
Paginya Alexander pergi ke sebuah perusahaan yang tak lain adalah milik Harry, sesampainya di ruangan tempat hari bekerja Alexander dan hari mulai membicarakan beberapa masalah yang akan mereka tangani saatnya hari membantu Alexander
“Tim IT perusahaan kami akan membereskan semua kebocoran yang sudah terlanjur terjadi aku sudah berbicara dengannya dan menceritakan semua masalahmu,” kata Harry sambil sedikit menarik lengan jas yang di kenalannya ke arah atas.
“Apa aku bisa bertemu dengannya langsung?” Tatapan Alexander tampak begitu penuh harap.
“Tidak." Harry menjawab dengan cepat. “Ia tidak bisa ditemui.”
“Kenapa begitu?”
“Dia tidak suka berhubungan dengan orang lain, dia tidak suka berbicara dengan orang asing, ia juga tidak suka bekerja di luar ruangan dia sangat tersembunyi,” kata Harry, ekspresinya tampak sedikit gugup.
“Apa dia lebih baik daripada tim IT milik ku?” Alexander seolah meremehkan.
“Hei ini New York bung, bukan London,” Harry berbicara begitu percaya diri.
“Baiklah untuk kali ini aku percaya padamu, aku serahkan semuanya padamu kau memang pemilik Amerika ya,” kata Alexander sambil tertawa ringan.
Harry juga tertawa.
“Dan malam ini kita akan bertemu dengan pembeli yang membeli rancanganmu yang di curi oleh mantan istrimu itu,” kata Harry.
“Secepat itu?” Alexander sedikit terkejut.
“Ya secepat itu, kau tahu hanya dengan mendengar suaraku orang tidak akan pernah berkata tidak,” jawab Harry dengan nada sombong sambil mengangkat kedua alisnya.
“Aku rasa aku bisa pergi tanpamu, jika kau bersamaku aku terlihat bodoh, seperti anak sekolah dasar yang di antarkan ayahnya,” kata Alexander dengan nada bercanda.
“Aku tidak setua itu." Harry tidak terima.
Kedua sahabat itu tertawa ringan bersama.
“Kenapa kau tidak kembali ke dunia politik?” Alexander mengangkat gelas kopi yang berada di depannya.
“Ini adalah masa istirahat dari jabatanku untuk beberapa bulan,” jawab Harry.
“Aku rasa kau lebih cocok untuk menjadi pengusaha,” kata Alexander setelah menyesap kopinya.
“Kau salah, seorang politikus juga memerlukan uang selain dari panggung politik, panggung politik tidak menghasilkan banyak uang tetapi dengan politik aku bisa mendapatkan pengaruh untuk memperluas cengkeraman kekuasaanku, kau tahu sendiri tidak ada yang mudah untuk menjalankan bisnis apalagi dengan persaingan yang begitu ketat di sini,” kata Harry sambil mengangkat gelas kopinya.
“Tentu saja panggung politik tidak memberikan uang banyak hanya para koruptor yang mendapatkan uang begitu banyak dari panggung politik,” ucap Alexander.
Kedua sahabat itu melanjutkan perbincangan mengenai masalah bisnis dan diselingi dengan obrolan masalah politik, Harry adalah sahabat Alexander mereka mengenal sejak usia muda karena orang tua Alexander tentu saja mengenal orang tua Harry.
Akhirnya malam tiba Alexander didampingi dengan seorang CEO di perusahaannya yang berada di New York pergi ke sebuah resto bergaya Perancis untuk menemui pihak pembeli yang seharusnya menjadi milik Alexander, Harry tidak pergi bersama mereka karena ini adalah urusan bisnis murni milik Alexander, diskusi berlangsung cukup alot bahkan pihak pembeli seolah menuduh Alexander melakukan kecurangan tidak bisa menerima kekalahan, pria yang ditemuinya seolah-olah tatapan matanya menganggap Alexsander hanya iri dengan perusahaan milik ayah Charles.
LONDON.
Prilly menutup dokumen yang berada di tangannya iya tahu masalah perusahaan suaminya tak sesederhana yang Alexander katakan, ia tahu Jovita memiliki semua salinan perusahaan dokumen perusahaan yang berada di laptop yang ada di tempat tinggal Alexander dulu, ia tidak habis pikir kenapa suaminya tidak mau berbagi masalah seberat itu dengannya, Prilly sadar Alexander melakukan itu demi dirinya, ia ingin memikul semua beban yang menimpanya sendiri, menurut Prilly pria itu berjuang terlalu keras untuk Prilly dan anak-anaknya.
Bersama Anthony kakaknya, selama Alexander berada di New York Prilly menyelesaikan beberapa dokumen ia juga membenahi semua yang dianggapnya harus dibenahi kebocoran dokumen perusahaan sebisa mungkin, setidaknya untuk meminimalisir kebocoran lebih banyak lagi Prilly meminta bantuan ayah mertuanya Richard untuk meminta pendapat dan nasihat karena bagaimanapun perusahaan itu pernah dipegang Richard berpuluh-puluh tahun, tentu saja ayah mertuanya itu tahu seluk-beluknya.
Diana dan Richard sangat murka saat mendengar anak cabang perusahaan yang berada di Singapura telah diberikan Alexander kepada Jovita, apa lagi mendengar yang membocorkan rahasia perusahaan adalah Jovita Diana semakin menggebu-gebu murka kepada Jovita mantan menantu yang tidak pernah di akui, Prilly berusaha menenangkan Diana sebaik mungkin.
“Aku dengar ****** itu sedang hamil,” kata Diana saat ia mendengar berita bahwa Jovita hamil, ia mendengar berita dari pelayan di rumahnya yang gemar menggosip melalui media sosial karena berita itu sudah menjadi rahasia umum di London.
“Aku tidak Sudi mengakuinya sebagai cucuku,” gerutu Diana di depan Prilly beberapa hari yang lalu.
Prilly hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Diana saat itu.
Siang itu Prilly memutuskan untuk makan siang di luar bersama Anne tentu saja bersama Harun juga mereka menuju sebuah restoran tak jauh dari perusahaan.
“Kau mengajakku makan siang karena Alexander tidak ada di London,” kata Anne seolah merasa tidak terima karena Prilly hanya mencarinya saat Alexander tidak ada.
“Tidak juga,” elak Prilly meski sebenarnya ia memang merasa sangat kesepian karena suaminya tidak ada di London ia sangat merindukan Alexander.
“Kau tidak pernah mengajakku makan siang lagi sejak kau menikah,” keluh Anne.
“Aku sangat sibuk dengan desain perhiasan dan juga anak-anak,” elak Prilly lagi.
Ane tentu saja berdecih malas, “Ciih... kau membohongiku seolah aku tidak tahu siang hari anak-anak tidak ada di rumah mereka di sekolah.”
Prilly menyeringai merasa ia tidak bisa berbohong dengan benar di depan Anne sahabatnya sahabat yang sudah ia kenal sejak tujuh tahun.
“Kau melupakanku setelah menikah dengan Alexander, sahabat macam apa kau ini?” keluhan Anne dengan nada bercanda, bagaimanapun Prilly adalah bosnya.
“Harun, kapan suamiku pulang? Prilly menatap Harun.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️
TAPI KALIAN TIDAK SAYANG TERBUKTI AKU GAK MASUK RANK LAGI😭😭😭😭😭
(NANGIS DI POJOKAN)
TERIMA KASIH 😃😃😃😃