Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Hamil



Miami, Grace Bay


Prilly dan Mike baru saja selesai melakukan olah raga pagi mereka, bahkan mereka menambah sesi olah raga di kamar mandi juga.


Setelah itu, mereka pergi ke restoran untuk breakfast. Prilly tidak mau makan di kamar karena ia takut suaminya akan menerjangnya kembali seperti kemarin.


Dua hari berada di Grace mereka benar-benar menikmati waktu mereka layaknya pengantin baru.


Berjalan bergandengan tangan menikmati pantai, berenang dan bermain dengan papan seluncur.


Namun, pagi ini Prilly merasa sedikit tidak nyaman pada tubuhnya saat mulai mencium aroma makanan. Tapi, Prilly merasa ia harus makan karena memang perutnya sangat terasa lapar.


“Mike, bisakah kita pergi ke dokter?” tanya Prilly setelah mereka menyelesaikan makan.


“Sayang, apa kau merasa tidak enak badan?” Mike buru-buru meraba kening istrinya untuk mengecek suhu tubuh Prilly dengan telapak tangannya.


“Aku, aku merasa mual saat mencium aroma makanan,” kata Prilly bersemangat.


Tentu saja Mike heran, ia mengerutkan keningnya. Mike sangat khawatir istrinya sakit, namun kenapa istrinya justru bersemangat?


“Sayang, kau kenapa?” tanya Prilly.


“Kau sakit? Ayo ke dokter” Mike segera bangkit dan hendak menggendong Prilly.


“Mike, aku baik baik saja,” kata Prilly. Namun sekarang, ia telah berada di gendongan suaminya. Mike membawanya ala bridal style menuju mobil dan segera melesat menuju rumah sakit terdekat yang ia cari menggunakan aplikasi map.


Prilly tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah suaminya, Prilly sendiri bahkan belum yakin ia hamil atau tidak meskipun ia memang telah mengalami telat masa periodenya selama beberapa hari, namun ia belum sempat mengeceknya.


“Selamat Tuan dan Nyonya Johanson, kalian akan memiliki seorang bayi,” kata dokter.


Mike memandangi istrinya seolah tidak percaya, ia bahkan merasa sangat bahagia hingga tidak bisa lagi berkata-kata lagi, ia hanya menciumi telapak tangan Prilly berulang kali.


“Untuk pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya anda pergi ke bagian obgyn,” kata dokter di poli umum.


“Terima kasih, Dokter,” kata Prilly.


Mereka akhirnya pergi ke bagian obgyn dan janin di rahim Prilly ternyata berumur tiga minggu.


“Sayangku, terima kasih. Aku mencintai kalian bertiga,” kata Mike berulang-ulang sambil terus menciumi Prilly. “Bagaimana jika kita kembali ke London?” tanya Mike.


“Kita masih berbulan madu Mike.”


“Tidak, di sini kita tidak bisa makan makanan sehat, di London aku bisa merawatmu, kau tidak perlu bekerja, aku akan memasak untukmu”


“Mike...,” kata Prily mulai sebal karena suaminya terlalu berisik


“Sayang, masakan di restoran mungkin saja tidak higienis.”


“Kau mulai cerewet.” Prilly terkekeh.


“Aku akan menyiapkan barang-barang kita, kau berbaring saja. Jangan bergerak, aku takut kau lelah,” kata Mike sambil membawa istrinya ke atas ranjang dan membaringkannya.


Ketika Mike hendak menutupi tubuh Prilly dengan selimut, Prilly menahan tangan suaminya.


“Mike, kau tidak mencintaiku,” kata Prilly dengan tatapan kesal pada Mike.


Mike terkejut dengan kata-kata yang keluar dari bibir Prilly.


“Sayang, kenapa berkata seperti itu?”


“Kau hanya peduli pada calon bayimu,” keluh Prilly.


“Oh, ayolah kenapa kau berpikir seperti itu?”


“Kau terus-terusan menghawatirkannya dan kau melupakanku.”


“Sayangku, aku mencintaimu. Mencintai Welliam dan calon adiknya. Aku mencintai kalian bertiga melebihi apa pun,” kata Mike tulus sambil membelai rambut istrinya.


“Mike, aku mencintaimu sejak aku berumur sepuluh tahun. Aku memikirkanmu setiap hari, aku menunggumu kembali setiap hari, dan sekarang ada calon bayi dirahimku aku sangat bahagia,” kata-kata itu ingin sekali keluar dari bibir Prilly namun ia tak bisa mengatakannya. Bibirnya terasa kaku, ia menelan kembali kata katanya.


“Baiklah, kita tidak akan kembali ke London hari ini jangan menangis.” Mike naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya “Jangan menangis,” lanjutnya.


“Aku sangat bahagia, aku sangat bahagia, aku mencintaimu Mike,” kata Prilly lirih.


“Aku lebih memintaimu, maafkan aku, jika aku terkesan mengabaikanmu tadi,” pinta Mike.


Mereka saling berpelukan merasakan kebahagiaan masing-masing dan melanjutkan bulan madu mereka yang masih tersisa tiga hari lagi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil karena Mike tidak mengizinkan Prilly bersenang-senang dengan leluasa.


Akhirnya mereka kembali ke London, karena itu hari Jumat, maka Prilly harus bertahan setidaknya beberapa jam lagi karena William ternyata berada di kediaman Diana, Prilly merasa sedikit tidak nyaman. William bahkan tidak pernah di bawa menginap di sana, Diana biasanya hanya membawa Wiliam beberapa jam dan akan di antar kembali kepada Sandra.


“Mike, aku merasa khawatir,” kata Prilly, mereka berada di mansion orang tua Prilly.


“Apa kau ingin aku menjemput William sekarang?” tanya Mike


“Aku tidak tau.” Prilly tampak gelisah ia mondar-mandir di kamarnya.


“Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu, kau harus tidur ini sudah larut malam,"


“Aku tidak bisa tenang aku takut Alex mengambil William.”


“Jangan berkata seperti itu, aku tidak akan membiarkannya jika itu terjadi, percayalah padaku,” kata Mike sambil memeluk istrinya dan membawanya ke sisi ranjang kemudian mendudukkannya.


“Mike, bagaimana jika Alex mengambil hak asuh William?”


“Kita akan lawan di pengadilan, meskipun harus membayar pengacara dengan mengorbankan semua yang kita miliki, kita akan melawan Alex untuk mempertahankan hak asuh William,” kata Mike penuh keyakinan, hatinya terasa membengkak memikirkan kemungkinan memang Alexander mengambil kesempatan saat mereka sedang pergi untuk berbulan madu.


Sejak awal ia mendapatkan Prilly, Mike telah bertekad tidak akan melepaskan gadis yang ia cintai seumur hidupnya, tidak akan pernah ada kesempatan ke dua bagi Alexander mencuri gadis yang telah resmi menjadi istrinya dan juga sedang mengandung anaknya.


“Istirahatlah, besok kita jemput William bersama-sama," kata Mike membujuk istrinya, dan jam dua malam istrinya baru berhasil ia bujuk.


Sementara Mike memanggil Anthony dan Anthony pun mulai diserang khawatir bercampur amarah memikirkan kemungkinan yang di takutkan Prilly dan Mike.


Delapan belas jam yang lalu di mansion orang tua Alexander.


Alexander sedang berusaha mendekati William putranya, beberapa hari yang lalu Alexander melihat Prilly memposting sedang berbulan madu dengan Mike ke Miami jadi Alexander meminta tolong pada Diana ibunya untuk menjemput William. William adalah satu-satunya senjata untuk meluluhkan kembali hati Prilly.


“Willy, apa kau mau makan coklat?” tanya Alexander senatural mungkin, Alexander beberapa kali melihat anak kecil yang antusias makan coklat dan ice cream jadi ia mencoba peruntungan dengan menawarkan cokelat pada William.


Putranya hanya mengangguk, “Baiklah, bagaimana kalau kita pergi membeli cokelat dan ice cream sekarang?”


William mengangguk lagi, kali ini wajahnya tampak bahagia. Akhirnya ia membawa William pergi meninggalkan mansion itu, membeli beberapa cokelat dan ice cream. Kemudian membawa William menuju penthouse yang di tinggali oleh Alexander.


Alexander telah mencoba berbagai macam cara untuk membujuk William membuka mulutnya. Namun, putranya sama sekali tidak mau membuka mulutnya selain memakan cokelat dan es krim.


Alexander meminta sekretarisnya menyediakan seluruh keperluan William, ia telah memutuskan membawa William tinggal bersamanya.


Hingga malam tiba William masih tidak bersedia membuka mulutnya, ia menolak makan dan menolak semua yang Alexander tawarkan.


Sebenarnya Alexander mulai jengah dan kehabisan kesabaran, ia tidak memiliki pengalaman membujuk anak kecil, dulu seingatnya Prilly kecil tidak pernah marah dengan metode diam seperti ini.


“Willy, apa kau lapar?” tanya Alexander.


Putranya hanya menggelengkan kepalanya dengan tatapan waspada. Akhirnya pria kecil itu tertidur tanpa makan malam dan tanpa meminum susunya. sungguh Alexander tidak menyangka bahwa putranya sangat keras kepala.


Di kediaman kedua orang tua Alexander, siang itu Mike bersama Anthony datang untuk menjemput William, namun mereka kecewa. Bahkan Diana pun mengaku tidak mengetahui di mana keberadaan Alexander.


Sejak tadi malam, Diana terus berusaha menghubungi putranya namun ponsel Alexander tidak aktif.


“Mike, kalian masih muda kalian bisa memiliki banyak putra lagi, biarkan William bersama Alex” kata Diana. Mike langsung naik pitam mendengar kata kata yang di ucapkan tantenya.


“Kau berkata seperti itu seolah olah kau bukan seorang ibu,” kataike sinis. Ia masih berusaha mempertahankan sopan santunnya, “Aku yakin kau mengetahui di mana Alex berada.”


“Aku sungguh tidak mengetahuinya,” aku Diana jujur.


“Tante Diana, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada Alex!” Kali ini Anthony yang bersuara dengan nada sedikit tinggi. Ia berniat menembak kepala Alexander jika ia menemukan orang yang kini ia anggap mantan sahabatnya itu.


Diana terdiam, ia menyadari ia telah salah mengucapkan perkataan pada keponakannya namun ia benar-benar tidak tahu di mana putranya membawa cucunya.