Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Jovita memahami



“Kau mabuk di siang hari dan mengemudikan mobil sendiri? Prilly apa yang ada dikepalamu?” cerca Alexander sambil menjatuhkan Prilly dengan sedikit kasar di atas ranjang di kamar Prilly.


“Alex, jangan ikut campur urusanku!” Desis Prilly sambil berusaha bangkit, tangannya meraih sebuah bantal dan melempar Alexander dengan bantal itu, tentu saja Alexander dengan sigap menghindari bantal yang melayang dan mengenai televisi yang tergantung di dinding kamar.


“Apa katamu? Bukan urusanku? Kau...!” Alexander mendadak emosi mendengar jawaban Prilly, apalagi tingkah Prilly yang begitu berani padanya tetapi buru-buru ia mengontrol emosinya.


“Kau memiliki tiga anak, kau harus gunakan logikamu, Prilly,” kata Alexander dengan nada yang melembut.


“Mereka baik-baik saja, aku merawat mereka dengan baik, aku tidak mengurangi waktuku bersama mereka,” setengah berteriak Prilly menjawab.


“Kau sekarang berubah Prilly, kau pandai menjawab,” desis Alexander.


“Pergi kau, jangan campuri urusanku!”


“Bagaimana jika kukatakan pada Veronica tentang kelakuanmu sekarang?”


“Coba saja jika kau berani! Tidak ada yang akan percaya padamu, Alex!” Prilly berdiri di atas ranjangnya sambil berkacak pinggang dan menatap galak pada Alexander.


Kehabisan kesabarannya, Alexander meraih paksa pergelangan tangan Prilly dan menggendong tubuh kecil Prilly dengan paksa ala bridal style dan membawa Prilly ke dalam kamar mandi, cacian dan makian Prilly serta amukan tangan Prilly tidak di pedulikannya, ia mendudukkan Prilly di bath tube dan mulai menyiram tubuh Prilly dengan guyuran air shower.


"Dinginkan kepalamu, kau sangat pembangkang sekarang," kata Alexander terdengar sangat geram.


Prilly sebenarnya tidak terlalu mabuk, ia masih sadar dengan semua yang ia katakan pada Alexander, ia memang tidak suka Alexander mencampuri urusannya. Setelah berpura-pura pasrah dengan guyuran air dari shower yang ada di tangan Alexander, Prilly menunggu Alexander lengah dan merebut shower ditangan mantan suaminya lalu menyemprotkan air ke arah Alexander hingga pria itu basah kuyup, kemudian ia membuang shower itu dengan kasar dan melompat keluar dari bath tube lalu berlari keluar dari kamar mandi sambil tertawa ternahak-bahak penuh kemenangan.


Prilly melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya lalu melangkah menuju ke dalam walk in closetnya, mengambil sepotong gaun rumahan lalu membungkus kepalanya dengan handuk kering.


Ia melangkah keluar dari kamarnya dengan seringai di bibirnya penuh kemenangan, Alexander pasti pulang ke rumahnya dengan pakaian basah kuyup dan akan dipastikan pria itu akan mengalami flu karena kedinginan.


***


Jovita yang melihat Alexander memasuki pent house mereka dengan pakaian basah kuyup mengerutkan keningnya. “Alex, apa yang terjadi? Pakaianmu? Bagaimana bisa?” tanya Jovita.


“Aku terkena semburan kran air yang rusak,” jawab Alexander berbohong, entah dorongan dari mana ia tiba-tiba mendapatkan ide untuk berbohong seperti itu pada Jovita istrinya.


“Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu.”


Alexander mengikuti apa kata istrinya, ia membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, setelah makan malam ia masuk ke dalam ruang kerjanya, membaca beberapa dokumen dan lewat tengah malam ia baru masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping Jovita untuk beristirahat.


Paginya setelah Alexander pergi bekerja, Jovita bersiap siap untuk pergi ke dokter kandungan secara diam-diam, sejak ia mengalami keguguran, Alexander melarang Jovita bekerja sebagai sekretarisnya lagi, meski kadang Jovita takut Alexander bermain ****** kembali, Jovita menepis pikiran negatifnya, ia berusaha mempercayai suaminya, karena masa lalu mereka sama saja, mereka bukan orang suci, namun mereka telah susah payah mencoba memperbaiki diri mereka, mereka bahkan menikah tanpa restu kedua orang tua Alexander, orang tua Alexander juga tidak mencoret pria itu dari perusahaan maupun silsilah keluarga, hanya saja memang mereka tidak pernah lagi berkomunikasi lagi sejauh ini.


Seperti dunia ini runtuh dan terbelah dua lalu menenggelamkan dirinya saat Jovita mendengar apa yang di katakan dokter kandungan, setelah melewati semua tahapan pemeriksaan rahimnya, dan di jelaskan oleh dokter kandungannya, Jovita akhirnya paham mengapa Alexander selalu mengatur pertemuan dengan dokter kandungan yang di tunjuknya, ia tidak di izinkan pergi ke dokter kandungan sendiri, dan semua jawaban dokter kandungan adalah sama, ia bisa hamil lagi, hanya saja memang belum terjadi pembuahan di sel telurnya hingga sejauh ini.


Pada faktanya, menurut penjelasan dokter kandungan yang ia datangi secara diam-diam, Jovita pada dasarnya memang sulit untuk mendapatkan keturunan, dan ia hanya memiliki 10% kesempatan untuk bisa kembali memiliki keturunan dengan kondisi rahimnya saat ini, bahkan menggunakan metode bayi tabung pun kemungkinannya akan sulit.


Alexander selalu membohonginya, Jovita memahami itu semua di lakukan Alexander agar ia tidak berkecil hati, Jovita terisak sambil melajukan mobilnya, terngiang ngiang apa kata dokter kandungan yang ia datangi tetapi ia tidak berkecil hati, ia akan mencoba lagi di beberapa dokter kandungan yang lain beberapa hari lagi, ia harus mendapatkan kepastiannya.


Sesampainya di tempat tinggalnya, Jovita merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lemah di atas tempat tidurnya, mika benar ia adalah wanita yang mandul mengapa Alexander tetap mempertahankan pernikahan mereka? Apa hanya karena William menyukai dirinya dan juga sebaliknya? Bagaimana kelak masa tuanya jika ia tidak memiliki keturunan? Bagaimana nanti ia harus menjelaskan pada orang tuanya jika mereka bertanya perihal cucu yang tak kunjung ia berikan? Bagaimana jika beberapa tahun ke depan Alexander berubah pikiran dan membuangnya karena menginginkan seorang anak lagi?


Pertanyaan pertanyaan itu menggelayuti pikirannya hingga kepalanya terasa berdenyut hebat, Jovita mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya ia tertidur. Ketika Jovita membuka matanya, hari telah mulai menunjukkan pukul tujuh malam, Jovita bergegas turun dari ranjangnya bermaksud mencari suaminya di ruang makan tetapi suaminya ternyata tidak ada di sana, dengan hati-hati Jovita membuka ruang kerja suaminya, ternyata ruangan itu juga kosong, bahkan lampu di ruangan itu tidak menyala.


Berulang kali Jovita mondar-mandir di ruang makan, ia memegangi ponselnya, ini adalah pertama kali dalam pernikahan mereka Alexander pulang terlambat dan tidak memberinya kabar, pria itu tak menjawab panggilannya dan tak membalas pesan singkat Jovita, hingga pukul sebelas malam akhirnya Jovita memutuskan untuk tidur ketimbang memikirkan suaminya dengan prasangka prasangka yang menyiksa batinnya.


Sementara di sebuah club yang dulu biasa di datangi oleh Alexander, Prilly sedang memeluk seorang pria di tengah bisingnya musik yang memekakkan telinga, sesekaali tubuhnya oleng karena terlalu mabuk dan pria itu dengan sigap menangkapnya dan membenarkan posisi tubuh Prilly agar kembali berdiri dengan normal.


TAP TAP JEMPOL KALIAN SISTA 😍😚😘😗😙