
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Leonel, kau sangat menyebalkan! Kembalikan bonekaku!” Grace berteriak sambil mengejar Leonel yang membawa boneka kesayangannya. Boneka itu adalah hadiah dari Sidney saat perayaan natal pertama mereka.
Grace sangat menyayangi boneka itu.
Leonel tertawa mengejek. “Kejar aku, Grace,” kata Leonel. Ia sangat senang membuat Grace merasa tertindas.
“Aku akan mengadukanmu pada Daddy, kau menindasku!” ancam Grace putus asa.
“Kau selalu saja mengancamku, kau tukang mengadu,” protes Leonel sambil melemparkan boneka itu ke arah Sidney.
Grace memungut bonekanya di lantai lalu menepuk-nepuknya dengan hati-hati. “Kau selalu menggangguku!” keluhnya
“Kau sangat cengeng.” Leonel menjulurkan lidahnya untuk mengejek Grace.
Grace menatap Leonel dengan tatapan kesal. “Apa masalahmu jika aku cengeng? Aku tidak merugikanmu!” ia tidak mau kalah dari Leonel.
Leonel berkacak pinggang. “Itu masalah buatku karena aku jadi sering kena marah mommy, kau selalu mengadu kepada mommy dan daddy,” gerutunya. Leonel kesal karena di rumah itu ia adalah anak yang paling sering kena Omelan kedua orang tuanya. Tentu saja karena ia adalah anak yang paling bandel.
Grace mengangkat dagunya penuh kemenangan. Ia memang tidak pernah bisa melawan Leonel karena perbedaan kekuatan, jalan satu-satunya adalah mengadukan Leonel kepada kedua orang tuanya agar memarahi Leonel yang sangat jail kepadanya.
Setelah meletakkan boneka kesayangannya di atas tempat tidurnya, Grace berjalan cepat melewati Leonel dengan tatapan mengancam. “Aku akan mengadukanmu kepada mommy,” katanya sambil keluar dari kamarnya.
Leonel cepat-cepat mengikuti Grace, bermaksud mencegah saudaranya mengadukan perbuatannya kepada ibu mereka yang sedang berada di halaman belakang. Tampak di sana Prilly sedang duduk di bangku taman belakang membaca buku sambil menikmati tehnya, sedangkan Alexa berada di dalam stroller, bayi mungil itu sepertinya tertidur sedangkan William, ia duduk di depan Prilly membaca komik kesayangannya.
“Mommy!” teriak Leonel begitu kencang.
Ia sedang mengatur trik agar ia tidak terbukti telah menggertak Grace.
Prilly segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya memberikan isyarat kepada Leonel agar tidak membuat suara gaduh yang mungkin saja bisa membangunkan Alexa. Leonel dan Grace bergegas menghampiri Ibu mereka.
“Ya Tuhan, Leonel kau berkeringat apa yang telah kau lakukan? kau juga Grace kau berkeringat.” Prilly membelai rambut kedua anaknya.
Grace membelalakkan matanya penuh ancaman kepada Leonel. “Leonel nyaris mengotori boneka yang Sidney berikan kepadaku.” Grace segera mengadukan perbuatan Leonel kepada ibunya.
“Aku hanya meminjam, kau sangat pelit!” Leonel membela dirinya.
“Untuk apa kau meminjam bonekaku? Kau seorang pria, kau tidak pantas bermain boneka.” Grace mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Prilly menggelengkan kepalanya, pemandangan seperti ini sudah biasa baginya. Leonel dan Grace, mereka seperti kucing dan tikus. Leonel selalu menggoda Grace sementara Grace, ia sangat sensitif terhadap Leonel. “Bermainlah bersama Willy, biarkan saja Leonel bermain sendiri,” kata Prilly.
“Willy...,” rengek Grace ia mendekati William lalu duduk di pangkuan William yang sedang membaca komik.
Leonel memberengut. Selalu begitu, jika William bersama Grace maka ia tidak bisa lagi mengganggu Grace karena William selalu melindungi Grace dari gertakan Leonel. Ia mulai gelisah karena bosan tidak memiliki teman bermain, ia lalu menatap Grace seolah sedang mencari cara agar Grace keluar dari belenggu William.
Prilly melirik tingkah Leonel yang tampak bosan. “Leonel, bisakah kau lebih menyayangi Grace?”
“Aku menyayanginya tapi Grace tidak menyayangiku,” jawab Leonel sambil duduk bersedekap di bangku yang masih kosong.
“Kau omong kosong, aku menyayangimu.” Grace melayangkan protesnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang berada di tangan William.
Prilly menarik napasnya. “Baiklah. kalian memang saling menyayangi tetapi bisakah Leonel tidak mengganggu kesenangan Grace?”
Grace mengangguk-anggukan kepalanya, matanya beralih menatap Leonel dengan tatapan kemenangan yang nyata.
William menutup komiknya, ia menatap Leonel dengan tatapan dingin kemudian ia berucap, “Leonel tidak bisakah kau mencari kesibukan lain selain mengganggu Grace?”
"Oh, ayolah. Kenapa kalian semua menyalahkan aku?" gerutu Leonel dengan nada tidak berdaya.
“Sudah, daripada Kalian terus saja bertengkar lebih baik Leonel pergi ke dapur, minta kepada pelayan untuk membuatkan jus untuk kalian bertiga.” Prilly menengahi.
"Kenapa harus aku? Kenapa bukan Grace?" tanya Leonel. Ia adalah calon pria pemalas yang sudah mulai terlihat sejak kecil.
"Leonel, dapur sangat dekat," kata Prilly.
"Mommy, berjalan ke arah dapur itu membuang tenagaku," jawab Leonel.
Prilly tidak mampu lagi berkata apa-apa. Putranya yang satu ini entah mewarisi sifat dari siapa. Leonel sangat pemalas, ia enggan melakukan apa pun tanpa inisiatif dari dirinya sendiri. Satu-satunya yang dengan suka rela di kerjakan adalah menggertak Grace.
Prilly menelan ludahnya menghadapi Leonel, membesarkan empat orang anak tanpa pengasuh membuat kepalanya terkadang terasa hendak meledak. Memang ia sendiri yang mengambil keputusan untuk tidak memakai pengasuh setelah huru-hara yang terjadi di dalam hidupnya. Ada Diana mertuanya yang sigap menolongnya, juga ada ibunya Sandra dan Victoria, nenek Leonel. Anak-anak juga mulai belajar mandiri karena usia mereka bukan balita lagi sehingga memakai jasa pengasuh sepertinya terlalu boros dan membuat anak-anak akan tumbuh menjadi manja.
***
Jovita memasuki gedung Johanson Corporation mengikuti Danny yang membawanya menuju ke ruang di mana ia dan Alexander akan dijadwalkan bertemu Alexander. Jovita di utus mewakili Jay untuk memberikan penawaran rencana bisnis yang akan dikerjakan bersama Alexander. Sedikit kecewa karena ternyata Danny tidak membawanya memasuki ruang kerja Alexander tetapi justru membawanya ke ruang pertemuan.
Setelah Danny mempersilahkan Jovita untuk duduk ia menarik sebuah kursi tepat di samping kanan kursi di mana biasanya Alexander duduk, ia kemudian memeriksa jam yang jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Seharusnya pertemuan dimulai sepuluh menit lagi, bibirnya mengulas senyum tipis. Ia memang masih menyimpan perasaan pada Alexander, walaupun ia tahu itu semua tidak mungkin. Ia sadar tidak memiliki harapan lagi tetapi bertemu dengan Alexander adalah kesenangan tersendiri. Ia tahu, harapannya itu seperti menanam sayur di gurun pasir. Tetapi, di zaman modern ini tidak ada yang tidak mungkin, bahkan menanam sayur di gurun pasir mungkin bisa dilakukan. itu menurut Jovita.
Jovita mengeluarkan laptop dari dalam tasnya kemudian menyalakannya, ia juga mengeluarkan satu buah map yang berisi dokumen salinan penawaran. Alexander memiliki standar dan disiplin, ketika pertemuan berjalan semua berkas harus telah siap. Tiga menit berlalu Alexander belum datang, memang biasanya pria itu selalu datang lima menit sebelum pertemuan. Tepat lima menit sebelum pertemuan pintu ruangan terbuka Danny tampak membukakan pintu kemudian diiringi dengan seseorang yang Jovita harapkan adalah Alexander tetapi pada kenyataannya yang muncul adalah Prilly.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
🍒🍒🍒