
“Alex,” isak Jovita sambil menggenggam tangan Alexander, ia baru saja siuman setelah berbaring di meja Operasi, pagi tadi Jovita baru saja terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan dan sayangnya bayi mereka tak dapat di selamatkan.
“Maafkan aku, aku tak bisa menjaga bayi kita,” isak Jovita.
“Ssttt...! Kita bisa memilikinya lagi nanti,” kata Alexander sambil mencium telapak tangan Jovita, “jangan pikirkan lagi, pikirkan kesembuhanmu saja sayang.”
Air mata Jovita mengalir melalui pelipisnya, Alexander dengan sabar menghapusnya.
“Jangan menangis lagi, saat kau telah pulih kita akan membuatnya lagi, aku akan memberikanmu anak kembar juga seperti Prilly dan Mike jika kau ingin.”
“Omong kosong, itu bukan benda yang bisa kau pesan." Jovita berkata di sertai senyum pahit.
“Jangan menangis,” kata Alexander begitu lembut, entah sejak kapan pria kaku itu melembut, ia juga kadang tersenyum dan cukup pandai bercanda terutama setiap kali ada William bersamanya, Alexander seperti menjelma menjadi orang lain.
Sedangkan kasus Wilona, setelah film baru garapan Mike di luncurkan, Wilona resmi di keluarkan dari Glamour Enterprise, Mike sama sekali tidak membalas Wilona dengan mengeluarkan video rekaman yang di miliki Sophia, namun karena geram pada mantan sahabatnya, Sophia justru melakukan hal itu dan Mike sama sekali tidak berkomentar, ia mengerti saudaranya yang bermulut tajam sedang berusaha mengembalikan citra baik dirinya.
William yang sangat pengertian terhadap kedua adiknya, bahkan pria kecil itu sangat protektif pada kedua adiknya, selalu ingin berada di sekitar kedua adiknya, ia bahkan menolak untuk menginap di tempat tinggal ayah kandungnya Alexander meski ia di iming-imingi menerbangkan pesawat oleh ayah kandungnya.
Dua tahun kemudian, Grace dan Leonel tumbuh menjadi balita yang sehat dan cerdas, tidak ada harta yang paling berharga di dunia ini bagi Mike selain keluarga kecil miliknya.
Pagi itu Prilly melepaskan suaminya untuk pergi ke China, ini adalah pertama kalinya mereka berpisah setelah semenjak mereka kembali dari New York beberapa tahun yang lalu, suaminya harus menghadiri pertemuan penting yang tidak bisa di wakilkan oleh siapa pun bahkan Moses sekalipun.
Sebenarnya berat hati bagi Prilly untuk melepaskan suaminya karena hari itu adalah bertepatan hari ulang tahun pernikahannya, apalagi Natal akan segera tiba, Prilly tidak mungkin mengikuti suaminya karena pertimbangan betapa repotnya membawa tiga balita. Rasanya merayakan natal tanpa berkumpul dengan suaminya akan terasa sangat berat, terlebih lagi ketiga anaknya sedang dalam masa tumbuh menggemaskan, pasti suaminya juga akan merasa kesepian harus merayakan natal di negeri tirai bambu sendirian.
Hari yang seharusnya hanya menyisakan kesedihan karena suaminya berencana pergi untuk satu minggu, tetapi kepergian Mike justru ternyata menjadi hari yang menyisakan duka yang mendalam yang harus ia tanggung bertahun tahun bahkan mungkin selamanya, hari itu pesawat yang Mike tumpangi di nyatakan jatuh ke dalam lautan, bahkan bangkai pesawat itu pun hilang belum di ketahui keberadaannya, setelah pencarian oleh tim SAR selama beberapa hari akhirnya satu persatu mayat penumpang di temukan, bangkai pesawat juga di temukan di dasar lautan, seluruh penumpang dinyatakan tewas meskipun beberapa mayat tidak di temukan, salah satunya adalah Mike, hanya Moses yang ditemukan dalam keadaan telah membengkak karena berada di air selama beberapa hari.
Untuk kedua kalinya, Prilly Silviana Smith harus menjanda, kali ini bukan pilihan dari dirinya, tapi Tuhan benar-benar yang berkehendak.
Wanita mungil itu sudah tak terhitung berapa kali jatuh pingsan tak sadarkan diri dan sudah lama ia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, air matanya bagai anak sungai setiap kali kesadaran menguasainya, ia tak henti hentinya Prilly meratapi kepergian suaminya, cinta masa kecilnya, cinta yang yang ia kira adalah cinta sejatinya, sepertinya Tuhan memang tidak mengizinkan Prilly memiliki cinta pertamanya.