Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Are You?



Paginya setelah sarapan Alexander mendekati putranya.


“William, apa kau masih ingin menerbangkan pesawat?”


“Ya ya ya..., i want,” seru William bersemangat.


“Oh oke, tapi ada syaratnya,” kata Alexander sambil memandang wajah putranya.


William mengerjapkan matanya. “Apa kau mau berjanji?” tanya Alexander.


“Yes, I promise,” kata William mantap.


“Oke, janji sebagai sesama pria.” Alexander mengepalkan telapak tangannya di depan William dan pria kecil itu mengikutinya.


“Ayo, berjanji kau tidak akan memberitahu mommymu.”


“Baiklah,” mereka menyatukan kepalan tangan itu, “aku berjanji.”


“Ingat, jangan ingkari janjimu.”


William mengangguk dengan cepat. “Kau mengajarinya berbohong, Alex.” Jovita melotot tidak setuju.


“Kau galak sekali, Sayangku,” kata Alexander dengan suara menggoda Jovita.


Pipi Jovita memerah mendengar Alexander memanggilnya dengan sebutan sayang.


Dan pagi itu ketiga orang itu menuju jet pribadi milik Alexander, hanya terbang dari London Luton, terbang lima belas menit lalu kembali. Dengan riang William duduk di pangkuan Alexander, tanpa di minta oleh Alexander. Bahagia, hanya itu yang di rasakan Alexander. Sekarang hatinya sangat hangat merasakan William yang mulai menerima dirinya.


Dan saat Jovita mengantarkan William kembali ke kediaman Prilly, ia tampak riang.


“Apa kau menangis tadi malam?” tanya Prilly.


William menangguk


“Sayangku, Apa kau merepotkan tante Jovita?” tanya Prilly lembut.


“I'm not,” jawab Wiliam sambil menggeleng.


“Apa kau menangis tadi malam?”


William mengangguk jujur. Jovita hanya terlekeh melihat tingkah lucu William.


“Bagaimana cara kalian menaklukkannya?”


“Alexander melakukannya?”


“Benarkah?” Prilly sangat terkejut.


Jovita mengangguk dan dengan cepat ia berpamitan,


“Baiklah, Prilly aku harus kembali,” katanya. Ia takut Prilly bertanya lebih banyak padanya.


“Jovita, terima kasih, sampaikan terima kasihku pada Alex, juga.”


“Tentu, aku akan menyampaikan. Sampai jumpa.”


Dan waktu berjalan, William beberapa kali di bawa menginap di tempat tinggal ayahnya dan anehnya ia tidak menangis meminta pulang tengah malam. Padahal dalam beberapa minggu ini Lin lin dan Anthony juga di repotkan William yang menangis meminta pulang.


“Mike ada yang aneh menurutku, William sama sekali tidak pernah menangis jika menginap bersama Alex” tanya Prilly curiga.


“Bukankah itu bagus?” tanya Mike sambil memeluk istrinya.


“Apa kau tahu sesuatu?” Prilly curiga.


“Tidak,” jawab Mike singkat sambil mencumbui leher istrinya hingga tubuh istrinya bereaksi dan meminta lebih.


“Mike, aku ingin dirimu,” kalimat itu bercampur erangan-erangan kecil.


Mike ******* bibir istrinya, lalu memindahkan tubuhnya menjadi di atas tubuh istrinya dan melakukan yang di inginkan istrinya.


“Mike, aku mencintaimu.” kata Prilly seusai mereka melakukan aktivitas mereka.


“Aku lebih mencintaimu, Sayang. Dan babies kita,” kata mike sambil mengusap-usap perut telanjang Prilly.


“Semoga mereka tidak terganggu karena aktivitas kita tadi,”


“Kau melakukan dengan baik,” kekeh Prilly.


Prilly memerah ia menyembunyikan wajahnya di dada Mike. Mike terkekeh hingga dadanya terguncang pelan karena tingkah imut Prilly.


“Prilly, terima kasih sudah memberikanku calon bayi kembar.” Mike mengecupi pucuk kepala Prilly.


“Kau harus membantuku merawat mereka,” rengek Prilly. Mereka baru saja tahu beberapa hari yang lalu kalau janin yang di kandung Prilly adalah kembar.


“Aku yang akan merawat mereka, sebaik mungkin. Kau cukup menjadi istri yang manis untukku dan ibu yang baik saja untuk putra-putri kita,” kata Mike penuh kasih sayang.


“Oh iya apa Alex sudah tahu kita akan tinggal di New York?”


“Sudah, tidak masalah, ia yang akan ke New york jika ingin bertemu Willy, kau tenang saja.”


“Syukurlah,” kata Prilly lega.


Tidak ada yang menyangka hubungannya dan Prilly berakhir manis setelah semua yang terjadi di masa lalu, cinta masa kecilnya yang sepat di renggut oleh Alexander kini mampu ia raih kembali.


Sementara Alexander dan Jovita mereka semakin dekat, Jovita bahkan telah beberapa hari kembali bekerja di perusahaan Alexander.


Bukan sebagai sekretarisnya namun sebagai asisten pribadinya.


Namun ada yang berbeda dari Alexander. Ia tidak lagi seperti dulu. Kini, ia sedikit hangat. Tidak bersikap kaku lagi dan ia juga tidak lagi gemar mengumbar nafsunya di ruangan perusahaan meskipun Jovita bersamanya dua puluh empat jam setiap hari.


Namun hal seperti itu justru membuat Jovita sedikit bertanya tanya, apa bosnya itu telah bosan kepadanya?


Boss? Kekasih? Apa hubungan mereka saat ini?


Jovita kembali merasa berkecil hati, ia tak memiliki hubungan pasti dengan Alexander.


Alexander bisa kapan saja membuangnya.


Baru satu minggu Prilly dan Mike tinggal di New York karena pekerjaan Mike yang mengharuskan ia tinggal di New York, kini Prilly benar-benar harus mandiri. Suaminya sering tidak berada di tempat tinggal mereka karena proyek film besarnya.


Kadang Prilly membawa William dan nannynya berjalan-jalan untuk membunuh kejenuhan, ternyata tidak terlalu menyenangkan tinggal di negeri orang terlebih ia tidak memiliki siapa pun untuk di ajak bicara.


Saing itu di perusahaan milik Mike di New York.


“Mike kau kembali?” tanya Sophia.


Mike hanya menatap sepupunya dengan pandangan dingin, sepupunya itu selalu datang dan pergi sesuka hatinya.


“Oh, ayolah kau sangat menyebalkan. Kau bahkan tidak mengundangku saat pernikahanmu,”


“Aku lupa.”


“Lupa? Sepupu macam apa kau ini?”


“Kau tidak penting.”


“Oh kau benar-benar seorang Johanson yang sombong!”


“pergilah, kau menganggukku”


“Beri aku peran di filmmu kali ini.”


“Are you qualified?” tanya Mike sinis.


“Ayolah, sepupuku,” rengeknya sambil duduk di depan Mike.


“Pergilah, casting masih terbuka untuk beberapa peran pembantu.”


“What the hell! Aku tidak sudi.” Sophia tentu saja tidak sudi.


“Kalau begitu diam saja di rumah nikmati peranmu sebagai calon menantu presiden.”


Mike sudah tahu hawaban sepupunya, ia adalah calon istri dari putra presiden. Gengsinya juga sangat tinggi, mustahil ia menerima tawaran Mike.


“Membosankan!” keluh Sophia “Aku ingin bertemu istrimu.”


“Tidak ku ijinkan. istriku akan kesal karena mulut pedasmu!”


“Tidak, aku janji.”


“Pergilah, Sophia. Kau benar-benar mengganggu,” Mike mengangkat gagang telefon dan memanggil scurity untuk mengusir sepupunya.


“Kau, dasar sepupu sialan.” Kata Sophia ketika security benar benar masuk dan menggiringnya untuk keluar dari ruangan dan gedung itu!