
“Madam...." Panggil Elly yang datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Diana yang berada di taman belakang mansion bersama Grace, Leonel dan William.
“Ada apa?” tanya Diana.
“Nona Prilly, Nona, pingsan,” kata Elly sambil mengatur napasnya.
“Pingsan?” Diana tentu saja terkejut. “Kau urus cucuku, panggil nanny mereka semua, aku akan melihat Prilly. Oh iya, jangan sampai mereka masuk ke rumah sebelum masalah ini selesai, kau mengerti?” kata Diana sambil menyerahkan Grace pada Elly.
“Baik, Madam,” jawab Elly dengan patuh dan mengambil alih Grace ke dalam gendongannya, gadis kecil itu masih tidak bersemangat.
Diana memasuki ruang keluarga di mana Prilly di baringkan oleh Alexander di sofa, ia menggenggam telapak tangan Prilly dengan erat, raut wajahnya tampak sangat khawatir.
“Alex! Ada apa?” tanya Diana seraya menghampiri Prilly yang terbaring di Sofa.
“Prilly pingsan, Mommy, a-aku....” Alexander justru terbata-bata.
“Apa yang ****** itu lakukan pada Prilly?” tanya Diana sambil memeriksa tubuh Prilly, mengecek suhu tubuh Prilly, ia juga mendapati sebelah pipi Prilly yang tampak merah bergambar jari, dada Diana tampak terguncang.
“Kau tidak melindungi Prilly? Alex! Kenapa kau benar-benar sangat bodoh!” Umpat Diana pada putranya.
“Kejadiannya sangat cepat Mommy, aku juga tidak menduga." Alexander tidak membela dirinya, faktanya memang demikian.
“Kau sudah memanggil dokter keluarga kita?” tanya Diana.
Alexander menggeleng lemah.
“Astaga! Alex, kau memang bodoh! di mana Harun?” Diana menggelengkan kepalanya, putranya benar-benar membuatnya emosi.
“Dia mengantarkan Jovita kembali,” kata Alexander.
“Cepat panggil dokter!” bentak Diana tidak sabar lagi.
***
Ketika Prilly membuka matanya yang pertama ia lihat adalah dinding kamar rumah sakit, sebelah tangannya tertancap jarum infus, dan sebelah tangannya di genggam oleh Alexander yang tertidur dengan posisi duduk di kursi, ia tahu pasti posisi Alexander sangat tidak nyaman dan ia merasa iba, tetapi ego Prilly segara menguasai pikirannya, pria yang tidak pernah cukup dengan satu wanita, pria pembohong, pria baji**an yang tak pernah bisa berubah.
Dengan perlahan Prilly menarik tangannya, tetapi tetap saja membuat Alexander terbangun.
“Sayangku, kau bangun?” tanya Alexander dengan sangat lembut.
Prilly mengatupkan erat kedua bibirnya, tatapan matanya begitu sinis menatap Alexander.
Tak mempedulikan tatapan sinis istrinya, Alexander justru tersenyum lebar dan mengecup kening Prilly, “Mommy, aku mencintaimu,” bisik Alexander ditelinga Prilly.
Prilly membalikkan badannya menjadi membelakangi Alexander ia juga menarik selimut hingga menutup kepalanya.
“Kau mengatakan cinta kepada semua wanita, kau tidak cukup dengan satu wanita, kau benar-benar pria yang menjijikkan,” kata Prilly dari balik selimutnya.
Alexander justru naik ke atas ranjang pasien dan memeluk istrinya dari belakang. “Aku hanya mencintai satu wanita,” kata Alexander.
“Kau pandai membual,” ucap Prilly dengan nada sinis.
“Jika kau terus mengataiku kau akan merasa malu padaku nanti,” kata Alexander dengan nada ringan di sertai tawa kecil.
“Kau yang seharusnya malu padaku, oke aku mengerti kau dan Jovita masih suami istri, aku tidak berhak melarang itu, kau harus adil, tapi kau selalu berbohong. Alex, aku takut di masa depan kau tidak berubah, kau tidak cukup dengan satu wanita." Prilly masih saja mengomel.
“Siapa bilang aku tidak cukup dengan satu wanita?” tanya Alexander dengan nada menggoda.
“Jangan bermain-main, Alex!” terdengar suara Prilly mulai meninggi.
“Jangan memanggil suamimu seperti itu." Alexander sangat santai menghadapi kemarahan Prilly.
“Alex, sekali ini kau kumaafkan, tapi tidak untuk lain kali! Aku masih marah, menjauhlah dariku!” Bentak Prilly.
Alexander justru menyingkap selimut yang menutup kepala istrinya, mengecupi kepala Prilly penuh kasih sayang.
“Aku sangat puas denganmu, kukatakan sekali lagi. Aku hanya puas denganmu, sangat puas denganmu, aku tidak ingin wanita lain, aku hanya ingin dirimu,” ucap Alexander dengan nada sangat lembut.
“Kau sangat pandai membual Alex, aku lelah menghadapimu, mencintaimu ternyata sangat menyiksa batinku,” kali ini nada suara Prilly terdengar putus asa.
“Aku tidak pernah berbohong dan yang menyiksa adalah pikiran burukmu sendiri padaku,” kata Alexander dengan nada menggoda yang membuat Prilly semakin geram.
“Alex, apa harus seperti ini sepanjang hidupku?” tanya Prilly dengan nada kesal.
“Bodoh, sudah kukatakan, aku hanya menginginkanmu dan sangat puas denganmu. Kau satu-satunya wanita yang kucintai, apalagi sekarang ada calon bayi kita di rahimmu. Sayang, terima kasih.”
“Bayi?” tanya Prilly, ia membalikkan badannya. “Apa kau bilang?” tanya Prilly memastikan pendengarannya.
“Kau hamil sayangku, buah cinta kita,” jawab Alexander sambil memgecup kening Prilly.
“Aku hamil? Tapi, bukankah aku meminum pil?” kata Prilly heran.
“Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak Sayang,” jawab Alexander, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan.
“Iya anak kita, anak yang kita buat dengan cinta,” jawab Alexander, manik mata abu-abunya yang dingin tampak memancarkan sinar kegembiraan.
Prilly justru terisak. “Cinta yang menyakiti wanita lain?”
“Stttt... berhenti menyalahkan dirimu." Alexander mengelus kepala Prilly. “Apa ini sakit?” tanya Alexander sambil degan hati-hati ujung jemarinya menyentuh pipi Prilly yang memerah karena tamparan Jovita.
Prilly mengangguk, rasanya panas dan kebas, tapi ia tidak ambil pusing, di banding satu tamparan Jovita di pipi Prilly tentunya masih lebih menyakitkan perbuatannya pada Jovita, wanita itu pasti merasakan sakit berlipat-lipat, bahkan sakit di pipinya Prilly yakin, tidak ada 1% dibandingkan dengan rasa sakit di hati Jovita.
“Maafkan aku,” kata Alexander. “Aku tidak melindungimu dengan benar."
“Aku akan memaafkanmu dengan syarat kau mengakui semua kebohonganmu padaku.” Prilly justru mengambil kesempatan.
“Kebohongan apa?” tanya Alexander dengan nada bingung.
“Kau tidur dengan Jovita setelah malam itu? Kau tidak puas hanya denganku? Aku memberimu tiga babak Alex!” tanya Prilly dengan nada marah.
“Kau mengingat tiga babak itu? Hmmm?” Alexander ******* bibir istrinya yang terus mengatainya.
“Alex, lepaskan!” kata Prilly dengan suara tertahan karena bibirnya masih dirampok oleh suaminya.
“Kau sangat nakal, kau mengataiku, tidak bisakah kau percaya padaku sedikit saja?” tanya Alexander dengan nada geram. “Dengarkan aku baik-baik, terakhir aku menyentuhnya adalah satu malam sebelum kau mabuk di club dan aku menjemputmu,” Alexander menjelaskan.
“Bohong!” sela Prilly.
“Tidak ada yang aku tutupi, besok akan kubuktikan semua kata-kataku.” Alexander melirik arloji di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul sebelas malam.
“Apa kau lapar Sayang?” tanya Alexander, istrinya pingsan di sore hari dan di larikan ke rumah sakit karena kata dokter keluarga Johanson, keadaan Prilly sangat lemah, ia memerlukan perawatan khusus. Sekarang Alexander juga sangat lapar, ia belum mengisi perutnya sejak sore.
“Kenapa tidak malam ini saja?” protes Prilly, ia menginginkan jawaban dari rasa penasarannya.
“Kau sangat tidak penyabar, ya?” Alexander gemas pada istrinya, ia bangkit dari ranjang dan menuangkan segelas air, membantu istrinya duduk lalu memberikan istrinya minum, kemudian ia duduk di tepi ranjang pasien.
Prilly mengatupkan bibirnya, ia merasa hampir mati penasaran.
(sama kaya readers juga, hahaha)
“Besok setelah pemeriksaan kandunganmu oleh dokter Obgyn, aku akan jelaskan semuanya,” kata Alexander dengan nada meyakinkan.
Prilly menatap Alexander dengan tatapan kesal.
“Bersabar dan percayalah padaku, sekali ini saja, setelah itu curigai aku seumur hidupmu jika kau sanggup menyiksa dirimu sendiri,” kata Alexander dengan nada pasrah.
“Kau sangat kejam!” protes Prilly, siapa yang sudi hidup dalam kecurigaan seumur hidup? Omong kosong.
“Bukankah itu maumu?” goda Alexander penuh kemenangan.
“Omong kosong!” Prilly tidak sudi mengakuinya.
“Baiklah, jika tidak mau maka percayai aku, aku akan menjaga kepercayaanmu bahkan jika aku harus tidur di atas tumpukan salju sekalipun akan kulakukan semua untukmu,” ucap Alexander seraya menggenggam jemari Prilly dan mengecup punggung tangannya.
“Kau bermulut manis sekarang, bisakah ini di lepas?” pinta Prilly pada satu tangannya yang ditancapi jarum infus.
“Tidak, dokter mengatakan kau sangat lemah,” jawab Alexander tegas.
Prilly mengatupkan bibirnya kembali, ia benci rumah sakit, jarum infus dan bau desinfektan.
“Ayolah, jangan membuat suamimu merasakan dilema, apa kau ingin makan sesuatu?” Alexander terus membujuk istrinya untuk makan, meski sebenarnya dirinyalah yang kelaparan.
Prilly tampak berpikir sebentar.
“Aku ingin makan hot pot,” katanya.
“Hot pot?”
“Hot pot seperti di restoran ayah Linlin,” rengek Prilly.
“Sayang, apa kau sadar ini jam berapa?” Alexander memastikan.
“Kau menanyaiku dan aku hanya menjawab apa yang ada di pikiranku,” jawab Prilly enggan disalahkan.
“Baiklah, nyonya Johanson, semua akan tersaji dalam satu jam,” jawab Alexander sambil mengernyit, rupanya ia telah salah bicara.
Alexander memanggil Harun melalau ponselnya. “Bagaimanapun caranya kau harus mendapatkan restoran China dan mereka harus bisa menyajikan semua yang diinginkan istriku saat ini juga ke rumah sakit, istri dan calon anakku menginginkan Hot pot, jika kau tidak bisa mendapatkannya, kau akan kukirim ke Zimbabwe besok pagi.”
PANJANG BANGET INI PARTNYA AUTHOR MAU CEPET-CEPET CLOSE TARGET 😆😆
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤