
Alexander dan Prilly telah kembali ke London, mereka menjalani hari-hari seperti biasa. Alexander dengan kesibukannya pergi bekerja dan Prilly dengan kesibukannya mengurus ketiga anaknya sambil berkonsentrasi dengan desain perhiasan buatannya. Ia menikmati kehamilannya yang di manjakan oleh Alexander dengan cara yang berlebihan.
Sebenarnya sangat berat bagi Prilly untuk meninggalkan Sidney. Ingin sekali ia membawa Sidney dan membesarkannya bersama William, Leonel dan Grace. Tetapi, ia tidak mungkin berbuat seperti itu. Sangat egois jika ia mengambil Sydney begitu saja dari tangan Mike setelah semua pengorbanan Mike. Lagi pula jarak London dan New York hanya perlu waktu beberapa jam, Mereka bisa kapan saja mengunjungi Sydney begitu juga Sidney. Ia bisa kapan saja mengunjungi keluarganya kelak di London.
Prilly terus meyakinkan batinnya bahwa Sidney akan tumbuh dengan baik di tangan Helena dan Mike. Helena tampak begitu tulus menyayangi Sidney, Prilly yakin Sidney tidak mungkin kekurangan kasih sayang.
Sidney belum tahu jika Prilly adalah ibu kandungnya, mereka hanya memberitahu bahwa Alex dan Prilly adalah orang tuanya juga. masih terlalu sulit menjelaskan apa yang terjadi kepada Sydney.
Sebagai orang dewasa yang telah cukup sulit menjalani jatuh bangun kehidupan, Prilly, Mike, maupun Alexander mereka takut akan berdampak tidak baik kepada psikis Sidney jika tiba-tiba memberitahu Sydney bahwa ibu kandung Sydney adalah Prilly.
Mungkin jika mereka memaksakan memberitahu Sidney, gadis itu justru akan bingung karena tiba-tiba seorang wanita datang ke dalam kehidupannya dan mengaku sebagai wanita yang melahirkannya. Wanita itu juga bersuami pria lain sedangkan yang Sidney tahu selama ini ayahnya adalah Mike dan ibu kandungnya adalah Helena. Helena memperkenalkan dirinya kepada Sidney sebagai ibunya sejak Sydney berada di tangannya. Tetapi karena usia Helena saat itu baru menginjak dua puluh tahun, ia tidak siap dipanggil ibu.
Dengan kata lain Helena dan Mike membesarkan Sidney seperti keluarga yang utuh.
Kerumitan semacam itu tidak mungkin diterima oleh akal anak berumur enam tahun. Prilly yakin lambat laun semakin dewasa Sidney dia akan mengerti seiring bertambah usianya nanti, harapannya harapan satu satunya adalah semoga Sydney tidak memiliki api dendam di dalam benaknya baik kepada keluarganya maupun kepada orang-orang yang terlibat pernah menyakiti dirinya dan keluarganya.
***
Pagi itu di London cuaca begitu dingin, musim gugur akan berakhir udara semakin dingin dan lembap. Alexander baru saja tiba di tempat di perusahaan miliknya. Ia segera memanggil Harun menggunakan interkom yang berada di depan meja kerjanya.
setelah Harun duduk dengan benar di depannya Alexander memulai percakapan, "Harun. Kuberi waktu kau satu minggu untuk menemukan seorang pria yang mirip denganmu. Pria itu harus sama persis seperti dirimu. IQnya harus benar-benar sepertimu, cara kerja, kecepatan kerja....” Alexander berhenti sesaat sambil menatap wajah Harun, “kalau bisa wajahnya juga mirip seperti dirimu.”
Harun mengumpat di dalam hatinya Bagaimana mungkin bosnya ini bertingkah konyol seperti ini? Memintanya mencari pria yang mirip seperti dirinya.
Bos aku ini hanya satu, aku ini tidak di ciptakan dua, aku limited edition. Bagaimana jika aku membelah diri saja?
“Saya mengerti, Sir." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Harun.
“Bagus, setelah itu didik dia secepatnya, beritahu ia semua pekerjaanmu. Sebelum libur natal dia harus sudah mengerti seluruh pekerjaannya dan siap bekerja seperti dirimu."
“Saya mengerti, Sir,” jawab Harun dengan patuh.
Alexander mengamati wajah Harun lekat-lekat, “Apa kau tahu untuk apa aku mencari penggantimu?” Alexander menaikkan sebelah alisnya.
“Karena kau....” Alexander berhenti sebentar. “Di pecat.”
Wajah Harun tampak pias seketika, namun pria malang itu masih berusaha mempertahankan ketenangannya seperti biasa, ia telah terbiasa menghadapi keanehan bosnya akhir-akhir ini. Harun semakin meraba-raba ingatannya untuk mengingat mimpi buruknya.
“Apa kau tahu kesalahanmu?”
“Saya tidak melakukan kesalahan apa pun, Sir,” jawab Harun berusaha mempertahankan ketenangannya.
“Terhitung tanggal 2 Januari nanti kau urus Glamour Entertainment, aku perlu bantuanmu untuk mengurus perusahaan itu.” Alexander tersenyum jail di depan Harun, ia sama srkali tidak memedulikan Harun yang sangat terkejut.
“Tapi, Sir...”
“Kau tidak suka?” Alexander menyipitkan sebelah matanya.
“Saya takut tidak mampu,” ucap Harun dengan nada datar.
Alexander menatap wajah Harun dengan tatapan lurus. “Kau tidak percaya dengan kemampuanmu?”
“Saya kurang berpengalaman.”
“Pengalaman akan datang karena terbiasa. Selama ini kau menangani semua tugas yang kuberikan kepadamu dengan baik. Aku percaya pada kemampuanmu, kenapa kau tidak percaya pada kemampuanmu sendiri?” Alexander menaikkan sebelah alisnya.
“Sepak terjangmu cukup bagus selama bekerja bersamaku. Kau cekatan, lumayan cerdas meskipun tidak secerdas aku,” kata Alexander memuji Harun.
Harun hanya mengernyit, bosnya itu benar-benar tidak tulus memujinya masih saja ia bersikap sombong tidak mau mengakui orang lain juga cerdas. Tetapi, setidaknya mulai tahun depan ia akan terbebas dari keanehan bosnya.
“Aku tidak mungkin membiarkanmu hanya menjadi seorang sekretaris seumur hidupmu, kau bersamaku hampir delapan tahun tidak mungkin aku tidak memberimu jenjang karier. Apalagi kau cukup berpotensi, aku rasa memberikan Glamour Entertainment untuk kau pimpin adalah langkah yang tepat,” ucap Alexander lagi.
Harun mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sama sekali tidak menyangka jika pagi ini penuh kejutan. Awalnya ia ingin sekali memukuli rahang bosnya yang dengan seenaknya mengatakan ingin memecatnya tanpa alasan. Tidak sedikit pun pernah terpikir oleh Harun ia akan dilimpahi tanggung jawab untuk memimpin sebuah perusahaan apalagi perusahaan itu adalah milik keluarga Johanson.
"Dan lagi pula jika kau terus menjadi sekretarisku kau tidak memiliki waktu untuk mencari istri, bukan?" Alexander kembali menyeringai jahil, membuat Harun ingin mengumpat kembali di dalam benaknya.
Bos, itu salahmu karena kau membuatku tidak memiliki waktu untuk mencari cinta!