Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Aku benci dia



Prilly mendarat di Heathrow air port London pukul 11.35am, sebuah Maybach berwarna hitam telah menunggunya, sopir yang mengemudikan mobil itu mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju Mansion orang tua Alexander.


Sesampainya di kediaman orang tua Alexander, tampak Diana tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Prilly. “Sayang, bagaimana bulan madu kalian?” tanyanya langsung.


“Mommy mengetahui?” Prilly tiba-tiba menjadi salah tingkah.


“Tentu saja Mommy tahu, Alex menceritakan semua saat kesini mengantarkan anak-anak,” ujar Diana.


“Mommy, aku...."


“Terima kasih telah memaafkan Alex,” kata Diana. “Prilly, kau memang putriku." Wanita itu memeluk Prilly penuh suka cita.


Wajah Prilly menjadi merah merona.


“Ayo masuk, anak-anak masih di sekolah, oh iya alangkah lebih baik jika kau tinggal di sini saja Prilly, aku lebih mudah membantumu mengurus ketiga cucuku,” usul Diana.


“Terima kasih Mommy. Tapi, sepertinya aku lebih nyaman tinggal di tempat tinggal kami. Lagi pula, aku sudah memutuskan untuk mundur dari perusahaan, aku bisa fokus mengurus anak-anak,” jawab Prilly.


Diana dan Prilly berjalan beriringan hingga tiba di ruang makan, Prilly menarik kursi dan mendudukkan bokongnya.


“Seharusnya sejak dulu,” kata Diana juga menarik kursi di ruang makan dan mendudukkan bokongnya. “Masalah wanita itu kau tenang saja, cepat atau lambat, Alexander hanya menjadi milikmu,” ujar Diana.


Prilly tersipu kembali.


“Apa kau lapar?” tanya Diana.


“Mommy, aku ingin Mashed Potato buatanmu,” rengek Prilly, masih seperti dulu ia sangat menyukai Mashed Potato buatan Diana.


“Kau tidak berubah, oh astaga, kau masih Prilly kecilku yang dulu,” kekeh Diana. “Aku akan membuatkan untukmu, kau bisa tunggu di kamar Alexander.”


“Mommy, terima kasih,” ucap Prilly girang.


“Sebentar lagi anak-anak juga akan kembali dari sekolah mereka, istirahatlah sebelum mereka datang atau kau akan pusing dengan keributan mereka nanti,” kekeh Diana.


Prilly menuruti apa ujar ibu mertuanya ia menaiki tangga di tengah mansion itu dan berjalan menuju kamar milik Alexander ketika muda. Prilly mengitari ruangan itu, jemarinya menarik sebuah laci meja, mengambil sebuah album, itu adalah kumpulan foto masa kecilnya bersama Alexander, Anthony dan dirinya.


Prilly tertawa kecil, mereka bertiga tumbuh bersama, dulu ia sering tidur siang di kamar Alexander. Ia menghentikan kebiasaan itu saat ia mulai memasuki bangku sekolah menengah atas karena ia mulai sibuk dengan membantu ayahnya mengurus dokumen-dokumen perusahaan dan Alexander juga telah duduk mulai bekerja menangani perusahaan ayahnya.


Setelah puas membuka album foto-foto Prilly mengecek ponselnya, Alexander tidak ada mengiriminya pesan, maupun panggilan. Perasaan Prilly kembali menjadi kacau. Berbagai prasangka terus menghantui pikirannya, mungkin Alexander dan Jovita sedang bermesraan? mungkin Jovita dan Alexander sedang bercanda dan bercengkerama? dan prasangka lain yang menggelayuti pikirannya.


Prilly merebahkan tubuhnya, ia sangat kesal dengan prasangkanya sendiri yang terus saja menghantui pikirannya itu. Ia menutupi matanya menggunakan bantal dan kemudian ia memaksakan pikirannya untuk beristirahat, ia perlu merelakskan pikirannya.


Setelah William, Leonel dan Grace datang, Prilly juga telah selesai menyantap Mashed potato buatan mantan mertua yang kini menjadi mertuanya kembali, Prilly membawa ketiga anaknya kembali ke mansioinnya, tentu saja di kawal oleh Harun.


Paginya setelah mengantarkan ketiga anaknya pergi ke sekolah, Prilly di sambut seorang pria paruh baya di mansionnya, Pria itu adalah seorang arsitek yang di tunjuk oleh Alexander untuk mengurus calon tempat tinggal baru mereka yang baru saja di beli Alexander.


Prilly memilih dengan teliti seluruh desain, dari kamar utama, kamar anak-anak ruang tamu, dapur dan ruang lainnya. Hanya untuk memilih desain saja membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga hampir pukul tiga siang pemilihan interior baru saja selesai.


Prilly merebahkan tubuhnya di atas sofa di depan televisi sambil menggonta-ganti chanel televisinya, tidak ada yang menarik, ia kemudian meraih novel yang tergeletak di atas meja, Prilly mulai membaca novel yang ada di tangannya namun hati dan pikirannya seolah tetap tidak bisa sinkron, ia merasa merindukan Alexander, ia benar-benar ingin bertemu suaminya.


Ia merindukan kehangatan Alexander, ia ingin pria itu berada di sisinya, sekarang juga, Prilly dengan kesal melemparkan novel yang ia pegang ke arah sembarang, kemudian ia bangkit dan menuju kamarnya, mengganti pakaiannya dan memanggil Anne dengan ponselnya, “Anne apa kau masih di perusahaan?” tanya Prilly, “aku akan menjemputmu,” kata Prilly sambil menuruni anak tangga, ponselnya masih ia jepit di antara telinga dan bahunya sedangkan kedua tangannya tampak memasang anting di telinganya.


Baru saja Prilly membuka pintu utama, ia bertemu Alexander dan Jovita bersama ketigaa anaknya, rupanya bukan Harun yang menjemput mereka bertiga, buru-buru Prilly menyapa ketiga anaknya.


“Anak-anak, Mommy ada acara di luar, kalian patuhlan di ruamh bersama nanny kalian,” kata Prilly dengan nada sebiasa mungkin.


“Baik, Mommy,” sahut William.


“Mommy, kau akan makan malam bersama kami bukan?” tanya Grace.


“Tentu saja,” jawab Prilly. “Mommy hanya sebentar.”


“Hey Jovi, kak Alex, sampai jumpa,” kata Prilly sambil berlalu pergi.


“Prilly,” panggil Jovita.


“Ya, Jovita ada apa?”


“Bagaimana jika besok kita makan siang?”


Prilly tampak berpikir sebentar.


“Baik, tentukan saja tempatnya aku akan menyusulmu,” jawab Prilly sambil tersenyum manis.


“Baik sampai jumpa besok,” kata Jovita yang di angguki Prilly.


Prilly dengan kesal melajukan mobil sportnya, ia menepi di jalanan yang sepi, mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah kata di pesan singkat. “Bodoh!” lalu pesan itu di kirimkan pada Alexander dan kembali menginjak pedal gasnya menuju Glamour Enterprise.


“Hahaha...” Anne tertawa puas mendengar semua keluhan Prilly.


“Anne, aku bena-benar ingin mencekik pria itu, dia datang bersama istrinya dan ketiga anakku seperti keluarga bahagia, oh astaga, ia pikir itu lelucon? Kau tahu aku sangat geram sekarang!” Prilly terus saja mencerocos.


“Jadi kau datang menjemputku hanya untuk menceritakan itu?” tanya Anne.


“Tentu saja tidak,” sungut Prilly. “Aku benar-benar ingin mengajakmu minum kopi,” kata Prilly sambil menyeruput kopinya, “aku benar-benar jenuh hanya berdiam diri di rumah,” keluh Prilly.


“Kenapa tidak pergi ke rumah Linlin atau ke rumah mommymu?” tanya Anne.


Prilly terdiam, orang tuanya akan marah besar jika mereka tahu apa yang telah Prilly dan Alexander lakukan.


“Sudahlah, tidak perlu kau jadikan beban, suatu saat aku yakin jika ikatan cinta kalian memang benar-benar kuat kalian pasti akan menemukan jalan terbaik, aku yakin itu,” ujar Anne.


“Kau bisa menasihatiku, tapi kau sendiri tidak memiliki kisah cinta,” ejek Prilly.


Anne terkekeh, “aku bukan tidak memiliki, aku hanya enggan memulai cerita baru, aku lelah jika harus mencoba beradaptasi lagi dengan orang yang baru kukenal.”


“Jadi dengan kata lain kau memiliki trauma hingga enggan bercinta?” tanya Prilly.


“Omong kosong, aku tidak enggan bercinta!” Anne tertawa renyah.


Kedua wanita itu terus benrbincang dari hati ke hati hingga Harun muncul di depan mereka berdua, melihat siappa yang datang Prilly memutar kedua bola matanya, ia tentu saja kesal.


“Maaf Madam, sudah waktunya Anda kembali,” ujar Harun.


Prilly melirik arloji kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. “Harun katakan pada tuanmu yang menyebalkan itu, ini masih jam enam sore,” jawab Prilly acuh.


“Tuan mengatakan, Anda memiliki janji makan malam bersama anak-anak,” jawab Harun.


“Aku ingat, tenang saja. Oke?”


“Tuan meminta Anda kembali sekarang,” kata Harun tegas.


“Harun. Katakan pada Tuan bodohmu itu, aku benci dia!”


“Baik, Madam,” jawab Harun sambil mengernyit.


Anne terkekeh melihat pemandangan di depannya, sementara Prilly dengan wajah masam bamgkit dari duduknya, “Anne kau bawa mobilku,” katanya sambil meletakkan kunci mobil di atas meja. “Sampai jumpa, Anne.”


TAP TAP JEMPOL DONG 🙄🙄🙄😄😄😄😄


JANGAN BAPER JANGAN PLISH 😄😄😄