Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Jovita



Di tempat tinggal Jovita yang baru, pagi itu ia turun dari ranjangnya, memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, tubuhnya terasa remuk redam, kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ini adalah hari kedua ia menempati apartemen barunya, sudah satu minggu berlalu semenjak Alexander mengalami kegagalan proyeknya di New York namun pria itu tidak bereaksi apa-apa.


Jovita mengira Alexander akan menghubunginya dan membuat perhitungan, namun nyatanya mantan suaminya diam saja tidak mengatakan apa pun.


Jovita menyeringai puas, jika langkah awal membocorkan rahasia proyek perusahaan milik mantan suaminya gagal ia masih memiliki beberapa cara lagi agar hidup mantan suaminya dan Prilly kalang kabut. Dan untuk Wilona....


Wilona, wanita itu datang menawarkan kerja sama untuk menghancurkan Alexander, untuk sekarang ia belum tertarik, tetapi untuk ke depannya mungkin mantan artis itu akan berguna baginya.


Yang jelas untuk saat ini semua dokumen yang ia perlukan ada di tangannya, ia bisa menjual kepada Wilona jika mantan artis itu bersedia membayarnya dengan harga tinggi. Ia tidak ingin terburu-buru agar tidak tampak bodoh seperti seorang wanita yang menyatakan bahwa bumi ini berbentuk segi tiga.


Jovita meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku di dalam bath tube yang berisi air hangat, sudut bibirnya teersenyum pahit sambil meraba perutnya yang telah menonjol, ia berulang kali harus mengunjungi dokter kandungan karena kondisi kandungannya yang lemah dan rentan, ia bahkan nyaris kehilangan bayinya lagi ketika usia kandungannya menginjak delapan minggu, beruntungnya kini ia telah melewati tri semester utama yang mendebarkan meski dokter selalu mengingatkan untuk tidak terlalu lelah dan setress.


Seharusnya dunia ini adil, namun faktanya tidak ada keadilan di dalam hidup ini. Sejak ia di ceraikan Alexander ia merasa hidupnya menjadi kecil, semua teman-temannya seperti menjauhinya, keluarganya juga tampak meremehkannya, kini aia merasa ia seperti wanita tang terbuang.


Sungguh bodoh menurut Jovita, di dunia ini sepertinya hanya kedudukan yang di pandang oleh semua orang, semua seolah tidak ada artinya lagi ketika seseorang tidak memiliki kedudukan.


Setelah di rasa cukup Jovita keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya di balut handuk dan dadanya tampak menonjol semakin besar.


“Tubuhmu sangat menggoda, Jovita.” Seorang Pria yang masih meringkuk di atas ranjang berbicara dengan suara parau.


“Sebaiknya kau pulang,” ucap Jovita dengan nada jijik.


“Aku memiliki pertemuan pukul sepuluh,” ujar Pria itu dengan nada malas, ia bangkit dari peraduan dan menghampiri Jovita.


“Itu bukan urusanku,” gumam Jovita, ia memutar bola matanya dengan mslas.


“Urusanmu denganku memang hanya sebatas dokumen, kau telah menerima bayaran yang besar.” Pria itu menyingkirkan handuk yang melilit di tubuh Jovita.


“Dan kau akhir-akhir ini terlalu bebas memakai tubuhku,” kata Jovita, ia tidak menolak sentuhan pria itu.


“Kau menikmatinya, anggap saja itu bonus.”


“Cih,” Jovita berdecih. "Aku tidak butuh bonus."


“Jangan mengelak, kau sangat menginginkan belaian bukan?” Bibir Pria itu menelusuri leher jenjang Jovita.


“Aku wanita normal yang pernah berkeluarga,” erang Jovita.


Merebahkan tubuh Jovita di atas ranjang dan mulai menekannya di bawahnya, mengulang permainan panas seperti tadi malam dan seminggu belakangan ini.


“Ternyata wanita hamil sensasinya berbeda, ya?” geram pria itu sambil memompa pinggulnya berirama.


“Charles berhati hatilah, kau bisa menyakiti anakku,” erang Jovita.


“Aku sangat berhati-hati.”


Pria tang berada di atas tubuh Jovita adala Charles, satu bulan terakhir mereka sering bertemu, awalnya hanya membicarakan masalah proyek milik perusahaan Alexander namun berjalan dengan waktu, entah siappa yang memulai hubungan itu mulai berlanjut di atas ranjang.


Setelah Charles menuntaskan hasratnya dan pria itu 0ergindari tempat tinggal Jovita, wanita itu termangu seorang diri di tepi ranjang kamarnya, ia membuka ponselnya dan mengecek media sosial, di media sosial ia mendapat belas kasihan banyak orang dengan memunculkan kisah pilu perceraian dan kehamilannya, setiap orang memberikan dukungan kepadanya melalui komentar, entah tulus atau tidak, Jovita tidak peduli hal itu, lagi pula ternyata mendapt simpati publik tidak ada gunanya, tidak berpengaruh terhadap apa pun.


Jovita menggeser layar ponselnya dan melihat media sosial milik Prilly yang baru saja mengunggah foto dirinya dan Alexander yang begitu mesra, tampak sorot mata Alexander begitu dalam menatap wajah istrinya, tatapannya tampak memuja. Prilly pasti sengaja melakukan hal ini untuk membakar perasaan Jovita, perasaan benci di dada Jovita semakin menjadi-jadi, berkobar seakan menghanguskan akal sehatnya.


Jovita telah menduga hal ini pasti akan terjadi sejak awal Kematian Mike, entah kematian atau hilangnya Mike, yang jelas Alexander begitu peduli kepada anak-anak Prilly. Awalnya Jovita takut Alexander berbalik kembali mengejar mantan istrinya. Tetapi seiring berjalannya waktu yang Jovita amati prilly sangat hati-hati, ia juga selalu menjaga jarak dari Alexander, bahkan yang Jovita tahu Prilly selalu menghindari kontak mata langsung dengan Alexander.


Jovita yang semula sangsi dengan Alexander dan Prilly mulai menipis ketakutannya sendiri, membuang curiganya, ia selalu berusaha meyakini bahwa Prilly tidak mungkin menerima Alexander karena dosa Alexander di masa lalu yang cukup fatal.


Namun ternyata keyakinan Jovita bisa di patahkan dan keduanya mantan pasangan suami istri itu telah menikah kembali di belakang punggungnya. Ya, bagaimanapun Prilly wanita biasa seperti dirinya. Prilly akhirnya luluh dengan kebaikan dan kehangatan Alexander yang entah berapa lama mencoba mendekatinya, sama halnya Jovita, ia juga luluh di bawah tubuh Charles, ia sedang merasakan patah hati dan Charles datang menawarkan dirinya.


Jovita tersenyum masam, semuanya telah terjadi, tidak ada jalan untuk kembali.


Joka terjadi sesuatu yang buruk ia akan menjual seluruh saham miliknya di Singapura kemudian ia akan melarikan diri ke negara asing yang tidak terlalu maju, membesarkan anak yang kini ada di rahimnya.


Sementara di perusahaan milik Alexander, Prilly memegang kendali selama Alexander pergi ke New York untuk mengurus permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Danny telah kembali ke singapura dengan setumpuk misi yang di bebankan oleh Alexander kepadanya, sedangkan Harun terus berada di sisi Prilly.


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤