Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Memandikan Kirara



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


Mike matikan laptopnya kemudian ia meminta Helena untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.


“Sayangku, maafkan aku,” bisik Mike pelan sambil meletakkan dagunya di pundak Helena.


Helena memalingkan wajahnya ke arah Mike hingga kulit wajah mereka bersentuhan. “Untuk apa?”


Mike mengeratkan lengannya yang melingkar di pinggang Helena. “Maaf aku belum bisa memberimu nama Johanson di belakang namamu,” katanya dengan nada pelan.


Helena mengelus lengan Mike yang melingkar di pinggangnya. “Itu sama sekali bukan masalah bagiku siapa pun namamu, Michael Johanson atau Morgan, bagiku kau sama saja, tidak ada bedanya. Kau tetap ayah Sidney. Aku tidak mempermasalahkan siapa pun namamu,” kata Helena.


“Terima kasih, kau mengerti. Kelak saat Sidney dewasa dan ia bisa mencerna semuanya akan kupastikan kau dan anak-anak kita menyandang nama yang seharusnya,” ucap Mike terdengar penuh kepahitan.


Helena membalikkan badannya untuk memeluk suaminya, membenamkan wajahnya di dada Mike. Tanpa terasa air matanya jatuh dari kelopak matanya. “Mike, aku mencintaimu,” ucapnya lirih.


Mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Helena Mike mendaratkan Bibirnya di atas kepala Helena. “Apa kau tahu apa yang kau ucapkan?”


Helena mengangguk. “Aku tahu.”


“Bagaimana jika aku memintamu mempertanggungjawabkan apa yang baru saja kau ucapkan?” tanya Mike dengan nada suara yang menggoda.


“Aku tidak memintamu untuk membalas cintaku, aku hanya menyatakan perasaanku,” ucap Helena selalu ia sedang melayangkan protesnya.


“Menyatakan perasaan cinta sambil menangis?” Mike mendekap erat tubuh Helena.


“Kau menggodaku,” rengek Helena.


Saat ini Mike merasa belum tepat menyatakan cintanya kepada Helena, Sekali lagi bukan karena ia ragu atas perasaannya tetapi ia khawatir jika ia menyatakan cintanya kepada Helena, mungkin Helena akan menganggap ia adalah serigala lapar yang memiliki maksud memerdaya mangsanya. Bisa saja Helena mengira dirinya seperti itu, jadi Mike memilih lebih baik menunjukkan rasa cintanya dibanding mengatakannya sekarang. Apalagi hampir semua mengira dirinya masih mencintai Prilly. Sebelum ia menyatakan cintanya kepada Helena di saat yang tepat nanti, Mike ingin membuat Helena yakin bahwa istrinya itu pantas mendapatkan cintanya.


Mike beberapa kali mendaratkan bibirnya diatas kepala Helena. “Sepertinya sudah lima belas menit, bagaimana jika kita bergabung bersama Sydney di belakang?”


Helena menjauhkan wajahnya yang berada di dada Mike. Ia menganggukkan kepalanya.


Mike menangkup kedua pipi Helena kemudian mendaratkan kecupan kecil di antara dua alis Helena. “Jangan menangis lagi aku tidak ingin melihat air matamu,” ucapnya.


Bibir Helena tampak tersenyum kemudian ia mengangguk, setelah memastikan tidak ada di air mata tersisa di wajahnya keduanya melangkah menuju halaman belakang sambil tangan mereka saling menggenggam.


“Sidney....” Mike memanggil putrinya yang ternyata sedang memandikan Kirara binatang kesayangannya.


Mendengar ayahnya memanggil, Sidney menghentikan aktivitasnya menggosok bulu Kirara yang berbusa karena shampo khusus untuk binatang. “Dad, Mom,” sapanya dengan suara melengking di sambut suara gonggongan Kirara.


Binatang itu tampak kegirangan menyambut kedatangan Mike dan Helena, ia mengibaskan ekornya yang basah hingga air dari bulu ekornya membasahi pakaian Sidney.


“Kirara, kau membasahiku,” protes Sidney yang sama sekali tidak di gubris oleh Kirara.


Andai binatang itu bisa berbicara ia juga akan protes karena sebenarnya pakaian yang di kenakan oleh Sidney sudah basah di beberapa bagian.


“Kenapa kau memandikan Kirara di rumah?” tanya Mike sambil dengan lembut melepaskan genggaman tangannya dari tangan Helena. Ia mendekati Sidney dan Kirara lalu berjongkok di dekat mereka berdua.


“Dia kotor jadi aku memandikannya,” jawab Sidney. Sebenarnya itu bukan memandikan tetapi lebih ke menyiksa sambil bermain air.


“Tidak, tidak. Aku bisa memandikannya sendiri,” kata Sidney.


“Lihat dia kedinginan, kau juga bisa masuk angin,” kata Mike.


Sidney mengalihkan pandangannya ke arah Helena. “Mommy, bukankah kau memiliki pengering rambut? Bolehkah aku meminjamnya?”


“Sepertinya pengering rambutku akan menjadi pengering bulu Kirara,” kata Helena yang berdiri di sebelah Mike berjongkok.


“Ya, besok pergilah membeli yang baru, biarkan saja pengering rambutmu beralih kepemilikannya,” kata Mike.


“Mau bagaimana lagi?” Helena terkekeh sambil berbalik meninggalkan Sidney dan suaminya menuju kamar untuk mengambil pengering rambut.


Akhirnya Mike yang menyelesaikan memandikan Kirara lalu mengeringkan bulunya menggunakan pengering rambut istrinya. Sedangkan Helena, ia memandikan Sidney.


***


Jovita baru saja kembali dari bekerja, ia kembali ke tempat tinggalnya di mana ia dan anaknya tinggal. Tidak lama kemudian Charles datang, pria yang dianggap oleh Jovita sebagai pria yang tidak berguna itu lebih sering tinggal di tempat tinggal Jovita dibanding kembali ke rumahnya orang tuanya. Orang tua Charles mengalami kebangkrutan, sedangkan satu-satunya aset yang masih bisa diharapkan hanya sebuah hotel yang seperti yang dikatakan oleh Prilly. Hotel itu adalah milik ibu Charles, sedangkan masih memegang firma hukumnya tetapi pelanggannya tidak terlalu banyak karena nama orang tuanya tercoreng, otomatis nama baik dan nama firma hukumnya juga merosot citranya.


Bukan hanya kehilangan usaha keluarga dan nama baik, sekarang hampir tidak ada lagi Putri bangsawan atau Putri orang terpandang yang bersedia menikah dengan Charles kecuali mungkin Putri mereka perawan tua atau seseorang yang frustrasi tidak bisa menemukan jodoh.


“Bagaimana pertemuanmu dengan Alexander tadi?” tanya Charles langsung sambil melepaskan mantel yang membalut tubuhnya kemudian meletakkannya di gantungan pakaian.


“Aku tidak bertemu Alexander,” jawab Jovita sambil meletakkan anaknya di kereta bayi.


“Kau gagal?”


“Prilly yang mewakili Alexander untuk menemuiku tadi.”


Charles tampak terdiam kemudian wajahnya berubah muram.


“Jangan-jangan berani-beraninya kamu mengharapkan dia, sama sekali kau tidak akan mendapatkan apa pun, apalagi dengan posisimu sekarang,” ucap Jovita dengan nada sarat dengan hinaan.


“Kau pikir aku tidak sadar diri?”


“Jika kau sadar diri kau seharusnya tidak berada di sini, kau menambah beban hidupku. Dasar pengacara nyaris bangkrut,” gerutu Jovita.


Terkadang Jovita menyadari kebodohannya, Alexander menyembunyikannya dari Charles untuk keamanannya dan anaknya dulu tetapi ia justru sekarang berkonspirasi lagi dengan Charles yang pernah memerkosanya. Parahnya lagi pria itu nyaris tidak lagi memiliki apa-apa.


“Kasar sekali bicaramu,” protes Charles atas hinaan yang dilontarkan oleh Jovita.


Jovita tersenyum miring. “Lalu apa jika kau bukan pengajaran yang nyaris bangkrut? Kau bahkan hanya menangani kasus-kasus kecil sekarang,” katanya teramat sangat sinis.


Charles menatap Jovita dengan tatapan marah karena wanita di depannya terlalu bermulut tajam, wanita itu menghinanya habis-habisan. Jika saja putrinya tidak bergantung kepada wanita itu, Charles benar-benar ingin melenyapkannya lalu membuang bangkainya ke sungai Thames sesudah di potong-potong.


“Dasar j*l*ng,” kata Charles meski ia mengucapkan dengan nada pelan tetapi Jovita masih bisa mendengarnya.


Jovita mengangkat dagunya. “Aku lebih baik menjual tubuhku kepada Jay atau kepada siapa pun daripada aku memberikanmu kepada secara gratis,” katanya.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤❤