
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS
“Apa pekerjaanmu begitu banyak?” tanya Harun yang tiba-tiba telah berdiri di depan meja kerja Anne.
Anne mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. “Kau mengagetkanku,” gerutunya.
“Aku sejak tadi berada di sini,” kata Harun yang memang telah berdiri di depan meja kerja Anne selam lima menit dan sekretarisnya itu tidak menyadari kehadirannya.
“Aku rasa aku harus lembur malam ini, besok pertemuan jam sepuluh pagi dan aku belum menyelesaikan presentasi yang akan kau bawakan.” Anne kembali memfokuskan tatapan matanya ke arah layar laptopnya.
“Kau akan lembur di sini sendirian?” tanya Harun sambil memeriksa arloji yang melingkar pergelangan tangan kirinya.
“Ya, mau bagaimana lagi.” Anne menjawab tanpa menoleh kepada Harun.
Harun mengernyit, sudah pukul delapan malam rasanya tidak pantas ia meninggalkan seorang wanita sendirian di perusahaan sebesar ini meskipun ada penjaga keamanan dan kamera pengintai di setiap sudut ruangan tetapi ia benar-benar merasa tidak tega membiarkan Anne tinggal sendirian.
“Sepertinya... perusahaan harus menggaji over time sangat besar jika kau masih melanjutkan pekerjaanmu di sini,” kata Harun.
“Astaga over time tidak setiap hari, aku bahkan rela tidak di gaji jika hanya sesekali seperti ini,” kata Anne sambil jemarinya terus menari di atas keyboard laptopnya.
“Tapi, aku tidak,” kata Harun.
“Siapa yang menyuruhmu untuk lem....”
Anne tidak melanjutkan kalimatnya karena Harun telah berada di belakangnya, pria itu mengurung tubuhnya menggunakan kedua lengannya. Sebelah tangannya berat bertumpu di meja sementara sebelah tangannya menggeser kursor laptop kemudian menyimpan dokumen dan mematikan laptop Anne. “Bawa kembali saja pekerjaanmu,” katanya.
Samar-samar Anne menghirup aroma maskulin yang ada di tubuh Harun ada sedikit kegugupan merayapi perasaannya karena jarak mereka sangat dekat.
“T-tapi... aku mengantuk jika mengerjakan di rumah,” gumam Anne yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Harun pria itu dengan lembut menutup laptop Anne kemudian menjauhkan tubuhnya dari Anne, tangannya bersedekap di depan dadanya kemudian tatapan matanya seolah memerintah Anne untuk segera mengemasi barang-barangnya.
Anne terpaksa menuruti perintah yang tidak diucapkan oleh pria itu, ia memasukkan semua barang-barangnya kemudian mereka berjalan beriringan menuju lift. Sesampainya di basemen parkir di mana mobil mereka berada ketika Anne hendak menuju mobilnya sendiri Harun tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. “Aku akan membantumu mengerjakan pekerjaan ini, sebaiknya kau kembali ke tempat tinggalku saja.”
Anne terkesiap karena sentuhan telapak tangan Harun di pergelangan tangannya tetapi ia mencoba bersikap seperti biasa. “Tapi, besok pertemuannya jam sepuluh pagi.”
“Serahkan urusan besok pagi kepadaku, yang lebih penting bawa kita secepatnya selesaikan ini dulu malam ini,” katanya.
Anne mengangguk, Harun pasti menepati ucapannya mengurus semua dengan benar besok. Alexander sendiri yang memilih Harun untuk memimpin Glamour Entertainment pastinya ia percaya dengan cara kerja Harun yang telah di kenalnya.
Meskipun Anne telah bekerja bersama Harun selama beberapa bulan dan bertemu pria itu nyaris setiap hari tetapi nyatanya ini adalah pertama kali Anne datang ke tempat tinggal Harun. Seperti pria pada umumnya yang tinggal sendiri, tempat tinggalnya itu agak sedikit sedikit tidak terurus, beberapa kaleng bir tampak masih tergeletak di atas meja di ruang untuk menonton televisi.
“Maaf, agak sedikit berantakan tetapi Percayalah aku bukan orang yang jorok, hanya saja pengurus rumah ini hanya datang tiga kali dalam satu minggu,” kata Harun.
“Tidak masalah,” jawab Anne.
Harun meletakkan tas kerjanya kemudian ia melepaskan jas yang masih menempel ditubuhnya, meraih kaleng bir yang berada di atas meja dan membawanya ke dapur, membuangnya ke tempat sampah. Pria itu kemudian mencuci tangannya kemudian ia merogoh ponselnya setelah itu ia mendekati Anne. “Bersantailah dulu aku baru saja mau memesan layanan antar untuk makan malam kita,” katanya.
Sedikit canggung Anne mengangguk, ia duduk dengan posisi yang nyaman di sofa. Sementara Harun ia masuk ke dalam kamarnya, sepuluh menit kemudian pria itu tampak keluar dari kamarnya. Pakaian yang di kenakan Harun telah berubah, hanya mengenakan celana pendek rumahan dan kaos yang tampak terlihat begitu santai, rambutnya juga masih sedikit basah sepertinya harus mandi secara kilat.
Harun menyerahkan sebuah kaos berukuran besar kepada Anne. “Aku tidak memiliki pakaian wanita tetapi aku rasa kau kurang nyaman mengenakan pakaian itu karena telah kau kenakan sepanjang hari. Ganti pakaianmu dengan ini, aku harap kau tidak mempermasalahkan karena kebetulan aku tidak memiliki pakaian baru,” ucapnya sambil sebelah tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Tidak masalah,” kata Anne sambil berdiri dan menerima pakaian yang di berikan oleh Harun. “Omong-omong di mana aku bisa mengganti pakaian?”
Anne membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang terletak di dalam kamar tamu kemudian ia mengenakan pakaian yang diberikan oleh Harun. Aromanya pewangi pakaian beraroma Lavender memenuhi indra penciumannya, rupanya Harun menyukai aroma Lavender. Tubuh Harun cukup tinggi, jadi kaos itu saat di kenakan oleh Anne cukup panjang hingga menutupi bagian bokong hingga sebagian pahanya.
Setelah Anne selesai, ia segera melangkah keluar dan mendapati Harun sedang menyiapkan makan malam mereka di meja makan. Anne segera mendekati Harun kemudian membantunya.
“Apa kau setiap hari memesan makanan seperti ini?” tanya Anne di sela aktivitas mereka.
“Ya, terkadang,” jawab Harun sambil meletakkan bokongnya di kursi.
“Kenapa tidak mau masak sendiri?”
“Aku sangat buruk dalam hal memasak,” jawab Harun sambil menyendok makanannya.
“Oh....” Hanya itu yang mampu Anne ucapkan.
Suasana mereka memang menjadi sedikit canggung akhir-akhir ini. Kecanggungan itu sebenarnya terbentuk sejak Harun mencium bibir Anne tetapi sebenarnya sikap Harun biasa saja, pria itu masih seperti dulu sikapnya selalu datar. Hanya Anne yang tiba-tiba merasa gugup setiap kali berdekatan dengan Harun, sepertinya memang hanya Anne yang merasakan kecanggungan itu.
“Jadi, kau tinggal sendiri?” tanya Anne mencari-cari bahan pembicaraan.
“Ya, aku tinggal sendiri,” jawab Harun.
“Di mana orang tuamu?”
“Mereka di Brighton.”
“Jadi, kau berasal dari Brighton?”
“Tidak, aku tidak berasal dari sana, aku lahir di sini tapi orang tuaku bekerja di Brighton lalu menetap di sana.”
“Oh.” Pembicaraan mereka kembali terjeda. Hanya suara sendok dan garpu yang jarang terdengar sesekali beradu dengan piring.
“Kau menamatkan pendidikan di Brighton?” tanya Anne lagi.
“Tidak, aku kuliah di UCL,” jawab Harun.
Anne mengerjapkah matanya. “Wow, ternyata kau lulusan UCL?”
“Ya, begitulah. Beasiswa.” Harun menaikkan kedua bahunya bersamaan sementara bibirnya mengulas senyum tipis.
Sepertinya Harun memang pria cerdas.
Setelah menyelesaikan makan malam dan membersihkan peralatan makan, mereka berdua bahu membahu mengerjakan pekerjaan yang menunggu hingga pukul dua malam pekerjaan mereka akhirnya selesai juga. Harun menginstruksikan Anne untuk masuk ke dalam kamar tamu sementara ia memasuki kamarnya sendiri.
Paginya Anne membuka matanya, ia mendapati sebuah catatan di meja. Harun ternyata telah pergi ke perusahaan, pria itu menyediakan sarapan untuknya meskipun sarapan itu lagi-lagi di beli dengan layanan pengantaran. Terlihat jelas dari bungkusnya.
Bukan hanya itu ternyata Harun juga menyediakan pakaian formal Anne untuk bekerja, pakaian itu masih baru. Anne tersenyum, Harun memang sekretaris andalan Alexander yang paling pengertian dan cekatan di masa lalu, pantas Alexander begitu percaya kepada Harun hingga tanpa ragu-ragu memberikan kepercayaan untuk mengurus Glamour Entertainment.
Setelah merapikan kamar, Anne membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian yang disediakan oleh Harun kemudian menyantap sarapannya. Setelah memastikan semua keperluannya ia keluar dari tempat tinggal Harun, meminta bantuan petugas apartemen untuk memanggil taksi dan ia meluncur menuju perusahaan.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤