
LONDON.
Image source Google.
Prilly dan Alexander merebahkan tubuh mereka dengan posisi tengkurap dengan kedua siku sebagai penopang tubuh mereka, keduanya menatap langit London dari kejauhan yang di hiasi kembang api, malam itu adalah malam pergantian tahun baru, tahun baru yang indah setelah tiga tahun yaang suram bagi Prilly, setelah makan malam bersama di mansion orang tua Alexander mereka kembali ke tempat tinggal mereka sementara anak-anak tetap berada di mansion orang tua Alexander, Diana selalu memberikan ruang untuk Prilly dan Alexander untuk menikmati waktu mereka berdua meskipun sebenarnya bagi pasangan Alexander dan Prilly kehadiran anak-anak tidak menjadi mengganggu waktu mereka untuk bermesraan.
“Kau belum memutuskan ke mana kita akan berbulan madu sayang,” kata Alexander sambil tangannya membelai rambut Prilly.
“Aku rasa tidak perlu.”
“Kita belum pernah bepergian berdua,” kata Alexander.
“New Yorkk dan Bercelona, kita pernah bepergian bersama,” protes Prilly.
“Itu berbeda, aku ingin kita berbulan madu.”
“Bagaimana jika kita tunda? Aku ingin berbulan madu nanti saat rahimku telah siap mengandung kembali,” kata Prilly.
“Jadi, kau ingin menambah lagi?”
“Tentu saja, William, kita buat, maksudku--” Prilly menelan ludahnya, William yang di buat tanpa cinta darinya.
“Kita akan membesarkan Willy dengan cinta kita berdua, dia akan menjadi pria yang luar biasa.”
Prilly menggeser tubuhnya, mempersempit jarak antara tubuhnya dan Alexander, menyandarkan kepalanya di lengan suaminya dan dengan lembut Alexander mengecup pucuk kepala Prilly.
“Aku ingin seorang putri,” kata Alexander.
“Bagaimana jika dia adalah anak laki-laki?”
“Itu juga tidak masalah, apa saja, yang terpenting dia sehat dan sempurna.”
“Hubby....” Prilly mengubah posisinya menjadi terlentang, sementara Alexander memindah sebelah tangannya melingkar di atas perut Prilly.
“Ada apa?”
“Aku sangat bahagia.” Prilly mengungkapkan perasaannya yang nyaris meledak-ledak di dalam dadanya, sangat berbeda, jika enam tahun yang lalu Mike melamarnya di malam tahun baru, kali ini ia bersama Alexander, rasanya jelas berbeda.
Alexander mengecup kening Prilly, kemudian ia mengubah kembali posisi tubuhnya menghadap Prilly dan memeluk tubuh istrinya sepenuhnya, melewati malam tahun baru pertama untuk mereka, malam tahun baru yang akan ia lalui bersama prilly di seluruh sisa hidupnya kelak.
Tanpa terasa mereka telah melalui kehidupan rumah tangga yang manis selama empat bulan, mereka juga telah kembali dari bulan madu mereka di Lombok, Indonesia.
Selebihnya mereka menjalani kehidupan normal seperti halnya keluarga lain, Alexander pergi bekerja di pagi hari dan kembali pada sore hari, terkadang mereka berdua menghadiri pesta perjamuan dan terkadang juga Prilly mengikuti kegiatan amal yang di lakukan oleh Diana mertuanya.
Siang itu Prilly dan Linlin pergi berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan, tentu saja Harun berada tak jauh dari mereka, musim panas akan segera tiba, mereka harus menyiapkan pakaian yaang nyaman untuk menyambut musim panas, anak-anak akan banyak bermain di luar ruangan dan tentunya pergi mengunjungi taman hiburan. Diana mertua Prilly gemar sekali mengundang wartawan menyorot kebahagiaan rumah tangga mereka, Prilly terkadang merasa sedikit tidak nyaman karena ia tidak bisa lagi berpenampilan seadanya.
Mereka memasuki counter yang menjual pakaian khusus untuk bayi karena Linlin ternyata sedang mengandung calon anak kedua dan usia kandungannya telah memasuki enam bulan, setelah kalap mata dan membeli apa pun yang di anggap lucu keduanya menuju tempat pembayaran.
“Jadi kau sedang menggandung?” Nada suara sinis itu membuat Prilly menoleh ke arah sumber suara.
Jovita ternyata berdiri tak jauh dari tempat Prilly dan Linlin berada.
“Bagus sekali, jika usia kandunganmu lebih dulu dari pada kandunganku, kupastikan itu anak haram kau dan mantan suamiku,” kata Jovita dengan suara yang sengaja di nyaringkan.
“Jovita, jaga bicaramu.” Linlin membuka suaranya.
“Kau tidak perlu ikut campur, ini urusanku dengan wanita yang berpura-pura baik tapi merebut suamiku,” ucap Jovita dengan nada dingin.
“Tidak ada yang merebut dan di rebut, Alexander menentukan pilihannya sendiri,” kata Linlin tak kalah sinis.
Prilly masih diam, ia telah menarik tangan Linlin memberikan kode agar Linlin tidak terpancing emosi namun kakak iparnya tidak menggubris.
“Kukira ia akan setia pada jasad suaminya yang belum di temukan, nyatanya ia menusuk kami dari belakang, kami sangat tulus membantu menjaga anak-anaknya, tapi seperti ini balasanmu Prilly.” Jovita rupanya kehilangan akal sehatnya, kehilangan suami di saat ia dalam keadaan hamil rupanya membuat wanita itu tidak dapat mengontrol amarahnya.
“Jovita, hentikan, ini tempat umum.” Prilly membuka suaranya.
“Memangnya kenapa kalau tempat umum? Kau malu? Kau pasti khawatir citramu sebagai wanita baik-baik akan hancur ya? Kau hanya peduli pada dirimu, kau sangat takut ya citramu sebagai wanita terhormat akan runtun?” cerca Jovita.
“Jovita ayo kita mencari tempat dan berbicara baik-baik.” Prilly mencoba berbicara dengan nada yang sangat rendah.
“Tidak perlu ada yang di bicarakan lagi,” jawab Jovita dengan nada ketus.
“Baiklah. Memang tidak ada yang harus di bicarakan lagi, semua telah jelas dan selesai.” Prilly menjawab dengan nada sopan.
“Selamat atas pernikahan dan selamat atas kehamilanmu,” kata Jovita masih dengan sinis.
“Terima kasih,” jawab Prilly.
Jovita tampak menghela nafasnya dan mengembuskannya dengan kasar, ia membalikkan badannya dan berkata, “dasar ******.”
“Jovita jaga ucapanmu!” Linlin berucap dengan nada tinggi.
“Kenapa kau yang marah? Aku tidak mengataimu, aku mengatai adikmu yang ******.” Sinis Jovita sambil melangkahkan kakinya.
Linlin melangkah dengan langkah kaki lebar dan segera berdiri di depan Jovita. “Prilly bukan ******, rupanya kau tidak ingat dari mana asal usulmu? Apa harus aku yang mengatakan agar semua orang tahu?” Linlin membesarkan bola matanya menatap galak ke arah Jovita, tentu saja ia tidak terima adik iparnya di hina.
“Linlin, hentikan, biarkan saja Jovita mengatakan apa pun yang ingin ia katakan,” Prilly mendekati Linlin dan Jovita yang bersitegang dan menarik pergelangan tangan Linlin.
“Prilly kau di injak-injak, kau tidak bisa diam saja, dia mengataimu tapi ia tidak sadar dari mana ia berasal!” Linlin tampak sangat kesal, alisnya berkerut dalam.
“Jovita, apa kau masih ingin mengataiku?” Prilly menatap Jovita dengan tatapan dingin.
“Kau memang ****** yang terhormat ya,” sinis Jovita.
“Jovita, jika kau masih ingin melanjutkan, sebelumnya aku minta maaf kepadamu, aku bisa saja menggunakan kekuatan keluargaku untuk membuatmu tidak bisa lagi menginjakkan kaki di tempat ini,” kata Prilly dengan nada datar, tidak ada sedikit pun nadanya terdengar adanya emosi.
“Kau sangat sombong ya menyandang nama Johanson,” sinis Jovita lagi.
“Hanya untuk mengusirmu dari sini aku sudah cukup menggunakan nama besar ayahku.” Itu adalah kalimat tersombong yang pernah Prilly ucapkan sepanjang hidupnya, ia tidak pernah menggunakan nama besar dan kekayaan orang tuanya untuk memukul siapa pun. Ini adalah pertama kalinya karena kesabarannya menipis, ia khawatir Jovita melewati batas dan mengungkit aib Alexander di masa lalu yang bergonta-ganti ****** di tengah kerumunan orang yang menyaksikan pertengkaran mereka, Alexander mampu memblokir berita di dunia maya, namun mulut manusia di dunia nyata tidak akan bisa di bungkam.
Bagaimanapun juga, ia pernah menyimpan aib Alexander hanya berdua dengan kakaknya Anthony karena Alexander adalah ayah dari William putra mereka pada saat itu, tetapi karena kesalahan Alexander sendiri ia terpaksa membukanya di depan keluarganya, cukup di batas itu, orang di luar tidak boleh mengetahui sisi kelam suaminya.
TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚
VOTE POIN JIKA KALIAN SAYSNG AUTHOR ❤❤❤❤❤
TERIMA JASIH DAN SELAMAT SORE ❤❤❤❤❤