
Anthony sedang menemani istrinya berbelanja bahan-bahan makanan. Sejak mengundurkan diri dan hanya mengurus suaminya, Linlin memiliki hoby baru. Ia mencoba membuat berbagai macam masakan, hingga membuat kue dan desert.
Bukan hanya tubuhnya kini yang menjadi semakin berisi, tubuh suaminyapun semakin berisi, otot-otot tubuh anthony yang dulu kokoh dan berbentuk perlahan mulai berganti menjadi lapisan lemak karena setiap hari ia menyantap berbagai masakan lezat dan kue-kue manis buatan istrinya.
“Sayang kau terlalu banyak membeli bahan makanan, kita hanya tinggal berdua.” Anthony memperingatkan karena barang di trolly belanja mereka mulai penuh.
Linlin menatap wajah Anthony dengan tatapan tidak suka.
“Anakmu yang menginginkan semua ini,” kata Linlin.
Memang semenjak hamil, Linlin sedikit berubah moodnya, ia menjadi sedikit mudah tersinggung jika keinginannya ditolak.
“Baiklah, Nyonya Smith.” Anthony akhirnya mengalah.
Ketika mereka sedang mengantri di mesin kasir seorang gadis dengan pakaian terlihat mewah namun tidak pada tempatnya menghampiri Anthony.
“Anthony, lama tidak beryemu” sapanya.
“Hei, Imelda,” kata Anthony ragu-ragu, ia tidak begitu mengingat nama gadis yang menyapanya.
“Kau sekarang tidak pernah pergi dan bergabung dengan kami untuk berpesta lagi,” kata gadis itu dengan nada menggoda. “Oh aku lupa kau telah bersistri,” lanjutnya sambil tertawa.
“Iya, kenalkan ini istriku, Linnlin.”
“Hei, aku Imelda. Mantan salah satu teman kencan suamimu,” kata Imelda tanpa malu-malu.
“Senang berkenalan denganmu,” kata Linlin sopan.
“Aku hanya bercanda, Linlin jangan terlalu di ambil hati,” kekeh Imelda. “Kapan-kapan bagaimana jika kita berpesta lagi di atas boat, kau bisa membawa istrimu.”
“Terima kasih, istriku sedang mengandung dan ia tidak suka pesta,” tolak Anthony langsung.
“Kalau begitu datang sendiri, bagaimana Miss Lin Lin? Apa kau mengizinkan suamimu untuk pergi berpesta?”
“Tidak masalah,”jawab Linlin ramah. “Ayo, suamiku,” kata Linlin sambil mengajak Anthony ke mesin kasir karena telah tiba giliran mereka. “Sampai jumpa, Miss Imelda,” kata Linlin sopan.
Hingga sampai ke tempat tinggal mereka, Linlin sama sekali tidak membuka mulutnya. Jangankan sepatah kata satu hurufpun, Linlin tidak mengeluarkan suaranya. Anthony menjadi salah tingkah sendiri karena istrinya mendiamkannya. Linlin menyiapkan makan malam mereka dan mereka berdua makan dengan bungkam seribu kata. Bahkan Linlin tidur dengan memunggungi suaminya.
Anthony memeluk istrinya dari belakang dan mengecup punggungnya.
“Nyonya Smith,” bisik Anthony dengan nada menggoda yang di buat-buat.
Linlin tidak bereaksi, tubuhnya kaku.
“Apa kau sedang cemburu?” tanya Anthony dengan sengaja.
Masih tidak ada reaksi. “Baiklah, wajahmu sangat manis saat kau cemburu, aku sangat menyukainya,” bisik Anthony di telinga istrinya. Bahkan Anthony telah ******* telinga Linlin membuat Linlin bereaksi dan membalikkan tubuhnya.
Mata sipitnya melotot galak. “Kau pergi saja bersama Miss yang sok cantik itu.”
“Siapa yang mau pergi dengannya?”
“Kau,” jawab Linlin galak.
“Aku?”
“Ya siapa lagi, ia mengajakmu ke pesta bukan? Cepat pergilah.”
Anthony menjentikkan jarinya di antara kedua alis istrinya sambil tertawa pelan.
“Aku sudah sering ke pesta seperti itu sepanjang masa mudaku. Hampir tiap malam, aku pergi ke pesta. Sekarang aku lebih baik menghabiskan sisa umurku bersama istriku yang pencemburu,”
“Aku tidak cemburu.”
Linlin tampak bersungut-sungut.
“Benarkah? Lalu apa namanya?”
“Anakmu tidak suka pada gadis yang berpakaian seperti itu. Ia pikir grocery store itu klub? Ia mengenakan high heal dan memakai mini dress ke grocery store, Ya Tuhan.” Linlin memutar bola matanya tidak suka.
Anthony terkekeh dengan omelan istrinya yang mengomentari fashion Imelda, ia mengecup bibir istrinya.
Namun, Linlin menjauhkan wajahnya. “Apa kau akan pergi malam ini, setelah aku tertidur?” tanya Linlin galak.
Anthony terkekeh lagi mendengar tuduhan istrinya. “Pemikiran macam apa itu?”
“Aku melihat di drama Korea, seorang suami berkhianat dan pergi menemui selingkuhannya saat istrinya tertidur," ucap Linlin sungguh-sungguh.
Linlin tampak semkain menjadi tambah cemberut karena suaminya menertawakannya sejak tadi.
“Tidurlah, kau bisa mengikat tanganku jika kau tidak percaya padaku,” kata Anthony sambil menempelkan dahinya ke dahi istrinya. “Aku mencintaimu, kau wanita yang membuatku jatuh cinta bahkan kehilangan akal sejak pertama kali aku melihatmu,” kata Anthony lembut.
Wajah Linlin langsung memerah, merah seperti tomat masak mendengar pengakuan suaminya.
“Terima kasih telah merubah duniaku. Terima kasih telah mengandung calon anakku, Mrs Smith.”
Anthony mencium bibir Linlin penuh kasih sayang, tidak ada nafsu, di sana hanya ada cinta yang menuntut.
***
Prilly menghampiri suaminya yang sedang memasak di dapur. “Mike apa yang kau masak?”
“Aku membuatkanmu sup.”
“Sepertinya enak, kau telah lama tidak memasak untukku,” kata Prilly manja.
“Maafkan aku, mulai sekarang aku akan memasak lagi untukmu,” kata Mike sambil meraih pinggang istrinya agar mendekat padanya.
Prilly berjinjit untuk menyeimbangkan tinggi badan mereka meskipun itu mustahil.
Mike menggeser tubuhnya agar posisi mereka menjadi berhadapan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Mike.
“Aku ingin berterima kasih,” kekeh Prilly.
Ia naik ke atas telapak kaki Mike dan berjinjit disana hendak mencium suaminya, sayangnya tetap tidak berhasil. Sebenarnya Mike mengerti apa yang akan di lakukan oleh istrinya hanya saja ia sengaja sefang sedikit menggoda, membiarkan Prilly bersusah payah untuk menciumnya.
“Kau terlalu tinggi,” keluh Prilly.
Mike terkekeh lalu mencondongkan tubuhnya agar istrinya mampu menjangkaunya dan Prilly mengecup pipinya, merasakan bibir lembut istrinya di kulit pipinya.
“Hanya itu?” tanya Mike.
“Itu sudah cukup bukan?”
“Kurasa belum.”
mike menyeringai.
“Kau mengambil keuntungan.”
“Tentu saja. Setiap ada kesempatan emas, kita harus pandai memanfaatkannya.”
“Supmu akan mengering.”
“Ridak akan. Ayo, beri aku lebih.”
Prilly tersipu, ia mengecup bibir suaminya kemudian ia berbalik melarikan diri. Mike menangkap pergelangan tangan Prilly.
“Mau kemana?” tanya Mike.
“Kau akan meminta lebih bukan?" Prilly melotot galak namun wajahnya merona merah.
“Tidak, aku tidak meminta apa apa.”
“Lalu?”
“Temani aku memasak saja,” goda Mike.
“Baiklah,” kata Prilly. Mike mengangkat tubuh kecil Prilly dan mendudukkan di meja pantry.
Mike melanjutkan memasak sambil bercengkrama hangat bersama Prilly yang duduk di atas meja pantry sambil memegang kotak snacknya, seperti anak kecil.
“sayang bulan depan aku akan mulai sibuk dengan beberapa proyek baru di New york, kau harus ikut bersamaku,” kata Mike sambil mengaduk supnya.
“Baiklah, tapi bagaimana dengan William?”
“Tentu saja dia ikut bersama kita.”
“Bagaimana jika Alex ingin bertemu? Mereka baru saja mulai akrab,” tanya Prilly.
“Kita akan bertemu Alex untuk mencari jalan tengahnya nanti, jangan khawatir,” jawab Mike.