Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alexander pengangguran?



Sophia melambaikan tangannya untuk memanggil Prilly, Prilly berjalan mendekati Sophia yang sedang duduk sendiri di restoran di ikuti oleh Anne, mereka membuat janji untuk makan malam bersama lalu berencana akan bersenang-senang di sebuah Club yang privacynya sangat terjaga, hanya kalangan para pejabat dan pengusaha kelas atas yang memiliki member di sana yang bisa memasuki tempat itu. Bahkan di dalam club tidak di izinkan membawa ponsel maupun kamera.


“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Sophia.


“Semua berjalan lancar,” jawab Prilly.


“Aku lebih suka kau mendesain perhiasan di banding kau mengurus perusahaan, ku rasa kau lebih cocok menggeluti bidang itu.”


“Sophia, aku belum menemukan orang yang tepat untuk mengurus perusahaan suamiku.”


Sophia menghela nafas, sejujurnya ia dan Harry telah menemukan jalan buntu untuk mencari di mana Mike berada, tapi mereka tidak sampai hati untuk menghancurkan harapan Prilly.


Sophia menyodorkan buku menu. “Pesan semua yang kalian suka,” kata Sophia.


“Aku sungguh merepotkanmu selama di sini.”


“Sama sekali tidak. Aku benar-benar ingin kau lebih lama lagi tinggal di sini seperti dulu,” kata Sophia tetapi buru-buru ia meralat ucapannya, “maksudku seharusnya kau membawa Grace dan Leonel agar aku bisa mengenalkan pada Gerald.” Gerald adalah putra pertama Sophia dan Harry.


“Ya Tuhan, aku tidak akan bisa berkonsentrasi jika mereka kubawa,” jawab Prilly. “Di mana Harry? Aku tidak melihatnya.”


“Ia sedang bersama teman lamanya, cepat pilih makananmu, aku lapar,” kata Sophia.


Prilly menyeringai kuda seraya matanya mulai mengamati buku menu makanan dan membolak-baliknya, namun Prilly tak kunjung menemukan apa yang hendak ia pesan.


“Prilly, biar aku yang memilih,” kata Anne, semenjak Mike dinyatakan hilang, Prilly memiliki kebiasaan baru, ia tidak tahu harus memilih apa setiap kali menghadapi daftar buku menu.


Ia akan membolak-balik buku menu hingga berjam-jam setiap kali dibiarkan memilih menu sendiri, dan Hanya Anne yang selama ini setia di samping Prilly tentu saja hanya Anne yang memahami luar dan dalam apa yang terjadi padanya.


Sayu jam kemudian.


“Maaf, kami terlalu lama." Itu adalah suara Harry, namun saat Prilly melihat siapa pria yang datang bersama Harry, Prilly merasa dunia benar-benar berakhir, kebebasannya di New York hilang dalam sekejap.


Alexander adalah pria yang bersama Harry, teman lama yang dimaksud Sophia.


“Prilly, lama tidak berjumpa.” Alexander langsung duduk di samping Prilly.


Prilly tidak merespons sapaan Alexander, ia justru melotot galak pada Sophia yang duduk tepat didepanya.


“Aku tidak tahu apa-apa,” seringai Sophia.


“Oh iya Anne, kau bisa bebas malam ini, aku akan menggantikanmu menjaga Prilly,” kata Alexander.


“Dengan senang hati,” kata Anne, tentu saja ia senang, malam ini ia bisa pergi kemanapun ia mau tanpa harus menjaga bossnya yang patah hati.


Prilly mengatupkan bibirnya erat-erat, untung saja ia telah selesai makan, jika tidak ia pasti tidak akan bisa menelan makanannya karena pria yang menjengkelkan ini menggentayangi dirinya, bahkan menguntit dirinya.


“Sophia... aku...." Prilly berniat membatalkan rencana bersenang-senangnya.


“Tidak ada pembatalan, tempat sudah di reservasi, lagi pula besok suamiku akan bertugas keluar negeri, kami akan bersenang senang terlebih dulu sebelum ia pergi,” potong Sophia cepat.


“Prilly, ayolah... kapan lagi? Kau tidak datang ke New York setiap tahun,” bujuk Harry.


Prilly mendengus, sekarang posisinya seperti anak kecil yang sedang di bujuk oleh tiga orang dewasa, ia menjadi canggung, apalagi jemari tangannya di bawah meja di genggam oleh Alexander, ia semakin kesal saja pada mantan suaminya yang menjadi penguntit dengan segala cara itu.


“Baiklah.” Akhirnya Prilly hanya bisa pasrah.


Sesampainya di club, Prilly segera menyeret Sophia ke dalam toilet wanita.


“Sophia, kenapa ada Alex?”


“Prilly, ia teman lama kami,” jawab Sophia dengan nada polos.


“Jangan berakting!”


“Kau pemarah sekali.” Sophia justru terkekeh.


“Sophia aku benar-benar kesal, untuk apa ia di sini?”


“Kau tahu aku dan dia, oh Gosh! Sophia kalian menyebalkan.” Prilly menggerutu.


“Prilly, kukatakan padamu, aku lebih bahagia jika kau dan Alex bersama lagi demi anak-anak, ia bukan orang lain di keluarga kita.”


“Dia beristri dan aku....”


“Persetan dengan istrinya, Alex pasti akan dengan senang hati menceraikan istrinya. Dan kau, kau wanita bebas.”


“Tapi Mike...."


“Pikirkan dirimu dan anakmu, aku sedang tidak ingin membahas Mike, ayo kembali, Harry pasti mencari kita.” Sophia menyeret pergelangan tangan Prilly.


Karena kesal Prilly mulai meminum alkoholnya, namun setiap ia hendak lepas kendali Alexander dengan sabar menahan gelas di tangan Prilly. “Jangan membuat masalah, kau akan malu jika mabuk sampai pingsan di sini,” bisik Alexander di telinga Prilly.


Prilly mengatupkan bibirnya karena kesal, ia ingin sekali mencekik leher pria yang terus melingkarkan legan di pinggangnya dan sesekali juga menciumi pundaknya.


Hingga waktu menunjukkan lewat tengah malam Alexander membawa Prilly ke hotel tetapi tempat itu bukan kamar tempat Prilly dan Anne menginap, melainkan kamar Alexander menginap.


“Alex, ini bukan kamarku,” protes Prilly.


“Aku tahu.” Alexander terus saja melingkarkan lengannya di pinggang Prilly.


“Lepaskan aku, aku ingin kembali ke kamarku.” Prilly berusaha melepaskan tubuhnya.


“Jangan keras kepala, sayangku.”


“Alex, jaga bicaramu!”


“Kenapa memangnya? Sejak kau lahir aku sudah menyayangimu,” ujar Alexander dengan nada menggoda.


“Alex!”


“Prilly.”


“Alex!”


“Aku di sini.” Alexander berbisik begitu dekat di telinga Prilly membuat Prilly memiringkan kepalanya untuk menghindar sambil mendongak dan melotot galak pada mantan suaminya.


“Apa yang kau inginkan?” desis Prilly tidak senang.


“Apalagi? Di dunia ini yang paling kuinginkan hanya dirimu, kau satu-satunya yang tak bisa kumiliki.”


“Alex, berhenti omong kosong!” ucap Prilly dengan nada gusar.


“Aku akan berhenti berbicara, bersihkan tubuhmu sebelum istirahat.” Alexander melepaskan cengkeraman lengannya dari pinggang Prilly dan mengikuti Prilly yang memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok giginya, Alexander juga demikian, mereka melakukannya bersama sama sambil mata Alexander terus menatap Prilly di pantulan kaca di depan mereka sementara Prilly dengan acuh melakukan semua tanpa mempedulikan keberadaan Alexander.


Setelah membersihkan tubuh mereka Prilly mengenakan kemeja milik Alexander dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia tidak habis pikir mantan suaminya terus membuntutinya, apa ia tidak memiliki pekerjaan? Apa ia sekarang seorang pengangguran?


”Alex, apa kau seorang pengangguran sekarang?” tanya Prilly dengan nada sinis dengan posisi tubuh membelakangi mantan suaminya.


“Sepertinya,” jawab Alexander sembari memeluk Prilly dari belakang, “selama kau masih terus merusak dirimu pergi ke club mungkin aku akan menjual perusahaanku karena lebih baik aku menjagamu daripada bekerja.”


“Omong kosong, sejak kapan kau bisa bermulut manis seperti itu?”


“Aku tidak bermulut manis, untuk bisa menyusulmu bahkan aku membangkrutkan beberapa cabang perusahaanku sendiri agar aku bisa memiliki alasan pada Jovita untuk meninggalkan London, hanya untuk menyusulmu.”


“Jangan macam-macam, perusahaan itu milik William!”


“Jika kau tak ingin aku jatuh miskin, gunakan akalmu, patuhlah padaku, aku yang akan menemanimu ke club, jangan pergi sendiri.”


Hening sejenak, Prilly membalikkan tubuhnya untuk menghadap Alexander sambil tatapannya nanar menatap wajah mantan suaminya.


“Alex, aku yakin kau hanya ingin tubuhku.” Prilly tiba-tiba berkata demikian.


TAP TAP JEMPOL KALIAN 😁😁😁