Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Lelucon



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


Alexander bergegas kembali dari perusahaan. Sepertinya begitu setiap hari sejak ia Alexa lahir, bayi mungil itu bukan hanya mengalihkan perhatian Alexander tetapi bayi itu juga mengalihkan seluruh perhatian keluarga Johanson dan keluarga Smith. Jika saja ia tidak memikirkan masa depan perusahaan dan kelima anaknya mungkin Alexander lebih senang untuk bersantai di rumah bersama keluarganya tetapi itu tidak mungkin karena masa depan anak-anaknya ada di tangannya. Anak-anaknya kelak harus menikmati hasil jerih payahnya, anak-anaknya kelak hanya tinggal meneruskan perusahaan dan mereka hanya boleh mewarisi kekayaan.


Sampainya di tempat tinggal mewahnya, Alexander segera membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya kemudian ia menghampiri istri dan bayi mungilnya yang sedang menyusu. “Apa dia tidur?” Suaranya setengah berbisik.


“Sepertinya begitu,” jawab Prilly sambil mengamati bayi di dalam gendongannya yang sedang menyusu dari botol yang berisi ASI.


“Kenapa setiap aku kembali dari bekerja di hanya tidur?” gerutu Alexander.


Prilly menahan tawanya agar tidak membangunkan Alexa. “Bayi memang akan terus tidur sampai umurnya kira-kira tiga bulan, hampir seluruh waktunya di pergunakan untuk tidur,” katanya.


“Apa dia tidak ingin melihatku?” kembali Alexander menggerutu.


Mendengar itu Prilly mengangkat kepalanya, menatap suaminya kemudian menggelengkan kepalnya pelan “Aku tidak pernah menyangka kau lebih menggemaskan dibanding Leonel dan Grace, mereka tidak kekanakan sepertimu,” cibirnya.


“Bagaimana dengan Sidney?”


“Aku yakin, Sidney akan segera merengek meminta melihat Alexa,” kata Prilly, ada sedikit getir merayapi perasaannya. Ia ingin Sidney bersandi London bersamanya tetapi ia tidak mungkin melakukan itu. Mike juga berhak atas Sidney.


“Aku akan menghubungi Mike agar membawa Sidney ke sini,” kata Alexander.


“Jangan lakukan itu, Hubby. Tunggu saat Sidney libur sekolah saja, kita tidak boleh mengganggu waktu belajarnya,” kata Prilly.


Dilema, itulah yang dirasakan oleh Alexander setiap kali sedikit saja mereka membicarakan masalah Sidney. Alexander tidak mampu melihat tatapan istrinya yang tentu saja merindukan putrinya. Jantungnya terasa tertikam rasa sakit yang entah dari arah mana. Untunglah ia berhasil membuat istrinya melahirkan seorang putri yang cantik yang di harapkan bisa menjadi obat untuk hati Prilly meski ia tahu, tidak satu pun yang mampu saling menggantikan.


***


Sementara di New York.


Sidney tampak sedikit marah karena melihat foto Prilly menggendong bayi Alexa. Ia selalu merasa iri karena di London saudaranya begitu banyak sementara di New York ia hanya bisa berteman dengan Gerald, Gilbert dan Isabela. Putra dan putri Sophie dan Harry, itu juga hanya bisa di lakukan satu Minggu sekali karena tempat tinggal mereka lumayan berjauhan.


“Helena, kenapa kau tidak mengandung dan melahirkan seorang bayi juga untuk menjadi adikku?” tanyanya dengan nada sengit.


Helena menggaruk bagian belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. “Sidney, apa kau tahu? Membuat bayi itu tidak bisa di lakukan sendiri,” ucap Helena lambat-lambat.


“Jadi apa kita berdua bisa membuatnya?” tanyanya polos.


Helena menggeleng. “Itu juga tidak bisa,” jawabnya.


Sidney tampak frustrasi, ia tampak membengkokkan punggungnya tampak tidak bersemangat duduk di samping Helena. “Lalu bagaimana caranya?”


“Sayang, itu hanya bisa di lakukan oleh dua orang dewasa. Pria dan wanita,” kata Helena memberi tahu Sidney dengan cara yang ia harap mampu di cerna oleh Sidney.


“Seperti kau dan Daddy?”


“Kapan aku akan mendapatkannya?” Sidney mengerjapkan matanya beberapa kali.


Bagaimana aku harus menjawabnya? Oh, astaga.


Nama baik benar-benar sudah memiliki hubungan apa-apa selain sebagai apa Apakah ia seorang pengasuh atau apa tidak pernah mengatakan menganggap sebagai apa hubungan mereka ambigu selama ini.


Helena menggeser posisi duduknya agar ia menghadap Sydney ia membelai rambut teknik menatap wajah penuh kasih sayang selama ini benar-benar tulus. Suatu saat mungkin Mike akan menikah dengan wanita lain dan pastilah wanita itu akan mengambil alih Sidney dari tangannya, pastilah ia akan merasakan kesakitan yang luar biasa jika harus berpisah dari Sidney. Akhir-akhir ini sejak Mike mengungkapkan kebenaran kepada keluarganya bahwa i masih hidup, bayang-bayang ketakutan akan kehilangan Sidney semakin menderita batinnya.


“Sayang, kau akan mendapatkan seorang adik kelak tetapi mungkin bukan....”


Mike berdehem sebelum Helena menyelesaikan ucapannya, entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu. “Secepatnya kau akan mendapatkan adik yang kau inginkan,” katanya sambil perlahan melangkah mendekati kedua gadis yang sedang bercakap-cakap itu.


Perlahan kedua telapak tangannya berada di atas kepala Sidney dan Helena. “Apa kau ingin adik perempuannya yang seperti Alexa?” tanya Mike.


Sidney mengangguk cepat. Ia mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap ayahnya matanya yang berwarna Hazel menatap ayahnya penuh harap. Sidney yang kesepian, ia di besarkan oleh Miik dan Helena, mereka hidup dalam tekanan Simon dan Wilona. Hidup di bawah pengawalan ketat.


Bibir mike mengulas senyum tipis kemudian ia berucap, “Kau akan segera mendapatkan adik yang kau inginkan. Sekarang bagaimana jika kau pergi tidur karena sekarang telah larut, kau tidak boleh terlambat sekolah bukan?”


Sidney kembali mengangguk, dengan gerakan lincah gadis kecil itu turun dari kursi kemudian ia berucap, “Selamat malam Daddy, selamat malam Helena.” ia berlari menuju kamar meninggalkan kedua orang dewasa itu dalam suasana canggung.


Suasana yang entah mengapa selalu menjadi tidak nyaman setiap kali Sidney menuntut seorang adik dari rahim Helena.


“Aku juga akan pergi tidur,” ucap Helena sambil bangkit tetapi justru Mike meraih pergelangan tangan Helena.


“Tidurlah di kamarku,” ucap Mike.


“Tidur di kamarmu dan membuat bayi?” pertanyaan Helena terdengar penuh ejekan.


“Kau mengerti maksudku,” ucap Mike.


“Tidak, Mike. Itu konyol,” tolak Helena terang-terangan .


“Aku ingin memberikan apa yang diminta Sidney,” ucap Mike dengan nada yang tidak bisa dimengerti Helena


“Ada banyak wanita di luar sana yang bersedia mengandung anakmu,” ucapnya ketus.


“Tapi aku ingin kau yang memberikan adik untuk Sidney.” Entah apa arti ucapan Mike. Entah sebuah lamaran atau sebuah lelucon.


Helena tidak mempedulikan ucapan Mike, perlahan ia memutar pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh Mike untuk melepaskannya kemudian ia melangkah tanpa ragu-ragu ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikit pun kepada pria yang terpaku berdiri di tempatnya.


Ada yang mau minjamin rahim buat nanam benih adik Sidney? hehehehe.