Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Dongeng putri Aurora



Prilly memasuki tempat tinggalnya dengan langkah kesal, ia melemparkan tasnya ke atas sofa kemudian mencari anak-anaknya di ruang bermain mereka, benar saja ada Grace sedang menyusun puzzle di sana di temani Alexander, tetapi Jovita, William dan Leonel tidak ada di sana.


“Mommy!” seru Grace yang melihat ibunya berdiri di ambang pintu. “Mommy kemarilah!” Grace melambai-lambaikan tangan mungilnya.


Prilly menyilangkan lengannya di atas dadanya dan menyandarkan bahunya di tiang pintu, bibirnya tersenyum manis.


“Mommy, kemarilah!” panggil Alexander dengan suara lembut, tatapan matanya juga sangat lembut dan penuh kerinduan.


Prilly mendekati kedua orang tersebut, dan bergabung bersama Alexander dan Grace, mereka bertiga menyusun Puzzle.


“Mommy, dari mana saja?” tanya Alexander.


“Mommy, bertemu aunty Anne dan minum kopi,” jawab Prilly.


“Oh iya? Apa Mommy merindukan Daddy?” goda Alexander.


“Tidak, Mommy tidak merindukan Daddy,” jawab Prilly dengan nada ketus.


“Benarkah?” itu suara Grace. “Mommy tadi malam memandangi foto Daddy.”


“Benarkah?” Alexander bertanya pada Grace dengan nada antusias.


Grace mengangguk.


“Grace, mulai sekarang Mommy tidak ingin membacakan dongeng untukmu.” Ancam Prilly pada putrinya yang di anggapnya penghianat.


“Daddy akan membacakan untukku jika Mommy tidak mau membacakan,” jawab Grace enteng.


“Baiklah, Daddy akan membacakan untukmu,” ucap Alexander dengan nada penuh kemenangan.


“Alex, pulanglah!” kata Prilly dengan nada ketus, ia sangat kesal karena ia tidak pernah bisa menang melawan Alexander, apalagi sekarang putrinya bersekutu dengan suaminya.


Alexander menggeser duduknya dan mendekati Prilly dan mencuri ciuman di pelipis istrinya. “Aku merindukanmu,” bisiknya.


Prilly justru melotot galak pada Alexander meskipun wajahnya terlihat merah merona.


“Kau pasti juga rindu padaku, kan?” bisik Alexander lagi.


Prilly tidak menjawab, ia berpura-pura menyibukkan diri dengan membongkar puzzle dan mengacak-acaknya menjadi tidak beraturan.


“Mommy, kau merusak puzzleku!” Grace melayangkan protesnya.


“Daddy akan menyusunnya lagi,” kata Prilly. “Dan Daddy tidak akan kembali sampai semua puzzle ini tersusun lagi,” ujarnya sambil merusak semua puzzle yang telah tersusun.


Alexander terkekeh melihat tingkah Prilly. “Daddy akan menginap di sini, Grace apa kau ingin tidur bersama daddy? Daddy akan tidur di kamarmu jika kau mau,” tanya Alexander, sungguh klise.


“Daddy, benarkah?”


Alexander mengangguk.


“Horeee!” Grace berseru senang.


Alexander mengecup pucuk kepala Grace dan kembali mencuri ciuman di pipi Prilly.


Tidak lama terdengar suara William dan Leonel yang berteriak teriak sambil berlarian, kedua bocah laki-laki itu datang bersama Jovita membawa begitu banyak makanan ringan. Prilly segera menjauhi Alexander, “mommy akan melihat persiapan makan malam kita di dapur,” kata Prilly seraya bangkit dan keluar dari ruang bermain dan berjalan menuju dapur.


Mereka makan malam dengan suasana riuh oleh suara anak-anak sedangkan Prilly seperti biasa ia lebih banyak diam, ia makan dengan tenang sambil sesekali ekor matanya melirik ke arah Alexander yang sesekali memotongkan makanan untuk Grace dan kadang menyuapi gadis mungil itu, sepertinya Alexander memang menyukai gadis kecil, ia dulu juga mengurus Prilly kecil dan memperlakukan Prilly sebagaimana kakak kepada adiknya, dan sekarang ia juga sangat menyayangi Grace, mungkin di lahirkan sebagai anak tunggal membuat jiwanya kesepian dan Prilly hadis melengkapi kesepian di dalam hidupnya.


Setiap gerak gerik Alexander yang duduk di depannya benar-benar membawa Prilly mengingat masa kecilnya bersama Alexander yang menyenangkan, meskipun ia pria dingin dan kaku namun ia tidak pernah membiarkan Prilly yang penakut dan pemalu kesepian. Ia selalu menemani ke mana pun Prilly ingin, seperti ke taman, membeli buku yang ia suka, atau sekedar pergi ke perpustakaan, ia juga selalu membantu Prilly mengerjakan tugas sekolahnya.


Alexander yang baik, dan kebaikannya tidak pernah terlihat di mata Prilly, tanpa sadar pandangan matanya mengarah kepada Grace dan Alexander dengan pikiran yang mengembara, ia seolah melihat dirinya sendiri yang sedang di rawat Alexander di masa lalu.


“Mommy, apa kau ingin di suapi oleh Daddy juga?” tanya Grace membuyarkan lamunan Prilly.


Prilly menegang, ia buru-buru menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.


“Daddy, Mommy ingin di suapi olehmu,” kata Grace polos.


‘Anak ini mirip siapa? Mengapa sangat menyebalkan?!’ batin Prilly ingin menangis juga ingin tertawa.


Alexander dengan ekspresi tenang mengambil makanannya dengan sendok lalu menyuapkan pada Prilly, membuat Prilly tak berdaya, ia terpaksa menelan makanan di dalam mulutnya lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari suaminya.


Alexander kemudian mengambil makanan kembali dari piringnya lalu menyuapkan juga pada Jovita.


‘Pria yang adil!’ batin Prilly ingin tertawa tapi juga cemburu.


Prilly ingin sekali menendang kaki Alexander dari bawah meja namun karena kakinya pendek tentu saja ia tak bisa menjangkau, mengerti dengan hal itu Alexander menyenggol kaki prilly dengan pelan dan menyeringai nakal penuh kemenangan membuat Prilly menyipitkan matanya penuh dendam.


Setelah makan malam, Prilly segera masuk ke dalam kamarnya, sementara Jovita bersama Grace dan Alexander di dalam kamar Grace, ini bukan kali pertama Alexander dan Jovita tidur di mansion itu, Dulu saat Mike baru saja menghilang, Alexander langsung memasang badan menemani ketiga anak Prilly dan tentu saja Jovita mengikuti ke mana pun suaminya pergi termasuk menginap di tempat tinggal mantan istri suaminya itu.


Di kamar tempat dimana Alexander sedang membacakan dongeng untuk Grace.


"Pada zaman dahulu di sebuah negeri yang jauh di sana, raja dan ratu yang adil diberkati dengan seorang bayi perempuan yang cantik. Mereka menamai putri mereka Aurora, karena sang putri seperti cahaya fajar bagi hidup mereka. Pengunjung dari seluruh kerajaan datang untuk merayakan kelahiran sang putri, termasuk tiga peri baik. Melambaikan tongkat sihir mereka, Flora memberi sang putri hadiah kecantikan, sementara Fauna memberinya suara yang indah. Merryweather hendak memberikan anugerahnya saat peri jahat Malfoy muncul dalam kilatan api hijau. Dia juga ingin memberi sesuatu pada sang putri - sebuah kutukan yang mengerikan! Sebelum matahari terbenam pada ulang tahunnya yang keenam belas, Aurora akan tertusuk jarinya oleh sebuah jarum dan mati!"


Alexander berhenti sambil mengambil napas.


“Apa Aurora akan mati?” Grace bertanya.


“Tidak ia hanya tertidur, putri Aurora akan bangun.” Alexander menjawab.


“Bangun? Bagaimana caranya?”


"Iya, jika ia mendapatkan ciuman dari cinta sejatinya."


“Siapa cinta sejati Aurora?”


“Ini sudah terlalu larut, besok kita lanjutkan dongengnya, kau harus tidur Grace.”


“Kenapa kita tidak tidur di kamar Mommy, Mommy lebih baik darimu saat mendongeng. Daddy, kau harus belajar dari Mommy,” ujar Grace sambil membalikkan tubuhnya menghadap Alexander, gadis kecil itu membelakangi Jovita.


Jovita melirik ekspresi Alexander yang datar, tidak ada tanda-tanda apa pun di wajahnya.


“Tidurlah, besok mommymu yang akan melanjutkan dongengnya.” Alexander mengecup pucuk kepala Grace dan mulai mengusap-usap punggung gadis itu sambil ia memejamkan matanya.


AUTHOR JUGA MAU DI PUK PUK BABANG ALEX 😥😥😥


TAP JEMPOL KALIAN 😙😙😙