Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Sandiwara



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS


Paginya ketika Mike, Helena dan Sidney sarapan suasana berubah menjadi sangat canggung. Tidak ada percakapan antara Mike dan Helena hanya Sidney yang sesekali bertanya kepada Helena ataupun Mike.


Suasana canggung itu terus menyelimuti keduanya hingga waktu bergulir beberapa hari. Helena terus saja menghindar dari Mike, begitu juga Mike, ia terus saja menghindar dari Helena bahkan mereka enggan bertatap mata secara langsung.


Malam itu Sidney masuk ke ruang kerja ayahnya, gadis mungil itu memegang dua buah boneka Teddy bear pemberian Prilly ibu kandungnya.


“Dad, apa kau bertengkar dengan Helena?” tanya Sidney hati-hati sambil duduk di kursi yang berada di depan Mike.


Mike menatap mata Hazel milik Sidney. “Tidak, kami tidak bertengkar,” jawabnya berbohong.


Sidney tampak mengawasi wajah ayahnya dengan cermat kemudian ia berucap, “You’re not a good liar, Dad.”


*Kau bukan pembohong yang baik, Dad.


“Aku mengatakan yang sesungguhnya,” ucap Mike mencoba meyakinkan putrinya yang menggemaskan.


“Aku melihat Helena menangis,” kata Sidney cepat.


Mike masih mempertahankan kebohongan yang ia sisipkan di balik ketenangannya. Ia berdehem. “Benarkah? Apa kau bertanya kenapa dia menangis?”


“I’m not. It's none my bussines at all,” jawab Sidney dengan nada acuh.


*Aku tidak, itu sama sekali bukan urusanku.


“Baiklah,” jawab Mike. Ada sedikit kecewa karena ia tidak berhasil menyusupi relung hatinya karena ia tidak berhasil mengorek keterangan apa pun dari Sidney. Diam-diam Mike melirik Sidney yang sedang memainkan bonekanya, bibirnya sedikit bergerak-gerak seolah sedang memerankan kedua bonekanya yang bercakap-cakap.


“Sidney, apa kau benar-benar ingin memiliki seorang adik?”


“Aku telah mengatakannya berulang kali, dad,” jawab Sidney tanpa memalingkan wajahnya. Ia masih fokus kepada kedua boneka di tangannya.


Sudut bibir Mike terangkat.


“Apakah urusan orang dewasa itu rumit?” tanya Sidney tiba-tiba.


“Sangat rumit,” jawab Mike.


Serumit hati wanita.


“Serumit hubunganmu dan Helena?” Pertanyaan Sidney lebih mirip tuduhan.


Ya Tuhan, Mike benar-benar merasa sedang menghadapi Prilly di masa lalu. Bukan hanya wajahnya, rupanya tingkat keingintahuannya juga setara dengan ibu kandungnya. Ada perasaan menggelitik di dalam benak Mike, ia mengira putrinya juga akan ikut campur dalam urusan percintaannya dengan Helena.


“Kenapa kau tidak memanggil Helena dengan panggilan mommy?”


Mike mulai menjalankan rencananya untuk menyeret Sidney terlibat dalam rencananya.


Sidney mengalihkan pandangannya, menatap wajah ayahnya. “Kau dan Helena tidak menyuruhku,” katanya.


“Bagaimana jika aku menyuruhmu? Mulai saat ini kau harus memanggilnya mommy.” Mike menaikkan kedua alisnya.


“Kau ingin aku memanggil Helena mommy?”


Mike menengadahkan kedua tangannya. “Itu hanya jika kau bersedia,” katanya.


“Baiklah, aku akan memanggilnya mommy. Tapi, kau harus ceritakan kepadaku apa kalian bertengkar?”


Di dalam hatinya Mike tertawa, tebakannya tidak salah.


Ini benar-benar Prilly.


“Apa yang kau lakukan jika benar kami bertengkar?” Mike mencoba mengorek lebih dalam apa yang akan putrinya lakukan. Seperti seorang ayah yang sedang menguji coba seberapa kuat genetik ibunya ada di dalam tubuh anaknya.


“Aku akan berusaha mencarikan kalian jalan keluar untuk berdamai,” ucap Sidney, terdengar bijaksana. Terdengar matang dan dewasa.


Bibir Mike mengulas senyum. “Baiklah, sebenarnya aku ingin ingin menikahinya tetapi dia juga menolakku,” katanya.


“Kenapa dia menolakmu? Bukankah pernikahan itu indah? Helena bisa memakai gaun putih dan membawa seikat bunga, aku akan menjadi bridesmaidnya,” ucap Sidney tanpa berpikir panjang.


“Kau ini menjadi bridesmaid?”


“Baiklah, kalau begitu Bagaimana jika kita bekerja sama?” Mike yakin rencananya pasti akan berhasil. Ia memberikan kode kepada Sidney untuk mendekat bermaksud hendak membisikkan sesuatu di telinga putrinya.


“Kau tidak perlu berbisik kita hanya berdua di sini,” protes Sidney.


***


Sydney kembali dari sekolah sore itu, wajahnya tampak bercucuran air mata membuat Helena terkejut. “Sidney, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa temanmu menggertakmu?”


“Huaaa...” Sidney menyaringkan suara tangisnya sambil berlari ke kamarnya. Lalu duduk di kursi belajarnya dengan posisi tertelungkup di atas meja.


“Katakan siap nama temanmu, aku akan menemui orang tuanya,” ucap Helena dengan nada tidak jengkel. Ia berdiri di samping meja belajar Sidney.


Sidney langsung menghentikan tangisnya, ia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Helena. “Jangan lakukan, orang tuanya akan memukuli Max jika tahu Max menggertakku,” katanya dengan nada panik.


“Tapi, Max harus di beri pelajaran.” Suara Helena sedikit meninggi.


Bagiamanapun juga meski Sidney bukan putrinya, ia tidak rela jika ada orang menggertak Sidney. Ia adalah orang yang merawat Sidney dengan kasih sayang sejak anak itu membuka mata di dunia ini.


“Max hanya mengejekku, ia hanya mengatakan aku tidak memiliki ibu,” ucap Sidney lirih.


Max maafkan aku.


“Hah? Apa kau bilang? tanya Helena dengan nada tidak percaya. Setahu Helena Max dan Sidney, mereka sangat akrab dan tidak pernah saling menggertak. Tempat tinggal mereka juga berdekatan.


“Ia hanya mengatakan kau bukan Ibuku dan aku, marah.” Sidney memelankan suaranya. “Oke, mungkin aku yang salah. Max hanya bercanda.”


Helena menghela napasnya. “Dengar Sidney, kau memiliki dua Mommy. Kau tidak perlu khawatir. Aku adalah Mommymu dan Prilly juga Mommymu,” ucapnya sambil membelai rambut Sidney yang berwana cokelat.


Andai kau putri kandungku, Sidney.


“Jadi mulai sekarang bukankah lebih baik aku memanggilmu Mommy agar Max berhenti mengejekku?” tanya Sidney dengan ekspresi penuh harap.


Helena tersenyum manis. Di masa lalu ia keberatan di panggil mommy oleh Sidney tetapi sekarang ia justru merasa perasaannya menghangat mendengar panggilan yang di ucapkan oleh Sidney. “Lakukan lakukanlah apa yang kau mau, kau boleh memanggilku mommy, kau juga boleh memanggilku Helena, aoa yang nyaman menurutmu maka lakukanlah,” jawabnya.


Tatapan mata Sidney tampak berbinar. “Baiklah aku akan memanggil Mommy.”


Helena mengangguk. “Kau memang putriku yang hebat, biarkan aku memelukmu sayang,” kata Helena sambil memeluk tubuh kecil Sidney.


Sidney menyaringnya diam-diam di dalam hatinya ia menghapus air mata buayanya sambil memeluk Helena. “Helena, maksudku Mommy. Mom, kenapa kalian tidak memiliki foto pernikahan?”


“F-foto pernikahan?” Helena tergagap. Ia tidak menyangka Sidney akan menanyakan hal ini.


“Iya, foto pernikahan,” ulang Sidney sambil menjauhkan tubuhnya dari pelukan Helena.


“Sidney, aku dan Daddy belum menikah,” kata Helena, berharap Sidney mengerti dengan penjelasannya yang sederhana.


“Kenapa tidak menikah saja?”


“Sayang, bagaimana jika kau mengganti pakaianmu kemudian kita bermain di halaman belakang?”


TO BE CONTINUED.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️


TERIMA KASIH ❤️


SALAM MANIS ❤


🍒🍒🍒🍒🍒


JANGAN LUPA BACA KARYA TERBARUKU. CERITANYA BERBEDA.


👇👇👇👇👇👇👇


ARISAN BERONDONG


☝️☝️☝️☝️☝️☝️☝️☝️☝️