
Sejak hari itu Prilly memulai babak baru dalam hidupnya, ia mulai bergaul dengan para wanita sosialita di London, ia belajar minum alkohol, ia mengenakan make up, ia juga mengenakan pakaian mini dan pergi berpesta, semua ia lakukan untuk melupakan kepedihannya, meski diam-diam ia masih mengutus beberapa orang untuk mencari Mike, ia berharap suaminya masih hidup atau minimal ia bisa melihat dimana suaminya di makamkan.
Selama tiga tahun ia telah membuat semua orang mengasihani dirinya, selama tiga tahun ia hanya fokus pada kesedihannya, ia seolah-olah membuat drama bahwa ia adalah satu-satunya orang yang terpuruk, padahal Veronica dan Adam Johanson kedua orang tua Mike tentu juga merasa kehilangan putra semata wayang mereka, bukan hanya Prilly yang berduka.
Seperti bangun dari tidur selama tiga tahun, Prilly pagi itu mengenakan pakaian yang indah, rambut panjangnya yang biasanya tergerai telah ia potong dengan gaya bob.
Ketika menuruni tangga ia bertemu dengan Alexander dan Jovita yang pagi itu tellah berada di tempat tinggal Prilly , keduanya pagi itu hendak menjemput William.
“Selamat pagi, Alex, Jovita,” sapa Prilly dengan nada riang.
“Selamat pagi Prilly,” sapa Jovita, matanya memandang tubuh Prilly yang tampak lebih segar di banding beberapa minggu yang lalu, “kau tampak bersemangat pagi ini,” kata Jovita.
“Sepertinya aku terlalu bersemangat." Kekeh Prilly. “Willy, patuhlah selama kau tinggal di rumah mommy Jovi dan daddymu, Oke?” ucap Prilly pada putranya William.
“Oke, mommy.” William memang selalu patuh, ia sangat sendiri sejak memiliki adik dan juga semenjak Mike menghilang, ia bahkan mengajari kedua adiknya untuk memanggil Alexander dengan panggilan daddy, seolah ia dengan senang hati berbagi ayah.
Prilly mendekati William dan mengecup pipinya. “Jangan menyusahkan mommy Jovi dan ingat untuk menggosok gigimu." Prilly mengingatkan putranya.
“Mommy aku tahu, aku bukan anak kecil, aku delapan tahun,” protes William.
“Baiklah, jaga dirimu sendiri kau sudah dewasa,” Prilly tertawa kecil mendengar protes putra pertamanya.
“Aku akan kembali besok, aku pasti merindukan Leonel dan Grace,” ucap William.
“Mereka juga akan merindukan kakak yang baik sepertimu." Prilly nengelus rambut keemasaan di kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
Alexander yang duduk di sofa sambil jemarinya mengetik di layar ponselnya, ia tampak acuh, sama sekali tidak membuka mulutnya untuk terlibat pembicaraan bersama Prilly dan Jovita. Ketika William mendekati Alexander pria itu mengelus rambut putranya seraya berkata, “Willy, kau dan mommy Jovi tunggulah di mobil, Daddy memiliki sedikit urusan dengan mommymu.”
“Ayo Willy,” kata Jovita sambil membalikkan badannya untuk menuju pintu keluar. “Sampai jumpa, Prilly.”
“Sampai jumpa, Jovita.” Prilly tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah Jovita dan William menghilang di balik pintu Alexander mendongakkah wajahnya memandangi Prilly dari ujung kepala hingga ujung kaki, sudut bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.
“Kau terlalu sering pergi ke Club akhir-akhir ini,” kata Alexander dengan nada dingin.
“Astaga, kukira kau membicarakan masalah bisnis,” jawab Prilly dengan nada santai, ia mendudukkan bokongnya di sofa, tepat di depan Alexander.
“Aku mengutus orang untuk mengawasimu, kau pergi ke Club setiap akhir pekan belakangan ini, kau bergaul dengan para sosialita.”
“Alex, itu bukan urusanmu.” Prilly menjawab dengan nada cukup sinis.
“Kau seorang wanita terhormat, tidak semestinya kau begitu,” kata Alexander dengan nada semakin dingin.
Prilly bangkit dari duduknya dengan gerakan malas dan meraih tas tangannya. “Aku harus pergi bekerja.”
“Lebih baik kau pergi berlibur dari pada ke club.”
“Aku akan mencari waktu yang tepat dan juga tempat yang tepat untuk berlibur.”
“Prilly, jangan membuatku menghawatirkanmu,” kata Alexander sambil menatap Prilly dengan tatapan kesal.
Alexander mengernyit, Prilly memang selalu menjaga jarak darinya meskipun secara langsung Alexander telah meminta maaf padanya dan Mike saat pernikahan mereka, wanita itu hanya bersikap hangat kepadanya jika mereka berada di depan keluarga dan anak-anaknya dan saat mereka hanya berduaPrilly bahkan menghindari kontak mata langsung dengannya.
***
Malam hari ketika Jovita dan Alexander berada di atas ranjang dan bersiap untuk mengistirahatkan mata mereka.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Jovita pada Alexander, semenjak Mike dinyatakan hilang, Jovita terkadang mengkhawatirkan hubungannya dengan Alexander, meski ia tahu Prilly tidak mungkin akan memberikan kesempatan pada Alexander untuk mendekatinya karena masa lalu Alexander tetapi sikap Alexander yang begitu baik pada anak-anak Prilly membuat perasaan Jovita otomatis mengkhawatirkan nasib rumah tangganya. Terlebih lagi, sejak ia mengalami keguguran, hingga saat ini ia tidak kunjung jua hamil kembali, Alexander juga tidak pernah menyinggung masalah ingin memiliki putra darinya.
“Aku hanya mengingatkan Prilly untuk tidak terlalu sering pergi ke club, aku tidak mungkin mengatakannya di depan William,” jawab Alexander sambil memejamkan matanya, lengannya berada di pinggang Jovita.
“Benerkah Prilly pergi ke club?” Jovita hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ya, akhir-akhir ini,” jawab Alexander, nadanya begitu dingin.
“Apa dua begitu frustrasi?”
“Mereka saling mencingai sejak kecil, wajar jika Prilly begitu frustrasi."
“Tidak ada yang bisa menentang kehendak Tuhan," guman Jovita.
“Tidurlah.” Alexander mengecup pucuk kepala Jovita memberikan ciuman selamat tidurnya.
“Alex, hampir lima tahun tapi mengapa aku belum hamil lagi, bagaimana jika kita mencoba program bayi tabung?” tanya Jovita tiba-tiba
“Kau pasti akan hamil lagi, bersabarlah, tidak perlu mencoba program bayi tabung, kau dan aku normal.”
“Tapi, ini telah terlalu lama,” protes Jovita.
“Aku tidak masalah kita tidak memiliki putra, tidurlah.” Kata Alexander dengan suara mengguman dan tidak lama kemudian nafas pria di samping Jovita tersengar mulai teratur dan melemah, Alexander telah terbawa ke alam mimpinya. Sementara Jovita masih tidak dapat memejamkan matanya hingga melewati tengah malam, pikirannya melayang layang, ia benar-benar menginginkan seorang putra yang lahir dari rahimnya sendiri.
Beberapa hari kemudian, saat itu sore hari ketika Alexander baru saja mengantarkan William, ia berpapasan dengan Prilly di depan pintu masuk ruang tamu, wajahnya tampak merah padam, sepertinya Prilly setengah mabuk dan ada aroma rokok tercium dari pakaiannya meski jarak mereka lumayan jauh beberapa langkah.
Alexander mendengus, ia benar bera tidak mengerti apa yang di lakukan mantan istrinya, setelah memastikan William tidak ada di ruangan itu Alexander melangkah mendekati mantan istrinya lalu menangkap pergelangan tangan Prilly dan mengangkat tubuh kecil itu seperti ia mengangkat benda ringan, meletakkan di pundaknya seolah ia membawa barang yang sangat ringan.
“Alex lepaskan!” teriak Prilly.
“Kau, benar-benar tidak bisa di ajak bicara sekarang, Prilly,” geram Alexander.
“Alex kau ba**ngan! Turunkan aku bodoh!” maki Prilly.
“Terus saja kau berteriak agar anak-anak kita mendengar teriakanmu,” desis Alexander sambil memukul bokong Prilly.
“Alex, kau tidak sopan padaku!”
HALLOWWW 😚😚😚😚😘😘😘😘
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN TEMAN TEMAN 😍😍😍