
“Kita bukan anak muda lagi, dan sepertinya lebih baik kita membeli mobil keluarga, tetapi aku senang, mobil ini cukup nyaman.” Bagaimanapun juga mobil itu telah di beli dan ia harus mengucapkan terima kasih pada suaminya.
“Kalau begitu kita akan membeli satu lagi mobil keluarga.”
“Kau sangat boros.” Prilly kembali melayangkan protesnya.
“Aku tidak akan bangkrut hanya karena beberapa buah mobil,” jawab Alexander dengan nada tidak terima.
Sekilas Prilly menoleh pada suaminya lalu bibirnya menyunggingkan senyum lebar dan berkata, “Kau sangat menyebalkan.”
“Apakah memanjakan istriku tersayang adalah perbuatan menyebalkan?” Alexander mengecup pundak Prilly.
“Kau sepertinya terlalu memanjakanku,” kekeh Prilly. “Jadi, kemana aku harus mengemudikan mobil ini, Hubby?” Prilly menambahkan sedikit kecepatannya.
“Mansion kita yang baru.”
“Mansion baru?” Prilly memastikan.
“Iya, Sayang. Kau masih ingat jalan menuju ke sana bukan?” Alexander kembali mengecup pundak istrinya yang sedang mengemudikan mobil dengan wajah berseri-seri.
Sesampainya di calon tempat tinggal mereka yang baru, tampak di sana William, Leonel dan Grace menyambut kedatangan Prilly dengan seikat bunga mawar merah yang menyala-nyala di tangan Grace.
“Mommy...." Grace berlari menghampiri orang tuanya dengan sedikit berlari. “Bunga ini untuk kalian,” kata Grace.
“Sayangku, terima kasih.” Prilly menerima bunga itu dengan perasaan berbunga-bunga, tidak kalah dengan indahnya buket bunga yang kini telah berada di tangannya.
“Anak-anak siapa yang mengantar kalian datang kesini?” tanya Prilly setelah mengecup ketiga anaknya.
“Grandmom ada di dalam,” kata Leonel sambil berlari menjauh diiringi William dan Grace, anak-anak memasuki tempat tinggal baru mereka dengan riang, Prilly dan Alexander mengikuti langkah ketiganya dan mereka mendapati Sandra dan Diana yang ternyata ada di dalam mansion baru itu, entah bagaimana cara Alexander mengaturnya dalam sekejap, “Hubby, kau mengatur semuanya?” Prilly membalikkan badannya dan menatap Alexander dengan tatapan kagum, suaminya memang pantas di cintai.
“Mommy kita mengatur semuanya,” jawab Alexander, ia membelai rambut di kepala Prilly. “Malam ini semua akan makan malam di sini dan kita akan mulai tinggal di sini seperti keinginanmu.”
“Terima kasih.” Mata Prilly berkaca-kaca namun Alexander segera mencium bibirnya, menciuminya di depan Sandra dan Diana.
“Mmm....” Prilly mencoba melepaskan dirinya namun Alexander meraih pinggangnya dan terus merampok bibirnya hingga membuat Prilly tak mampu melepaskan diri dari perampokan itu, ia pasrah menerima dan membalas ciuman suaminya meski ia yakin wajahnya pasti terbakar merah merona.
Prilly membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil jemarinya mencubit pinggang Alexander, ia sangat merasa malu pada Diana dan Sandra, ia tidak pernah melakukan kontak fisik begitu dekat dengan Mike maupun Alexander di depan kedua orang tuanya.
“Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu bahagia,” kata Diana membuat Prilly mau tidak mau menjauhkan tubuhnya dari Alexander dan memeluk Diana.
“Terima kasih, Mommy,” ucap Prilly.
“Sayangku, selamat.” Kali ini Sandra yang bersuara.
“Mommy, aku mencintaimu.” Prilly menghambur ke dalam pelukan wanita yang tentu saja mirip dengan dirinya, Sandra. “Di mana Daddy?”
“Mereka akan datang malam ini, kakakmu juga.” Sandra menjawab pertanyaan putrinya dengan penuh kasih sayang. “Alex, kemarilah,” kata Sandra, nada bicaranya begitu lunak dan tatapan matanya juga tidak ada lagi jejak kemarahan.
Alexander mendekati ketiga wanita di depannya. “Mommy, terima kasih,” kata Alexander sambil merangkul pundak istrinya.
“Sudah cukup drama rumah tangga kalian, sekali lagi ada kesalahan, Alex, kami tidak akan segan,” ucap Diana dengan tatapan mata galak kepada putra semata wayangnya.
“Aku mengerti.” Alexander menjawab ibunya.
“Ayo persiapkan diri kalian, kita akan merayakannya malam ini, ” kata Sandra memberitahu.
Alexander mengangkat tubuh kecil Prilly dengan tiba-tiba dan menggendong istrinya ala Bridal Style menuju kamar baru mereka, “Kau sangat pandai memilih interior ruamah kita sayangku,” kata Alexander sambil menurunkan Prilly di atas ranjang, ke kemudian membantu Prilly melepas sepatunya satu demi satu.
Prilly mengangguk dan sesaat kemudian ia telah melompat di punggung Alexander yang membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
Pagi itu pertama kali Prilly menginjakkan kaki di perusahaan mantan suami yang kini menjadi suaminya kembali, ia mendapatkan sambutan meriah dari karyawan di perusahaan yang Alexander pimpin, seluruh karyawan berbaris dan menyambutnya, mengucapkan selamat datang, seluruh karyawan dapat melihat Alexander tersenyum untuk pertama kalinya.
Bukan hanya hidup barunya bersama Alexander, mobil baru, perhiasan baru dan tempat tinggal barunya namun ruangan kerja Alexander juga di desain mirip dengan desain tempat tinggal mereka, Anne dan Harun cukup cerdik, mereka tidak perlu bertanya kepada Prilly namun mereka berinisiatif menjiplak interior tempat tinggal mereka yang baru.
“Bagaimana?” Alexander mendudukkan Prilly di kursi yang seharusnya menjadi tempat duduknya.
“Aku rasa Harun sangat cerdik dan cekatan, kau harus memberinya hadiah,” kata Prilly sambil matanya menyapukan pandangan matanya mengelilingi ruangan itu.
“Harun sangat kompeten meski kadang terlalu banyak bertanya.” Alexander mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berada di seberang Prilly selayaknya atasan dan bawahan.
“Kau terlalu banyak menuntut darinya,” protes Prilly melayangkan pembelaan kepada Harun.
“Dia memang agak lambat dan banyak bertanya, Sayang.” Alexander tidak terima dengan pembelaan Prilly.
“Tidak Harun sangat pandai dan cekatan, kau saja yang terlalu banyak menuntut.”
“Sayang, kau sedang memuji pria lain.” Alexander menatap Prilly dengan tatapan tidak suka.
“Aku berbicara fakta,” kata Prilly sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan dan telapak tangannya terlentang menghadap ke atas.
“Kau membandingkan suamimu dengan Pria lain, dadaku sakit.” Alexander berkata dengan nada lirih dan meletakkan sebelah telapak tangannya memegangi dadanya.
“Kau menyebalkan,” sungut Prilly.
Alexander kembali terkekeh.
“Beri dia libur,” pinta Prilly.
“Akan kuberikan apa pun kepadanya, tetapi yang jelas bukan libur.” Alexander menjawab dengan nada tegas.
“Kau membuatnya seperti sapi perah." Prilly memang sering merasa kasihan terhadap Harun yang melayani Alexander seperti raja.
“Aku menggajinya dengan gaji yang fantastis dan fasilitas VIP, kurasa itu pantas untuknya,” jawab Alexander dengan nada acuh, ia membuka Macbook miliknya dan mulai membuka dokumen pekerjaannya.
“Harun juga perlu berlibur,” masih saja Prilly memperjuangkan hak Harun, pria itu masih muda dan berhak bahagia menurut Prilly.
“Tidak sekarang sayang, aku sangat sibuk, aku memerlukan dia.” Alexander menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Macbook di depannya.
“Aku akan membantumu.”
Alexander mengalihkan pandangannya kepada Prilly. “Istriku tidak boleh bekerja keras, cukup duduk dan nikmati hasil kerja kerasku.”
“Baiklah, Tuan Dominan.” akhirnya Prilly memang tidak mungkin menang melawan Alexander suaminya yang pengatur dan dominan.
“Kau manis seperti--”
“Grace manis sepertiku." sela Prilly cepat membuat Alexander sekali lagi terkekeh.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤