Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Jovita menjadi tawanan



Alexander malam ini ia ada pertemuan dengan beberapa klien di sebuah pesta, ia memasuki ruang pesta dengan anggun. Mata abu-abunya menyiratkan tatapan dingin, namun berwibawa.


Hampir semua orang datang dengan pasangan mereka sedangkan ia datang bersama sekretaris prianya.


Dulu ia berganti-ganti sekretaris sebagai pasangan setiap menghadiri pesta, namun sejak kedoknya di bongkar oleh Prilly ia tak bisa lagi menggandeng sekretaris yang merangkap segalanya.


Sebenarnya ia bisa saja mencari teman kencan untuk mendampinginya, namun ia sedang tidak berminat kali ini.


Alexander mengangkat gelasnya dan meminum anggur dari gelas di tangannya sambil berbincang dengan beberapa kliennya. Pesta seperti ini sebenarnya tidak terlalu penting karena kebanyakan yang datang hanya untuk memamerkan keberadaan mereka beserta pasangannya.


“Ini pertama kalinya kau datang sendiri, apa kau kehabisan wanita?” goda Mark teman Alexander


“Aku bosan, hampir seluruh ****** di London pernah aku coba.”


“Apa kau ingin mencoba ****** baru yang kubawa? Aku baru sekali memakainya,” bisik Mark sambil mengangkat sebelah alisnya.


Alexander melirik pada gadis yang bergelayut manja di lengan mark, cukup menarik namun Alexander tidak tertarik.


“Tidak, aku tidak tertarik.”


“Apa seleramu berubah?”


“Mau yang menurunkan standar seleramu,” ejek Alexander sambil matanya menyapu pandangan ke seluruh ruangan dan menemukan wanita yang tak asing, pinggangnya di lingkari lengan pria yang juga tak asing.


Jovita hadir di pesta itu bersama Jay-Alfatih, rival bisnisnya dari Timur Tengah. Bisa di katakan perusahaan pria itu adalah musuh terkuatnya. Mark mengekori pandangan mata Alexander dan mengerti.


“Jadi ia memakai barang bekasmu?” Mark mengejek pria yang bersama Jovita.


“Dia bukan barang,” rahang Alexander tiba-tiba mengeras.


Alexander meletakkan gelas di tangannya dan berjalan dengan santai menghampiri Jay.


“Hallo Mr. Jay, bagaimana kabarmu?” tanya Alexander dengan suara baritonnya.


“Hallo, Mr. Alexander, mebetulan sekali kita bertemu. Kabarku baik,” jawab Jay sopan. “Bagaimana kabarmu?”


“Baik,” jawab Alexander singkat.


Jovita tergagap menyadari siapa yang menyapa pria yang bersamanya. Sebenarnya ini adalah tugas sekretaris pertama Jay, namun karena mendadak ia jatuh dari tangga dan kakinya terkilir, malam ini Jovita terpaksa harus menggantikan posisi sekretaris pertama bossnya.


Mata Alexander menatap dingin ke arah Jovita.


“Mr. Jay berbicara di luar bisnis, bisakah Anda menyingkirkan tangan Anda dari pinggang gadis yang Anda bawa?”


“Maaf Mr. Alexander, tapi dia sekretaris saya. Pasangan saya malam ini, saya berhak atas dia,” jawab Jay sinis.


“Dia hanya sekretaris Anda, tapi dia adalah wanita Saya. Tolong Anda sedikit sopan padanya,” kata Alexander dingin.


Jay langsung melepaskan lengan yang melingkar dipinggang Jovita, memandang Jovita dengan tatapan marah.


“Jadi kau masuk ke perusahaanku untuk menjadi mata-mata?” tanya Jay langsung menarik kesimpulan.


“Mr. Jay saya....” Jovita bermaksud menjelaskan.


“Ridak perlu menjelaskan, Anda di pecat,” kata Jay dengan suara marah.


Jovita membeku, ia baru saja kehilangan pekerjaan? Mimpi buruk!


“Terima kasih, Mr. Jay,” kata Alexander terdengar mengejek.


“Sayangku, mari kita kembali," kata Alexander sambil meraih pinggang Jovita dan membawanya keluar dari ruang pesta, membawanya langsung kembali ke tempat tinggalnya.


“Alexander, kau baji*ngan. Kau baru saja membuatku kehilangan pekerjaan!”


“Kau tidak kehilangan pekerjaan, kau tidak perlu lagi bekerja.”


“Apa maumu?” tanya Jovita sambil menatap Alexander dengan tatapan permusuhan.


“Tinggal di sisiku.”


“Sebagai pela*curmu?" sudut bibir Jovita terangkat, pahit menyusupi perasaannya.


“Sebagai wanitaku.”


Jovita menghembuskan napas kesal,wajahnya tampak sangat emosi.


“Atau kau lebih suka menjadi pel*acur si Fatih itu?”


“Kau... jaga mulutmu!” bentak Jovita.


“Kau tidak mau menjadi wanitaku?”


Hening sesat. “Tidak, aku tidak bisa.”


“Kenapa? Kau takut uangku tidak cukup untuk seumur hidupmu?” tanya Alex sinis.


“Alex, biarkan aku pergi.” Jovita hendak berbalik, namun Alexander menahan pergelangan tangannya.


“Pergi untuk menemui Fatih itu?”


“Bukan urusanmu!”


“Bagaimana ia memperlakukanmu? Hmm? Lembut? Atau kasar?” tanya Alexander dengan kilatan mata penuh amarah menarik seluruh yang melekat di tubuh Jovita dan dengan paksa menindih Jovita. memasuki tubuhnya disaat Jovita belum siap.


Sakit, perih, kasar, tubuhnya seperti terbelah, Jovita menangis dalam diam.


Tidak ada gunanya memohon pada Alexander untuk menghentikannya. Toh ia tetap mengentakkah pinggulnya hingga ia mendapatkan pelepasannya.


Jovita memalingkan wajahnya ketika Alexander melepaskan tubuhnya.


Air matanya masih mengalir. “Mulai sekarang, suka tidak suka, mau tidak mau, kau adalah wanitaku, tinggallah disini. bersamaku, Jangan membantahku.” kata Alexander sambil menatap lembut wajah Jovita, amarah di matanya telah pudar.


Jovita, kini menjadi tawanan di tempat tinggal Alexander. Ia tidak bisa pergi kemanapun. Baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar dari apartemen itu dua orang body guard mengikuti kemanapun langkahnya pergi, Alexander memang tidak mengurungnya, namun Alexander memberikan begitu banyak pengawal untuk berada di sekitar Jovita. Ia tidak nyaman jadi Jovita lebih memilih berdiam diri di dalam apartemen tempat tinggal Alexander dibandingkan keluar dengan pengawalan seperti tahanan.


“Nona, lima belas menit lagi Anda harus datang ke perusahaan Tuan Alexander,” kata pria berseragam yang berada di samping Jovita sepanjang waktu. Hanya saat Jovita masuk kamar pribadinya saja pria itu tidak ikut masuk ke dalam kamar.


“Dan ini, Tuan memerintahkan anda mengenakan ini,” pria itu memberikan sebuah paper bag berisi pakaian.


Tanpa berbicara apa pun Jovita meraih benda itu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang Alexander siapkan, setelah semi formal.


Lima belas menit kemudian ia telah berada di ruang kerja di perusahaan Alexander. Ini pertama kali mereka bertemu lagi setelah Alexander memerkosanya. Ya, memerkosa karena saat itu Jovita tidak dalam keadaan siap dan tidak menginginkan. Pria itu entah pergi kemana setelah memakai tubuhnya. Bibir Jovita terkatup rapat, menatap Alexander dengan tatapan tidak suka.


“Hari ini kita akan mengunjungi William di kediaman Mike, berperilakulah yang baik,” kata Alexander dengan nada dingin.


Hening, tidak ada sahutan dari bibir Jovita. Dan beberapa detik kemudian Alexander telah membawa Jovita ke dalam pelukannya, menciumi bibirnya dengan lembut. Membuat Jovita sedikit mengerang dan menggeliat, sedikit menginginkan lebih. Alexander menyudahi ciuman mereka.


“Ayo, William telah menunggu,” kata Alexander sambil berdiri dan meraih pinggang Jovita membawanya berjalan menuju mobil tanpa melepaskan lengannya dari pinggang Jovita, beberapa mata karyawan otomatis tertuju pada mereka, apalagi seluruh karyawan di perusahaan itu mengenal Jovita, mantan sekretaris bos mereka.


Sepanjang perjalanan, di mobil jari-jari Alexander sibuk menari di atas keyboard laptopnya membalas email yang masuk.


Sedangkan Jovita ia menatap keluar melalui kaca jendela luar, menatap gerimis yang jatuh di kaca mobil dan menetes membentuk aliran anak sungai. Sesampainya di tempat tinggal Prilly dan Mike, mereka berdua di sambut dengan hangat.