Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Wedding



Prilly mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang indah, di lehernya telihat perhiasan indah hasil rancangannya sendiri.


Berjalan di sisinya adalah Mike mengenakan tuxedo putih senada dengan gaun yang Prilly kenakan.


Mereka mulai menyapa setiap tamu undangan yang hadir.


Sebagai bridesmaid adalah Anne, Adelia, Jovita dan Nuan Nuan.


Dan souvenir yang di berikan pada tamu undangan adalah bros cantik berbentuk sepasang angsa dari emas putih yang bertabur swarowsky. Sedangkan untuk pria mereka bisa mengambil souvenir mereka berupa tie clip dari emas putih dengan design sederhana yang bertabur swarowsky.


Para tamu undangan bisa mengambil souvenir itu dengan menscan barcode yang ada di undangan mereka.


Ide itu di cetuskan oleh Mike dan Prilly merealisasikan dengan mendesian kedua benda itu.


Sepanjang acara pesta pernikahan Prilly dan Mike, tak henti-hentinya bibir mereka menyunggingkan senyum bahagia. Kali ini, senyum yang tergambar di bibir Prilly adalah nyata bukan senyum palsu seperti ketika pesta pernikahanya bersama Alexander.


“Sayang, apa kau lelah?” tanya Mike, padahal pesta baru saja di mulai.


“Aku akan memberitahumu, jika aku merasa lelah,” jawab Prilly. Mike benar-benar berlebihan menurut Prilly. Ia bahkan menyiapkan ruang khusus untuk Prilly istirahat yang di lengkapi dokter dan perawat.


“Berjanjilah jangan memaksakan dirimu.”


“Suamiku benar-benar pria tua yang cerewet,” kata Prilly sambil tersenyum senang.


“Dan kau akan menjadi wanita tua bersamaku.”


“Umurku baru dua puluh tiga tahun, aku belum tua. Ingat besok adalah hari ulang tahunku."


“Baiklah, aku telah menyiapkan kado untukmu.”


“Apa itu?” tanya Prilly penasaran.


“Jika aku memberitahumu hari ini, maka besok tidak akan menjadi spesial,” jawab Mike


dengan nada menggoda.


“Mike kenapa kau begitu romantis? Dari mana kau belajar?”


“Aku selalu ingin memanjakan wanita yang kucintai sepanjang hidupku.”


“Mau sangat pandai merayuku.”


“Aku tidak hanya merayu, aku membuktikan semua dengan tindakan. Agar Nyonya Mike Brian Johanson selalu bahagia dan jatuh cinta berkali-kali pada suaminya,” kata Mike dengan nada percaya diri.


“Terima kasih, Suamiku. Aku mencintaimu.”


“I love you more, Prilly istriku.”


Mike mengecup bibir Prilly dengan singkat, mereka saling menatap mata mereka masing-masing lalu kembali berciuman seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Mereka bahkan tidak perduli dengan kehadiran para tamu undangan yang hadir untuk memberi selamat pada mereka.


Tidak lama Anthony dan Lin Lin datang bersama William, hari ini adalah hari paling melelahkan untuk Wolliam, karena ia adalah pria terimut yang menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan. Baik dari teman-teman dan rekan kerja Mike dan Prilly, maupun dari teman-teman Sandra dan Veronica. Mereka semua merasa gemas dan ingin mengambil foto bersama William.


Pria kecil itu bersembunyi di belakang kaki Mike dan Lrilly setiap kali ada orang yang tak di kenalnya menyapanya. William kadang menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip dengan ragu-ragu, memandangi orang-orang asing di sekitarnya. Rupanya trauma akan perlakuan Alexander masih berbekas di otak William. Namun William berulang kali melirik dan mencuri-curi pandang pada Jovita.


“William, bolehkah Tante Jovita foto bersamamu?” tanya Jovita


yang memang sedang berusaha mendekati William, ia tidak tahan melihat keimutan William yang juga memakai tuxedo senada dengan Mike.


William memandang Prilly. “Apa kau mengingat Tante Jovita? Ia yang merawatmu ketika kau sakit.”


William mengangguk. “Bagaimana jika kau berfoto berdua dengan Tante Jovita?” tanya Prilly lagi.


Jovita segera mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera depannya untuk berselfie. Bahkan William meminta berkali-kali untuk kembali berfoto. Setelah selesai berfoto bersama jovita, William dipanggil kembali oleh Anthony. Pria kecil itu dengan patuh mendatangi Anthony dan Lin Lin.


“Jovita, apa kau telah bertemu Alex setelah insiden itu? Apa ia berbuat kasar padamu?” tanya Prilly penasaran.


“Ya, dia datang ke tempat tinggalku tapi dia tidak berbuat apa-apa padaku,” kata Jovita berbohong sambil tersenyum.


“Syukurlah” kata Prilly. “Menurutmu, apa ia akan datang?” Prilly penasaran apakah Alexander akan datang.


“Entahlah, Prilly. Dia terlalu pendiam dan dingin, aku tidak bisa menebak sifatnya,” kata Jovita jujur.


Ketika senja mulai tiba, lampu-lampu di acara tersebut mulai dinyalakan dan di layar proyektor mulai ditayangkan beberapa foto kebersamaan Mike dan Prilly ketika mereka kecil.


Pertemuan Mike dan Prilly ketika usia Prilly empat tahun. Mereka tampak saling memandang dan mencuri pandang. Lalu ketika Prilly mengulurkan bunga pada Mike seolah-olah ia sedang melamar Mike membuat para hadirin yang datang bersorak.


Karena sorakan para tamu undangan yang tak lain adalah teman-teman Mike dan Anthony, wajah Prilly merona. Ia mencubit perut suaminya dan bibirnya sedikit cemberut karena malu.


Foto ketika acara barbeque Mike sedang berusaha berbicara dengan Prilly, namun Prilly bersembunyi di belakang tubuh Anthony. Ia menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip Mike. Usia Prilly saat itu sepuluh tahun.


Lalu foto-foto Prilly dan Mike bersama William dalam satu tahun terakhir, hampir setiap momen yang mereka lalui bersama selalu diabadikan dalam foto maupun video. Mebanyakan momen itu di ambil oleh Anthony.


Kini semua yang hadir di pesta itu telah mengetahui perjalanan cinta Mike dan Prilly yang di awali sejak mereka kecil. Seluruh hadirin di pesta itu bertepuk tangan.


Kemudian Prilly dan Mike masing-masing memegang mikrophone untuk saling mengungkapkan perasan mereka masing-masing.


“Untuk gadis kecil yang aku cintai, yang telah menjaga hatinya hingga kami dapat bersatu dalam ikatan pernikahan, aku ucapkan terima kasih. Aku sangat mencintaimu,” kata Mike seraya memandang wajah cantik istrinya, telapak tangan mereka saling mengggenggam erat, kemudian Mike mengecup punggung tangan Prilly.


“Dan teruntuk seorang pria bermata biru yang sejak perkenalan kami di masa kecil, tatapan matanya telah meembawaku kedalam pesonanya, aku sangat berterima kasih padamu. Yang dengan sabar menungguku, mengawasiku di balik pintu apartemennya dan mengikutiku kemanapun aku pergi, aku sangat mencintaimu,” kata Prilly sambil tersenyum bahagia.


Mereka kemudian menyerahkan microphone pada mc yang menangani acara itu dan pasangan itu mulai berdansa. Acara pesta berlangsung sangat romantis malam itu.


Setelah acara dansa selesai, para pria melanjutkan pesta malam itu dengan meminum wine dan sampanye yang di hidangkan dalam acara itu.


Sedangkan Prilly, Lin Lin dan teman-temannya kini mereka duduk di dalam sebuah ruangan dan menyantap makanan yang di hidangkan di ruangan itu.


“Prilly, Lin Lin, apa kalian tidak lelah?” tanya Adelia.


“Tidak sama sekali, jangan khawatir,” kata Lin Lin.


“Aku masih sanggup berdiri hingga besok,” kata prilly


setengah bercanda.


“Aku harap nanti aku akan menikah dan mengandung bersamaan dengan Adelia,” kata Anne.


“Secepatnya aku harus memiliki kekasih,” jawab Anne terkekeh


“Prilly, apa mantan suamimu datang?” tanya Adelia tiba-tiba.


Suasanya tiba-tiba hening sejenak, wajah Jovita juga mendadak tegang.


“Aku mengundangnya, tapi itu keputasan Kak Alex untuk datang atau tidak,” kata Prilly.


“Aku rasa, ia masih mencintaimu. Ia tidak akan memiliki wajah untuk datang memberikan doa pada kalian,” kata Anne.


“Tidak, Kak Alex tidak mencintaiku. Dia hanya terobsesi menjagaku, aku yakin ia akan secepatnya menemukan gadis yang benar-benar dicintainya,” kata Prilly yakin, ekor matanya melirik Jovita yang tampak tegang.


Kemudian para gadis itu melanjutkan obrolan santai mereka sambil terus membuat video dan foto untuk di unggah di media sosial mereka masing masing.