Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Rencana licik



Housten, Texas.



Image from Google.


Wilona Achiel, tersenyum sinis dan sorot matanya penuh kedengkian sambil menatap layar Macbook di depannya sambil bergumam, “kita lihat seberapa lama kau bisa bahagia Prilly, Sophia.”


Lima tahun yang lalu kariernya hancur karena Sophia mengeluarkan satu-satunya bukti sanggahan skandalnya bersama Mike. Reputasinya sebagai artis yang cantik tenang dan ramah tidak bisa di tolong lagi, semua orang di media sosial mengutuknya, semua orang mencibirnya sebagai gadis munafik yang tidak tahu malu, karier yang ia bangun dengan susah payah jatuh bangun dan sesekali harus menjual tubuhnya kepada pria tua yang menjijikkan agar mendapatkan peran di sebuah film ambruk bagai istana pasir tersapu ombak di tepi pantai. Nyaris tanpa bekas, bahkan puing-puingnya saja tidak bersisa.


Teman-teman menjauhinya, kumpulan sosialita tidak ada yang bersedia lagi mengenalnya, semua mencemooh dirinya sebagai wanita yang tak tahu malu. Dan Prilly? Wanita itu diam saja, tidak berusaha menolongnya, padahal ia seharusnya bisa berkomentar untuk menolong Wilona, menurut Wilona karena bagaimanapun ia adalah artis di bawah manajemen Glamour Enterprise milik Mike suaminya. Namun faktanya wanita itu justru seolah menutup mata, mulut dan telinganya.


Dan kepada Sophia, ia memang tak mampu menjangkau mantan sahabatnya itu, statusnya sekarang terlalu tinggi, akan tetapi Wilona yakin sahabatnya itu pasti sedih bukan jika kehilangan sesuatu yang berharap?


Wilona ingin mereka merasakan bagaimana kehilangan sesuatu yang sangat berharga, bagaimana kehilangan cinta, kehilangan kepercayaan, kehilangan orang yang di sayangi.


“Sepertinya kita memang harus mengundang pasangan pengantin baru itu untuk menghadiri pesta pernikahan kita sayang,” kata Wilona kepada Simon calon suaminya.


“Kau yakin?” Simon menggeser Macbook yang ada di meja dan matanya menatap layarnya.


Wilona memelan ludahnya lalu menjawab, “Ya, orang-orang yang pernah menghancurkan karier dan mimpiku harus merasakan balas dendam seorang Wilona.”


“Kau memang pantas menjadi istriku ya,” kata Simon sambil menyeringai.


“Aku hanya ingin melihat drama pertunjukan,” jawab Wilona dingin, selain Simon mana mungkin ada pria yang sudi menampungnya di saat terpuruk, Simon tidak buruk, selama bisa meminjam tangan pria jelek itu, tidak masalah ia mengorbankan tubuhnya dan sisa hidupnya. Anggap saja ia menjual dirinya pada satu pria untuk membayar biaya hidupnya, biaya perawatan kecantikannya tidak sedikit, pakaian dan barang-barang bermerk terkenal tidak murah. Jika tidak melemparkan diri dalam pelukan pria kaya ia tidak akan mampu lagi berdiri, bahkan menatap cerminpun Wilona merasa takut.


“Kau tidak perlu melakukan itu sebenarnya.”


“Tapi, aku ingin melihatnya.”


“Kau benar-benar jahat,” kekeh Simon. “Yang kau lakukan selama ini sudah sangat kejam dan tidak berperasaan, tetapi kau tampaknya belum puas.”


“Aku telah melepaskan dunia keartisanku, aku tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain hati yang jahat,” tandas Wilona dengan nada sangat sinis.


“Aku akan selalu membantumu asal targetmu adalah keluarga Johanson.” Simon mengambil satu batang rokok dan menyelipkan di antara bibirnya, lalu ia menjentikkan korek api untuk membakar rokoknya.


“Aku akan merekrut satu orang lagi untuk menghancurkan mereka, kau lihatlah." Wilona juga mengambil sebatang rokok dan membakarnya, menghisapnya dalam-dalam lalu mengembuskan asapnya hingga udara di sekitarnya tampak buram.


Simon Martinez, lima tahun yang lalu ia menghubungi Wilona, menawarkan bantuannya kepada Wilona, bukan tanpa sebab, di masa lalu, keluarga Johanson pernah menjadi pesaing bisnis terberat keluarganya, bahkan keluarga Johanson puoa yang menyebabkan seluruh keluarga martinez terpaksa meninggalkan London dan memilih menetap di Texas lalu mulai menjalani dunia hitam.


Bahkan Simon sendiri yang kini menggeluti dunia bawah tanah dan beberapa bisnis legal lain di Texas pernah mencoba bersaing dengan bisnis milik Alexander Johanson yang ada di wilayahnya, namun upayanya juga gagal. Simon ingin sekali menghancurkan pria angkuh itu, yang jelas kehancuran keluarga Johanson-lah yang ingin ia saksikan, entah tepat sasaran atau tidak yang jelas nama Johanson adalah momok bagi keluarga Mertinez, ia ingin dendam kakek buyutnya bisa di balaskan melalui tangannya.


“Siapa dia?” Simon mendudukkan bokongnya di kursi yang terdapat tepat di depan Wilona.


“Mantan istri Alexander, aku yakin ia sedang meratap dan hatinya sedang hancur,” jawab Wilona sambil membuka halaman media sosial milik Jovita.


“Wanita itu, dia juga mantan ******, seperti dirimu,” kata Simon sambil matanya melirik sekilas ke arah foto Jovita.


“Dari mana kau tahu?” Normalnya jika wanita lain mungkin akan marah di katakan sebagai ******, namun tidak bagi Wilona, mulut Simon sudah biasa mengatainya ******, benar ia memang ******, tetapi Simon lebih pria bre**sek, si bre**sek yang akan menikahi ******, sungguh lucu.


Tentu saja Wilona bertahan dengan semua hinaan yang sering Simon lontarkan dari mulutnya, ia terbiasa dan mulai merasa kebal sebab ia memiliki rencana tersendiri setelah usaha yang ia bangun nanti berhasil, ia akan menyingkirkan Simon dengan sekali tarikan nafas, ia bukan wanita bodoh. Seringai Wilona di dalam benaknya.


“Aku hanya menebak,” jawab Simon acuh.


“Kau seperti peramal,” ejek Wilona. "Apa kau pernah tidur dengannya?"


Simon hanya tersenyum sinis, ia tidak menjawab.


"Kau pernah tidur dengannya?" ulang Wilona.


“Asal usulnya dan garis keturunannya tidak jelas, Alexander tidak pernah bersedia mempublikasikan wajah istrinya, apa menurutmu itu tidak janggal?”


“Masuk akal,” jawab Wilona sambil meraih bungkus rokok yang tergeletak di meja.


Melihat hal itu Simon segera membuka mulutnya. “Kau boleh menghisap rokok sepuasmu sekarang, tapi ingat setelah kita menikah, aku ingin kau tidak mengonsumsi alkohol dan juga rokok. Aku ingin kau memberikanku keturunan, umurku telah mencapai empat puluh lima tahun, aku harus segera memiliki putra.”


Dengan acuh Wilona mengeluarkan sebatang rokok, menjepitnya di antara bibirnya, membakar lalu menghisapnya. Menikmati tembakaunya sesuka hati sambil terus memikirkan langkah untuk segera menggulingkan pria menjijikkan ini, tentunya untuk menjadikan bisnis milik pria jelek ini menjadi miliknya sendiri.


Pria yang selalu menyembahnya di atas ranjang, tetapi selalu mengatainya sebagai wanita ******.


SELAMAT PAGI 🙄🙄🙄


TAP JEMPOLNYA ❤❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤