Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Richmond park



Richmond Park, London.


Pukul tiga sore, keluarga Smith dan keluarga Johanson mengunjungi Richamon park, William, Leonel dan Grace ketiga anak kecil itu mengayuh sepeda mereka dengan lambat. Alexander, Richard dan Federick, dengan sabar mengayuh sepedanya di belakang ketiga anak-anak tersebut, sedangkan Prilly ia bersama Diana dan Sandra mengayuh sepeda mereka meninggalkan rombongan para pria.


Richmond park merupakan salah satu dari Royal Park di London ini merupakan rumah dari 630 rusa. Dengan rute sepeda sepanjang 12km yang mengitari taman, taman ini ideal untuk para pengunjung yang senang bersepeda. Tidak perlu repot-repot membawa sepeda sendiri, karena pengunjung bisa menyewanya di tempat penyewaan sepeda yang terletak di dekat Roehampton Gate.



Karena itu adalah pertengahan musim gugur, pepohonan di area Richmond park tampak mulai menguning dan sebagian telah terlihat kemerahan, Grace adalah satu satunya yang paling Excited melihat rusa-rusa yang berkeliaran di area taman.


“Daddy, bisakah aku membawa satu rusa ini pulang?” tanya Grace pada Alexander. “Aku akan berbagi wortel dengannya,” katanya dengan nada bersungguh-sungguh ketika mereka melewati sekawakan rusa yang sedang bergerombol.


“Tidak Sayang, itu tidak di izinkan,” jawab Alexander dengan sabar.


“Mengapa?”


“Ia akan kesepian jika tinggal sendirian,” jawab Alexander.


“Kalau begitu bawa dua untukku agar tidak kesepian.” Grace benar-benar menginginkan rusa itu rupanya.


“Itu juga tidak di izinkan, mereka harus tinggal di tempat yang seharusnya,” jawab Alexander mencoba memberitahu Grace agar anak gadisnya mengerti.


“Kalau begitu bisakah aku menungganginya?”


“Grace kau ini seorang gadis, mana mungkin kau menunggang rusa, kau sebaiknya menunggang kuda poni.” Itu suara Leonel yang sudah mulai kesal karena saudara kembarnya yang terus saja membuat permintaan konyol sejak tadi.


“Itu juga tidak di izinkan, berbahaya,” jawab Alexander. “Lihat rusa itu, mereka sangat bahagia berkumpul di sini bersama keluarganya.” Alexander menunjuk pada sekawan rusa yang memang tampak bahagia.


“Seperti kita?” tanya Grace lagi.


“Iya, seperti kita,” jawab Alexander, bibirnya menyunggingkan senyum lebar.


“Mommy, aku lelah,” keluh William pada ibunya yang berada jauh dari Grace dan Alexander, Prilly memang sejak tiba di taman selalu menjaga jarak dari Alexander, ia terus mengikuti Diana dan Sandra. Tapi, ia merasa tidak nyaman membiarkan ketiga anaknya di urus Alexander sendirian meski suaminya tidak keberatan. Jadi, ia memutuskan untuk bergabung bersama ketiga anaknya karena Federick dan Richard meninggalkan Alexander, kedua pria bersahabat itu memisahkan diri mengayuh sepeda mereka dengan riang dan tampak gembira.


Suasana hangat dengan hanya berlibur di taman bersama seluruh keluarga, entah kapan terakhir kali mereka melakukan liburan kecil seperti ini, kesibukan masing-masing membuat tidak ada waktu bahkan hanya untuk bersantai di taman yang masih berada di tengah kota yang mereka tinggali.


“Apa kau haus?” tanya Prilly pada William.


William hanya menganggukkan kepalanya, Prilly menyodorkan sebotol air mineral pada William. “Minumlah Sayang, ini akan mengatasi lelahmu.”


Sementara seorang paparazi yang telah di tugaskan oleh Diana untuk meliput kedekatan mereka terus mengambil berbagai gambar kehangatan Prilly dan Alexander bersama ketiga anak-anak itu hingga keluarga itu memutuskan untuk mengakhiri liburan kecil mereka dan kembali ke tempat tinggal orang tua Alexander di lanjutkan dengan makan malam yang hangat.



Besoknya di London hedaline berita pagi di gemparkan dengan kemunculan Alexander Johanson bersama mantan istrinya di Richamond Park, tampak di dalam foto Prilly sedang mengulurkan sebotol air mineral kepada William, sementara Alexander sedang duduk berjongkok di samping Grace yang berdiri bersama Leonel melihat rusa, tangan Alexander tampak menunjuk ke arah kumpulan rusa, mereka terlihat sangat kompak dan harmonis.


Jovita menggenggam erat ponsel di tangannya, berita online pagi itu membuat harinya begitu suram, suaminya bahkan tidak menjawab panggilannya, suaminya bahkan tidak pernah menghubunginya dan tampil di depan umum bersama mantan istrinya, sejak kapan suaminya berubah menjadi terbuka seperti itu? Bukankah selama mereka menikah Alexander tidak mengizinkan kehidupan rumah tangga mereka diketahui oleh khalayak umum, pria itu bahkan memblokir semua berita tentang pernikahannya dengan Jovita dulu.


Memikirkan hal itu membuat batinnya di dera rasa curiga, ia menduga ada sesuatu antara Alexander dan Prilly.


Jika benar itu terjadi ia terjadi Jovita yakin ia tidak akan pernah menang melawan Prilly, dari segi mana pun. Prilly adalah cinta pertama Alexander, Prilly di sayangi keluarga Alexander, Prilly adalah ibu dari satu-satunya putra Alexander.


Jovita memejamkan matanya mencoba menepis semua pikiran buruknya, Prilly tidak mungkin berbuat seperti itu, Prilly tidak mungkin bersama Alexander kembali, Prilly yang ia tahu selalu menjaga jarak dari mantan suaminya, Prilly tidak mungkin mencuri Alexander.


Baru saja Jovita memejamkan matanya, ponselnya berdering, ia dengan segera meraih ponselnya dan berharap itu suaminya yang memanggil, namun nyatanya jauh panggang dari api, karena yang memanggil adalah nomor tidak di kenal, setelah mengobrol sebentar Jovita memutuskan untuk menemui orang yang memanggilnya melalui ponsel di sebuah restoran.


“Jadi Jovita, kau bantu aku dapatkan Prilly maka aku akan membantumu,” kata Charles, pria yang memanggil Jovita melalaui panggilan telefon dan sekarang mereka berdua duduk berhadap-hadapan di sebuah restoran.


“Maaf, jika itu permintaanmu aku tidak bisa membantumu, aku tidak ingin mengurusi yang bukan menjadi urusanku.” Jovita menjawab dengan nada sopan.


“Suamimu bahkan menghajarku dan hendak membunuhku karena aku memeluk Prilly, seminggu yang lalu aku bertemu Prilly secara tidak sengaja di club dan suamimu menyusul mantan ustrinya hanya untuk membawa Prilly kembali, apa kau masih menganggap rumah tangga kalian baik-baik saja?” tanya Charles dengan nada mengejek.


“Suamiku hanya menjaganya karena menganggap Prilly adalah saudaranya,” jawab Jovita dengan nada setenang mungkin, ia sekuat tenaga mencoba untuk tidak termakan hasutan pria di depannya.


“Oh tuhan aku tidak menyangka kau sangat naif Jovita,” ejek Charles dengan nada sangat sinis.


“Maaf tuan Charles, aku mempercayai Prilly,” jawab Jovita.


“Ya kau bisa mempercayai Prilly, tapi aku yakin kau tidak bisa mempercayai suamimu,” ejek Charles lagi.


“Logika macam apa itu? Aku lebih tahu suamiku di bandingkan denganmu,” sanggah Jovita dengan nada tidak senang.


‘Tidak, aku tidak boleh mencurigai mereka,’ batin Jovita.


“Silakan saja kau tak mendengarkan ucapanku, tapi yakinlah jika kau tak menggenggam erat suamimu itu, ia akan mengejar Prilly, sebelum prilly ada yang memiliki ia tidak akan mundur, dan aku, kau tahu status sosialku, aku pantas untuk Prilly, jika kau berubah pikiran kau bisa menghubungiku kelak.”


Charles bangkit dari duduknya, pria itu meninggalkan Jovita yang terpaku dengan pikiran yang melanglang buana, bagaimanapun Jovita hanya wanita biasa, ia tidak bisa mengabaikan kata-kata Charles begitu saja, semua yang di ucapkan Charles mendengung di otaknya, menguasai batinnya dan semakin mengganggu konsentrasinya.


Perlahan jemarinya mengetik di atas layar ponselnya, mungkin ia harus bertemu Prilly untuk sedikit menyelidiki hal itu, ia tidak mungkin menyelidiki Alexander, suaminya itu bahkan telah menghindarinya, hanya ada satu cara yaitu mendekati Prilly.


TAP JEMPOL KALIAN 🤗🤗🤗🤗