alexander dengan nada geram.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤
FOLLOW IG AUTHOR @cherry.blossom0311 DAN AKUN MANGATOON AUTHOR ❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤