Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Penculikan



Dua hari telah berlalu, Mike tidak bisa pergi bekerja, ia merawat Prilly yang terus murung, istrinya menolak untuk makan dan Mike setiap saat harus membujuknya.


“Mike bagaimana jika kita bercerai? Aku tidak bisa hidup tanpa William,” isak Prilly malam itu


Mike memandangi wajah Prilly dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan, terkejut? Mike tidak terkejut sama sekali, Mike sudah menduga Prilly pasti akan mengatakan hal itu.


“Sayangku, lihat aku,” pinta Mike pelan.


Prilly memandang wajah suaminya dengan air mata yang berlinang.


“Mike, maafkan aku tapi sungguh aku tidak bisa hidup tanpa putraku,"


“Kita pasti akan mendapatkan William kembali. Percayalah padaku, aku dan Anthony terus berusaha mencari keberadaan William. Mereka masih berada di London, tidak mudah membawa William pergi dari negara ini, paspor William ada pada kita,” kata Mike terus meyakinkan Prilly.


Karena hari Sabtu dan Minggu tentu saja Alexander tidak pergi ke perusahaan, Anthony dan Mike kesulitan melacak pria itu melalui nomer ponsel dan emailnya karena sepertinya semua ponselnya benar benar telah di matikan.


Hanya ada satu harapan untuk bertemu Alexander, menunggu hari Senin pagi Mike akan mendatangi Alexander ke perusahaannya dan mungkin mematahkan leher sepupunya itu.


Senin pagi Alexander dan Jovita membawa William ke rumah sakit, Alexander sama sekali tak menyangka putranya benar benar memilih bungkam dan suhu tubuhnya sangat panas.


Jovita tidak menduga baru saja ia hendak membuka pintu untuk pergi bekerja dan menemui mantan bosnya di depan pintu menggendong pria kecil yang tentu saja di kenalnya.


William Johanson, suhu tubuhnya sangat tinggi. Tanpa berpikir panjang Jovita meraih pria kecil itu ke dalam dekapannya dan mengajak Alexander pergi ke rumah sakit.


“Kau gila Alex, kau menculiknya!” Jovita tampak marah.


“Dia putraku,” Alexander membela dirinya.


“Ya benar, tapi dokter berkata ia kekurangan asupan makanan dan cairan untung saja kau membawa kepadaku jika terlambat sedikit ia bisa mati! Ayah macam apa kau?!” Jovita benar-benar tidak habis pikir dengan perbuatan Alexander kali ini


“Aku ingin ia tinggal bersamaku.”


“Jika mantan istrimu mengetahui hal ini, ia akan semakin membencimu, percayalah padaku,” kata Jovita sinis.


“Aku berhak atas putraku.”


“Ya, aku tahu. Tapi kau tidak pernah menempatkan dirimu sebagai ayahnya. Kau tidak pernah menemuinya meskipun hari Jumat dan Sabtu tertera jelas di setiap jadwalmu. Aku telah mengingatkanmu dulu.” Jovita masih ingat job desknya setiap hari Jumat dan Sabtu ia selalu mengingatkan jadwal Alexander namun pria itu tak pernah bergeming. Ia berpura pura tidak mendengar setiap kali Jovita mengingatkannya.


“Prilly menghindariku.”


“Kau hanya mencintai mantan istrimu? Kau tidak menyayangi putramu? Astaga Alex, kau ini pria macam apa?”


Alexander terdiam sesaat. “Aku harus pergi ke Barcelona, lusa aku akan kembali, tolong kau jaga William, bisakah kau melakukan untukku?”


“Alex, lebih baik kau kembalikan William pada ibunya, kau tidak bisa menjaganya.”


“Aku sedang mencari beberapa pengasuh. Tolong kau jaga dia, aku akan menggajimu seratus kali lipat dari gajimu untuk dua hari saja Jovi, kumohon.” kata Alexander.


Jovita benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia bahkan baru saja bekerja di sebuah perusahaan baru beberapa minggu dan sekarang ia harus meminta cuti karena mantan bosnya.


“Ini bukan masalah gaji,Alex.”


“Tolong aku Jovi, aku berjanji hanya kali ini saja.” Alexander untuk pertama kalinya memohon pada seseorang.


“Baiklah, hanya dua hari,” akhirnya Jovita mengalah.


Setelah memastikan Alexander pergi, Jovita mulai memutar otaknya.


Di sisi lain, Mike mendatangi perusahaan Alexander pagi itu. Ia tak menemukan sepupunya, hanya sekretaris utamanya dan pria itu mengatakan Alexander telah pergi ke Barcelona.


Karena panik Mike menghubungi Anthony untuk segera mengecek apakah Alexander pergi membawa William melalui data penumpang pesawat.


Mike segera menuju kembali ke mansion orang tua Prilly, sejak kembali dari berbulan madu mereka bahkan belum menginjakkan kaki ke penthouse tempat tinggal mereka karena masalah hilangnya William.


Penuh emosi kini Mike benar-benar berpikir untuk membawa masalah ini pada jalur hukum.


meskipun William bukan putra kandungnya, Mike juga tidak bisa jauh dari William seperti halnya Prilly.


Sepertinya memang harus melaporkan sepupuku atas tindakan penculikan, batin Mike


Di tengah jalan ponsel Mike berdering dan panggilan itu berasal dari Anne.


***


Dirumah sakit


Prilly membelai wajah putranya yang sedang tertidur, wajah William tampak kurus dan pucat, bibir pria kecil itu juga tampak kering.


Ketika Prilly tersadar pertama kali yang ia lihat adalah william sedang melahap bubur dan Mike sedang menyuapi William.


“Mommy bangun?” William berseru senang saat melihat Prilly yang terbangun.


Mike meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke atas meja dan menghampiri Pilly sambil menggendong William


dan dibantu Anthony mendorong tiang infus.


“Sayang, apa kau merasa pusing?” tanya Mike.


“tidak sayang, Aku baik-baik saja.” kata Prilly seraya meraih William membawa ke pelukannya. “Willy, Mommy merindukanmu.” Prilly menciumi rambut putranya. “Bagaimana keadaanmu, Sayang?” tanya Prilly.


“Jangan khawatir, Mommy.” William menjawab pertanyaan Prilly sambil tangan mungilnya membelai pipi ibunya.


Delapan jam yang lalu, Mike mengemudikan mobilnya menuju kediaman orang tua Prilly dan mendapatkan panggilan dari Anne, sahabat sekaligus sekretaris istrinya.


“Mike, apa kau bersama prilly saat ini?”


“Tidak, Prilly mungkin masih memerlukan istirahat. Ia ada di rumah. Ada apa, Anne?”


“Aku menghubungi prilly namun ponselnya tidak aktif. Aku tidak tau kemana harus menghubunginya. Jovita, mantan sekretaris Alexander memintaku untuk menghubungi Prilly. ia mengatakan ada sesuayu yang penting.”


“Apa Jovita meninggalkan nomer ponselnya?”


“Ya, akan aku kirimkan padamu melalui pesan.”


Mike segera menghubungi Jovita, setelah mendengarkan penjelasan Jovita, Mike segera membawa Prilly ke rumah sakit dimana William di rawat.


Namun tak disangka, Prilly justru pinsan karena melihat keadaan putranya yang tampak kurus dan pucat.


Besok paginya, William tubuhnya mendadak sehat dan ia telah ceria kembali. William bahkan tidak mau sedetikpun, berpisah dari Prilly. Ia juga terus-terusan meminta makan bubur dan masakan yang di buat oleh Lin Lin.


Sebelum berangkat untuk bekerja, Jovita sengaja datang ke rumah sakit untuk bertemu William dan Prilly.


“Jovita, terima kasih,” kata Prilly setelah mereka saling memperkenalkan diri secara langsung.


“Maafkan aku, Miss Prilly. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Putramu selalu menolak untuk membuka mulut selama bersama Alexander,” kata Jovita kemudian. Ia juga menceritakan kronologi ia bertemu William Senin pagi langsung pada Prilly.


“Aku khawatir, Alexander akan berbuat yang mengerikan padamu,” kata Prilly. “apa kau masih menjadi sekretarisnya?” tanya prilly hati-hati.


“Tidak, aku telah mengundurkan diri sejak satu bulan yang lalu dan Miss Prilly jangan khawatir aku bisa mengatasi kemarahan Alexander nanti.”


“Apa kau telah mendapatkan pekerjaan sekarang?”


“Ya, aku telah bekerja sekarang.”


“Baiklah, Jovita jika kau perlu bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku.”


“Terima kasih, Miss Prilly.”


“Bisakah kau panggil aku Prilly saja? Bisakah kita berteman?” tanya Prilly.


“Tentu saja, Prilly,” jawab jovita senang. “Dan bagaimana Tuan kecil, apa kau juga mau berteman denganku?” tanya Jovita pada William.


William memandang wajah Prilly.


“Apa kau mau berteman dengan Tante Jovita, Sayang?” tanya Prilly.


William memandang wajah Jovita ragu-ragu dan penuh kecurigaan.


“Sepertinya putramu masih mencurigaiku,” kata Jovita sambil tertawa kecil.


“Sepertinya demikian. Joovita kumohon, maafkan William.” prilly juga tertawa ringan.


“Prilly, William kembali dan jangan sampai Alexander mengetahui hal ini. Ia pasti akan mencariku. Aku yang akan menjelaskan semua padanya,” kata Jovita.


“Apa kau yakin?”


“Ya,aku yakin.”


“Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu, Jovita?” tanya Prilly khawatir.


“Itu tidak akan terjadi, santai saja Prilly.”


Setelah berbincang sebentar, Jovita meninggalkan ruangan itu. Tak lama kemudian, Mike datang setelah menyelesaikan tagihan perawatan William dan mereka bertiga segera meninggalkan rumah sakit itu untuk pindah ke rumah sakit lain yang tidak akan di ketahui oleh Alexander. William masih dalam masa pemulihan belum diijinkan dibawa pulang, meskipun demamnya telah mereda namun karena ia sempat mengalami dehidrasi, pria kecil itu masih memerlukan pengawasan dokter.