
“Alex,” erang Prilly sambil dengan perlahan mengguncang bahu suaminya yang tertidur pulas di sampingnya.
Alexander membuka matanya. “Kau bangun sayang? Apa kau ingin makan sesuatu?” tanyanya dengan suara serak. Tangannya membelai perut Prilly yang membuncit.
“Hubby, bawa aku ke rumah sakit,” ucap Prilly dengan nada tenang.
Alexander segera mengubah posisinya ia segera duduk. Tampak sangat jelas ia tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya hingga mendekati panik. “Apa kau kesakitan?”
Prilly mencoba duduk, Alexander dengan sigap membantunya. Matanya mengawasi suaminya yang tampak panik, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Putri kita akan segera lahir,” ucapnya.
“Sekarang?” pertanyaan bodoh macam apa yang Alexander lontarkan?
Prilly terkekeh. “Tidak sekarang tapi tanda-tandanya dia akan segera lahir, kita harus ke rumah sakit,” jawabnya.
“Bertahanlah, oke. Aku akan menyiapkan mobilnya.” Alexander turun dari atas tempat tidur, ia mengambil mantelnya dan mantel milik istrinya. Tetapi, ia bukannya bergegas menginstruksikan sopir untuk menyiapkan mobil ia justru mondar-mandir di dalam kamar.
“Hubby, putrimu akan segera lahir kenapa kau mondar-mandir di situ?” tanya Prilly. Ia sengaja membiarkan suaminya di landa kepanikan beberapa menit, rasanya sangat menyenangkan melihat Alexander panik karena pria itu adalah pria yang tidak mudah untuk di usik.
“Apa yang kau cari?” tanya Prilly dengan nada geli.
“Apa yang harus kubawa?” Alexander mendekat ke ranjang. Ada kilatan kegugupan yang jelas di matanya.
Prilly terkekeh. “Kau tidak perlu membawa apa-apa cukup bawa dompetmu dan ponsel, jangan lupa bawa aku bersamamu karena yang akan melahirkan adalah aku,” jawabnya.
“Kau santai sekali,” gerutu Alexander sambil meraih ponsel dan dompet yang ada di atas nakas samping tempat tidur kemudian ia keluar dari kamar untuk menginstruksikan sopir untuk menyiapkan mobil. Lima menit kemudian ia kembali ke kamar kemudian menggendong istrinya keluar dari kamar dengan hati-hati ia menuruni tangga.
“Wajahmu sangat tegang,” goda Prilly yang berada di dalam gendongan Alexander. Kedua lengannya melingkar di leher Alexander.
Alexander berusaha tenang, ia sejujurnya lebih gugup di banding yang terlihat di luar. Ia menempelkan ujung hidungnya di ujung hidung istrinya sambil menunggu sopir yang tergopoh-gopoh membukakan pintu mobil untuk mereka. “Kau sangat berat sekarang, asal kau tahu itu.”
Sesampainya di rumah sakit Alexander segera memanggil Nathalie sepupunya. Wanita itu meski pukul tiga dini hari bersedia datang ke rumah sakit karena panggilan Alexander.
“Alex, kau tidak perlu tegang. Ini normal bayi kalian akan lahir mungkin pukul sepuluh pagi,” ucap Nathalie setelah memeriksa kandungan Prilly. “Prilly, kau masih bisa tidur, makan atau mungkin jika kau sanggup pagi ini kau masih bisa berjalan-jalan,” lanjutnya.
“Mana mungkin dia bisa berjalan-jalan, kau lihat kau tidak lihat dia kesakitan? Apa tidak bisa di percepat agar bayinya segera lahir?” Alexander tampak tidak menyukai keadaan itu, melihat Prilly yang seperti sedang menahan nyeri membuatnya semakin panik.
“Alex, bisakah kau tenang sedikit?” Natalie mengerutkan keningnya.
“Hubby, memang seperti inilah orang yang akan melahirkan,” ucap Prilly. Ia bergerak perlahan lalu duduk di atas gymnastic ball. Alexander tampak siaga di belakangnya.
“Nath, jangan hiraukan dia, sebaiknya kau kembali saja. Lagi pula pembukaannya masih belum lengkap,” ucap Prilly sambil sebelah tangannya meraih telapak tangan Alexander yang berada di pundaknya.
“Terima kasih, Natalie,” ucap Prilly.
Alexander berpindah posisi, ia duduk di depan Prilly dengan cara menekuk kedua kakinya, menjadikan lututnya menopang tubuhnya di lantai. “Sayangku, apakah kau sangat kesakitan?”
Prilly tersenyum, ia meraba perutnya. “Tidak ada wanita yang melahirkan tidak kesakitan, kau jangan terlalu tegang ini biasa.”
Alexander tampak terdiam ya menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, rasa bersalah. Mungkin seperti itu.
“Apakah dulu saat kau melahirkan.... William juga kesakitan seperti ini?”
Prilly meletakkan sebelah tangannya di pipi Alexander, matanya mengawasi wajah Alexander, ada titik keringat dingin bermunculan di kening Alexander membuat bibir Prilly mengulas senyum samar. Jika boleh diingat lagi, itu adalah saat ia berada di titik terendah saat itu. Ia masih muda saat itu tetapi sudahlah, di banding kemalangan yang menimpa hidupnya, nikmat yang Tuhan berikan jauh lebih banyak. “Iya, lupakanlah. Hal itu sudah terlalu tidak ada yang perlu kita sesali, semuanya menjadi sangat indah sekarang tidak perlu mengingatnya lagi,” jawabnya.
Jawaban Prilly benar-benar menohok jantung Alexander, betapa bajingannya dirinya di masa lalu tetapi wanita di depannya bersedia memaafkan bahkan membuka hatinya untuk menerima cintanya.
Maafkan aku.
Alexander meraih telapak tangan istrinya, membawanya mendekati bibirnya dan menghadiahkan kecupan lembut di sana. “Aku mencintaimu, terima kasih telah memberikan aku hidup yang sempurna.”
----
Lima jam yang lalu seorang bayi mungil dengan rambut coklat keemasan lahir, bayi merah yang kini berada di dalam dekapan Prilly itu tampak pemarah saat menginginkan air susu ibunya. Beberapa kali Alexander mengusap air mata harunya, ia menyaksikan sendiri bagaimana istrinya berjuang melahirkan putri mereka. Melahirkan dan membuat bayi ternyata adalah dua hal yang tidak sama, keduanya sungguh bertentangan. Alexander tidak habis pikir, jika melahirkan begitu susah payah mengapa para wanita masih bersedia untuk melahirkan hingga berulang kali? Dan betapa terkutuknya pria yang menyia-nyiakan istrinya yang bersusah payah melahirkan buah hati mereka.
"Apa yang kau pikirkan?" Prilly yang sedang memberikan ASI kepada Alexa menatap suaminya yang sedari tadi tatapan matanya tak lepas dari dirinya dan bayi di lengannya.
"Aku rasa kita telah cukup," katanya sambil menggeser kursi dan mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Alexa. Sepertinya ia tidak akan pernah puas melihat wajah bayi mungil itu.
"Tentu saja, kita memiliki lima," kata Prilly, bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan.
Alexa dan Mommy kembaran sepatunya.