
Alexander memandangi Prilly yang makan dengan lahap di depannya. “Tidak perlu tergesa-gesa,” Alexander mengingatkan Prilly.
Prilly tidak mempedulikan kata-kata suaminya, ia benar-benar merasa lapar dan melahap semua makanan yang terhidang di depannya dengan rakus, “apa kita akan menikah satu minggu lagi seperti dulu?” tanya Prilly setelah ia menyelesaikan makannya.
Alexander terkekeh. “Sekarang kau yang tidak sabaran, ya?”
“Aku? Aku tidak, aku hanya bertanya,” jawab Prilly dengan nada tidak senang.
“Apa kau ingin menikah dalam waktu seminggu lagi?”
“Apa cukup waktunya untuk bersiap?” Prilly terlihat sangat antusias.
Sudut bibir Alexander tersenyum licik. “Bahkan jika kau ingin hari ini aku bisa mewujudkan keinginanmu, sayangku,” jawabnya.
“Siapa bilang aku ingin hari ini?”
“Jadi kapan kau ingin?”
“Aku ingin kita mempersiapkan semuanya berdua, memilih gaun, memilih gereja dan memilih hal-hal lain.” kata Prilly, sorot matanya tampak berbinar.
“Baiklah, hari ini memang tidak bisa, tapi minggu depan bisa.”
Jawaban Alexander membuat mata Prilly terbelalak. “Secepat itu lagi?”
“Bukankah kau juga ingin secepatnya?”
“A-aku tidak.” Prilly berbohong dengan tampak jelas, ia bahkan tampak sangat antusias.
Alexander kembali terkekeh, istrinya sangat lucu, wanita mungil miliknya yang tidak lagi penyabar dan tidak ingin mengakui apa pun. Setelah memanggil pelayan untuk meminta tagihan makanan mereka dan membayarnya, Alexander berkata, “ sayang, ayo segera kembali, semua orang sedang menunggu kita.”
“Semua orang?” tanya Prilly, wajahnya tampak Sedikit bingung.
“Iya semuanya, Mommy, Daddy, semuanya.”
“Seperti dulu?”
“Tepat sekali,” jawab Alexander dengan senyum lebar.
Penuh semangat Prilly bangkit dari duduknya, mendekati Alexander yang juga bangkit dari duduknya, ia meraih telapak tangan suaminya, menggenggamnya dengan perasaan sangat bahagia, tidak pernah dalam hidup Prilly ia merasa sebahagia ini, rasanya jantungnya hendak melompat dari rongga dadanya karena jantungnya tidak cukup menampung seluruh kebahagiaan yang kini sedang ia rasakan.
Pasangan di mabuk asmara itu berjalan menuju pintu keluar restoran dengan perasan gembira, bagi Alexander dunianya telah sempurna. Dapat memiliki cinta dan hati Prilly adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya, memimpin perusahaan yang meraksasa dan memiliki harta berlimpah baginya hal biasa tetapi memiliki Prilly, sungguh luar biasa.
Tepat di depan pintu pasangan itu berpapasan dengan Charles, “Prilly,” sapa Charles.
Prilly mengerjapkan matanya, melirik suaminya yang berdiri di sampingnya, “hai Charles,” sapa Prilly dengan nada canggung.
“Apa kabar?” tanya Charles dengan nada seolah ia tidak melihat ada pria yang berdiri tepat di sebelah Prilly dengan wajah dingin, kaku dan menatapnya dengan tajam.
“Aku baik,” jawab Prilly, “sampai jumpa.” Prilly menarik telapak tangan Alexander, mereka masih saling menggenggam telapak tangan dengan mesra.
Melihat telapak tangan mereka bertaut mesra bibir Charles menyunggingkan senyum licik.
“Jadi, benar ya dugaanku?” kata Charles dengan suara nyaring yang pasti bisa membuat seluruh pengunjung restoran.
Mendengar itu sontak Alexander mengeraskan rahangnya, ia menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya, kembali menatap Charles dengan tatapan seolah hendak membunuh pria itu.
“Tidak perlu menduga-duga, aku akan mengirim undangan pernikahan kami kepadamu jika kau ingin memberikan selamat kepada kami,” kata Alexander dengan nada penuh kemenangan dan terdengar sombong.
“Pria macam apa kau ini, menggoda mantan istri dan mencampakkan istrimu sendiri,” sinis Charles dengan suara nyaring diiringi tawa hambar.
“Tuan pengacara yang terhormat, itu bukan urusanmu, kau terlalu dalam mencampuri, aku bahkan bukan salah satu clientmu. Dan bicara tentang aib, aku rasa, kau juga memiliki aib, jangan terlalu percaya diri,” kata Alexander dengan nada sangat dingin.
“Ayo sayang kita kembali,” Alexander mengecup punggung tangan Prilly di depan Charles kemudian ia menyeringai kepada Charles dengan seringai licik khas miliknya.
“Apa Charles tahu kau memiliki bukti rekaman itu?” tanya Prilly ketika mereka telah berada di dalam Maybach yang di kemudikan Alexander.
“Entahlah,” kata Alexander.
“Jika aku terlambat sedikit saja saat kau pergi ke club, kau juga pasti akan dimanfaatkan olehnya,” kata Alexander dengan nada geram, rahangnya bahkan terlihat mengeras.
“Kau juga dulu hampir memperkosaku,” sungut Prilly mengingat masa lalu mereka.
“Motifku dan motifnya berbeda, aku mencintaimu, aku ingin kau menjadi milikku saja.” Wanita selalu benar, tetapi Alexander selalu jauh lebih benar.
“Kau selalu benar, kau sungguh licik." Prilly menggelengkan kepalanya.
“Ingat suamimu ini pengatur dan dominan, kau harus menjadi istri yang patuh atau kakimu akan aku ikat di ranjang,” kata Alexander dengan nada serius.
“Kau terdengar seperti seorang psikopat sekarang." Protes Prilly diiringi gelak tawa membayangkan kakinya di ikat oleh Alexander di atas ranjang.
“Aku serius, Sayang.”
Prilly melepas sabuk pengamannya dan bergelayut manja di pinggiang Alexander, sambil menciumi pipi suaminya, “Aku akan patuh, asalkan suamiku memberikan semuanya untukku,” katanya.
“Apa itu?”
“Tidak ada wanita lain, hanya aku,” jawab Prilly sambil semakin tubuhnya merayap di tubuh Alexander.
“Ada Mommy, Grace dan calon putri masa depan kita,” ucap Alexander mencoba tidak menanggapi godaan Prilly, ia memfokuskan pikirannya pada mobil yang sedang ia kemudikan.
“Itu berbeda,” protes Prilly sambil semakin bergelayut manja, telapak tangannya bahkan berada di atas paha Alexander, mengelus paha Alexander dan meraba bagian diantra paha yang telah menegang.
Alexander tidak tahan lagi, ia telah bersusah payah semala dua minggu untuk menahan keinginannya setiap malam di samping istrinya yang sering menggodanya, dan sekarang istrinya sedang menguji imannya. Ia menepikan mobilnya di jalanan yang sepi.
“Kenapa kau menghentikan mobil?” tanya Prilly tanpa rasa bersalah.
“Kau menggadaku sayangku,” geram Alexander, ia segera mencumbui bibir istrinya dengan rakus seperti pria yang kelaparan.
“Kita bisa di tilang, ada tanda tidak boleh berhenti di sana. Hubby, ayolah!” protes Prilly saat tautan bibir mereka terlepas.
“Apa hukum berlaku padaku? Istriku harus tahu siapa suaminya.”
“Aku tidak menyukai hal-hal seperti itu, Hubby ayolah,” rengek Prilly.
“Baiklah, kau memang taat hukum”.
“Tentu saja aku seorang sarjana hukum.”
“Seorang yang taat hukum tidak melepas sabuk pengamannya dan menggoda suaminya yang sedang menyetir,” geram Alexander sambil kembali merampok bibir istrinya hingga istri kesayangannya hampir mati lemas karena ciuman yang panas.
Alexander kembali melajukan mobilnya dan mereka tiba di kediaman orang tua Prilly yang berjarak hanya sekitar dua ratus meter dari tempat kediaman orang tua Alexander.
Benar saja seluruh keluarga ternyata berkumpul di sana, Prilly justru merapatkan tubuhnya pada Alexander begitu ia memasuki ruangan keluarga milik orang tuanya sendiri, ia bahkan berpindah ke belakang tubuh Alexander, ia berbuat demikian karena takut kepada Anthony kakaknya yang tampak masih tidak dapat menerima hubungannya dengan Alexander, begitu juga dengan Sandra ibunya yang masih menampakkan tatapan permusuhan setiap kali memandang wajah Alexander.
“Daddy, Mommy, Anthony, aku ingin meminta pada kalian untuk menikahi Prilly kembali, menjadikan ia wanita satu-satunya dan menjadikan ia wanita terakhirku hingga maut memisahkan kami,” kata Alexander memulai pembicaraannya.
JADI TEMAN TEMAN, INI ADA FOTUR BARU DARI MANGATOON ❤❤❤
BOLEH DI COBA YA SILAHKAN JOIN DI GRUP CHERRY ❤❤❤
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤
PADAHAL UDAH AKU KASIH CLUE, SIAPA YANG BOBOK SAMA JOVI LOH PAS ALEX HABIS MUKULIN CHARLES, KATA "ALEX KALAU NAMA BAIKKU HANCUR MAKA NAMA BAIKMU JUGA AKAN HANCUR" 😄😄😄😄😄
YANG MASIH PENASARAN KRONOLOGI JOVITA CHARLES NANTI BAKAL DI JELASIN ❤❤❤❤
SABAR KUNCI BACA NOVEL ONLINE ❤❤❤
VOTE NOVEL INI JIKA SAYA AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤