Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Seperti janji kita di hadapan Tuhan



Pagi hari Prilly terbangun, ia tidak mendapati suaminya yang biasanya berada di sampingnya setiap pagi, sisi ranjang juga terasa dingin menandakan bahwa Alexander telah lama meninggalkan tempat itu. Prilly mengerjapkan matanya beberapa kali.


Wanita mungil itu kemudian perlahan menurunkan kakinya dan mulai melangkah untuk mencari suaminya, ternyata Alexander sedang berada di balkon, duduk sambil mengotak-atik ponselnya? “Kau di sini,” kata Prilly dengan suara pelan membuat Alexander mendongakkan wajahnya, mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Prilly mengerutkan keningnya ketika melihat wajah suaminya.


“Kau sepertinya kurang tidur." Prilly mengomentari cekungan mata Alexander yang tampak begitu dalam.


“Selamat pagi sayangku,” sapa Alexander sambil memberikan kode agar Prilly mendekat, dengan patuh Prilly mendekati suaminya, Alexander meraih pinggang Prilly dan mendudukkan istrinya di pangkuannya.


“Bagaimana tidurmu?" Alexander membelai rambut dan menciumi pipi Prilly.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” rupanya Prilly tidak bisa melupakan begitu saja suara gaduh tadi malam.


“Tidak ada,” jawab Alexander.


“Alex, please... jangan berbohong,” Prilly menatap Alexander dengan tatapan lurus.


“Tidak ada yang kusembunyikan,” jawab Alexander dengan nada yang di buat sedatar mungkin, “kau berpikir terlalu banyak.” Alexander memainkan ujung rambut Prilly. "Rambutmu telah memanjang, aku menyukainya."


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan." Prilly menatap Alexander dengan tatapan galak.


"Galak sekali," gerutu Alexander.


“Kau mengatakan padaku aku untuk tidak menutupi apa pun, tetapi sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu, tadi malam aku tidak tuli Alexander. Aku mendengar ada suara kegaduhan dan suara tembakan.” Prilly mengeluarkan semua yang ada di benaknya, ia jelas mendengar suara kegaduhan dan suara letusan tembakan, ia tidak salah dengar, pendengarannya baik-baik saja dan yang pasti ia mendengar percakapan Alexander dan suara pria asing di balkon karena Prilly hanya berpura-pura tertidur.


“Alex....” Suara Prilly begitu rendah seperti memohon.


“Tidak ada apa pun, percayalah padaku.” Alexander membelai kulit wajah Prilly makan punggung jari telunjuknya.


“Ei-lek-sen-de... PLEASE,”gumam Prilly dengan tatapan mata seperti anak anjing yang memohon membuat Alexander tak mampu menghindari tatapan mata Prilly yang begitu ingin tahu dan seolah-olah menuntut penjelasan darinya.


“Percayalah padaku, aku akan menjagamu bahkan jika nyawaku taruhannya.” Alexander dengan lembut menangkup kedua pipi Prilly dengan telapak tangannya.


“Ada apa sebenarnya?” Prilly menatap Alexander dengan tatapan yyan begitu dalam, sulit diartikan. Kekhawatiran, keresahan dan ketakutan, semua ada di sana.


“Kau tidak perlu memikirkannya, aku yang menyelesaikan ini semua.” Alexander terus berusaha meyakinkan Prilly bahwa semuanya baik-baik saja.


“Kau tidak ingin berbagi denganku Alexander?" Prilly bertanya dengan tatapan tidak suka kepada Alexander, nada suaranya juga terdengar sangat kecewa.


“Kita akan melaluinya bersama-sama, tetapi sayangku, biar aku yang menyelesaikan masalah ini, semua masih diselidiki, bersabarlah.” Alexander memberikan pengertian kepada istrinya dan berharap istrinya tidak terus-terusan meminta penjelasan darinya karena ia juga tidak mengerti ada apa di balik semua yang terjadi belakangan ini.


Prilly menghela napasnya. “Baiklah, tapi... kumohon Alex, jangan kau simpan kesusahan sendiri, seperti janji kita di depan Tuhan aku ingin berbagi kesusahan denganmu, apa pun itu,” kata Prilly dengan nada sangat rendah.


Alexander membawa Prilly ke dalam pelukannya di dekapnya erat-erat tubuh Prilly, mereka larut dalam kebisuan sesaat,vhanya deru nafas dan detak jantung mereka yang saling berpacu, “Aku mengerti, maafkan aku membuatmu khawatir, percayalah kita akan lalui semua ini bersama-sama, sekarang lebih baik kita bersihkan tubuh kita, lalu kita pergi sarapan, kita harus pergi ke New York, ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Harry.” Alexander berucap seraya dengan lembut menjauhkan tubuh Prilly dari dekapannya.


New York.


“Aku merasa tidak pernah memiliki musuh di sini, kenapa tiba-tiba ada pembunuh bayaran yang mengikutiku hingga ke Arizona? Sungguh tidak masuk akal.” Alexander mengomel di depan Harry.


Harry hanya diam dan mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan omelan sahabatnya.


“Ini benar-benar tidak masuk akal,” omel Alexander lagi.


“Kau harus lebih waspada lagi menjaga keluargamu terutama anak-anakmu dan yang lebih utama istrimu,” ucap Harry.


“Aku telah menempatkan beberapa orang bagikan untuk mengawasi anak-anak,” kata Alexander ya memang telah memerintahkan Harun untuk menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga William, Leonel dan Grace, tak lupa Alexander juga menyewa satu orang bodyguard untuk menjaga Prilly selama di New York, sungguh konyol ia tidak pernah menyangka hidupnya menjadi serumit ini dan berhadapan dengan orang-orang yang membahayakan keluarganya.


“Apa kau pernah mendengar nama keluarga Martinez?” Harry mengelus bulu-bulu halus di wajahnya sambil menatap mata Alexander.


“Martinez?” Alexander mengerutkan kedua alisnya, mencoba mengingat-ingat dan meraba-raba di dalam ingatannya nama keluarga Martinez.


“Aku tidak tahu, sepertinya ini untuk pertama kali aku mendengarnya, namanya seperti bukan berasal dari Eropa,” kata Alexander.


“Iya, kau tidak salah, terdengar latin bukan?”


“Apa hubungannya denganku?”


“Mereka pesaing keluarga Johanson di masa lalu.” Harry memberi tahu Alexander.


“Di masa lalu? Ayahku tidak pernah menceritakannya.” Alexander berkata yang sejujurnya.


“Tidak di dua generasi tetapi di tiga generasi yang lalu." Harry membuka laptopnya.


“Dari mana kau tahu?” Alexander tentu saja merasa heran dari mana Harry tahu sedangkan ia sendiri tidak tahu asal usul keluarga Martinez.


Sudut bibir Harry menyunggingkan senyum, tetapi ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alexander.


***


Alexander berdiri di balkon kamar hotel tempat mereka menginap di New York, Alexander sedang memanggil ayahnya melalui panggilan telepon dan menanyakan perihal tentang keluarga Martinez.


Setelah berbicara cukup lama dengan ayahnya Richard Alexander duduk di depan laptopnya sambil geser kursor dan mempelajari perusahaan profil perusahaan milik keluarga Martinez.


“Oh, jadi ini,” gumam Alexander, Prilly yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan kan apa yang sedang dikerjakan suaminya. Sudut bibir Alexander tersenyum sinis.


"Kau mengenal pemilik perusahaan itu?" Prilly tampaknya mengerti apa yang sedang Alexander pikirkan.


"Aku tidak mengenalnya, hanya saja dari profil perusahaan yang kubaca, ia memiliki beberapa hotel di Texas, dan pastinya ia pernah kalah dariku dalam beberapa proyek, konyol sekali." Alexander menjelaskan.


"Apa itu baru saja?" Prilly mengerutkan keningnya.


"Ini sebenarnya masalah lama, hanya saja ia ingin membawa masalah lama itu menjadi masalah baru. Sekarang kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti, yang jelas aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mengusik kehidupan kita," kata Alexander dengan nada dingin dan penuh tekanan emosi, rahangnya bahkan tampak terkatup rapat.


Alexander menghela napasnya. "Sebaiknya kita keluar mencari udara segar, aku ingin mengajakmu ke sebuah restoran di kawasan Manhattan," katanya sambil mematikan laptopnya.


Prilly mengangguk patuh dan mereka berdua keluar dari hotel tempat mereka menginap dan menuju ke Poyntz A, sebuah kawasan yang berada di Manhattan, di sana terdapat sebuah restoran yang menyajikan makanan yang sangat beragam. Alexander menyukai tempat itu, dulu dia sering mengunjungi tempat itu bersama Anthony.


Baru saja Alexander dan Prilly menginjakkan kaki di tempat itu mereka terkejut karena menjumpai Sophia sedang duduk bersama seorang pria yang membelakangi Prilly dan Alexander, keduanya segera menghampiri Sophia.


“Sophia, kau di sini rupanya,” sapa Prilly.


Sophia tampak gugup. “Ah iya, Prilly kau kemari, eee... maaf aku, a-aku, a-aku belum memiliki waktu untuk bertemu denganmu.” Sophia tergagap.


SELAMAT PAGI SEMUANYA 😆😆😆


SEMOGA HARI INI GAK ADA TYPO DAN PENGULANGAN KATA ❤️❤️❤️❤️ HEHEHEHE


KALO ADA TOLONG DI KASIH TAU YAAA. 😭😭😭😭


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️